Oktober 04, 2011

Sendja





Ada yang berlompatan di pikiran gue. Sebenarnya ini berupa pertanyaan. Semua orang selalu menginginkan yang terbaik, mungkin gue juga begitu. Adakah yang pernah bertanya, atau terbersit pertanyaan dalam otak kalian, kapan dan dimana waktu dan tempat terbaik kalian? Mungkin ini lame, semua waktu menurut gue terbaik. Waktu sama keluarga, sama temen-temen, bahkan sama (mantan) pacar juga. Tapi ada beberapa waktu yang bener-bener bikin hati gue bergetar tiap mengalaminya. Dan tempat yang bikin gue enggan untuk bergerak meninggalkannya.

Buat gue, senja dan pantai adalah pasangan paling serasi. Gue bisa nangis sampai sesenggukan kalo ketemu senja. Satu senja yang lamanya ngga pernah lebih dari setengah jam, mampu mengaduk-aduk perasaan gue yang tadinya tanpa rasa apa-apa, plain, menjadi penuh warna. Warna sendu, warna yang kelabu.

Kadang gue pengen banget, kalo lagi deeply sad, berharap kalo belakang rumah gue itu pantai, pantai yang ada senjanya. Duduk berjam-jam di bawah senja, menikmati hilangnya matahari di balik cakrawala. I imagine that heaven should be like that. Hening, sunyi, dan suara adzan. What a perfect beautiful god ever created.

Dear God, may i marry with nightfall? It might make me sad, but it never makes me cry

-Jogja, 3 Oktober 2011-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar