September 30, 2011

Forbidden

Wanita itu masih menunduk sambil ditemani segelas tinggi iced frappucino. Her chin stucks on the table, the book has lost its grip and stays alone on the table. Mungkin terlalu lelah untuk membaca, jadi dibiarkan saja halaman-halamannya terbuka tak beraturan, tertetuk dimana-mana.

Di ujung sana, seorang lelaki masuk dari pintu depan Coffee Shop di daerah Jakarta Utara dengan tampang rapi dan penampilan perlente.

" What the hell are you doing here, babe?" tanyanya. Wanita itu mendongak. 
" Kakak..." panggilnya. Lelaki itu duduk di sampingnya dan mengelus lembut kepala adiknya.
" Santi memberitahu gue. Elo bolos kerja. Dan gue selalu ngerti kemana lo melarikan diri," tatap kakak. Pikiran dalam wanita itu berkecamuk. Seandainya Kakak tidak pernah sedetil itu mengrti tentang dirinya.
" Gue pengen melarikan diri. I'm getting bored of this shit, kakak," and could you please bring me to the place where i can't define if it's night or day... lanjut wanita itu dalam hati.
" What's your problem? You look like a shit babe. Seminggu lagi gue nikah sama Karin, dan gue ngga pengen adek gue ngga ikut happy," adek tiri Kak, adek tiri, you should remember that key word, lanjut wanita itu.
" I'm happy for you. I'm okay. Just something happen in my life these several days," jelas wanita itu. Kakak diam danmenatap wanita itu dengan tatapan sayang seorang kakak.

Seminggu lagi kakanya menikah. The problem is, the daughter keeps too much love for her elder. F word, wanita itu memandang nanar kakaknya.
" Seminggu lagi lo nikah, dan gue masih belum bisa menghapus cinta gue buat lo, kak..." batinnya. She loses her mind. She desn't have any longer life to live. Her life stops as her love grows, no bond.

Jogja, 12.02 p.m
October, 1st 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar