Januari 16, 2015

Lelaki yang Berbelok

Lelaki itu orang yang baik. Aku tahu dari cara dia menatap saya. Sikapnya seolah berbicara dengan santun, mengajak saya untuk berteman. Aku tidak tahu, hingga saat ini aku masih belum bisa membuka diriku dengan siapapun.

Seusai pertemuan di kedai kopi tadi pagi, aku hanya bisa duduk termangu di dalam kamarku seharian ini. Entah bagaimana bisa, kepalaku dipusingkan oleh berbagai macam hal yang aku sendiri tidak tahu apa saja. Terngiang kembali pertanyaan lelaki itu, apakah aku baik-baik saja? Tidak ada yang baik-baik saja di dunia ini, aku selalu meyakini hal itu. Yang aku tahu, manusia adalah agen penghancur yang maha dahsyat. Dan mereka akan saling menghancurkan hingga keberadaan dunia berakhir.

Hujan mulai mengguyur bumi. Aku masih termangu di samping jendela kamarku, memandang rintiknya yang mulai menderas. Apa yang salah pada diriku? Apa yang salah pada orang-orang? Kenapa aku menyukai segala hal yang sepi dan sendiri?


Aku pernah bertanya-tanya, akan menjadi apa aku nanti Enggan membuka diri lagi hanya karena satu hal fatal yang membuatku menutup rapat-rapat diriku sendiri? Mungkin mereka bilang omong  kosong! Semua orang berlomba-lomba untuk pamer, semua orang berlomba-lomba menampakkan dirinya sendiri, tapi mengapa aku tidak ingin? Mengapa aku justru ingin orang-orang tidak mengenalku saja? Apa pentingnya hidup di dunia jika hanya mengedepankan eksistensi tanpa bisa berbuat banyak untuk yang lain? Bukankah itu namanya egois? Bukankah itu namanya mementingkan diri sendiri? Ah sudahlah, mungkin aku mulai lelah. Aku ingin tidur.

*

Pagi itu aku sudah besiap berangkat bekerja. Sebelumnya, aku ingin sarapan dulu di kedai kopi langgananku itu. Aku tidak tahu, apakah lelaki itu akan ada disana lagi atau tidak. Aku hanya ingin sarapan kopi hitam dan telur setengah matang.

*

Suasana kedai masih lengang. Aroma kopi menusuk indra penciumanku dan membangkitkan rasa laparku. Kali ini aku membawa buku Seno Gumira Ajidarma untuk menemaniku sarapan. Aku duduk di bangku paling ujung, dekat dengan tembok dan jendela kedai, menghadap jalanan. Diam-diam aku mulai menghitung jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di depanku. Tiba-tiba aku melihat lelaki itu, tepat di depanku. Berdiri di seberang jalan, dengan sepasang matanya yang menatapku dalam-dalam. 

Syukurlah...

Entah apa yang kupikirkan, tapi kehadiran lelaki itu membuatku sedikit lebih tenang. Mungkin hari ini aku harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran lelaki itu. Mungkin sejak hari ini aku akan mendapat teman berbicara. Lelaki itu berjalan menyeberangi jalan. Kemudian berbelok... menjauh dari kedai. Ada apa?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar