Januari 09, 2013

Februari dan Berhentinya Detak Sebuah Janji (3)



*


Aku teringat-ingat perkataan Dondi. Aku mahir bercerita. Tapi apa yang akan aku ceritakan pada Alena? Tentang ajakanku ke Dondi ke pantai? Bukan itu maksudku. Aku ingin Dondi menemui jalan untuk menyampaikan rasa cintanya pada Alena. Tapi kenapa malah aku harus menyembunyikan cerita dari Alena?
“Ci, kenapa sikap Dondi ke aku berubah ya?” cerita Cici suatu waktu. Sejak malam itu, aku dan Alena sering tidur bersama dalam satu ranjang. Kami melakukan ritual kakak-adik dengan hangat. Berdoa bersama, bercerita tentang cinta, kadang menggelitiki satu sama lainnya.
“Apa mungkin ada perempuan lain yang Dondi sukai selain aku ya?” tanyanya lagi.
Aku teringat dengan sebuah amplop cokelat berukuran sedang yang dikirimkan melalui paket pos, yang berisi foto-foto senja dan gunung. Aku tidak mau menebak siapa pengirim paket misterius tak bernama ini. Hanya ada sebuah kesimpulan: jelas ini Dondi. Aku tidak mau ini berasal dari Dondi.
“Alena, kamu gadis yang cantik, pasti ada banyak orang yang mengejar-ngejar kamu. Jangan kamu pikirkan Dondi terus.”
Alena menatapku dengan sayu. Aku jadi semakin bersalah padanya.
“Begini Alena, anggaplah dibalik sebuah tembok ada Rahasia Indah yang hanya bisa kamu temui setelah melewati tiga pintu yang terkunci. Kamu hanya punya satu kunci, jadi kamu harus menemui pintu yang pas dengan kunci kamu untuk bisa melewati tembok ini dan bertemu dengan Rahasia Indah. Kamu mencoba pada satu pintu yang bernama Dondi, dan ternyata kunci yang kamu punya tidak pas.”
“Kalo kamu terus saja memaksakan kuncimu pada Pintu Dondi, jelas usahamu hanya akan sia-sia, tapi kalo kamu mencoba kunci itu pada dua pintu yang lain, niscaya akan ada satu yang paling cocok dengan kuncimu,” lanjutku.
“Jadi, apa Rahasia Indah itu, Ci?” tanya Alena.
“Cinta.”
Alena tersenyum.
“Cici baru saja mendongengi aku tentang cinta. Cinta adalah Rahasia Indah?” tanya Alena dengan manja.
Aku mendongengi dua orang yang dimabuk cinta dengan cerita yang berbeda, dan aku membuat cinta diantara mereka memudar begitu saja. Tuhan, maafkan aku yang maha merusak segalanya ini. Maafkan Cicimu ini Alena. Cicilah yang membuat Dondi menjadi pintu yang salah untukmu.
Kupeluk Alena kuat-kuat, menghirup aroma rambut Alena. Aku yang sekarat masih saja berbuat dosa. Semoga kelak Tuhan mengampuni semua dosaku.
Aku mahir bercerita.
Dan berbohong.


*


“Cici, aku berangkat kuliah dulu ya! Jangan lupa mengambil bakpao di Koh Siang ya, sama bayarin pulsa aku sekalian ya,” Alena menyelampirkan tasnya dan berjalan cepat ke arah satu-satunya motor yang kami punya.
“Hati-hati, Alena,” pesanku.
Pagi ini aku berjalan-jalan mengitari Ketandan, dan mampir di toko bunga Bapak Rejeki. Iseng-iseng aku membeli bunga mawar dalam pot, beberapa tangkai mawar merah dan bunga sedap malam. Mawar dalam pot itu sudah aku tata di teras depan, dekat dengan pintu masuk kafe. Tangkai-tangkai mawar merah dan sedap malam ini sedang aku tata pada vas keramik meliuk yang tinggi memanjang dengan gambar perahu dan beberapa pelaut. Aju jadi ingat dengan lambang jangkar yang ada di hampir semua rumah di Ketandan tempat aku tinggal ini. Kampung Ketandan, kampung Pecinan.
“Aha, mawar dan sedap malam!” Koh Siang masuk ke toko kami.
“Selamat siang Koh, baru saja saya mau ke rumah Kokoh buat ambil bakpao, malah Kokoh udah kesini duluan,” jawabku.
“Sekalian mampir, mau ke pasar juga soalnya. Ini bakpao kacang hijau dan daging ayam pesananmu, Ci.” Koh Siang meletakkan senampan penuh bakpao yang masih mengebul. Segera aku terima dan aku gantikan wadahnya ke dalam panci stainless yang sekaligus pemanas, agar bakpao-bakpao itu tidak kedinginan.
“Nampannya titip sini dulu saja ya Ci, malas bawa-bawa nampan ke pasar,” pesan Koh Siang.
“Baik Koh, saya simpankan dulu. Uhuk... uhuk... uhuk... uhuk!” tiba-tiba dadaku sakit dan nyeri bukan main. Rasanya susah sekali bernafas, susah mengeluarkan nafas juga. Reflek aku berpegangan pada vas bunga dengan rangkaian setengah jadi itu. Tak kuat rupanya menahan berat tubuhku, vas itu ambruk, menggelinding di atas meja kasir.
Tapi Koh Siang segera menangkap vas itu, dan menggamit lenganku.
“Cici, kamu ndak papa?” tanya Koh Siang khawatir. Aku hanya menggeleng, masih berusaha mencari-cari oksigen diantara nitrogen-nitrogen yang memabukkanku siang ini. Sakit sekali rasanya. Aku menutup mataku, barangkali ini saatnya aku akan mati.
Tanganku yang bebas meraba-raba laci paling bawah dari meja kasir ini, mencari tablet-tablet pengusir rasa sakit ini sambil mengingat-ingat, apakah pagi tadi aku sudah minum obat.
“Cici, aku ambilkan air putih dulu!” Koh Siang beranjak menuju bar kayu sederhana dan menuangkan segelas air putih untukku. Aku buka penutup obatku, dan menumpahkan isinya di atas meja. Tanganku bergetar hebat, antara menahan nyeri dan sakitnya dadaku, dan menahan tubuhku agar tidak limbung. Kanker paru-paru stadium tiga, otakku menyerukan kalimat itu berulang-ulang.
Darah segar menyeruak diantara batuk-batukku, tertahan di tanganku.
“Ini Ci, diminum dulu,” Koh Siang menyodorkan segelas air putih. Kuambil sebutir tablet berwarna merah muda itu, dan segera meminumnya.
Koh Siang hening di depanku. Aku juga terdiam.
Masih kaget dengan apa yang terjadi, aku mengumpulkan waktu untuk menyembuhkanku. Lima menit. Sepuluh menit.
“Cici sudah baikan?” tanya Koh Siang. Aku menerawang, kemudian fokus memandang wajah Koh Siang.
“Tolong jangan beritahukan hal ini kepada Alena, Koh,” ujarku masih bergetar. Sisa-sinya nyeri itu tidak mau hengkang dari dadaku rupanya. Tapi hidungku sudah mau menangkap oksigen seperti yang dimaui tubuhku.
Koh Siang terdiam di tempatnya berdiri. Aku memandang wajahnya nanar.
“Batuk Cici berdarah... Cici TBC?” tanya Koh Siang. Aku menggeleng pelan.
Airmataku perlahan mengalir. Di depan Koh Siang aku memohon agar rahasia ini tidak bocor kemana-mana.
“Barusan yang saya minum obat kanker, Koh,” Koh Siang terkesiap mendengar jawabanku.
“Ya Tuhan... Cici harus segera berobat ke dokter!” dorong Koh Siang. Aku menggeleng.
“Nggak Koh! Kokoh, saya mohon, ini hanya antara saya dan Kokoh,” aku memegang tangannya. Koh Siang sekali lagi tertegun, dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan.


*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar