September 11, 2015

Seninku Nerakaku

Trauma researchers have looked inside the brains of people who have suffered serious emotional trauma.

Berdasarkan artikel yang aku baca, trauma bahkan mampu membolak-balikkan pikiran manusia sehingga mereka kesulitan membedakan antara kejadian yang lampau dengan kejadian saat ini. Dulu, aku pernah mengalami kejadian yang membuat duniaku berputar-putar. Photograph memory-ku selalu menayangkan gambar yang sama, telepon rumah tua di Solo, tumpukan buku Kakek di rumah Solo, dan sore yang suram dengan gerimis yang menguntai menutupi semburat oranye senja yang malu-malu. Melalui telepon tua itu, aku mendengar berita yang membuatku enggan berdiri lagi, enggan membuka diri lagi. Aku berani menyebut apa yang terjadi tersebut sebuah trauma, seiring berjalannya waktu.

Fearful thoughts, flashbacks, and bad dreams. Fearful thoughts, flashbacks, and bad dreams. Begitu diulang-ulang terus. Begitulah hari-hariku terbentuk semenjak telepon jahanam itu. Solo yang sejuk berubah menjadi Kota Monster yang mematikan sel-sel emosiku yang baru tumbuh. I was so numb. I am so numb.

Have i told you about the calling? That was My Grandpa's. Iya, telepon dari Kakek tujuh tahun lalu. 
"Fritz meninggal dunia," cukup tiga kata tersebut yang membuat bumiku berhenti berotasi. Aku enggan bertanya mengapa, aku enggan mengetahui cerita dibalik garis kematian itu. Bolak-balik aku teringat tentang hal-hal yang tidak mungkin bisa lagi terjadi. hal-hal yang sudah pasti menjadi kenangan. Aku sungguh membenci kenangan. Mengapa orang-orang terus membicarakan kenangan sebagai hal yang indah jika mereka tidak mungkin lagi mengulang keindahan tersebut? Sebaliknya, kita hanya akan dihadapkan pada sebuah discontinuation, berhentinya sebuah hal indah tersebut. Menyesakkan? Begitulah buatku. Termasuk dengan Fritz. Aku tidak akan pernah mengalami keindahan hidup dengan Fritz di Vale Rise. Sekedar duduk di Starbucks setelah seharian bersepeda di Gladstone Park. Beberapa musim panas yang kutunggu-tunggu hingga akhirnya aku bisa liburan di rumah Kakek di Inggris. Oh, That Old Man. Kadang aku sangat mencintai Kakek, kadang aku sangat membencinya. Memandang buku-buku lama milik Kakek yang tertata rapi di kamarku membuatku sangat merindukannya. Tapi mengingat Kakek yang membenci Fritz hingga akhirnya di harus memberitahukanku berita menyedihkan itu, membuatku membencinya setengah mati.

Kadang aku tidak mengerti apa yang terjadi dalam hidupku.

Kadang itu membuatku enggan mencintai orang begitu dalam. Karena, orang yang membuatmu jatuh cinta, adalah orang yang akan membuatmu patah hati sepatahpatahnya. I won't take that risk. Sudah cukup aku dibuat 'sakit' oleh kenangan-kenangan itu, sudah cukup aku mampu mengingat-ingat kejadian buruk yang selanjutnya menjadi kenangan yang menakutkan, dan mimpi yang buruk itu. I have to cut all of those shits.

I can call that a trauma, can't i

Untaian kejadian buruk tersebut bisa saja aku cegah. Tapi sekarang, aku hanya bisa berkata "seandainya..."
Iya, seandainya saja aku tidak melakukan hal bodoh tersebut. Seandainya saja aku tidak berkenan berkenalan dengan Fritz. Seandainya saja aku tidak pernah ke rumah Kakek di Vale Rise. Seandainya saja Kakek tidak pengecut dan tidak perlu pindah ke Vale Rise. Semua selalu saja tentang "seandainya".

Lantas, bagaimana bisa aku mampu ditambah dengan 'pengalaman buruk' dilabrak istri Arkana? Bagaimana mungkin aku sanggup menanggung semua akibat dari pelabrakan itu seorang diri? Iya, seorang diri. Setelah semua orang tahu bahwa aku seorang (pseudo) marriage-breaker, seperti yang wanita itu tuduhkan, now can i just be dead, Dear God? Kepalaku pusing tidak karuan. Hidupku yang sudah hancur kini makin hancur. Tidakkah ada hal baik yang bisa kuterima lagi, Tuhan?

"Nala?" suara Bapak memanggilku dari balik pintu kamar.
"Ya, Pak?" jawabku enggan membuka pintu.
"Kamu tidak ke kantor? Ini sudah jam sembilan. Biasanya sejak sejam yang lalu kamu sudah berangkat," tambah Bapak. Harus kukatakan apa kepada Bapak? Tidak cukupkah beban yang Bapak pikul sehingga aku tega memberinya beban masalahku? Tidak.
"Nala sedang tidak enak badan, Nala mau istirahat dulu di rumah sehari ini." Sehari ini?, kudengar otakku meneriakkan pertanyaan bodohnya.
"Baik, Bapak bikinkan teh hangat ya buat kamu."
Aku tidak mengiyakan, pun tidak menidakkan. Aku enggan bereaksi apapun terhadap kehidupan. I'm so dead. I'm inelastic with those mundane affairs.

A traumatic experience that involves most or all of the senses - sight, hearing, smell, physical pain - as well as emotions, speech and thought, is stored in multiple regions throughout your brain. Dan begitulah. Seninku adalah nerakaku.



NB: the glimpse of the story of Nala and Fritz can you find in here.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar