November 02, 2017

Booking Hotel Susah? Say No More!

Hai, selamat hari Kamis, Manis! Bagaimana kamu mengawali harimu hari ini? Dengan terburu-burukah? Dengan santaikah? Ataukah dengan perasaan gembira karena bentar lagi cuti datang dan liburan dimulai? Uhuy! Mari awali dengan membaca artikel saya dengan menjawab sebuah pertanyaan berikut ini: apakah aplikasi favorit di telepon genggam kamu? Kalo saya jelas, aplikasi yang berkaitan dengan liburan! Aplikasi semacam itu mempermudah saya banget untuk urusan beli-beli tiket, booking hotel, hingga rekreasi ke destinasi wisata tertentu. Semua yang biasanya ribet, jadi lebih mudah banget banget banget!

Dan aplikasi tersebut adalah tentu saja Traveloka! Siapa sih yang nggak suka bikin itinerary liburan? Sebagai seorang yang perfeksionis (dan kebetulan merangkap menjadi seorang ibu dan istri), merencanakan detail sebuah kegiatan adalah sebuah keharusan buat saya. Tentu aja suami dapat tugas juga, tugas bayarin semuanya, dong! Hehehe.
Karena apa sih? Karena yang pertama ditanya oleh anak dan suami ketika barangnya hilang tentu saja adalah Ibu. Jadi, saya memang melevelkan merincikan detail sebuah itinerary liburan menjadi sebuah keharusan.
Nah, sejak punya aplikasi Traveloka di handphone, semua kegiatan mengurus liburan menjadi jauh lebih mudah! Pesan hotel, tiket pesawat, semua tinggal klik! Senengnya lagi, selalu ada rekomendasi hotel yang ditawarkan Traveloka, dan diskon yang gede banget buat membernya. Itu seru banget menurut saya, apalagi hemat pangkal senang-senang di belakang, iya kan? Hihi.

Tapi ada satu masalah yang sampai sekarang saya dan suami belum bisa atasi: waktu liburan kita sangat terbatas. Sebagai orangtua yang bekerja (saya dan suami, dua-duanya bekerja), waktu untuk liburan menjadi sangat terbatas. To be honest, kalaupun ada hari libur sehari-dua hari, rasanya pengen buat tidur-tiduran aja, nonton serial TV seharian, nyantai nggak masak, dan sebagainya. Dan tentu saja, solusi kami untuk saat ini adalah staycation. Staycation adalah menginap semalam atau beberapa malam di hotel dengan tujuan untuk lepas sementara dari rutinitas sehari-hari. Jadi, kita nginep di hotel, hotel manapun, dengan tujuan diatas. So far sih kami enjoy dengan staycation ala ala kami ini. Enjoy banget, malah. Siapapun pencetus staycation, pengen saya ajak salim.

Tentu aja kegiatan staycation ini jauh lebih mudah dengan bantuan aplikasi Traveloka di handphone saya dan suami. Memilih hotel di sela-sela jam makan siang dengan pilihan hotel yang super banyak dan beragam di jogja (mau yang tema modern atau tradisional, semuanya ada, lho!), membayar dengan berbagai metode (mulai dari pakai credit card hingga pay at the hotel), hingga diskon-diskon menarik yang bikin saya sendiri senang bisa berhemat. Fitur-fitur yang saya jumpai di Traveloka so far menyenangkan, tapi ada satu fitur yang baru banget, dan menurut saya merupakan sebuah inovasi dari aplikasi travelling semacam Traveloka ini, yaitu StayGuarantee. Jadi, selain membuat kita lebih nyaman dan mudah dalam acara pra-staycation (yaampun istilah saya!), kita juga dibuat nyaman banget selama check-in hotel hingga nanti check-out! Jadi kenyamanan kita bener-bener dijamin sama Traveloka, nih, Guys! Jika selama menginap di hotel kita dapat perlakuan yang nggak ngenakin nih, kiat bisa langsung komplain melalui StayGuarantee ini, dan pihak hotel akan lebih mudah mendengar keluhan kita. Dan tentu aja pihak hotel tetep akan merespon, bahkan keep in touch dengan kita terkait keluhan kita. Rasa yang lebih menyenangkan selain rasa didengar ya apalagi, sih, ya? Seneng banget kan kita berasa diopeni banget gitu.

Contoh nih, belum lama ini saya kelar staycation di Jogja (ya nggak usah ke luar kota juga kali ya, waktunya mana ada gini, lol). Saya pilih hotel di Traveloka, bayar lewat ATM, nggak perlu print bukti pembayaran deh, ntar juga di-email dalam bentuk pdf. Nah bukti pembayaran yang dikirim via email itu tinggal kita kasih liat ke receptionist hotel aja pas kita check-in. Nggak sampai 30 menit lho buat pilih hotel + bayar, serius! Dan kita tinggal datang aja pas hari H di hotel yang kita tuju, jadi deh kita nginep-nginep lucu, bawa koleksi serial TV kita yang bejibun (waktu itu sih saya dan suami lagi kejar tayang The Big Bang Theory ya), dan makan enak di hotel. Keseruan dalam 2 hari 1 malam yang cukup buat refresh isi kepala kita. Ibu senang, Ayah senang, Anak girang. Ya giranglah, di hotel dia bisa ngapain aja. Bobok sambil jungkir balik juga bisa, kali, hahaha.

Oiya, dan satu lagi, buat yang punya anak kecil, Traveloka ini juga bisa jadi andalan, lho. Lewat Traveloka, kita bisa ngecek juga hotel mana yang ramah anak, hotel mana yang punya area playground, dan karena banyak foto-foto dari hotel yang terkait di Traveloka, kita jadi lebih mudah banget cari hotel mana yang sekiranya nyaman juga buat si kecil. Buat saya, ini tentu aja penting, mana anak baru umur 1 tahun, kan ya.

Jadi, siapa bilang pesan hotel harus punya credit card dan harus pusing? Saya harus terima kasih banget sama Traveloka nih, harus salim banget banget banget!

Oktober 19, 2017

Jangan Nonton Kalo Takut Kesindir.




Jadi gini, kapan hari itu aku nonton film di bioskop. Udah agak lama sih. Kemudian tiba-tiba muncul trailer film yang menceritakan geng anak muda, dua laki-laki dan dua perempuan. Dandanannya kalo menurutku sih norak ya, tapi siapa tahu itu memang dandanan kids jaman now? Hahaha. Pergaulannya bebas, seakan nggak terkekang, kemudian ditampilkan pula orang tua yang terlihat kewalahan menghadapi anak-anaknya. Waktu itu kupikir, film apa sih ini? Bukan yang langsung penasaran, tetapi yang mikir, apa emang anak jaman sekarang gitu banget sih?

Ternyata, film ini adalah fil My Generation, yang ternyata lagi, sutradaranya adalah Mbak Upi. Iya, MBAK UPI FAVORITKU ITUH! Sebelumnya aku emang suka sama beberapa film-film garapan Mbak Upi. Pernah nonton Realita, Cinta, dan Rock n’ Roll? Pernah nonton Radit dan Jani? Ini nih aku tanyain, ada yang belum pernah nonton 30 Hari Mencari Cinta? Yang sampai sekarang lagunya Sheila on 7 yang jadi soundtrack-nya itu terngiang-ngiang terus di kuping ya ampun aku kangen jaman dulu huhu T__T

Sheila Gank mana nih suaranyaaaa uhuukk!

My Generation sendiri menceritakan tentang persahabatan 4 anak SMA, Zeke, Konji, Suki, dan Orly. Diawai dengan gagalnya mereka pergi liburan karena video buatan mereka yang berisi protes terhadap guru, sekolah, dan orang tua menjadi viral di sekolah mereka, sehingga mereka dihukum tidak boleh pergi liburan. Tapi buka anak millennial dong kalo nggak banyak akal. Mereka ogah merutuki keadaan dan membuat orang-orang yang menghukum mereka berpuasdiri. Liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, akhirnya justru membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang sangat berarti dalam kehidupan mereka berempat. Petualangan dan kejadian apa sih yang bener-bener bikin anak muda yang penuh dengan pemberontakan ini akhirnya takluk dan berubah mindset? Penasaran? Sama HAHAHA.

Karakter keempat anak muda ini cukup unik, bahkan masing-masing punya masalah sendiri-sendiri yang sebenarnya mereka denial ya untuk mengakuinya. Bagaimana sih karakter mereka yang beda-beda itu? Ini nih:

  • Orly. Dia perempuan yang kritis, pintas, dan berprinsip. Dan, dia sedang dalam masa pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal-hal lain yang ‘melabeli kaum wanita’. Salah satunya tentang keperawanan. Orly berusaha mendobrak dan menghancurkan label-label negatif yang sering diberikan kepada perempuan. Diluar itu, Orly bermasalah dengan ibunya yang single parent, yang sedang berpacaran dengan pria yang jauh lebih muda. Bagi Orly, gaya hidup sang Ibu tidak sesuai dengan umurnya.
  • Suki. Suki ini perempuan yang paling cool diantara teman-temannya. Selayaknya anak muda pada umumnya, Suki memiliki masalah dengan kepercayaan dirinya, tapi ya itu, dia selalu denial, dan berusaha menyembunyikan masalah itu rapat-rapat. Tetapi lambat laun krisis kepercayaan dirinya menjadi semakin besar, sejalan dengan orangtuanya yang selalu berpikir negatif terhadap dirinya.
  • Zeke. Zeke ini pemuda rebellious tapi juga easy going dan sangat loyal pada sahabat-sahabatnya. Tapi, ternyata dia memendam masalah yang sangat besar dan menyimpan luka yang dalam di hatinya. Zeke merasa orangtuanya tidak mencintainya dan tidak menginginkan keberadaannya. Untuk menyembuhkan luka yang dipendamnya, Zeke harus berani mengkonfrontasi orangtuanya dan membuka pintu komunikasi yang selama ini terputus diantara mereka.
  • Konji. Nah, Konji ini pemuda yang polos dan naïf. Dia sedang mengalami dilem dengan masa pubertasnya. Dia merasa ditekan oleh aturan orangtuanya yang sangat kolot dan over-protective. Hingga ada satu peristiwa yang membuatnya shock. Hal itu membuat kepercayaannya kepada kedua orangtuanya hilang, dan Konji balik mempertanyakan moralitas orangtuanya yang sangat kontradiktif dengan semua peraturan yang mereka tuntut terhadap Konji.


Keempat remaja ini ada diantara kita. Ada banyak Orly, Suki, Zeke, dan Konji di lingkungan kita. Tinggal kita peka nggak sih? Atau kita cenderung judgmental dengan langsung melabeli mereka remaja nggak bener?

Mbak Upi ini nggak tanggung-tanggung lho bikin filmnya. Penulisan naskahnya saja butuh waktu setahun. IYA, SETAHUN! Masih ditambah riset intensif selama 2 tahun. IYA, DUA TAHUN! Untuk bisa menggambarkan realita senyata-nyatanya, Mbak Upi bener-bener total.

Buatku pribadi sih ini film remaja sekaligus parenting ya. Soalnya mengasuh anak itu bukan trial and error. Bukan pula kegiatan yang ada manual book-nya, nggak ada remediasi, dan yang jelas, ini buatku adalah perjalanan bathin dengan Sang Pencipta. Kok bisa? Iya, lha anak itu kan titipan Gusti Allah, WAJIB hukumnya untuk mendapat pengasuhan yang terbaik. Dan terbaik buat mereka ini belum tentu terbaik buatku, lho. Sudah cukup paham? Dan film My Generation ini seakan menjadi bekal kita, para orang tua, dalam mendidik anak.

Nah, pada tanggal 10 Oktober kemarin, ada konferensi pers yang dihadiri pemain dan sutradara film My Generation. Semua pemeran utama di film ini memang pemain baru, masih fresh, segar, dan to be honest, bikin penasaran. Sekarang kan dunia perfilman kita diisi sama pemain-pemain lama yang emang aktingnya nggak perlu diragukan lagi kan ya. Tapi pemain baru ini gebrakan baru dan berani banget dari Mbak Upi. Masih inget tentang film-film yang pernah ngehits jaman angkatan AADC? Dari angkatan itu juga muncul lho banyak pemain film baru, yang nyatanya sampai sekarang mereka udah bertengger jadi pemain film professional. Aku yakin, para pemeran tokoh utama di My Generation ini one day juga bakal jadi pemain film handal. You should watch them play their roles. Totalitas tanpa batas – mengutip entah siapa.



Mbak Upi dan pemeran utama film My Generation

Suki, Zeke, dan Konji

Tuh kan, para pemainnya aja oke punya semua

Kalau masih penasaran sama film remaja yang nggak ngepolin kisah cinta-cintaannya, wajib banget diintip trailernya disini: My Generation Trailer.
Karena biasanya kan film remaja itu ceritanya nggak jauh-jauh dari urusan percintaan kan ya, kalau yang ini beda. Isu keluarga, sekolah, bahkan internal issue dari dalam diri mereka sendiri menjadi tema pokok di film ini. If you want to watch something different, then you SHOULD watch this movie. Aku kalau udah ngomong gini nggak pernah bokis, Gengs. Karena jujur aku sendiri masih takut sama bakal remajanya anakku ini gimana. Zaman sudah berubah. Everything changes, and that’s the challenge. Titik.

Gengs, jangan lupa ya pasang alarm kalian. Tanggal 9 November 2017 film ini bakal rilis. Saatnya siapkan budget, siapkan waktu, dan mental buat nonton cerita yang bakal bikin kita ngelus dada dan introspeksi diri ini ya. Sekalian bawa popcorn, jangan lupa. Karena apalah artinya nonton tanpa popcorn dan coke lol.

 
Nonton kita yuk

Oktober 17, 2017

Because The Important Things is You, Yourself

Postingan ini disponsori oleh hasil ngelamun sambil menunggu lotek selesai dibuat dan dibungkus. Aku suka sekali melamun, kadang pikiran terbang nggak tahu sampai kemana, nembus aturan-aturan pakem, yang kalo kata orang disebut mimpi. Tapi kadang dari ngelamun itu aku menemukan ide-ide segar yang kalo orang bilang biasa didapat ketika kita lagi boker di kloset. Kalo aku kok beda, ide-ide itu biasa didapat kalau lagi ngelamun atau naik motor. 

Siang ini tadi baca-baca tulisan GKR Hayu yang kuidolakan sebagai feminist itu dan kemudian muncul ide, kenapa nggak bikin website berbasis domain sendiri saja. Bukan buat gaya-gayaan, tapi kalo punya website sendiri yang belakangnya pake .com seru juga yah. Kemudian muncul pertanyaan baru, kalo udah bikin terus bagaimana? Mau diisi apa? Mau diisi curhatan seperti ini apa ya nggak bosen dan kok kesannya nggak migunani liyan ya? Jadi dalam waktu sempit itu diputuskan kalau website masa depanku itu sebaiknya diisi hal-hal yang migunani liyan. 

Selain karena aku suka sekali menulis, aku juga suka sekali berbagi. Banyak hal yang sebenarnya pengen aku lakukan, tapi aku benar-benar sedang mengalami defisit segalanya: ya tenaga, ya waktu, ya uang. Entah bagaimana nanti aku mau set goal-ku yang ini, tapi layak sekali dibikin metode pencapaiannya. Semoga aku nggak malas, ya.

Sementara bikin resolusi untuk tahun 2018, tahun 2017 sendiri masih belum habis. Baiknya sisa 3 bulan ini dihabiskan dengan cara sebaik-baiknya. Baiklah, jadi mari kita bikin poin mini goals yang harus dilakukan selama 3 bulan kedepan.
  1. Mengurangi Bermain di Social Media. Ini gampang-gampang susah. Step pertama yang aku lakukan adalah menerapkan lagi zen living. Buka secmed untuk hore-hore saja boleh, tapi bahas hal-hal yang serius bin sensitif, sebaiknya aku nulis di blog saja. Bukan apa-apa, aku baru saja mengalami hal yang nggak mengenakkan. Dan itu terkait dengan orang terdekatku, jadi baiknya aku tulis di ruang yang bisa berisi penjelasan yang lebih luas daripada status facebook. Ya, lebih detailnya, aku mau puasa facebook dulu selama beberapa hari, atau beberapa minggu, jika diperlukan.
  2. Perbanyak Menulis di Platform-Platform Berbasis Blogspot atau Opini. Ya, seperti ini. Ada hal yang bisa dijelaskan panjang dan lebar untuk meminimalisir kesalahpahaman seperti jika hanya menulis secuil pemikiran di status Facebook, misalnya. Atau yang lebih ekstrem, 140 karakter di Twitter, misalnya. Aku ingin lebih tenang, dan karena itu, aku ingin memperbanyak menulis untuk menampung pemikiran-pemikiran yang sering ngumpul di kepala, tapi enggan kutulis di status-status social media. Dan, aku sendiri suka dengan topik yang sensitif di mata orang lain, seperti politik, agama, dan kesetaraan gender, maka sebaiknya kutulis di platform yang semi tertutup seperti ini. Mengapa semi tertutup? Karena hanya orang yang 'mau membaca' saja yang akan membacanya. Fair and square, right?
  3. Perbanyak Ibadah. Definitely untuk mendukung konsep zen living-ku.
  4. Perbanyak Memberi. Ini cita-cita sejak dulu, maksudnya, aku selalu merasa lebih tentram dan lega ketika bisa berbagi memberi kepada orang lain. Butuh ke-istiqomah-an dalam hal ini, karena kadang rejeki yang kita anggap nyata adalah berupa uang, yang mana pada beberapa bulan ini sedang seret karena suatu hal: gaji kami di kantor tidak secara tepat waktu dibayarkan, pun kantor masih menunggak pembayaran gaji selama beberapa bulan. Hal tersebut menghambat niat untuk memberi, padahal jika dipikir-pikir lagi, kayaknya nggak bakal kekurangan juga kalau hanya untuk memberi sesuatu untuk membuat anak-anak panti asuhan senang, misalnya. Tapi sifat manusia kami memang terlalu sombong.
  5. Perbanyak Membaca. Sebuah cita-cita luhur yang mungkin terlalu tinggi untuk ibu muda macam saya. Membaca sebuah novel yang agak berat saja sekarang butuh waktu berhari-hari, sedangkan membaca Harry Potter yang tebal itu dulu aku bisa selesai dalam waktu 1 x 24 jam. Betapa keterampilan membacaku menurun drastis karena tidak dilatih ini. Bagaimana aku bisa selesai membaca Das Kapital atau Di Bawah Bendera Revolusi kalau ketrampilan membacaku loyo begini? Sedih? Sempat sedih, kemudian bangkit. Ya kenapa sedih, toh sedih juga nggak menyelesaikan masalah. Mendingan bangun terus susun rencana bagaimana mengembalikan apa yang sudah hilang. Terdengar klise, tapi ini bukan pekerjaan Roro Jonggrang yang bisa sehari dua hari selesai, lho. Sekali lagi, butuh istiqomah.
  6. Merawat Diri. To be honest, i feel uncomfortable dalam bentuk tubuh seperti ini. Aku butuh membuang lemak-lemak tubuhku, dan butuh masker wajah untuk membuat wajahku kembali terlihat segar, seperti dulu. Mas Andro bilang aku nggak perlu semua itu, karena aku sudah cantik, versinya dia. Tapi aku ingin merawat tubuh agar lebih sehat (dan cantik atau kinclong itu anggaplah bonus) jiwa dan raga. Bukan hanya itu, merawat badan juga sejalan dengan merawat kesehatan, baik jiwa, maupun raga. Dan itu bukan semata untuk diriku sendiri, tapi jika aku sehat dan segar, Mas Andro dan Adek juga pasti lebih bisa dibahagiakan, bukan? Aku seringnya lupa, bahwa membahagiakan orang lain itu harus dimulai dengan membahagiakan diri sendiri.
After all, ada banyak hal yang ingin aku wujudkan, tapi semua bisa dilakukan satu demi satu. Memisahkan antara yang butuh dengan yang ingin adalah salah satunya. Perbanyak membaca buku bisa dilakukan sejalan dengan perbanyak menulis. Ada banyak sekali buku yang belum sempat aku beli untuk kubedah dan kureview sebagai tanda keseriusanku. Dan ada banyak sekali percobaan-percobaan lain yang antri untuk aku eksekusi sambil menunggu bulan-bulan penuh pekerjaan ini selesai. 

Kurangi tidur.
Karena akhir-akhir ini aku sering kelelahan luar biasa, aku jadi terbiasa bangun agak siang di pagi hari. Tidak sempat mengawali hari dengan me-time sebelum bertempur dengan urusan-urusan masak-memasak dan berakhir dengan bekerja di kubikel sendiri. Hal itu rupanya membuatku semakin kelelahan. Baiklah, mari kita bangun lebih pagi, melakukan olahraga ringan sebentar, memasak, dan siap bekerja. Sekali lagi, aku sangat butuh ke-istiqomah-an dalam melakukan rutinitas tersebut. Semoga aku mampu, ya Gengs. Maaf postingan kali ini serius sekali, karena aku juga lagi dalam mode serius. Serius ingin lepas dari hal-hal yang tidak aku sukai tapi mengikatku saat ini. Semoga tulisanku ini tidak membosankan, ya! Tabik!

Oktober 10, 2017

Nothing Stays The Same, and That's The Challenge

Cheerstraw!! :)
Hai, long time no see. Liat update terakhir blogspot, kok udah tahun lalu, dan seketika aku merasa tidak berguna. Terus, siapa suruh punya dua blog, sih, Nda! Kemudian hari ini aku kepikiran sesuatu, tentang blogku yang ini. Ini blog tertuaku, sudah banyak post yang aku publish disini dan sejak tahun 2015, sudah aku putuskan kalau blog yang ini hanya akan menjadi tempat publikasi karya fiksiku. Ya, memang aku bukan penulis tenar. Tapi setidaknya, aku penulis, kan, karena aku menulis? Lebih dari itu, aku percaya kalau suatu hari waktu akan memberi jalan, jadi selagi bisa berkarya, kenapa tidak terus berkarya?

Sepertinya tulisan kali ini akan mengandung curhat, karena siang ini aku napas tilas tempat-tempat yang dulu udah menjadi lingkungan kedua setelah rumahku. Ya, benar, lingkungan kost. Aku makan siang di warung soto yang dulu sering aku datangi. Aku mengendarai motor menuju Ekologi (biar dikira kekikian, lol!) melewati Pogung Pandega, melewati laundry langgananku yang wanginya merebak membuatku semakin tenggelam dalam nostalgia-nostalgia kecil semasa malas mencuci di kost (baca: emang selalu laundry, bocahnya udah males kalo sama urusan kucek-mengkucek baju cucian lol). Lalu aku sadar sesadar-sadarnya: lingkungan ini memang sudah berubah. Nothing stays the same.

Makin jauh aku semakin banyak berpikir. Berapa lama waktu yang sudah aku lalui sampai sekarang, sampai menjadi aku yang sekarang. Berapa banyak aku sudah bersyukur? Hidup sering menawarkan hal-hal diluar ekspektasi kita, seperti misalnya ketika sudah sampai Ekologi, eh, ternyata penuh. coworking space-nya juga penuh, atas bawah. Jadilah aku keluar lagi dan mencari tempat lain. Dapat, Eastern Kopi TM. Not bad. Not bad at all, karena mau bilang bagus kok menu kopinya cuma dikit banget. Jadilah pesan es teh dan kaya-cheese toast. Agak berlebihan, padahal di menu hanya tertulis roti bakar kaya keju. HAHAHA GOTCHA! 

Sekarang memang ada hal-hal yang membatasi aku, karena aku sudah menjadi Ibu. Suka-duka menjadi ibu aku tuangkan di blog tema parenting yang berbeda dari ini (baca: maretseptember.wordpress.com). Biarkan blog ini selalu menjadi blogku, aku, yang tidak berubah ditempa waktu. Aku yang selalu menjadi si sinis semenjak kuliah, aku yang tidak mudah percaya akan hal-hal yang belum aku cerna, aku yang memang suka mengamati (pemerhati, bukan aktivis) dan lebih suka mendengar ketimbang bicara, aku yang menuangkan apa yang tidak bisa aku ucap melalui tulisan-tulisan seperti ini.

Adalah sebuah hal yang penting, ketika kita punya waktu barang satu jam untuk menjadi diri kita sendiri. Memencet tombol F5 (jadul!) untuk memberikan kita sedikit kelonggaran dalam melepas embel-embel istri, ibu, karyawan, anak, atau apapun yang mempredikatiku. Aku hanya ingin memiliki kebebasan barang satu jam untuk melakukan apa yang aku mau: menulis blog. Kelak kita semua akan tahu, how important this one hour is. Begitulah, manusia kadang juga lelah dengan segala gelar yang disandangnya, meskipun banyak yang memuji betapa mulianya kita telah menjadi ibu, betapa pintarnya kita telah menjadi sarjana, betapa aktifnya kita menjadi karyawan perusahaan swasta, dan lain sebagainya. Tapi selalu ada yang terlupa, bahwa kita juga memerlukan kesendirian untuk menikmati perjalanan bathin kita, mengevaluasi diri kita sebagai seorang individu yang juga berpredikat makhluk asosial. Sendiri menjadi sesuatu yang mewah, karena jarang sekali kita dapatkan. Dan bulan-bulan ini, apalagi. Ugh!

Ada apa dengan bulan-bulan ini? These months, i tellya, are a very tiring month! Semua tidak selalu datang bertubi-tubi, tapi semua datang beriringan, tanpa jeda. Ini, sejujurnya, membuat kewarasanku agak kurang terjaga. Aku sering bengong memikirkan betapa banyak hal-hal yang tidak bisa aku lakukan, atau betapa banyaknya waktu yang terbuang hanya dengan hal-hal nggak penting (aku ingin banting hape saja!). Dulu aku bisa saja menulis sampai larut malam karena tidak ada yang harus diurus siang malam maupun tidak ada yang harus dipersiapkan sebelum pagi menjelang. Tapi sekarang tentu udah berubah, tapi aku hanya akan bilang kalau ini hanya soal ritme yang belum pas saja. Kupikir. Tapi ya... memang semakin dewasa semakin kita menemukan bahwa hobi kita adalah sebuah tempat nyaman dimana kita berharap bisa bersandar padanya seharian, meskkipun pada akhirnya hanya bisa dihitung dalam hitungan menit saja.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya berakhir menjadi sesuatu yang nirfaedah. LOL. Jangan lupa menjaga kewarasan, kalian diluar sana!

Mei 30, 2016

Nihilisme Itu Mulai Nyata

"Lo tahu nggak, saking takutnya seorang makhluk terhadap apa yang dihadapinya, dia akan cenderung memilih untuk kabur. Seperti yang selalu terjadi antara rusa dengan singa."

Kata-kata dari majalah wanita gaul tersebut terngiang-ngiang terus di telingaku. Apakah kita, makhluk hidup, merupakan makhluk yang pengecut? Keberanian tidak pernah berubah makna dari hanya sebuah kata. Kamu pengecut, kataku pada gadis di dalam cermin.

Gadis itu mengkerut membayangkan hal-hal yang dia takutkan. Kehidupan yang penuh tetek bengek kegiatan sosial itu membuatnya takut. Dia memilih bersembunyi di dalam cermin, selamanya. Brengsek kau, sini kau gantikan aku! Sini kau gantikan aku menghadapi manusia-manusia di luar rumah yang mempunyai lidah setajam pisau daging, hati sedingin suhu terendah di kutub utara, dan mata yang melototimu seolah ingin menelanjangimu! Aku ingin bersembunyi saja, selamanya.

Tapi tentu tidak bisa. Hari Senin ini aku harus ke kantor. Kegilaan Istri Arkana Jumat kemarin masih meninggalkan bekas perih di hatiku. Sepertinya Tuhan tidak belajar dari kisahku beberapa tahun silam. Luka itu masih belum kering, Tuhan. Mengapa Engkau ciptakan luka lain di hatiku saat ini?
Jauh sebelum Tragedi Fritz, ya, aku memiliki momen tersendiri dengan menamainya Tragedi Fritz, hidupku sudah penuh dengan tragedi. Bukan, aku bukan tokoh utamanya. Tapi tengoklah Kakek. Kakek sampai harus lari ke Inggris untuk menghindari rasa sakit yang tidak pernah bisa sembuh itu.

Aku pernah kehilangan Ibu yang tidak sanggup hidup dengan Bapak yang merupakan seorang anak ex-Tapol. Iya, Kakekku adalah salah satu tahanan di Pulau Buru yang setelah 15 tahun masa penahanannya, dia tidak pernah tahu kesalahannya apa.
Mungkin aku tidak sesengsara Kakek yang harus merasakan penjara selama 15 tahun. Aku hanya diteriaki sebagai wanita perusak rumah tangga orang di depan teman-teman kantorku. But how bad is bad

Gadis di depanku memandangku sinis. Hah, tentu saja dia bisa memandangi aku yang hidup di dunia yang penuh manusia ini dengan raut muka suka-suka dia. Dia tidak pernah merasakan bagaimana susahnya memaafkan, bagaimana susahnya melupakan, dan bagaimana susahnya untuk tidak teringat kembali dengan kenangan-kenangan buruk itu. Bagaimana sakitnya membuat kenangan saat momen-momen itu berhenti berproduksi. Tentu dia tidak akan pernah merasakan hidup diluar cermin. Ingin aku berpindah media hidup dengannya sekali ini. Sekali ini saja, biarkan aku tinggal di cermin, dan bayanganku itu menggantikanku berkompromi dengan manusia-manusia yang suka mencibir diluar sana.

"Nala?!" Bapak memanggilku berteriak. Aku tergopoh-gopoh keluar kamar. Kusaksikan Bapak masih duduk di kusi rodanya dengan nyaman dalam diam sambil membaca korannya.
"Ada apa, Pak?" tanyaku sedikit kesal.
"Tehnya sudah mulai dingin lho. Kamu juga seharusnya sudah berangkat, kenapa masih di rumah saja?" tanya Bapak perhatian.
"Ini Nala sudah mau berangkat, Pak," aku merapikan tasku.
"Kok kamu pucat sekali? Ndak bedakan ya pagi ini?" sudah Pak. Aku sudah bedakan, kemudian aku hapus lagi. Untuk apa bedakan kalau hanya akan diahina sebagai orang ketiga nantinya di kantor?
"Sudah Pak. Nala berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
Dan aku melesat keluar.

*

Beberapa jam yang tenang di kantor tiba-tiba kembali riuh. Semua berawal dari pesan dari rekan kerjaku, katanya aku ditunggu di ruangan Pak Direksi sekarang juga. Bisik-bisik yang kudengar sungguh menyakitkan.
"Eh, sekarang dia ngedeketin Pak Direktur tuh, amit-amit ya!"
"Astaga, Pak Direktur pun diembat!"
"Eh, siang-siang gini? Di ruangan Pak Direktur?"
Bisik-bisik murahan, tidak mendasar, tidak disertai bukti, kurasa otak kalian sudah diserap moral rendahan kalian sendiri!

Aku sungguh muak.

"Nala," panggil Pak Direktur setelah aku duduk di kursi di depan beliau.
"Sudah berapa lama kamu bekerja disini?" lanjutnya.
"Sudah 4 tahun, Pak," jawabku.
"Kamu tahu 'kan peraturan di kantor ini?"
"Tahu Pak."
"Sebutkan!"
"Sebutkan, Pak?" aku mengulangi pertanyaannya.
"Masih ingat dengan ketentuan 'berkelakuan baik'?" tanyanya penuh tendensi.
"Iya, Pak..." aku mulai berfirasat tidak baik. Sesuatu akan terjadi setelah ini.
"Kamu ini cucu dari ex-Tapol. Orangtuamu cerai, dan sekarang kamu... ehmm kamu menjadi kekasih pria beristri..." Pak Direktur mengambangkan kalimatnya.
"Maksud Bapak?" bagaikan pohon kering di musim kemarau, api sekecil apapun akan mampu membakarku.
"Kamu tidak memiliki syarat untuk menjadi karyawan disini lagi, Nala. Harus saya urai satu per satu mengapa kamu seharusnya mengundurkan diri atau..."
"EXCUSE ME?!" aku memotong kalimatnya sambil berteriak.
"...atau saya pecat," lanjut pak Direktur pelan.
Aku tidak percaya. Aku tidak pernah membayangkan aku akan dipecat dengan cara sehina ini. I'm lost at words. Damn damn damn Arkana! Kamu dan istri sialanmu itu tidak pernah cukup membuatku sengsara! Lihat Arkana, perempuan yang kamu kejar-kejar ini sekarang tidak bisa bernafas saking marahnya, saking kecewanya, saking sakitnya!
"Saya..."
"Iya, kamu memiliki dua pilihan. Saya tidak mau mengambil resiko didatangi keributan lagi. Saya sudah berbaik hati menerima kamu empat tahun lalu, meskipun kamu masih belum termasuk dalam lingkaran Bersih Lingkungan. Tapi kamu..."
"Tapi saya tidak perlu segala Bersih Lingkungan brengsek itu! Saya tidak perlu menjelaskan kepada siapa-siapa diri saya sendiri, orang-orang hanya akan melihat apa yang mereka ingin lihat! Bapak lihat, coba Bapak bercermin, apa Bapak melihat orang itu dalam diri Bapak?! Coba Bapak lihat saya, Bapak melihat saya sebagai seorang cucu ex-Tapol, anak dari orangtua yang bercerai, dan sebagai kekasih gelap yang menyebabkan perceraian 'kan? Ya, karena itu yang Bapak ingin lihat!" aku berteriak mengeluarkan semua yang mampu aku ledakkan. Marah yang aku simpan bertahun-tahun telah mengerak dan hanya menjadikanku perempuan yang tidak berbudaya. Setidaknya itu yang mereka lihat.
"Baik Pak, first of all, Bapak sama sekali tidak punya hak untuk mengkorek-korek kehidupan pribadi saya, mau siapapun kekasih saya, itu sama sekali bukan urusan Bapak. Yang kedua, meskipun orang lain memandang saya seperti Bapak memandang saya, saya tidak akan membiarkan diri saya kehilangan harga diri lagi. Saya akan keluar dari kantor ini hari ini juga!" tegasku.
"Nala, maksud saya..."
"Terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Maaf jika ada yang kurang berkenan dari ucapan dan tingkah laku saya."
Aku membanting pintu ruangan Pak Direktur sambil berlinangan air mata. Dulu, aku tidak tahu apa yang akan hidup tawarkan padaku. Sekarang aku tahu, hidup tidak pernah menawarkan apapun kepadaku.

*

Bapak mengelus-elus rambutku. Sore itu aku merasa aku benar-benar enggan melanjutkan kehidupanku lagi. kehilangan pekerjaan yang aku cintai hanya karena, entahlah, apakah aku mampu bilang kalau itu adalah penyebab paling tidak masuk akal yang pernah aku temui.
"Nala, hidup memang keras," begitu nasehat Bapak.
"Nala tidak tahu kalau hidup akan memaksa kita untuk tunduk pada takdir," jawabku.
"Begitulah hidup, Nala."
Begitulah hidup. Begitulah hidup, my ass. Aku sudah cukup bersabar dan bertabah dengan hidupku. Bertumbuh dalam hinaan dan cercaan sebagai cucu dari ex-Tapol membuatku cukup ciut nyali dengan mulut-mulut besar yang tidak pernah lelah berceloteh tentang betapa sucinya hidup mereka. Kemudian saat aku mulai menemukan kebahagiaanku bersama Fritz di London, Tuhan menariknya untuk kembali ke dalam pangkuanNya. Hancur sekali, bukan, skenario Tuhan yang satu ini? Belum cukup rasanya Tuhan memporak-porandakan jiwaku, kembali minggu ini aku mendapat kado yang tidak kalah grande dari Tuhan: istri Arkana yang ngamuk-ngamuk di depanku, di depan teman-teman sekantorku. Malu dan hina sekali rasanya tubuh ini.
"Tuhan telah mati," ujarku.
Nihilisme.

*

Pagi ini, selain menatap kardus-kardus berisi pernak-pernik dari kubikel kantorku, aku hanya bernafas dengan ritme yang biasa saja. Tidak ada yang membuatku harus terburu-buru berangkat kerja ataupun keluar rumah. Aku akan menghabiskan hariku dengan semau-mauku sendiri. Toh, siapa yang akan mengurusiku kalau duniaku sendiri telah runtuh dan usai? Tuhan? Atas dasar apa aku mampu percaya lagi pada Tuhan? Atas dasar apa aku mampu percaya lagi pada manusia dan segala moralitas-bullshit itu? 
"Nala?" panggil Bapak dari luar kamar.
"Ya?" jawabku.
"Kamu tidak keluar rumah hari ini?" tanyanya lagi.
"Ngapain keluar rumah, Pak?" jawabku.
"Nala..." Bapak dengan kursi rodanya memasuki kamarku.
"Bapak tahu, yang menimpa kamu sangat tidak adil."
"Apa yang Tuhan lakukan ke Nala itu jahat, Pak."
"Lantas apa kamu mau balas dendam ke Tuhan?"
"Kalo itu memungkinkan, kenapa tidak?"
"Nala..." Bapak menghela napas.
"Sudah, Pak. Sudah tidak ada artinya semuanya. Semua sudah hilang makna, semua sudah punah. Nala hanya pengen nerusin hidup Nala yang entah bakal berjalan ke arah mana. Apa artinya hidup kalo udah nggak ada lagi yang bisa Nala percayai?"
"Kamu selalu bisa percaya pada Bapak."
"Ibu juga seharusnya selalu bisa percaya pada Bapak."
"Nala..."
"Pak, sudah. Sudah, ya, Pak?"
Bapak menghela napas dan meninggalkan kamarku dengan derit suara kursi rodanya.
Aku membuang muka pada tumpukan buku di samping kananku. Wajah Friedrich Nietszche memandangku dari balik sampul merah bertuliskan Human, All Too Human.
Kamu benar, Nietzsche, God is dead.

*

Siang itu terik sekali. Setelah membikin es sirup, duduk bersantai di kasur sambil meneruskan membaca Norwegian Wood-nya Haruki Murasami, telepon rumah berdering. Aku tidak mengangkatnya, alih-alih, aku menghitung, ia sudah memperdengarkan deringnya berapa kali. Bapak sedang di kamar, kemudian berteriak memintaku untuk mengangkat telepon yang deringnya kini mulai mengusik pendengarannya.
"Bapak saja yang angkat, aku sedang mendengarkan dering telepon!" jawabku asal.
Terpaksa Bapak mengangkat telepon sambil melirikku dari celah daun pintu kamar yang tidak kukutup rapat utuh.
"Halo... ya benar... iya, benar. Oh... iya benar, astaga, Joyce! Apa kabar, apa kabar? Iya, Alhamdulillah, kabar kami semua baik. Iya, ah, tidak mungkin! Iya, bagaimana, Joyce?" terdengar suara Bapak dan nada gembiranya. Kemudian hening setelah kalimat tanyanya yang terakhir. Bapak terlihat manggut-manggut. Kemudian manggut-manggut lagi.
"Aku mengerti. Iya, terima kasih sekali, aku paham itu. Memang, siapa yang tidak rindu Indonesia. Ya, coba nanti aku bicarakan dengan anak-anak dulu. Hati-hati, Joyce, kabarin aku kalau sudah akan berangkat. Iya, see you, too, Joyce." Bapak menutup teleponnya. Terlihat berat, kurasa telepon barusan memberikan beban baru buat Bapak.
Aku mengeja satu nama itu: Joyce. Siapa tidak kenal Joyce? Joycephira Soedjono, adik bungsu Bapak yang selama ini menetap di London, menunggui rumah Kakek dan Nenek di Vale Rise, London.
Mengingat Joyce, aku teringat kembali dengan Fritz. Ah, hantu masa lalu itu kembali muncul, mengaburkan realita yang berkabut ini. Aku merutuki diriku sendiri.
Aku ingin bertanya pada Bapak mengenai telepon barusan, tapi kurasai diriku sedang enggan berurusan dengan hal-hal rumit itu. 
Bapak berjalan masuk ke kamar lagi.
Kuanggap masalah telepon Joyce masih belum selesai. Satu sisi diriku ingin tahu sekali apa yang Bapak bicarakan dengan Joyce, sedang sisi lainnya enggan tahu lagi masalah duniawi.
Jadi kusimpulkan: biarkan Bapak yang memutuskan akan mengutarakan apa mengenai telepon dari Joyce barusan. Aku melanjutkan bacaanku, Norwegian Wood:

The  women took turns brushing their teeth and withdrew to the bedroom. I poured myself some brandy and stretched out on the sofa bed, going over the day's events from morning to night. It felt like an awfully long day....

September 14, 2015

Semua Tentang Anjali

"Aku mau rujuk, Arkana."
Tiga kata dalam satu kalimat yang Anjali ucapkan malam itu ketika dia pulang marathon-meeting di kantornya hingga jam sebelas malam masih membekas dalam kepala saya. Sepuluh batang rokok yang habis saya nyalakan menjadi teman mengobrol di teras malam ini. Ralat, pagi ini. Sudah semalaman saya duduk ditemani asbak kecil di teras sambil merokok. Semenjak Anjali pulang hampir tengah malam, dia langsung mandi dan tidur. Tinggal saya yang bengong dengan apa yang Anjali katakan semalam. 

You are not the passenger, you're the leader
Kata-kata itu terus berteriak-teriak di kepala saya.
Saya teringat beberapa tahun lalu, saat saya dan Anjali baru saja menikah. Kami bahagia dengan semua kecukupan hidup. Cukup bisa makan, cukup bisa naik motor keliling kota, cukup mampu nonton televisi dirumah. Tapi beberapa saat kemudian Anjali menggugat. Dia bilang lelah. Dia bilang lelahnya tidak pernah terbayarkan. Dia ingin lelah yang menghasilkan. Dia juga berdalih ingin unjuk gigi lagi di dunia kerja, ingin kembali menampilkan eksistensi dirinya. Ketika Anjali meminta ijin untuk mendaftar pekerjaan, saya memberinya ijin. Saya mencintainya, saya tidak ingin membuat Anjali tidak bahagia, apalagi tidak bahagia karena apa yang saya hasilkan setiap bulannya masih kurang di mata Anjali. Dia ingin nongkrong di Starbucks, dia ingin makan siang di Hanamasa, dia ingin makan malam romantis di restoran romantis (dan mahal) di rooftop hotel-hotel berbintang di Jakarta. 

Anjali diterima kerja di Citibank. Dengan postur tubuh yang semampai, wajah yang cantik, dan ijazah dengan nilai cum laude dari Fakultas Ekonomi UI, tidak ada yang bisa membendung Anjali. Maka dimulailah petualangan pertengkaran-baikan-pertengkaran-baikan kami yang berlangsung cukup lama.

Saya masih mencintai Anjali, tidak bisa saya pungkiri. Meskipun dalam beberapa tahun kebelakang, Anjali seolah membiarkan saya hidup sendiri di rumah kami. Ralat, rumah yang Anjali mampu beli. Saya seolah disuruh diam dan harus mengikuti apa yang Anjali mau, selaku pemegang keuangan rumah tangga. Saya hancur, tapi saya mencintainya. Tidak adakah yang pernah bilang bahwa lelaki adalah aktor terbaik sepanjang masa? Saya harus terlihat gagah dan berwibawa dibawah telapak tangan Anjali. Tidak pernah sekalipun Anjali memberikan selamat kepada saya atas capaian-capaian saya di bidang jurnalistik, hingga akhirnya mampu menerbitkan buku sendiri. Ya, suaminya yang lemah ini memiliki taring yang tajam di dunia kecilnya yang dia bagi bersama orang-orang yang mau mengapresiasinya.

"Kamu ini! Louboutin ini harganya berkali-kali lipat daripada gajimu sebulan, tau! Yang bener dong naruhnya di tempat sepatu!"
"Sayang, kapan kamu mau belikan aku cincin di Frank and Co.? Aku udah request sejak lama lho, satu cincin aja, masa kamu nggak mampu?"
"Aku capek kerja, Arkana. Baiknya jangan lagi kamu tambahi dengan pekerjaan domestik rumah kayak gini dong. Kan kamu yang punya lebih banyak waktu lowong ketimbang aku, apa salahnya bantuin nyuci dan setrika baju?"
My ass! Ya, mengingat kata-kata yang sering keluar dari mulut indah Anjali beberapa tahun belakangan memang hanya akan menyisakan sakit hati. Bandingkan dengan Anjali ketika awal-awal pernikahan kami, dia sering bilang seperti ini:
"Asal sudah bisa makan kenyang, pakai baju bersih, dan rumah untuk berteduh, itu sudah cukup buat aku, Arkana."
"Aku kan cinta kamu, Arkana."
"Aku kangen nih, cepet pulang ya."
"Besok kamu mau pakai baju yang mana untuk kerja? Sini aku setrikain dulu."
Whatever and whatever.

Kepalaku seketika pusing. Beberapa hari yang lalu Anjali meminta cerai. Tapi malam ini dia minta rujuk. Aku tidak tahu apa yang mengubah pikirannya. Aku berharap bisa kembali mengulang kemesraan kami berdua seperti dulu. Tapi aku sedikit pesimis.
Mungkin semua itu hanya akan jadi kenangan karena mengalami discontinuation?
Mungkin sofa di ruang tengah hanya akan menjadi saksi bisu menyaksikan kami dulu sering bercengkerama diatasnya sambil berciuman penuh cinta. Atau sofa itu hanya akan mengingat perkataan Anjali yang meminta perceraian beberapa hari yang lalu ketika aku duduk dengan lungkai di atasnya? Seandainya aku bisa memilih kenangan mana yang akan aku simpan, dan kenangan mana yang akan aku buang.

It won't happen here.

"Lo tahu, gue pikir selama ini gue udah berkorban banyak buat Anjali. Somebody should stop her," saya berkata kepada asbak yang penuh dengan abu rokok.

Saya ingat, dua tahun lalu Anjali hamil. Kami berdua bahagia sekali. Saya berusaha menjaga Anjali semaksimal mungkin: membelikannya susu, memijatnya setiap malam, menyiapkan sarapan hingga makan malam dengan nutrisi yang mencukupi, hingga membelikannya cincin Frank and Co. dengan membobol tabungan yang sudah saya kumpulkan bertahun-tahun demi menjaga Anjali agar tetap senang dan tidak depresi. To tell you the truth, cincin berlian 1,2 carat tersebut harganya mampu buat saya bayar DP KPR! But we have waited for the baby for so long, Dude. Jadi saya rasa, kali ini saya tidak akan melewatkan kesempatan ini.

But we lost the baby, anyway. Kandungan Anjali memasuki bulan ketujuh. Dokter bilang Anjali kecapekan. Yeah, she works from morning until early morning. Kemudian saya tersadar bahwa kesalahan ini hanya berakar tunggang: ketidakmampuan saya menghasilkan uang yang mencukupi sehingga Anjali harus bekerja seberat itu untuk memenuhi apa yang dia mau, yang seharusnya mejadi kewajiban saya. You don't want to know how i feel. Setelahnya, pernikahan saya dan Anjali hanya sebuah legalitas sederhana, dua oang hidup dalam satu rumah yang sama. Itu saja.

Semua tidak pernah tentang saya. Semua memang selalu tentang Anjali. Tidak peduli sebesar apapun cinta saya kepadanya, saya bukan nabi. Kalau Anjali bilang bahwa lelahnya selama ini tidak terbayar, maka saya pun berhak berkata demikian. Talak dua itu tidak akan saya cabut kembali. Lelah saya pantas dibayar dengan kebebasan.

Anjali, ini semua tentang kamu. Ini bukan tentang saya dan harga diri saya, ini semua tentang kamu. Selalu tentang kamu, Anjali.