Januari 26, 2015

Sebagai Muara Doa, Itu Saja

Aku tidak mungkin menceritakan pada Arkana apa yang telah aku alami semalam. Selain aku masih belum percaya padanya, aku belum bisa menyebut dia teman. Kami baru beberapa hari bertemu, kemudian mengobrol, itu saja.

Atau sejujurnya, aku tidak pernah punya teman.

Hari ini aku memutuskan tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak ingin menggantungkan soreku yang indah padanya. Aku sedang ingin sendiri menikmati hariku, seperti biasanya. Maka aku membeli sebungkus takoyaki, dan memakannya sore itu di bangku taman kompleks rumahku sebelum belanja bahan makanan untuk kumasak malam ini. Tidak ada yang (mau) mengurus Ayah dan adikku di rumah selain aku. Aku tidak pernah menyebut itu sebuah keharusan atau beban moral apapun. Mereka keluargaku, meski aku yang harus jadi kepala keluaarga. Aku menyebut ini adalah bagian dari hidupku. Hidup yang secara wajar sedang  kujalani, bukan sebuah keharusan untuk kujalani.

Hidupku kembali normal, tanpa intervensi orang lain seperti Arkana.
Aku berangkat kerja, aku pulang ke rumah, aku memasak, aku tidur, bangun pagi, dan kembali bekerja. Begitu seterusnya. Tuhan Maha Baik, aku menemukan kedamaian dalam ketenangan sungai kecil hidupku yang tanpa riak.

"Halo,"sapa seorang anak kecil ketika aku sedang menikmati takoyakiku sendirian di bangku taman.
'Halo, Adik," balasku.
"Kenapa kamu sendirian? Mau main sama aku?" tanyanya. Aku memandangnya, dan menggeleng pelan.
"Caca! Sini Nak, jangan jauh-jauh dari Mama!" seorang wanita muda menggendong gadis cilik itu dan melotot ke arahku dengan pandangan yang tidak bisa kudefinisikan maknanya. Aku tidak merasa terganggu. Aku sering mendapat pandangan mata seperti itu.

Manusia sangat suka memandang manusia lain. Manusia sangat suka memberi label kepada manusia lain.
"Kamu bau!"
"Kamu nakal!"
"Kamu jahat!"
"Kamu pembohong!"
Begitulah. Aku tidak tahu, apa yang membuat manusia-manusia itu berhak memberi label kepada manusia lainnya. Aku sendiri merasa tidak berhak memberi label kepada hidupku sendiri. Aku membiarkan hidupku seperti ini, karena aku yakin, Tuhan pun tidak ingin aku memberikan label apapun pada hidupku. Hidupku milik Tuhan. Label bisa memberi aura negatif maupun positif untuknya. Sekali lagi, manusia memang sok tahu. Dengan asumsi subyektifnya, manusia bisa seenak jidat mencela maupun memuji orang berdasarkan seleranya. Sunguh dewata!

Aku membuka buku yang kubawa hari ini. Aku senang berkawan dengan buku. Aku senang pernah menjadi anak kecil yang mengendap-endap masuk ke kamar Kakek dan menemukan surga di dalamnya. Aku betah berada di kamar Kakek seharian. Sejak kecil, aku suka menyendiri, menjadi filsuf kecil untuk diriku sendiri. Membaca buku dari selesai mandi pagi, hingga selepas Maghrib. Kakek sangat menyayangiku. Maka ketika beliau tiada, beliau mewariskan kamarnya yang penuh dengan buku-bukunya untukku.
Kakek juga dulu sering dihujat orang. Mereka menyebut kakek anggota komunis PKI.

Banyak kesesatan pikir di luar sana. Mungkin sebaiknya aku tidak pernah keluar saja. Aku akan nyaman berada dalam lingkaranku sendiri. Aku akan nyaman dengan dunia yang kuciptakan sendiri.

*

Saya tidak bertemu dengan gadis itu lagi. Entah mengapa serasa ada yang kurang tanpa kehadirannya. Gadis itu seperti oase yang memberikan kesegaran dalam hidup saya yang telah lama redup. Gairah saya meletup-letup setiap bertemu dengannya. Bahkan hanya dengan melihatnya diam, semangat saya untuk terus hidup seolah bertumbuh. Saya tahu, dia bukan nabi, juga bukan malaikat. Dia bisa saja iblis. Atau bisa saja pelacur. Siapa yang tahu? Saya hanya tahu bahwa namanya Dre. Itu saja.

Gadis itu bisa saja sedang berada dimana saja yang dia inginkan. Tapi saya akan selalu berada di kedai kopi kecil ini untuknya. Banyak sekali hal yang ingin saya tanyakan padanya. Tapi entah mengapa, rasa ingin tahu itu kemudian berubah menjadi rasa ingin mendengar setiap kali kami bertemu. Ya, meskipun dia jarang sekali berbicara, seakan takut menjadi bagian dari masyarakat yang gemar berbicara.

Dre. Dre tidak menampakkan diri dua hari berturut-turut ini. Saya menjadi semakin mirip dengannya akhir-akhir ini: duduk sendirian di kedai, menikmati masa menunggu. Cemas, tentu saja. Tapi nikmat. Menunggu tidak semenyakitkan apa yang dikatakan orang-orang. Saya hanya harus mengisi ulang cangkir kopi saya.

Atau mungkin memang jalan hidup kami ditakdirkan untuk berpapasan beberapa saat saja. Sesaat yang cukup bagi kami untuk bertukar nama. Setidaknya saya sudah tahu, kemana doa-doa saya akan menuju ketika sedang sangat merindukannya. Dre. Dre, gadis yang akan mendapat doa dari saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar