November 03, 2011

Ayah Mengajariku Sederhana

Cheerstraw!! :)

Ayah mengajariku sederhana.
Sesederhana memetik arbei sepulang sekolah.
Sesederhana membeli teh anget di Pak Soleh selepas sekolah usai.
Sesederhana mengaji setiap pukul empat sore.
Sesederhana selalu memberi kepada yang membutuhkan.
Sesederhana berjalan kaki sejauh yang aku sanggup.
Ayah mengajariku hidup sederhana.
Tapi aku masih sering bertanya, hidup sederhana itu seperti apa?
Membeli ronde setiap sore? Makan mie ayam bersama saat hujan?

Ayah bilang, di atas langit masih ada langit.
"Naik bis aja, Ibumu masih belum bisa lepasin kamu naik motor."
Dan akupun belajar sederhana dari hal itu.
Merasakan naik bis pada pukul empat pagi bersama pedagang pasar dan pekerja penglaju lainnya? Sudah.
Meredakan tangisan anak kecil dengan memberinya sebuah gelang karet? Pernah.
Mempersilakan orang tua duduk di bangkuku? Sering.
Menawarkan makanan buat buka puasa dengan teman sebangku di bis? Beberapa kali.

Ayah, apakah aku sudah bersederhana?
Apakah aku sudah memenuhi kriteria orang-orang yang tidak sombong?
Ayah, tegur aku bila aku mulai sombong.
Ingatkan aku untuk selalu memandang ke bawah, kepada mereka yang tidak seberuntung aku.
Ayah, terus jaga aku agar menjadi orang yang sering memberi,
dan selalu sederhana.

Jogja, 3 November 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar