Januari 20, 2015

Sore yang Indah

Seharian di kantor aku memikirkan lelaki itu terus. Aku yakin, dia melihatku. Tapi mengapa dia berbelok pergi tanpa menegurku sama sekali? Berbagai spekulasi berlarian dalam kepalaku. Kemungkinan-kemungkinan yang mendasari sikapnya pagi ini. Tapi kemudian aku berusaha berhenti memikirkannya. Toh siapalah aku. Bahkan aku tidak juga tahu namanya. Pun demikian dengan dirinya.

Sore harinya aku memutuskan pulang kantor tenggo. Iya, istilah untuk pulang tepat waktu. Aku berjalan menuju halte bus dan menyetop jalur bus menuju rumahku. Aku terlalu lelah untuk mampir-mampir. Aku memutuskan untuk langsung pulang ke rumah dan istirahat.

Tapi aku tergoda untuk berbelok di kedai kopi. Kedai yang terletak tiga blok dari rumahku itu seolah memanggilku untuk mampir dan duduk untuk sekedar minum kopi atau membaca. 

Aku pun berbelok.

Duduk di tempat biasa dekat dengan jendela kedai, aku memesan secangkir kopi decaf. Aku sudah terlalu banyak minum kopi seharian ini. tidak baik terus-terusan ditempa kafein sampai bercangkir-cangkir. Kecuali kalau sedang lembur.

Sepertinya Tuhan mendengar harapanku. Seseorang menjawil pundakku dengan lembut. Lelaki itu menatapku sambil tersenyum.
"Maaf, tadi aku sedang buru-buru, aku harus memberi makan kucingku yang lupa kuberi makan sebelum berangkat kerja tadi pagi," jelasnya tanpa kuminta.

"Kamu pagi-pagi lari-lari nyari makan kucing?" tanyaku.
"Aku sudah sampai kantor, kemudian ditelepon pembantuku dirumah, katanya Shure belum ada yang ngasih makan."
Kini aku tahu, lelaki ini penyayang. 
"Aku lari nyetop metromini dan pulang untuk ngasih makan Shure."
"Kamu baik sekali. Padahal dia hanya seekor kucing."
"Seekor kucing itu tetap punya nyawa. Dan punya nama. Seperti kamu, punya nyawa dan punya nama, tentu saja kan?"
"Tentu saja."
"Jadi siapa namamu?" aih, lelaki ini bisa saja mengajakku kenalan.
"Kamu bisa panggil aku Dre."
"Dre, jadi kamu pelanggan kedai kopi ini?"
"Aku hanya orang kesepian. Kedai ini cocok untuk orang-orang kesepian. Coba kamu lihat cat cokelat pucat itu, kursi-kursi kayu yang suram, ruangan yang dingin, dan pelayan yang tidak banyak bicara."
"Kamu hanya terbawa perasaanmu saja. Ceritakan padaku tentang dirimu. Mengapa kamu sangat pendiam?"
"Kata siapa aku pendiam? Buktinya aku banyak bicara begini."
"Kamu suka kopi?"
"Iya."

Ada jeda diantara kita. Aku diam menyesap kopi, dan dia diam memperhatikan aku.

"Mengapa kamu menyukai kediaman?"
"Mengapa aku harus menyukai sosial?"

Kami kembali diam. Aku hanyut dalam imajinasi pikiranku sendiri. Dan dia hanyut dalam daftar pertanyaan yang mungkin akan dia tanyakan padaku. 

"Namamu siapa?" aku yang bertanya duluan.
"Arkana. Bisa panggil aku Arkana," jawabnya.
"Tentu saja, masak namamu Arkana kemudian aku panggil kamu Budi atau Bejo?" tanyaku lagi.
Dia terkekeh.
"Ternyata kamu lucu."
"Bisa saja kamu bilang aku lucu sekarang, besok bisa saja kamu bilang aku pemarah."
"Oh ya? Coba buktikan kalau kamu pemarah."
"Kamu suka mengambil keputusan dari analisis dangkal ya, rupanya?"
"Kamu suka baca buku?" tanyanya. Rupanya ego lelakinya menolak untuk memberi waktu untuk diskusi tentang analisis dangkal itu.
"Kamu bertanya aku suka baca buku karena aku selalu membawa buku ke kedai, bukan?"
"Ya, tentu saja. Ceritakan padaku, buku apa saja yang kamu punya."
"Kamu mau menarik kesimpulan tentang diriku dari genre buku yang aku baca?" aku berkelit.
"Sudah pernah baca Nietszche?"
"Tuhan telah mati."
"Kamu jenius!"
"Orang tidak bisa dibilang jenius hanya gara-gara selesai membeca buku Nietszche, Arkana."
"Baiklah, bagaimana dengan Paulo Coelho?"
"Aku sudah kenyang dengan buku Paulo Coelho. Aku tidak menantikan buku terbarunya. Dia berubah. Seperti orang-orang, tradisi atau kultur pada masa Nietszche bilang bahwa Tuhan telah mati."
"Pernah baca The Alchemist dong pasti?"
"Tentu."
"Ceritakan padaku, apa yang The Alchemist ajarkan?"
"Arkana, membaca buku itu sama seperti menyesap kopi. Impresinya untuk setiap orang berbeda-beda. Aku harap kamu mau menikmati sendiri bukumu, karena membaca sama seperti menyesap kopi."
Arkana menatapku diam. Aku juga diam-diam menatap matanya. Bola matanya cokelat tua, bulu matanya panjang dan lentik.
"Aku harus pulang, Arkana," aku memotong hening yang panjang ini.
"Besok pagi bertemu lagi, disini?" tanyanya setengah memohon.
"Atau boleh aku minta nomor ponselmu?" lanjutnya. Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Bertemu lagi boleh, nomor ponsel tidak boleh. Aku pulang dulu, selamat sore, Arkana."

Aku tidak percaya, aku membuat janji dengan lelaki itu. Perasaanku dipenuhi ketidakpastian dan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu ada. Bagaimana bila pada akhirnya dia menyakitiku seperti orang-orang lain yang sudah-sudah?
Aku berhenti pada pertigaan, mengambil beberapa cokelat dari dalam tasku. Kutaruh cokelat itu di pinggir trotoar sebelah dalam, kemudian meneruskan perjalananku ke rumah. Sore itu indah.









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar