Oktober 27, 2011

Does Sacrifice Really Exist?

Gue ngga tau apa yang terjadi dalam diri gue. Ada seribu alasan sebenernya buat ngga mau jadi diri gue. Tapi biar hidup aman damai sejahtera lahir batin, gue kudu berdamai sama masalah-masalah, kelemahan dan hidup gue sendiri.

Gue pernah jatuh cinta. Pertama kali gue jatuh cinta waktu kelas 1 SMP. What did i do for those years back? Silent. Ya, begitulah gue. Selalu ngga ada aksi, ngga menarik buat dibuat cerita layaknya Cinta dan Rangga di perpustakaan. kalo gue sih ya, just stared him from away, in the corner. Jadi namanya banci ya?

Kadang gue menyesal, kenapa gue dilahirin tanpa keberanian seperti itu. Kata orang kan ladies first. Tapi kata gue, yeah well, after you. Najis. makanya dimanapun gue selalu merasa gagal menjadi pemimpin. Mungkin karena sugesti dalam diri gue, dan kata-kata after you itu yang berteriak nyaring dalam otak. Mungkin karena itu pula, gue hanya 'mau' punya 3 mantan pacar. *pasang kacamata nerd*
Gue bukan penganut the first for the last, bukan pula penganut save the best for the last. Kadang gue ngerasa kalo gue cewek yang paling biasa diantara yang paling biasa karena terlalu nekanin kata 'setia' dalam setiap spasi kata yang gue ucap. Termasuk mencintai seseorang. If i fall for a guy, i would never let him go (from my heart). Padahal, namanya hambatan atau resistor selalu aja ada. Meskipun gue cuman secret admirer seseorang, katakanlah begitu, kadang gue ngerasa gue harus setia mampus sama dia. Why did i do that stupid thing, gal? He doesn't even see your existence! Makanya gue bilang tadi, kebodohan gue udah masuk taraf imbisil, yang artinya sebentar lagi naek pangkat jadi idiot.

Resistor itu padahal ngga melulu yang jelek-jelek, bisa berwujud pedekate dari yang lain juga *Gosh, itu surganya buat anak SMA!*. Tapi karena gue straight banget sama prinsip gue sendiri, jadilah gue jomblo penuh harap yang merindukan pangerannya datang menunggagi kuda putih dan mengajak gue nonton konser The Used dan makan malam dengan Indomie goreng. But well, that was only in my mind. Caseclosed sampai akhirnya gue bisa move on dari perasaan gue sendiri. Seorang lelaki yang 'rela' pedekate sama gue for almost three years. Yes, THREE YEARS of his wasted time waiting me! Gue ngga nyangka, ternyata pengorbanan itu benar-benar ada.

Jadi gue ngerasa, mungkin setiap tetes airmata yang gue keluarin buat dia-yang-diam-diam-gue-cintai itu pengorbanan juga? Gue ngerasa aja, gimana rasanya kalo seandainya gue jadi wasted-time-guy kayak ex gue itu, apa rasanya juga sesakit dan seperih gue yang sekarang?

Tapi beneran nggak sih, pengorbanan itu benar-benar ada? Kalo perbuatan yang diselipin perasaan ngga ikhlas, apa namanya juga pengorbanan? Yaa suddenly aja gue kepikiran itu. bahkan, sampai saat ini gue masih yakin, someday gue bakal ngedapetin apa yang gue lakuin sekarang. maksudnya gini, seperti istilah, apa yang lo tanam, itulah yang lo tuai. Bagitu. Sekarang, gue melakukan suatu pengorbanan, dan besok gue yang jadi korban? *ditampar, dimutilasi, dibuang ke Libya, dikubur bareng Khadafi* *selfslap*

Kalo sekarang gue berkorban, apakah nantinya bakal ada cowok yang rela berkorban gue juga?

Udah, ngga perlu dijawab. Gue ngga butuh pengorbanan yang segede monas atau sepanjang The Great Wall. Gue cuman butuh pengorbanan, seseorang yang mau meluangkan waktu buat gue. Seperti yang gue pikirin, timing is everything.

Jogja, 27 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar