Januari 25, 2011

Surat Untuk Tuhan Nomer Satu

Cheerstraw!! :)
Tuhan... sebelumnya saya pengin ucapin terimakasih banyak buat banyak malam yang telah Engkau beri padaku. Terimakasih untuk keluarga hangat dan teman-teman yang menyayangiku. Saya harap, dengan kehadiran satu lelaki yang memporakporandakan hidup saya, saya tidak pernah lupa atas jutaan nikmat yang telah Engkau beri.

Tuhan, tapi saat ini saya sedang kacau. Ada beberapa masalah yang cukup membuat hidup saya berantakan. Dan Tuhan, tolong, segera usaikan semua perih berkepanjangan ini. Sembuhkan luka dalam hati saya, berikan gemerlap keceriaan yang telah lama saya lupa.

Tahun lalu. Saat itu hati saya remuk sekali Tuhan. Seorang lelaki mencuri hati saya, kemudian menghancurkannya pelan-pelan. Tanpa kata, tanpa ucapan. Semuanya terjadi begitu saja, dan saya memilih untuk diam. Ada berjuta alasan mengapa saya begitu. Saya terlalu perih untuk merasa kalah. Padahal nyatanya saya telah kalah. Saya tidak ingin dikalahkan perasaan.

Tuhan, adilkah bila kemudian saya tergoda dengan ucapan manis lelaki lain yang datang tak lama setelah itu? Bila saat itu hati saya luka, dan lelaki itu menawarkan harapan yang lebih indah, haruskah saya tidak berpaling padanya dan mencoba membuka hati saya kembali? Mencoba mengeringkan luka yang telah dalam ternganga?

Salahkah saya Tuhan?

Orang yang benar tidak pantas mendapatkan luka.

Tapi kenapa Tuhan, setelah saya bisa berdiri dengan kaki yang masih lemah, lelaki lain itu kembali meninggalkan luka? Bahkan dia pergi dengan tertawa, dan menganggap apa yang telah terjadi diantara kita hanya fatamorgana.

Salahkah bila akhirnya saya bersumpah serapah tentangnya?

Lama saya meratapi rasa. Mungkin ada yang salah dengan sistem di atas sana? Mungkin ada yang membuat roda hidup saya berhenti berputar ke atas? Dan saya terpuruk sendiri di bawah, di dalam genangan sengsara karena rasa yang salah?

Dan kemudian dia masuk dalam hidup saya. Sekarang saya tidak ingin kembali menjadi mawar tanpa duri. Tapi perasaan seakan membodohi saya. Dalam sebuah siang, dia mengirimkan tanda rasa yang membuat saya kembali lunglai. 

Rasa percaya itu begitu cepat datangnya, hingga kadang saya hanya bisa terbawa arusnya.

Atau semua lelaki memang brengsek adanya?

Dengannya, tadinya saya bersyukur. Saya keluhkan semua kesah yang menghantui saya beberapa bulan lamanya. Dan dia memberikan senyum dan seuntai puisi cinta. Tidak menyangka, saya pikir itu adalah nyata. Sebuah rasa yang saya inginkan untuk bertahan sampai selesai waktu berjalan. Tapi, setelah dia tau semuanya, dialah yang menyimpan dusta untuk saya.

Kupikir hanya sampai disini saja, hati saya terlalu baik untuknya.

Dan saya pikir, bila memang hubungan ini berhenti juga, saya ingin hapus semua tentangnya. Tentang rasa sampah yang menyakitkan. tentang obrolan singkat yang membuat saya percaya, tentang pengertian yang telah membangunkan kepercayaan diri saya kembali. Saya harus berterimakasih tentang itu semua. Engkau pasti punya rencana, iya kan Tuhan?

Tapi kenapa dia tak juga pergi?

Kenapa dia masih menyangkutkan satu perkataan yang membuat perasaan saya kembali terluka?

Tidak akan ada luka bila tidak ada kebohongan. 

Tuhan, maafkan saya bila saya kurang bersyukur atas semua yang Engkau beri. Tapi demi setetes airmata yang menetes seakan tak punya arti, masih maukah Engkau mencabut segala perih atas dia? Sudikah kiranya Engkau mengembalikan kehidupan saya penuh dengan mimpi?

Karena setiap malam, saya hanya menemui mimpi buruk yang mencekik.

Maaf Tuhan, saya belum bisa menjadi baik seperti yang Engkau minta. Saya belum bisa menjadi orang yang penuh kasih lagi karena semua ucapan saya hanya berupa sumpah. Kutukan. Maafkan saya, Tuhan. Maafkan saya, maaf bila akhirnya saya harus menjadi begini. Maaf bila airmata yang sudah berusaha saya tahan akhirnya keluar juga. Tears are worthless.

To a man so heartless.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar