Mei 24, 2012

Debussy, Sampah Pikiran, @Cantyarania

Cheerstraw!! :)

Ini bukan tentang rasa ingin menulis yang setiap saat muncul tapi harus terkekang karena perasaan. Ini bukan karena enggan mengeluarkan koyakan perasaan yang menggelembung dan ingin segera pecah. Bukan pula tentang segala ketertarikan yang harus terkupas, terkikis, dan akhirnya terlebur bersama sampah-sampah hina dalam keranjangnya. Ini tentang makna. Butuh waktu yang terus membesar hingga ujung pangkalnya, yang pada akhirnya, tak kumengerti juga.

Malam ini, di Rumah Cokelat, dengan niat awal mengerjakan peta, jemariku kembali menari di atas keyboard, memetakan sesak-sesak kecil yang memenuhi rongga otak, melejit keluar. Bisa dibilang sebuah sampah. Suatu waktu, kita memang butuh waktu seperti ini, sebuah trans ketika kita berada dalam dunia sadar-tidak sadar, memuntahkan segala yang tak terpakai dalam kepala dan gila karenanya. Aku akan segera bebas dan gembira.

Ini bukan soal hingar bingar kehidupan.
Aku menulis karena ada sesuatu yang ingin kubagi. Soal Debussy. Ya, tentu saja ini baru bagiku. Seorang componist Perancis luar biasa yang mencuri perhatianku. Lebih dari lover-lover yang selalu tidak tahu dimana celah stategis untuk masuk ke hatiku. Aku memang tertutup, terkunci. Tapi Debussy tau pori terbesar untuk menyusup, menghipnotisku.

Pertama kalinya, aku mengenal Debussy lewat Clair de Lune, atau dalam bahasa Indonesia berarti Cahaya Bulan. Aku ketagihan. Bukan dalam waktu sebulan dua bulan, tapi dua tahun. Dua tahun setelah menikmati Calir de Lune tiap sore, aku membayangkan nada-nada magis lainnya dari Debussy. Dan malam ini, terjawab sudah semuanya. La Fille Aux Cheveux De Lin, Syrinx, Arbesque, dan masih banyak lagi judul lainnya. Aku bahagia.

Siapa Debussy itu? Berdasarkan ini, Debussy yang bernama lengkap Clude Debussy dalah komponis berkebangsaan Perancis. Musiknya dianggap sebagai peralihan dari zaman musik romantik ke musik modern di awal abad ke-20. Bersama dengan Maurice Ravel, ia merupakan salah satu figur utama dalam bidang musik impressionis walau ia sendiri kurang menyukai pemberian nama aliran tersebut Mungkin banyak yang belum kenal, tapi sampah manis ini memang menyenangkan. Sudah berminggu-minggu bercokol di otakku, akhirnya, malam ini, dia kukeluarkan juga. (")9

Yea, Yastirania Cantyaruni, pramugari cantik itu tak hanya piawai melayani penumpang pesawat, tapi juga memiliki selera musik yang lumayan. Dari wanita itulah, akhirnya aku mengenal Debussy lebih lanjut.
"What's unsignificant, is the significant itself"
begitu katanya. Yah, Cantyaruni emang kadang ajaib. Wanita yang baru sekali kutemui ini menjadi sebuah bagian tak terlupakan dalam pendewasaan diriku.
Guys, you can find her here.

Kamu homo kalo bilang dia nggak cantik.
Cheers :))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar