Januari 13, 2015

Mata yang Berkaca-Kaca

Saya melihat gadis itu lagi pagi ini. Masih sama dengan dirinya yang kemarin. Rambutnya masih tergerai tanpa hiasan apapun. Bajunya masih sederhana, berwarna krem dengan celana jeans yang sama seperti yang dia kenakan kemarin.

Dan dia masih sendirian.

Memesan kopi hitam kesukaannya dan mulai duduk menyendiri. Saya tahu, beberapa meja dari tempat dia duduk, ada beberapa orang temannya. Mereka selalu bercanda dengan suara yang keras, membicarakan hal-hal lucu dan tertawa-tawa riang. Tapi gadis itu hanya diam dan sibuk dengan buku yang dibawanya. Iya, dia membawa sebuah  buku. Gadis itu selalu tenggelam di dalamnya. Kadang dia lupa untuk menyeruput kopinya hingga kopinya berubah dingin. Saya selalu penasaran dengan apa yang gadis itu pikirkan. Saya penasaran dengan dunianya.

Suasanya kedai kopi pagi ini cukup lengang. Hanya ada gadis itu, dan tak lama kemudian datanglah rombongan teman-temannya yang akan duduk bergerombol, membicarakan apa saja. Saya heran, kenapa gadis itu tidak bergabung saja dengan teman-temannya itu. Mereka hanya akan saling melempar senyum dan membalas sapaan dengan seperlunya.

"Hidup memang harus seperlunya," kudengar dia berkata.
"Kenapa kamu tidak bergabung dengan mereka?' tanya saya memberanikan diri bertanya.
"Salah satu dari perempuan disana membenciku. Aku tidak mau menghancurkan kegembiraannya dengan kehadiranku." Gadis itu tersenyum. Saya tidak paham dengan pola pikir gadis itu.
"Mengapa?" tanya saya.
"Karena saya terbiasa bersenang-senang sendiri."
Saya tidak mengerti mengapa dia bisa bersenang-senang sendiri.
"Tapi kamu terlihat kesepian," ujar saya. Gadis itu terdiam. Memandang kopinya seakan itu adalah satu-satunya obyek pandang yang ada di ruangan ini.

"Saya  baik-baik saja," jawabnya sambl tersenyum.
"Kamu boleh cerita sama saya jika ingin. Saya tahu, perasaanmu sedang tidak baik-baik saja."
Gadis itu terdiam lagi. Kemudian tersenyum kecil.
"Saya baik-baik saja, terima kasih."
"Ayolah..."
"Saya tidak terbiasa membebani orang lain dengan masalah saya. Saya terbiasa sendiri menghadapi sesuatu."
"Kamu butuh teman berbagi."
"Saya butuh teman dengan empati. Terima kasih. Saya memang suka begini, sendiri, tidak menyakiti orang lain, tidak membicarakan orang lain, tidak menjadi beban orang lain."

Gadis itu berdiri dan mulai melangkah pergi. Ada rasa sesak yang muncul dalam diri saya. Saya belum pernah bertemu gadis seperti itu, dan mungkin saya tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.

Sekilas sempat saya lihat wajahnya terlihat sedih. Dalam matanya tersimpan kesepian yang tidak berdasar. Entahlah, entahlah. Mata itu berkaca-kaca. Mata itu menyimpan air mata.























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar