Desember 02, 2012

Silly Repetition, Yes Me.

Hai halo. Udah lama nih nggak nulis disini. Habisnya, beberapa bulan ini curahan perasaan aku udah aku limpahin dalam novel-novel itu. Aku bisa apa sih? Tapi ya, kalo sekarang ini, rasanya aku kaya diobok-obok. Begini ya, biar aku perjelas, ini kaya repetition bodoh yang kaya seorang masokis, aku ulangin sendiri dengan perasaan sadar-sesadar-sadarnya.

Bodoh. Cuma itu yang pengen aku bilang. Aku pengen teriak, pengen nangis tapi nggak ngerti juga harus nangis dan teriak sama siapa.. Baru tadi sore aku ingin banget punya wajah yang lebih oke ketimbang otak yang cemerlang. Daya analisis yang nggak sengaja aku terapin pada hal baru yang aku temui bikin aku pengen muntah membayangkan result yang aku terima. Kenapa? Iya, ada hubungannya sama cowok

Tapi aku punya dua pilihan. Pertama, aku harus ninggalin dia, sekarang atau nanti. Inilah yang aku bilang pengulangan bodoh. Dulu sewaktu SMA aku pernah juga mengalami kejadian seperti ini, memiliki ketertarikan, dan daya tarik menarik yang kuat, hukum aksi reaksi dengan cowok yang berbeda keyakinan sama aku. Ini mengesalkan banget, mengingat sejujurnya aku juga bukan orang yang alim banget. Tapi perkataan Ibu selalu terngiang-ngiang terus di aku. Nggak perlulah ya aku kasih tau apa sabda Ibu.

Kedua, aku bisa saja meneruskan hubungan-tak-tentu arah ini ke jenjang yang lebih tinggi. Iya, mengingat saat ini aku dan dia lagi menjalankan peran Kearra-Panji yang sedikit banyak mencubit-cubit hati. Aku tau, pilihan kedua ini bakal menemui lebih banyak hambatan ketimbang pilihan pertama tadi. Ya, aku kalah oleh perasaanku sendiri.

Dan tentu saja, akhir-akhir ini aku sedang sulit fokus pada satu hal. Logikaku sedang tidak di tempat, mungkin sudah ber-aparate ke suatu tempat entah dimana. Distraksi pikiran, hebat sekali ternyata ya, kreativitas bisa membuat jalannya sendiri, membentuk pola yang mengingatkan aku sama tugas yang lagi aku kerjain. Oke, not a big deal, it is.

Nah, keledai aja nggak ada yang jatuh ke lubang dua kali kan? Kenapa aku malah terperangkap (terperangkap loh, nggak cuma jatuh!) ke lubang yang sama dua kali? Masalah 'itu' dan satu lagi sebenernya, masalah 'percaya' pada apa yang aku yakini sejak awal. Keyakinan yang memuakkan, yang kadang menuntut aku keluar dari zona sadarku sendiri. Perasaan aneh yang datang mengikuti rasa keingintauanku. Semisal saja, ketika aku pertama kali mengenal seseorang, aku selalu merasakan dua hal: 1) pertemuan ini akan berjalan normal ke jalan pertemanan biasa, dan 2) perkenalan ini suatu saat akan menuju ke jalan lain dengan hirarki yang lebih tinggi. Ya, kadang aku terjebak dengan perasaan dan persepsi.

Sudahlah, aku mau nangis dulu ya, tapi ribet nih lagi di kantor. Nanti aja kalo udah sampai kost, mau nangis sambil teriak di bantal biar cuma aku dan diriku saja yang dengar. Dear you, selamat menemukan wanita-lain-yang-lebih-mementingkan-jelita-ketimbang-mempercantik-wawasan-kaya-aku-ini ya. Good luck, mon cherie :).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar