November 17, 2011

Pagi ini saya lagi sedih, readers. Semalem saya kan nyari info soal how we can do to save orangutan. Dan ternyata, setelah logwalking dan mampir blognya Mbak Ajeng, saya menemukan salah satu cara buat kita bisa ikutan berpartisipasi. Nah, caranya adalah dengan mengadopsi bayi orangutan yang yatim piatu. Buat saya yang belum kerja, nominal biayanya mungkin agak mencekik karena belum ada penghasilan pasti selain kadang kerja part time dan uang saku dari ayah sendiri (ini memalukan sebenernya). Saya ngerti kok kapasitas saya, saya juga tidak memaksakan. Tapi saya memang selalu berpkiran: kenapa nggak dicoba? Alhasil, mungkin saya bisa kalo diajak urunan.

Jadi, semalam itu saya sebarluaskan berita soal adopsi orangutan itu. Saya yakin, diluar sana pasti ada orang yang bakal tersentuh dan berkapasitas untuk mengadopsi bayi orangutan. Tapi sampai paginya, saya tunggu nggak ada repky apa-apa soal adopsi orangutan. Tidak sekalipun usaha buat gimana-gimana ngapain gitu kek. Alasannya sama, belum punya duit. Saya juga belum punya duit, tapi ya, jujur, saya sekarang lagi diambang antara kesal, kecewa dan marah. Gimana bisa mereka lancar minta pencerahan, belas kasihan orang lain kalau mereka sedang ada masalah? Padahal masalah mereka bukan menyangkut hidup mati mereka, bukan menyangkut pemusnahan habitat mereka. Coba tengok orangutan. Tengok dan lihat dengan seksama. Kita hidup memang karena suatu masalah. Coba kalo Hawa nggak bikin masalah, kita semua pasti tinggal di surga, orangutan juga tinggal di surga :'(

Kembali ke topik orangutan.
Dan keadaan orangutan benar-benar mengusik saya. Populasinya, yang dulu sekitar 200 ribu, sekarang udah ngga ada separuhnya. Pembakaran hutan, memusnahkan sumber makanan mereka hingga mereka terpaksa mencari makan di perkebunan kelapa sawit dan dianggap sebagai hama. Coba bayangkan jika kalian yang menjadi orangutan. Cari makan buat kelangsungan hidup kalian dan selanjutnya dianggap hama? Sakit hati nggak tuh? Yah, kalo orangutan mah udah ditelennya itu rasa sakit hati. you never walk in their shoes, saya juga belum. Tapi manusia punya otak kanan yang diciptakan buat berempati dan bersimpatik. Bukan hanya ngebangga-banggain dirinya dan keluarganya yang bisa ini-itu tapi belum bisa nolong yang lain. Sorry kalo harus nyalah-nyalahin kalian. Tapi emang saya udah eneg sama hal-hal sok baik sok suci sok pahlawan. mau tau pahlawan yang sebenarnya? Tanya para relawan merapi yang dulu-dulu! Tanya relawan orangutan, tanya pembela rusa-rusa yang kehausan di Istana Negara, tanya gimana perasaan komodo yang dijadiin bahan becandaan seluruh dunia? Jangan hanya bangga dengan " saya udah khatam Al-Qur'an sepuluh kali lho, Alhamdulillah ya." ya kalo udah khatam, implementasinya apa? Saya lebih suka denger " yah, ngga banyak sih, sehari masukin seribu aja, setahun udah bisa buat sedekah."

Yes, i take it seriously. Terserah orang bilang saya frontal atau gimana, menurut saya, dirty word means nothing, tapi dirty act means villain. Jadi lebih pentingan tindakan daripada perkataan? TRUE! SUPER TRUE! Sumpel mulut saya kalo perkataan saya udah mulai nusuk, saya ngga masalah asal perilaku saya ngga menusuk siapapun.

Oke, kembali ke orangutan. this is just simply touchy to see them sleep in the jungle without their parents. Alone and wounded. Mereka dianggap hama, oke, shit you people! *akhirnya ngomong jorok juga* *yaterserahgue*
Ini ada link buat adop orangutan --> http://orangutan.or.id/adoption dan saya berharap kalian berminat. Buat biaya dan apapunnya, semua lengkap disitu. Kok tulisannya bahasa inggris? Ya lo berharap tulisannya bahasa sansekerta?! Nggak ngerti caranya? Coba open google translate. Sori, ini gue to the point aja ngomongnya, biayanya mureeeh buat mereka yang udah kerja. Kalo saya, saya memplanningkan diri buat tahun depan mendaftarkan diri sebagai 'ibu' orangutan. Terseraaaaah lo mau bilang apa, well-done is better than wellsaid, right? Tanya Ippho santoso, jangan cuman ngomongin kebaikan-kebaikan Ippho aja, lakuin!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar