Januari 20, 2015

Gadis yang Menyimpan Rahasia

Sore itu saya kembali berbincang dengan gadis penyendiri itu. Entah mengapa saya selalu merasa puas setiap kali selesai mengobrol dengannya. Rasa puas yang berbeda dengan ketika saya berhasil menaklukkan hati gadis-gadis lain di luar sana. Lagipula, setiap kali harus mengobrol dengan gadis itu, saya selalu merasa harus menyiapkan diri. Seperti pagi itu, rasanya ingin sekali menyapanya saat kedua mata kami berpapasan melalui jendela kedai. Tetapi saya merasa tidak siap, maka saya berbelok. Lagipula saya memang harus memberi makan Shure. Tadi pagi saya lupa belum menyiapkannya sarapan.

Saya semakin tertarik padanya ketika dia sering berkelit mengenai dirinya. Namanya Dre. Atau begitulah dia bisa saya panggil. Saya tahu, dalam dirinya selalu ada keinginan untuk membicarakan buku-buku yang pernah dia baca, buku-buku yang bertumpuk di lantai kamarnya, yang tidak mampu lagi ditampung oleh rak bukunya. Tapi ada rem dalam mulutnya yang menyaring semua ingin-ingin itu. Saya paham, saya hanya ingin berusaha mengerti dirinya.

Dan saya tidak boleh mendapat nomor ponselnya. Mungkin gadis itu tidak punya ponsel? Entah mengapa membayangkan hal itu membuat saya bergairah. Gadis dengan buku di tangannya, dengan rambut lurus tergerai dan tidak punya ponsel.

Lamunan-lamunan saya terputus ketika menyadari bahwa gadis itu benar-benar beranjak pergi. Kami setuju untuk bertemu kembali esok pagi. Saya memperhatikan punggung gadis itu. ketika ia berbelok, kudapati ia sedang mengambil beberapa batang cokelat dari tasnya, dan meletakkannya begitu saja di atas trotoar bagian dalam. Kemudian ia berlalu.

Apa yang gadis itu lakukan?

Tak lama kemudian ada pengemis datang bersama anaknya yang masih kecil. Mereka berhenti di pertigaan itu sebentar, kemudian mengambil cokelat yang gadis itu letakkan. Ada bias kegembiraan dari mata anak pengemis itu. Saya bengong melihatnya. apa yang sebenarnya gadis itu lakukan? Memberi cokelat kepada pengemis? Mengapa harus dengan cara seperti itu? Saya harus bertanya besok pagi!

*

"Selamat pagi, Dre," sapa saya dengan hangat.
"Selamat pagi, Arkana," jawabnya datar. Wajah Dre lebam. Sekitar matanya biru lebam, dan ada luka di pinggir bibirnya.
"Dre, kamu baik-baik saja?" tanya saya, khawatir.
"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir."
"Kamu akan berangkat ke kantor dengan wajah lebam begitu?"
Dre mendongak.
"Apa kamu juga akan jadi orang yang melulu memperhatikan penampilan?"
"Maksud kamu?"
"Memperhatikan luaran, penampilan. Mempermasalahkan penampilan luar seseorang?"
"Bukan maksud saya, Dre. Saya hanya khawatir sama kamu."
"Sekarang siapa kamu khawatir sama aku?"
Kenapa Dre sangat ofensif seperti itu?
"Dre, maafkan saya. Saya memang bukan siapa-siapa kamu."
"Lebih baik kita segera memesan sarapan dan berangkat ke kantor masing-masing."
Dre menyudahi pembicaraan kami. Kami menghabiskan setengah jam waktu sarapan kami dalam diam. Bahkan saya lupa menanyakan apa yang dia lakukan kemarin sore di pertigaan itu. Saya lupa. Pikiran saya penuh dengan lebam dan luka di wajah Dre. Tapi Dre tidak menjawab apapun yang tertanyakan oleh kepala saya. Drea hanya diam. Dre menyimpan rahasia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar