Januari 28, 2015

Catatan Arkana

Seharian ini saya harus meliput kejadian kriminal yang semalam baru saja terjadi. Pembunuhan dengan motif kecemburuan dalam biduk rumah tangga seorang artis. Pelaku langsung menyerahkan diri dengan derai air mata penyesalan. Pecundang, kata saya. Hanya pecundang yang memilih untuk menyesal daripada harus berpikir dahulu sebelum bertindak. Dan laki-laki itu, yang sudah menghabisi nyawa istrinya sendiri, adalah seorang pecundang yang sedang bercucuran air mata.
Hampir satu jam saya nongkrong di Mabes Polri, berusaha untuk membuat janji wawancara dengan narasumber pecundang satu itu. Tapi Kabag Hendro, yang juga sudah berteman baik dengan saya, masih belum bisa memberikan janji temu antara saya dengan si pelaku dengan alasan kejiwaan pelaku yang masih terguncang. Saya memutuskan untuk menunggu saja di Mabes sambil merokok.
Satu setengah jam berlalu. Saya mulai bosan. Saya putuskan untuk pergi dulu, meninggalkan pesan untuk Hendro untuk memberikan saya waktu wawancana dengan pelaku tersebut. Kalau tidak secepatnya, Pak Panca pasti akan ngamuk-ngamuk lagi. Terserahlah, pikir saya. Kali ini saya tidak akan keduluan sama wartawan majalah mingguan Fokus, dan tabloid-tabloid gosip yang gemar mengorek-ngorek berita apapun tentang dunia entertainment.

Saya melajukan mobil tua saya menuju Kedai Kopi Hitam.
Pukul 16.00 saya sudah sampai Kedai Kopi. Selesai memesan secangkir kopi hitam dan red velvet cake, saya mulai mengeluarkan buku catatan saya. Ini hari ketujuh gadis itu tidak menampakkan diri di Kedai Kopi. Setiap pagi dan sore, saya setia menungguinya disini. Entah rasa apa yang membuat saya mampu telaten memberikan waktu saya untuknya. Belum lagi ketika sedang dikejar-kejar berita, dikejar-kejar keluarga, saya akan dengan gilanya tetap berada di Kedai ini.

Dan gadis itu tetap belum juga menampakkan dirinya. Saya mulai gelisah dan khawatir dengannya.

Kendaraan berlalu-lalang tanpa jeda. Terasa sangat paradoks dengan saya yang sedari tadi diam saja di tempat ini. Saya mulai memikirkan kejiwaan saya sendiri. Saya begitu terobsesi dengan gadis itu, gadis yang baru tiga kali bertemu dengan saya di Kedai Kopi ini. berbagai spekulasi mulai menggentayangi saya. Bisa saja gadis itu pindah kedai. Bisa saja gadis itu pindah kantor, pindah rumah, pindah tempat nongkrong, atau gadis itu benci sama saya. Bisa saja. Semuanya bisa saja.

*

Saya memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kedai. Debu-debu sore hari mulai berterbangan. Gerak roda kendaraan roda empat dan roda dua beradu dengan aspal panas di depan kedai. Saya memutuskan berjalan-jalan di dalam kompleks perumahan di dekat kedai. Sejujurnya saya tidak tahu kemana harus berjalan. Kehilangan gadis itu seerti kehilangan jiwa saya. Saya mulai berpikir tentang chemistry yang tidak mungkin terjadi antara saya dengan gadis itu. Saya mulai kehilangan diri saya. Mungkin gadis itu memang benar-benar seorang soul eater. Saya mulai kecanduan dengan kehadirannya. Entah mengapa, entah.

Di depan saya ada taman lingkungan yang ramai dengan anak-anak bermain sore. Gerobak-gerobak yang menjual berbagai macam makanan ikut memeriahkan suasana. Saya berjalan mengitari taman, mencari bangku untuk duduk. Tempat ini sungguh nyaman dan damai. Saya bisa saja duduk disini seharian. Daun-daun pohon mangga berguguran menghujani saya. Kubuka kembali buku caatanku, seolah ingin menuliskan sesuatu di dalamnya. Perasaan yang membuncah hingga detik ini ingin saya tuangkan ke dalam catatan pribadi saya. Tapi pena saya seakan tidak mau bergerak. Pena saya mati. Tidak ada yang bisa saya tuliskan dalam buku catatan saya kecuali kata rindu yang menggebu. Entah bagaimana bisa rindu ini menjelma menjadi berbagai rasa yang tidak manusia mengerti.
Tidak satu katapun saya tulis dalam buku catatan saya. Tangan saya terasa kelu. Kelu hingga senja datang membuat semua warna memudar dalam oranye yang indah dan magis. Kabag Hendro belum juga menghubungi saya. Gadis itu belum juga memunculkan diri. Dan Tuhan masih bersembunyi dalam indahnya dunia yang membuat saya sakit hati melihatnya. Hidup saya ingin terhenti saat itu juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar