November 12, 2010

Pacaran dengan

Aku punya pacar, sekarang dia sedang mencar. Dimana ya? Ah ya, di Jakarta. Dan aku di Jogja. Katanya dia dan aku berhubungan aneh, karena kami belum pernah saling berjabat tangan, apalagi kencan. Seperti apa rupanya? Hanya kaca dan Tuhan yang tau. Aku hanya bisa menebak, menatap pada bayangnya. Kita belum pernah bertemu.


Kupikir itu wajar. Hubunganku tidak berdasar pada logika. What the fuck dengan logika bila hati sudah bicara? Aku jatuh cinta? Ah, cinta hanya permainan lidah, permaian tangan, dan permainan selangkangan. Aku tidak bisa percaya padanya, pada cinta. Asal aku menerima, dan dia percaya, apalagi yang kubutuhkan?


Setiap hari kami bertelepon, mengirim rindu dengan handphone. Mengirim cinta dengan pesan. Kalau dia tidak menelepon, aku kesal, aku curiga. Tapi aku ingat, bukankah hubungan ini berdasar pada rasa percaya? Aku percaya padanya. Aku percaya dia tidak akan bermain tangan di belakang. Aku beri dia kasih sayang yang tidak kuharapkan balasannya. Ah, ini kelemahan wanita, harusnya aku tidak sepenuhnya percaya!


Tapi bila perasaan sudah mencengkeram erat isi kepala, apalagi yang bisa kuraba? Semua terlihat akan indah pada waktunya. Pada waktu akan berhenti, pada waktunya yang berdetak akan mati. Aku percaya dengan cinta abadi. Dan satu lagi, ini hanya imitasi! Dunia tidak abadi, seharusnya cinta juga begitu. Tapi keyakinanku seakan membuat otakku berhenti berputar, dan tidak mampu lagi berpikir bahwa satu hal yang pasti adalah ketidakpastian: abadi itu tidak pasti, yang berarti tidak ada.


Hallo…” jawabku. Tengah malam adalah waktu kami pacaran. Tenang, menghanyutkan, kadang membuat mual.

Malem sayang, belum tidur?”

Aku kan nunggu kamu telepon,” ya, aku menunggu. Aku membutakan rasa kantukku untuk menjawab teleponnya, untuk mendengar suaranya. Katanya dia pulang kerja, larut malam. Aku mengerti, aku merusaha memahami. Aku, sekali lagi, percaya pada hubungan timbal balik. Maka dia juga akan mengerti bahwa aku juga membutakan hati untuk yang lain yang ada di kota sini: teman sekampus.

Kamu kangen ya sama aku? Harusnya kamu ngga usah memaksakan diri seperti itu, ini kan sudah malam. Kalo ngantuk, kamu istirahat saja.”

Aku ngga salah dengar? Listen, aku sudah menunggu kamu dari tadi habis Isya’ biar aku tau kamu rindu juga sama aku! Tapi ternyata kamu hanya menyuruhku tidur. Ibuku juga bisa kalau cuma begitu!”

Maaf, aku ngga bermaksud ngga kangen sama kamu. Aku kasian kalo tiap hari tau kamu nungguin aku pulang kerja. Kamu pasti capek juga kan seharian ini? Katanya di kampus lagi banyak tugas?”

Apalah artinya tugas, sayang? Aku menunggumu karena aku ingin kamu! Kok kamu ngga ngerti juga sih, kapan kamu ngerti?

Aku ngga capek. Bukankah hanya saat ini waktu kita bicara? Ingat kan, delapan jam sehari kamu milik perusahaan? Hape nonaktif. It means no call, no message, no you!”

I’m sorry darling.”

No sorry, just say you love me…”

I love you, much more than I know.”

See? Sekali lagi, see? Mulut lelaki manis sekali!

Ini hanya telepon, aku tau. Telepon tidak pernah berbohong, kecuali si empunya yang meminta.


Setiap telepon genggamku berbunyi, aku tau itu dari pacarku. Aku mulai mencari-cari, seperti seorang morfinis mencari ganja. Aku mencari nada dering setiap aku tidak berkegiatan. Aku mulai membaca ulang sms-smsnya. Aku terbujuk kata-kata manisnya. Dia memang manis, tanpa aku perlu tau rupanya. Aku mencandu, pada telepon yang berbunyi. Kini, setiap malam aku uring-uringan, karena seminggu belakangan dia jarang menelepon ulang. Ah, hatiku berkata aku harus menanyainya.

Tapi aku takut menyinggung perasaannya. It’s true, I didn’t used to hurt people, for sure.


Hallo,” malam ini dia menelepon.

Halo sayang, lagi apa?” see? Suaranya kembali manis. Aku tidak pernah tau apa yang dia lakukan disana. Tapi dia tau apa yang aku lakukan disini. Karena mulutku yang memberitahunya. Bahkan tanpa tau dimana letak titik koma.

Lagi apa aja boleeeh.”

Hahaha… toyor nih!”

I never imagine how my life without him is! It must be hurting me so. Semuanya bilang aku gila, karena aku hanya pacaran pada suara. Hanya suara! Hanya suara dan aku sudah jatuh cinta pada dirinya!


**


Aku tidak pernah meminta untuk menjadi orang perasa. Aku tidak pernah meminta untuk menjadi orang yang mudah curiga. Tapi aku punya alasan. Aku menemukan kejanggalan pada diri pacarku. Aku ingin bertanya, tapi lebih baik menunggunya bicara. Aku tidak suka memaksa, tapi aku akan menghargai sebuah perkataan tanpa dusta.

Kemu kenapa sayang? Indra ketujuhku lagi aktif loh, is that because of me?” waktu itu aku lagi confused. Aku ingin percaya pada dirinya, dan tidak merisaukan mantan pacarnya.

I love you, much more than I know,” kata-kata itu muncul lagi. Pesan singkat itu memporakporandakan kebisuan yang aku ciptakan sendiri. Aku melebur, tenggelam dalam rindu. Aku merindukannya. Aku melupakan mantan pacarnya, dan kata-kata manis pacarku untuk mantan pacarnya yang semenit sebelumnya membuat kepercayaanku ingin lebur. Kata-kata manis dan mantan pacarnya, are they still in touch? Hearty touch? Mengapa dia tidak berkata apa-apa? Sebuah pengakuan pun tidak terlontar. Aku mual memikirkannya. Aku hanya ingin percaya, karena itu adalah landasan utama. Aku benci menjadi gadis perasa!


Aku lagi badmood!” begitu kata pacarku, suatu hari. Aku belum pernah menangani pacar badmood. Aku mencari ide, memutar kata, mencari celah untuk menemukan ceria. Ceria untuknya. Aku ingat segala rasa kehidupan, sedih, senang, lucu, pahit, sesal, dan seribu rasa lain. Mungkin lucu bisa membinasakan badmood? Sebuah lagu? Sebuah cerita? Ternyata dia memilih untuk menjadikan badmood sebagai penutup harinya malam itu, dan mengucapkam “sorry for today” sebagai selamat tidur untukku. Aku menerimanya. Aku percaya padanya.


Keesokan harinya aku mulai hilang akal. Aku tidak mendengar suaranya seharian. Aku tidak berpacaran dengan suara! Dia tidak bisa diganggu. Aku mulai mengkhawatirkannya. Aku takut dia mati, kalah dengan badmood dan memilih mengubur mimpinya. Sepertinya lelaki sering seperti itu. Makanya, aku tidak ingin pacarku, pemilik suara itu, menjadi bagian dari lelaki putus asa seperti itu.

Telepon genggamku akhirnya berdering. Aku tau, itu dari pemilik suara yang menjadi pacarku.

Halo sayang, are you okay?”

Never been okay honey. Listen, I wanna tell you about everything involved myself. It might affect to our relationship. But I love you, it’s true.” Deg! Apa pacarku tau, hatiku hampir saja jatuh mendengar kata-kata seperti itu? Sad, or save?

Tell me, but you need to know that I don’t fucking care about what happened to your life these years,” aku langsung mengacu pada mantan pacarnya. Mungkin dia mau cerita tentang hal itu.

Dan itu benar sekali. Dia bercerita tanpa canggung. Tentang mantan pacarnya, tentang keluarganya, tentang dirinya. Aku pikir aku sudah tau semua tentangnya, ternyata aku hanya sudah tau beberapa potong dirinya. Ternyata suara lebih banyak bicara tentang hal fiktif, yang dia pikir bisa membuatku bahagia. Tapi aku butuh fakta! Dan dia ceritakan semuanya.

I’m so sorry…” begitu akhirnya.

Listen, that’s not your fault. Everybody wants to live happily, but they never been. What do you think? Will you make it together with me?”

Honey, I love you…I can’t say anything.”

Okay, so I’ll say for you.”

Begitulah, lagi-lagi aku menerimanya kembali. Kebohongan yang dia tutupi, akhirnya terkuak, tersaji di depan mata. Sebuah kebenaran tidak lagi punya titik noda, dia terlihat seperti itu adanya. Ya, aku menerima. Menerima kebohongan yang telah bertransformasi menjadi putih yang melegakan.

Atau menyakitkan?


Wanita, bodoh sekali kamu! Aku baru menyadari perbuatanku selama ini. Aku kenapa? Aku berbuat apa? Aku jatuh cinta pada suara! Suara yang bahkan belum aku kenal. Kupikir dia takdirku, seperti dua manusia yang ditakdirkan bersama, tanpa raga. Hanya jiwa, hanya nyawa. Aku telah menerimanya, dengan segala resikonya. Aku, sekali lagi, tidak ingin ditakdirkan menjadi gadis perasa, tapi aku merasakan lagi. Aku bisa mencium kebohongan. Aku bisa meraba ketidakjujuran. Jangan lagi, aku bosan dengan kepalsuan. Aku harap itu hanya prasangka.


Nanda, kita putus ya. Kita jalan sendiri-sendiri dulu, aku ngga bisa membiarkanmu kayak gini terus.”

Aku harus bilang apa?! Dia minta putus. Waktu itu aku lagi di jalan, aku sedang mengerjakan tugas. Otakku berhenti menganalisa, logikaku benar-benar mati.

Nda, kamu kenapa? Itu bapaknya diwawancarai gih!” Pina, temanku, mengagetkanku yang sedang murung dengan catatan wawancara teremas-remas di dalam genggaman. Sudah kubilang, aku sedang tidak bisa berpikir waras! Aku menyingkir, mengusap air mata, dan Pina mengerti.

Tanpa alasan.

Tanpa penjelasan.

Aku mati.

Kubur aku, sekarang!


Suram. Aku tidak bisa menceritakan apa-apa lagi. Aku rindu dengan suara, aku rindu dengan dering telepon seluler. Kuhidupkan mode silent, tidak hanya pada handphone-ku, tapi juga pada hidupku. Aku tidak bersuara, karena aku benci pada suara.

Aku bilang aku menerimanya.

Aku bilang aku bisa memutihkan kebohongannya.

Aku bilang suara itu nyata.

Tapi dia anggap aku mainan.


Nanda!” panggil temanku pada suatu sore. Dia membuka pintu kamarku, menemukan aku diam tak bersuara. Aku menonton film di laptop, film tanpa suara. Aku benci suara, seperti aku benci layar kaca. Aku benci teknologi, seperti aku benci cara kita berkomunikasi.

Nanda, dia tidak nyata!” teriaknya. Aku hanya menggeleng. Dia nyata di hatiku.

Tidak ada lelaki bernama Lefith. Pacarmu tidak ada! Kenapa kamu menjadi gila?”

Karena aku menginginkan gila. Karena aku menginginkan perhatian.


Beberapa hari setelah aku memutuskan untuk menjadi bisu, beberapa orang berpakaian putih datang ke rumah. Mama menangis di sampingku, dia bilang tidak ingin berpisah denganku. Aku tidak ingin berpisah dengan mama, sama seperti aku tidak ingin berpisah dengan suara, pacarku.

Schizophrenia,” kata-kata itu sering diucapkan oleh manusia berbaju putih itu. Mama memelukku. Itu adalah pelukan pertama mama setelah aku berhenti ngompol, dan terakhir sebelum akhirnya hidupku berubah total.

Sayang, maafkan mama. Tapi kamu harus pergi. Kamu harus sembuh,” itu adalah kata-kata terakhir mama untukku sebelum kata pak dokter aku harus berpindah kamar. Kamar yang gelap dan sunyi. Tanpa suara.


**

Kata dokter, aku menderita schizophrenia. Aku menganggap suara itu bernyawa, padahal aku tau dia nyata.

Kata dokter, aku belum berpacar, dan dering telepon genggam hanyalah fatamorgana yang mengantarkan aku pada sakit hati semu yang disebut: khayalan putus asa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar