Januari 02, 2013

(She) Januari dan Sebuah Janji



Semusim rindu dalam setahun telah berlalu. Hangat-hangat cinta juga telah tersapu panas membara jarak yang tak pernah padam oleh kekuatan untaian kata-kata. Aku meredup. Bintangku berakhir pada awal tahun baru. Kemudian terbangunkan kembali saat kau bilang akan datang kala rindu sudah mencapai puncak ingin bertemu.
Telepon darimu mengganggu kesendirian yang kubangun untuk menutupi berisiknya waktu. Saat itu detak jarum jam menunjukkan angka tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Tak merubah gelap dan gemuruh, saat petir dan kilat menyambar-nyambar seakan cemburu.
“Halo,” aku mengangkat panggilanmu.
Lantai dalam pijakanku berubah menjadi hamparan padang pasir yang hangat. Merambat melalui sel-sel kakiku, menyambar tiap bulu halusku, meradang di hatiku. Aku cukup tahu seberapa besar rinduku bertarung dengan waktu.
“Aku merindukanmu,” begitu katamu. Ingin aku jawab dengan rasa yang sama padamu, tapi aku merasa kata-kata tidak cukup mengutarakan isi otak dan dadaku saat itu. Awal januari sebentar lagi.
Aku memutuskan diam. Aku harap dia tahu, tidak ada rangkaian huruf yang secara tepat bisa menggambarkan betapa aku mengharapkan pertemuan dengannya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja. Mas sendiri bagaimana?”
“Saya juga baik-baik saja.”
Hening. Kami berdua tahu, ada rambatan yang terlihat yang sedang bekerja. Dia tahu aku juga merindukannya.
“Saya juga ingin bertemu denganmu,” katanya.
Sudah kubilang, dia tahu aku merindukannya, meski tanpa berkata-kata.
“Mas, saya ingin membersihkan toko dulu. Ini tanggal akhir, besok pasti ramai karena hari libur.”
Yang sebenarnya ingin aku sampaikan adalah, mengapa pada hari libur pun kami tidak bisa bertemu. Pangkalan tugasnya menahan semua yang kami rasa. Januari, semoga kau tak berakhir sia-sia tanpa kejutan apa-apa.
“Ya, saya juga ingin menyelesaikan editing naskah-naskah ini. Kayaknya nggak pernah berkurang tiap hari. Jaga diri baik-baik ya, saya pasti akan pulang bulan depan,” katanya. Bulan depan sudah akan muncul beberapa jam lagi, Mas.
“Saya menunggu Mas pulang, bulan depan.”


*


Ini bulan depan. Tepatnya tanggal dua setelah hari Selasa. Aku duduk dalam diam, melihat pengunjung lalu-lalang mencari apa yang mereka inginkan dari toko tua peninggalan Papa dan Mamak yang sudah tiada. Hanya aku dan adik semata wayang saja yang sekarang menjalankan bisnis kecil nan indah turun-temurun dari kakek, hingga papa: toko sastra pada pojokan pecinan.
Bukan toko buku besar layaknya Gramedia, tapi mungil dengan kafe kecil tanpa sinyal internet. Hanya ruangan dari kayu berukuran seratus meter dengan kursi-kursi kayu dan aroma teh hangat setiap hari. Hanya tempat untuk janjian orang-orang tua yang ingin mengenang masa-masa indah dunia tanpa kemegahan dan kemudahan komunikasi.
Kami menyediakan juga kartu pos dengan gambar-gambar kota yang mereka bilang membosankan. Tapi kubilang ini adalah secuil keindahan.
“Ci, Masmu itu kapan mau pulang? Pacaran kok beda benua. Suruhlah dia tinggalkan London-nya itu. Kau yang di Jogja menginginkannya pulang, cepat kau bilang sana!” adikku suka sekali menggodaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Bekerja di kota sebesar London adalah kebanggan tersendiri buatnya. Aku tidak suka mengusiknya. Impian dia untuk bekerja pada penerbit terbesar abad ini adalah hidupnya. Mana sanggup aku menyuruhnya berlibur dari apa yang dia sukai. Bukan berarti dia tak menyukaiku. Tapi aku dan pekerjaannya berada pada konteks yang berbeda.
“Cici, selamat siang. Selamat tahun baru, semoga berkah Tuhan selalu menyertaimu!” sepasang kakek-nenek berusia tujuh puluh tahun baru saja melangkahkan kaki menuju kafe mungilku. Muda-mudi mahasiswa sastra memang sering bertandang ke toko bukuku, tapi tak banyak dari mereka yang mau meluangkan waktu menikmati secangkir teh hangat dengan duduk di kursi kayu jatiku npada kafe beraroma manis ini. Sudah kubilang, kafe ini kafe milik orang-orang yang merindukan kenangan.
Aku mengangguk pada sepasang kakek dan nenek itu, kemudian kudekati mereka berdua.
“Selamat tahun baru juga, Nek. Punya acara apa malam tahun baru kemarin?” tanyaku sambil menyodorkan katalog menu padanya.
“Kau ini, sudah jelas aku memesan teh gingseng dua cangkir dan kue bolu rasa gula jawa tiga buah, masih saja kau sodorkan menu itu. Lupa sama pesanan Nenek?” jawab Nenek. Aku tersenyum. Aku tidak lupa, hanya saja, siapa tahu nenek mau pesan menu lainnya, bukan?
“Pertanyaan saya belum nenek jawab, bukan soal menu, tapi soal malam tahun baru.”
“Sudah jelas nenek dan kakek dirumah saja, menonton konser di televisi, berdoa, dan tidur. Kau sendiri? Anak muda pasti berkeliaran di Malioboro,” simpul Nenek.
“Nenek salah, Cici saya malam tahun barunya cuma melototin gagang telepon! Ditelepon lima menit sama pacarnya, terus tidur,” sambar adikku.
“Alena!” ingatku.
Tapi aku merindukannya. Sangat merindukannya.
“Jangan hanya menanti, cinta itu layak dicari. Apa kau pikir cinta hanya kata benda yang bisa dipupuk dengan rindu semata? Cinta perlu pengorbanan. Kalau kau dan pacarmu sama-sama tidak mau mengorbankan waktu, ya sudah. Biarkan saja cinta layu.” Nenek.


*


Aku percaya pada cinta yang baik. Aku percaya pada kesiapan sebelum menguntai rasa ke jenjang yang lebih tinggi. Aku percaya waktu adalah media pendewasaan cinta, dan jarak adalah level kematangan cinta. Ketika orang yang kau cintai berada pada jarak yang tak terhitung jauhnya, maka sejauh itulah kau mencintainya. Bila masih mau menunggunya.
“Cici, aku mencari Mrs. Dalloway terjemahan, aku nggak nemu dimana-mana,” salah satu pelangganku berucap padaku. Lamunanku terputus
“Tidak ada versi terjemahannya disini, Mbak. Kalau berkenan, kami punya versi bahasa inggrisnya,” jawabku.
“Cici, kalau ada yang sudah terjemahan, kasih tahu aku ya Ci. Aku malas baca novel sambil buka kamus, rasanya kayak belajar bahasa inggris saja,” terusnya.
“Loh, Mbak kan memang mahasiswi sastra inggris,” jawabku sambil tersenyum simpul. Mahasiswi itu juga tersenyum sambil memperlihatkan lesung pipinya.
“Aku memang mahasiswi bahasa inggris, tapi mahasiswa sastra inggris manapun bakal lebih suka membaca sastra sambil liat muka kamu daripada liat kamus, percaya deh,” godanya sambil tersenyum lebar.
“Mbak ini bisa saja, nanti saya kasih tahu kalo sudah ada versi terjemahannya di toko kami,” jawabku.
“Makasih ya. Eh iya, nama Cici siapa? Namaku Nendyana, tapi biasa dipanggil Nana,” gadis itu menyodorkan tangan kanannya padaku.
“Nama saya Runia, panggil sama Runi saja,” kusambut tangan halus Nana.
“Oh, aku pikir kamu Cina, ternyata nama kamu kayak orang Jawa.”
“Papa saya memang orang Tionghoa, tapi Mamak saya orang Jawa. Saya juga punya nama Cina kok.”
“Oh ya, siapa?”
Dan obrolan kami berlanjut pada kursi-kursi kayu jati itu. Nana sangat menyenangkan. Dia memesan Teh Sereh yang menenangkan, dan aku selalu membuatkan Teh tawar hangat untuk diriku sendiri.


*


“Mas kira-kira sedang sibuk nggak?” tanyaku lemalui sambungan telepon.
“Ada yang bisa Mas bantu?”
“Pelanggan toko saya ada yang ingin Mrs. Dalloway versi bahasa Indonesia. Kalau Mas sedang ada waktu, boleh saya minta tolong terjemahin versi bahasa inggrisnya?” tanya saya.
“Saya tidak terlalu sibuk, tapi juga tidak punya banyak waktu. Nanti coba saya curi-curi waktu ya. Nanti Cici saya kabari lagi.”
Sekarang sudah tanggal sepuluh, tidak ada pengurangan rindu.
“Mas, kapan Mas Pram pulang?” tanyaku. Hening.
“Maaf Mas, bukannya saya memaksa Mas pulang, tapi saya benar-benar pengen bertemu. Mas ingat dengan kursi pojok, dua cangkir teh tawar hangat, dan sepotong senja yang mas abadikan dalam lensa kamera Mas? Itu adalah bahagia saya, Mas.”
Bukan berarti aku tak pernah bahagia juga.
“Saya akan pulang secepatnya. Cici mau nunggu saya kan? Pekerjaan disini benar-benar menguras tenaga dan pikiran saya.”
Saya tahu Mas.
“Jaga diri Mas baik-baik ya, tidak ada yang jual Tolak Angin disana, Mas,” candaku.
“Dan nggak ada tukang pijat yang semanjur pijitan Cici,” lanjutnya. Kami berdua tersenyum dalam desahan kerinduan kami masing-masing.


*


Hari sebelas, rindu mencambuk-cambuk tanpa berbelas. Malam itu sunyi. Adik sudah tidur duluan sebelum jam sebelas. Sekarang, setelah merapikan buku-buku yang berserakan, aku duduk pada kafe mungilku, pada sebuah kursi pojok ditemani rembulan yang mengintip pada jendela kayu yang gordennya sedikit tersibak. Sinarnya yang tajam membentuk semburat-semburat warna putih kekuningan dalam pantulan kayu-kayu di kafe mungilku. Kuambil secarik kertas dalam amplop yang tak pernah lupa kubawa kemana-mana itu. Tidak lebar, hanya seukuran buku tulis biasa.
Aku memang tidak mau menyimpan kertas itu di sembarang tempat, aku tidak ingin ada yang menemukan, bahkan membaca kertas ini. Aku tidak mau Adik tau, begitu pula Mas Pram. Seperti sebuah sihir, ketika membaca tulisan yang berderet rapi pada badan kertas itu, aku langsung menghitung deret umur yang sudah terkumpul hingga sekarang. Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dia memberiku ujian saat aku berada diantara orang-orang yang aku cintai. Mas Pram, Adik, pelanggan toko buku, dan pelanggan kafe.
Aku tidak pernah merasa terkutuk dengan kertas diagnosis dari dokter ini. Kanker paru-paru. Stadium tiga. Aku berharap, ketika deret usiaku nanti terhenti, aku masih bisa bertemu Mas Pram...(to be continue)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar