Januari 02, 2013

(She) Januari dan Sebuah Janji



Semusim rindu dalam setahun telah berlalu. Hangat-hangat cinta juga telah tersapu panas membara jarak yang tak pernah padam oleh kekuatan untaian kata-kata. Aku meredup. Bintangku berakhir pada awal tahun baru. Kemudian terbangunkan kembali saat kau bilang akan datang kala rindu sudah mencapai puncak ingin bertemu.
Telepon darimu mengganggu kesendirian yang kubangun untuk menutupi berisiknya waktu. Saat itu detak jarum jam menunjukkan angka tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Tak merubah gelap dan gemuruh, saat petir dan kilat menyambar-nyambar seakan cemburu.
“Halo,” aku mengangkat panggilanmu.
Lantai dalam pijakanku berubah menjadi hamparan padang pasir yang hangat. Merambat melalui sel-sel kakiku, menyambar tiap bulu halusku, meradang di hatiku. Aku cukup tahu seberapa besar rinduku bertarung dengan waktu.
“Aku merindukanmu,” begitu katamu. Ingin aku jawab dengan rasa yang sama padamu, tapi aku merasa kata-kata tidak cukup mengutarakan isi otak dan dadaku saat itu. Awal januari sebentar lagi.
Aku memutuskan diam. Aku harap dia tahu, tidak ada rangkaian huruf yang secara tepat bisa menggambarkan betapa aku mengharapkan pertemuan dengannya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja. Mas sendiri bagaimana?”
“Saya juga baik-baik saja.”
Hening. Kami berdua tahu, ada rambatan yang terlihat yang sedang bekerja. Dia tahu aku juga merindukannya.
“Saya juga ingin bertemu denganmu,” katanya.
Sudah kubilang, dia tahu aku merindukannya, meski tanpa berkata-kata.
“Mas, saya ingin membersihkan toko dulu. Ini tanggal akhir, besok pasti ramai karena hari libur.”
Yang sebenarnya ingin aku sampaikan adalah, mengapa pada hari libur pun kami tidak bisa bertemu. Pangkalan tugasnya menahan semua yang kami rasa. Januari, semoga kau tak berakhir sia-sia tanpa kejutan apa-apa.
“Ya, saya juga ingin menyelesaikan editing naskah-naskah ini. Kayaknya nggak pernah berkurang tiap hari. Jaga diri baik-baik ya, saya pasti akan pulang bulan depan,” katanya. Bulan depan sudah akan muncul beberapa jam lagi, Mas.
“Saya menunggu Mas pulang, bulan depan.”


*


Ini bulan depan. Tepatnya tanggal dua setelah hari Selasa. Aku duduk dalam diam, melihat pengunjung lalu-lalang mencari apa yang mereka inginkan dari toko tua peninggalan Papa dan Mamak yang sudah tiada. Hanya aku dan adik semata wayang saja yang sekarang menjalankan bisnis kecil nan indah turun-temurun dari kakek, hingga papa: toko sastra pada pojokan pecinan.
Bukan toko buku besar layaknya Gramedia, tapi mungil dengan kafe kecil tanpa sinyal internet. Hanya ruangan dari kayu berukuran seratus meter dengan kursi-kursi kayu dan aroma teh hangat setiap hari. Hanya tempat untuk janjian orang-orang tua yang ingin mengenang masa-masa indah dunia tanpa kemegahan dan kemudahan komunikasi.
Kami menyediakan juga kartu pos dengan gambar-gambar kota yang mereka bilang membosankan. Tapi kubilang ini adalah secuil keindahan.
“Ci, Masmu itu kapan mau pulang? Pacaran kok beda benua. Suruhlah dia tinggalkan London-nya itu. Kau yang di Jogja menginginkannya pulang, cepat kau bilang sana!” adikku suka sekali menggodaku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Bekerja di kota sebesar London adalah kebanggan tersendiri buatnya. Aku tidak suka mengusiknya. Impian dia untuk bekerja pada penerbit terbesar abad ini adalah hidupnya. Mana sanggup aku menyuruhnya berlibur dari apa yang dia sukai. Bukan berarti dia tak menyukaiku. Tapi aku dan pekerjaannya berada pada konteks yang berbeda.
“Cici, selamat siang. Selamat tahun baru, semoga berkah Tuhan selalu menyertaimu!” sepasang kakek-nenek berusia tujuh puluh tahun baru saja melangkahkan kaki menuju kafe mungilku. Muda-mudi mahasiswa sastra memang sering bertandang ke toko bukuku, tapi tak banyak dari mereka yang mau meluangkan waktu menikmati secangkir teh hangat dengan duduk di kursi kayu jatiku npada kafe beraroma manis ini. Sudah kubilang, kafe ini kafe milik orang-orang yang merindukan kenangan.
Aku mengangguk pada sepasang kakek dan nenek itu, kemudian kudekati mereka berdua.
“Selamat tahun baru juga, Nek. Punya acara apa malam tahun baru kemarin?” tanyaku sambil menyodorkan katalog menu padanya.
“Kau ini, sudah jelas aku memesan teh gingseng dua cangkir dan kue bolu rasa gula jawa tiga buah, masih saja kau sodorkan menu itu. Lupa sama pesanan Nenek?” jawab Nenek. Aku tersenyum. Aku tidak lupa, hanya saja, siapa tahu nenek mau pesan menu lainnya, bukan?
“Pertanyaan saya belum nenek jawab, bukan soal menu, tapi soal malam tahun baru.”
“Sudah jelas nenek dan kakek dirumah saja, menonton konser di televisi, berdoa, dan tidur. Kau sendiri? Anak muda pasti berkeliaran di Malioboro,” simpul Nenek.
“Nenek salah, Cici saya malam tahun barunya cuma melototin gagang telepon! Ditelepon lima menit sama pacarnya, terus tidur,” sambar adikku.
“Alena!” ingatku.
Tapi aku merindukannya. Sangat merindukannya.
“Jangan hanya menanti, cinta itu layak dicari. Apa kau pikir cinta hanya kata benda yang bisa dipupuk dengan rindu semata? Cinta perlu pengorbanan. Kalau kau dan pacarmu sama-sama tidak mau mengorbankan waktu, ya sudah. Biarkan saja cinta layu.” Nenek.


*


Aku percaya pada cinta yang baik. Aku percaya pada kesiapan sebelum menguntai rasa ke jenjang yang lebih tinggi. Aku percaya waktu adalah media pendewasaan cinta, dan jarak adalah level kematangan cinta. Ketika orang yang kau cintai berada pada jarak yang tak terhitung jauhnya, maka sejauh itulah kau mencintainya. Bila masih mau menunggunya.
“Cici, aku mencari Mrs. Dalloway terjemahan, aku nggak nemu dimana-mana,” salah satu pelangganku berucap padaku. Lamunanku terputus
“Tidak ada versi terjemahannya disini, Mbak. Kalau berkenan, kami punya versi bahasa inggrisnya,” jawabku.
“Cici, kalau ada yang sudah terjemahan, kasih tahu aku ya Ci. Aku malas baca novel sambil buka kamus, rasanya kayak belajar bahasa inggris saja,” terusnya.
“Loh, Mbak kan memang mahasiswi sastra inggris,” jawabku sambil tersenyum simpul. Mahasiswi itu juga tersenyum sambil memperlihatkan lesung pipinya.
“Aku memang mahasiswi bahasa inggris, tapi mahasiswa sastra inggris manapun bakal lebih suka membaca sastra sambil liat muka kamu daripada liat kamus, percaya deh,” godanya sambil tersenyum lebar.
“Mbak ini bisa saja, nanti saya kasih tahu kalo sudah ada versi terjemahannya di toko kami,” jawabku.
“Makasih ya. Eh iya, nama Cici siapa? Namaku Nendyana, tapi biasa dipanggil Nana,” gadis itu menyodorkan tangan kanannya padaku.
“Nama saya Runia, panggil sama Runi saja,” kusambut tangan halus Nana.
“Oh, aku pikir kamu Cina, ternyata nama kamu kayak orang Jawa.”
“Papa saya memang orang Tionghoa, tapi Mamak saya orang Jawa. Saya juga punya nama Cina kok.”
“Oh ya, siapa?”
Dan obrolan kami berlanjut pada kursi-kursi kayu jati itu. Nana sangat menyenangkan. Dia memesan Teh Sereh yang menenangkan, dan aku selalu membuatkan Teh tawar hangat untuk diriku sendiri.


*


“Mas kira-kira sedang sibuk nggak?” tanyaku lemalui sambungan telepon.
“Ada yang bisa Mas bantu?”
“Pelanggan toko saya ada yang ingin Mrs. Dalloway versi bahasa Indonesia. Kalau Mas sedang ada waktu, boleh saya minta tolong terjemahin versi bahasa inggrisnya?” tanya saya.
“Saya tidak terlalu sibuk, tapi juga tidak punya banyak waktu. Nanti coba saya curi-curi waktu ya. Nanti Cici saya kabari lagi.”
Sekarang sudah tanggal sepuluh, tidak ada pengurangan rindu.
“Mas, kapan Mas Pram pulang?” tanyaku. Hening.
“Maaf Mas, bukannya saya memaksa Mas pulang, tapi saya benar-benar pengen bertemu. Mas ingat dengan kursi pojok, dua cangkir teh tawar hangat, dan sepotong senja yang mas abadikan dalam lensa kamera Mas? Itu adalah bahagia saya, Mas.”
Bukan berarti aku tak pernah bahagia juga.
“Saya akan pulang secepatnya. Cici mau nunggu saya kan? Pekerjaan disini benar-benar menguras tenaga dan pikiran saya.”
Saya tahu Mas.
“Jaga diri Mas baik-baik ya, tidak ada yang jual Tolak Angin disana, Mas,” candaku.
“Dan nggak ada tukang pijat yang semanjur pijitan Cici,” lanjutnya. Kami berdua tersenyum dalam desahan kerinduan kami masing-masing.


*


Hari sebelas, rindu mencambuk-cambuk tanpa berbelas. Malam itu sunyi. Adik sudah tidur duluan sebelum jam sebelas. Sekarang, setelah merapikan buku-buku yang berserakan, aku duduk pada kafe mungilku, pada sebuah kursi pojok ditemani rembulan yang mengintip pada jendela kayu yang gordennya sedikit tersibak. Sinarnya yang tajam membentuk semburat-semburat warna putih kekuningan dalam pantulan kayu-kayu di kafe mungilku. Kuambil secarik kertas dalam amplop yang tak pernah lupa kubawa kemana-mana itu. Tidak lebar, hanya seukuran buku tulis biasa.
Aku memang tidak mau menyimpan kertas itu di sembarang tempat, aku tidak ingin ada yang menemukan, bahkan membaca kertas ini. Aku tidak mau Adik tau, begitu pula Mas Pram. Seperti sebuah sihir, ketika membaca tulisan yang berderet rapi pada badan kertas itu, aku langsung menghitung deret umur yang sudah terkumpul hingga sekarang. Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dia memberiku ujian saat aku berada diantara orang-orang yang aku cintai. Mas Pram, Adik, pelanggan toko buku, dan pelanggan kafe.
Aku tidak pernah merasa terkutuk dengan kertas diagnosis dari dokter ini. Kanker paru-paru. Stadium tiga. Aku berharap, ketika deret usiaku nanti terhenti, aku masih bisa bertemu Mas Pram...(to be continue)

Januari 01, 2013

2013



The title is so boring. The euphoria, the parties, the celebrations, the everything-happy-new-year-stuffs. They’re completely exaggerated. Maybe it’s only my own ego that i spent the night alone in my room, been watching DVDs until my eyes got tired and fell asleep without greeting happy new year’s words to my friends at 02:00 a.m.
And the one texted a happy new year blesses for me was my Boss in the office. How worse it could be?
The older the year, the sooner we’re going to be apart with the ones we used to stick around together. I worry. I worry about the doomsday. I mean, the real doomsday, the day when we’re really alone, a mono-creature with no others to share times, words, love, whatever.
They people make a wish list for the new year to fulfill their new spirit. I think they do the same old shit, repetition because when the second day of January comes, everything’s gonna be felt the same old days. The new year’s euphoria finally vanish. Don’t they better to keep well what they’ve already had and try to be a bit realistic of making a new wish list? Because, well, i do.
I have no many goals to be reached for in this 2013. I make it simple, i call it ‘better of me’. The theme is, I should not cry as often as i did before. Yeah, i was a brokenhearted girl with no regrets of being an asocial for the result. I was growing to be anon-believer and i was happy. Until this night.
I wanted to believe the miracles on the new year’s night or the night before Christmas. I wanted to be who I was, 5 years back when I believed that fairytales did exist. I wanted to be who I used to be before a man broke my heart and made the new brand of me.
This is disgusting to tell you the truth of me. A pathetic girl who slept with tears last night. But this is my private party, and I’d like to share with you that the real new is not the year, but us, ourselves. So, share me your wish list. What? My wish list? It’s a very personal, it’s just me to be more cheerful, to be my old 5 years back of old me, and, get a new better job. The things I’m keeping in my mind are, Jogja (i don’t know but I think I cannot leave this town), my family, and me. I’m keeping myself, I’m saving her. So, happy new year 2013, everyone! J


Desember 20, 2012

Important Self-Conversation

I'm all upset.
For all i don't-know-things, i want to kill everyone i meet this day. Maybe, this is so called PMS. Or whatever related to hormones. This hour, i hate being a female, yet feminism stuffs, yet hormonal stuffs, yet everything sounds wrong.

At least a day in a week, i think we really need me-time to rethink what  i have done in this whole week. But as a social creature, being alone is just assumed as an asocial ones. How substantial the effects of the deeds of us. Our habit, our words, our voices, i think they're planned to be judged. Fuck.

That's why, me-time is important. Maybe this is weird, but at least an hour a day, randomly picking, i do self-conversation. Talk to myself, and cry in my own shoulder. Weirdo? Yes. But since many of people did hurt me, i was growing up as an unbeliever and that cool-silly conversation with my own self is necessary.

Once i met up with my psychologist friend, and i told her what were being my doubts, and she listened to me, until cried because by telling her all of mine, i was forced to remember all of the harsh deeds i have done to myself and it guaranteed me to be that tough. I've tried hard. Harder than what i could expect before. It's a pity of myself.

And my psychologist friend said, talk to our own self is good for our mental health :)

Sometimes, i think that someone somewhere is being talking about me for whatever reasons while i'm all alone think is there anyone do care about me.I called that: psycho narcissism. It sounds like mental disorder thingy but as long as it makes me glad, who cares? No happy, but assumptions are sometimes make me smile, like this :)

Well, it's a way much better of me to write what's on my mind. I love writing, i love self-conversation, i love depend on my own self, and i love my own life. Yeah, being a female is out of the frame (right now).

Desember 09, 2012

She, Him, and The Sacrifices in Between.

One morning, i played Creep by Radiohead without any detention. I just wanted to... listen. An hour later on, i searched the lyric after arriving at the office. Then i mused on one thing: my boyfriend finished over our relationship by giving me that song, by text. He said, "i'm a creep, i'm a weirdo. I don't deserve you"

By that time, i thought he was the meanest creature by said it by text on a cellphone. That time, when i was crying out on the kitchen floor. Yes, it was true, ON THE KITCHEN FLOOR.

1 year and half later, right now, sitting on my office chair and rethink about all of those past stuffs. The key words recorded in my head are broken-up, sorrow, crying, and tears. How dark my life was, i thought.

After listening to that Creep song, i already discovered the new thought. Unexpectedly, my tears burst out. I can hardly hold them to come. Remembrances come out and  lunge my sense. He was not that mean. Below are the lyrics:

When you were here before
Couldn't look you in the eye
You're just like an angel
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
I wish I was special
You're so fucking special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here

I don't care if it hurts
I want to have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice when I'm not around
You're so fucking special
I wish I was special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am i doing here?
I don't belong here

She's running out the door
She's running out
She runs runs runs

Whatever makes you happy
Whatever you want
You're so fucking special
I wish I was special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
I don't belong here


Man, what was not meant to be was just the meanest to be? Because your family was broken and you had bad luck unlike others, you thought that yourself was not as good as others, even, me?
I told you repeatedly, i didn't care about the craps around you. Your Mama, your Papa, and the divorce in between.
"I let you go because i love you"
You know, how deep those words bleed my heart? If you had miles of  list of 'why-things', then why i should not have the same stuff of 'no-reason-things-to-love-you'? Because you're creep?

I don't deserve that song. I'm not that special. I'm like you, trapped on our own feelings of unlucky human.
Dear, my heart be crying this present. How you made a distance just to keep me in a good situation, how you saw me as a whole perfect girl that was so special that you thought that yourself was the ugly-duck, how you whispered me words in a poem, how you treated me in that short time of months. Then, my unconscious beliefs of those. I'm feeling bad to accuse you such a bastard, and a heartless man. In other hand, you yourself have been wounded by the deed you done for me. FOR me, the one who loved you so drop dead much? It's unfair, it's unfair.
Why does it take almost two years to realize our silent sacrifices?
One thing, we're sick, we did what was best for each.
You did this for me, i did that to you.
God, there will be crossed line between us, again?

Desember 07, 2012

Woman, The Hero of a Story

Him : Sugar, you alright?
She : Sure i don't need to be saved
Him : You look unhappy.
She : Yea. This is my default face. I should change it. Someday *if i could*
Him : Wanna go out?
She : I wanna stay *stay beside you*
Him : *he's flattering me* long time no see you. Been a whole month.
She : *don't know what to feel* Me, too.
Him : Hey what did you do this month? Any impressing point of time?
She *sighing* I spent my time to go out, lazy walked around district, and out, some times.
Him : What did you see?
She : Many. *including you*
Him : Hmmm... you look like not fascinated the things.
She : I'm drop dead caring to the things i see, i take care of, i love, i want.
Him : Including me?
She : Including you.

*She conjure up the image of two beautiful creatures cuddling in a place, in a time. She knew the one well, The one she knew, was the one sitting beside her, flattering him, nosing her top of her head while caressing her hair. Woman, the hero of a story, she doesn't need to be saved.*

Desember 06, 2012

Us

Him : hi.
Me : hi.
Him : howdy?
Me : as fine as i haven't met you. Why?
Him : Sorry.
Me : For?
Him : my everything. They were hurting you.
Me : They did. They don't.
Him : I can't change the theme?
Me : Time is not a phrase you can change anytime you want.
Him : Do they last forever?
Me : They who?
Him : My faults.
Me : Do not ask me, i can't even answer my own questions.
Him : What questions?
Me : About do i love my self, do i forget the things, do i really live. Relative.
Him : You're cool.
Me : :) then you left me because I was cool :)
Him : I don't deserve you.
Me : I deserve a leaving, a promise, not a proof.
Him : Are they mine?
Me : No, they are ours. Did we really love each other that time?
Him : Don't screw the theme.
Me : Oh. I thought the theme is us. Nothing's plain when it comes to us, ya know.
Him : Yea, nothing's plain when it comes to love, ya know.

*it hurts my heart out. My heart is burst out by the thought he told. I still love him*
Me is really me.

Desember 02, 2012

Silly Repetition, Yes Me.

Hai halo. Udah lama nih nggak nulis disini. Habisnya, beberapa bulan ini curahan perasaan aku udah aku limpahin dalam novel-novel itu. Aku bisa apa sih? Tapi ya, kalo sekarang ini, rasanya aku kaya diobok-obok. Begini ya, biar aku perjelas, ini kaya repetition bodoh yang kaya seorang masokis, aku ulangin sendiri dengan perasaan sadar-sesadar-sadarnya.

Bodoh. Cuma itu yang pengen aku bilang. Aku pengen teriak, pengen nangis tapi nggak ngerti juga harus nangis dan teriak sama siapa.. Baru tadi sore aku ingin banget punya wajah yang lebih oke ketimbang otak yang cemerlang. Daya analisis yang nggak sengaja aku terapin pada hal baru yang aku temui bikin aku pengen muntah membayangkan result yang aku terima. Kenapa? Iya, ada hubungannya sama cowok

Tapi aku punya dua pilihan. Pertama, aku harus ninggalin dia, sekarang atau nanti. Inilah yang aku bilang pengulangan bodoh. Dulu sewaktu SMA aku pernah juga mengalami kejadian seperti ini, memiliki ketertarikan, dan daya tarik menarik yang kuat, hukum aksi reaksi dengan cowok yang berbeda keyakinan sama aku. Ini mengesalkan banget, mengingat sejujurnya aku juga bukan orang yang alim banget. Tapi perkataan Ibu selalu terngiang-ngiang terus di aku. Nggak perlulah ya aku kasih tau apa sabda Ibu.

Kedua, aku bisa saja meneruskan hubungan-tak-tentu arah ini ke jenjang yang lebih tinggi. Iya, mengingat saat ini aku dan dia lagi menjalankan peran Kearra-Panji yang sedikit banyak mencubit-cubit hati. Aku tau, pilihan kedua ini bakal menemui lebih banyak hambatan ketimbang pilihan pertama tadi. Ya, aku kalah oleh perasaanku sendiri.

Dan tentu saja, akhir-akhir ini aku sedang sulit fokus pada satu hal. Logikaku sedang tidak di tempat, mungkin sudah ber-aparate ke suatu tempat entah dimana. Distraksi pikiran, hebat sekali ternyata ya, kreativitas bisa membuat jalannya sendiri, membentuk pola yang mengingatkan aku sama tugas yang lagi aku kerjain. Oke, not a big deal, it is.

Nah, keledai aja nggak ada yang jatuh ke lubang dua kali kan? Kenapa aku malah terperangkap (terperangkap loh, nggak cuma jatuh!) ke lubang yang sama dua kali? Masalah 'itu' dan satu lagi sebenernya, masalah 'percaya' pada apa yang aku yakini sejak awal. Keyakinan yang memuakkan, yang kadang menuntut aku keluar dari zona sadarku sendiri. Perasaan aneh yang datang mengikuti rasa keingintauanku. Semisal saja, ketika aku pertama kali mengenal seseorang, aku selalu merasakan dua hal: 1) pertemuan ini akan berjalan normal ke jalan pertemanan biasa, dan 2) perkenalan ini suatu saat akan menuju ke jalan lain dengan hirarki yang lebih tinggi. Ya, kadang aku terjebak dengan perasaan dan persepsi.

Sudahlah, aku mau nangis dulu ya, tapi ribet nih lagi di kantor. Nanti aja kalo udah sampai kost, mau nangis sambil teriak di bantal biar cuma aku dan diriku saja yang dengar. Dear you, selamat menemukan wanita-lain-yang-lebih-mementingkan-jelita-ketimbang-mempercantik-wawasan-kaya-aku-ini ya. Good luck, mon cherie :).

Mei 24, 2012

Debussy, Sampah Pikiran, @Cantyarania

Cheerstraw!! :)

Ini bukan tentang rasa ingin menulis yang setiap saat muncul tapi harus terkekang karena perasaan. Ini bukan karena enggan mengeluarkan koyakan perasaan yang menggelembung dan ingin segera pecah. Bukan pula tentang segala ketertarikan yang harus terkupas, terkikis, dan akhirnya terlebur bersama sampah-sampah hina dalam keranjangnya. Ini tentang makna. Butuh waktu yang terus membesar hingga ujung pangkalnya, yang pada akhirnya, tak kumengerti juga.

Malam ini, di Rumah Cokelat, dengan niat awal mengerjakan peta, jemariku kembali menari di atas keyboard, memetakan sesak-sesak kecil yang memenuhi rongga otak, melejit keluar. Bisa dibilang sebuah sampah. Suatu waktu, kita memang butuh waktu seperti ini, sebuah trans ketika kita berada dalam dunia sadar-tidak sadar, memuntahkan segala yang tak terpakai dalam kepala dan gila karenanya. Aku akan segera bebas dan gembira.

Ini bukan soal hingar bingar kehidupan.
Aku menulis karena ada sesuatu yang ingin kubagi. Soal Debussy. Ya, tentu saja ini baru bagiku. Seorang componist Perancis luar biasa yang mencuri perhatianku. Lebih dari lover-lover yang selalu tidak tahu dimana celah stategis untuk masuk ke hatiku. Aku memang tertutup, terkunci. Tapi Debussy tau pori terbesar untuk menyusup, menghipnotisku.

Pertama kalinya, aku mengenal Debussy lewat Clair de Lune, atau dalam bahasa Indonesia berarti Cahaya Bulan. Aku ketagihan. Bukan dalam waktu sebulan dua bulan, tapi dua tahun. Dua tahun setelah menikmati Calir de Lune tiap sore, aku membayangkan nada-nada magis lainnya dari Debussy. Dan malam ini, terjawab sudah semuanya. La Fille Aux Cheveux De Lin, Syrinx, Arbesque, dan masih banyak lagi judul lainnya. Aku bahagia.

Siapa Debussy itu? Berdasarkan ini, Debussy yang bernama lengkap Clude Debussy dalah komponis berkebangsaan Perancis. Musiknya dianggap sebagai peralihan dari zaman musik romantik ke musik modern di awal abad ke-20. Bersama dengan Maurice Ravel, ia merupakan salah satu figur utama dalam bidang musik impressionis walau ia sendiri kurang menyukai pemberian nama aliran tersebut Mungkin banyak yang belum kenal, tapi sampah manis ini memang menyenangkan. Sudah berminggu-minggu bercokol di otakku, akhirnya, malam ini, dia kukeluarkan juga. (")9

Yea, Yastirania Cantyaruni, pramugari cantik itu tak hanya piawai melayani penumpang pesawat, tapi juga memiliki selera musik yang lumayan. Dari wanita itulah, akhirnya aku mengenal Debussy lebih lanjut.
"What's unsignificant, is the significant itself"
begitu katanya. Yah, Cantyaruni emang kadang ajaib. Wanita yang baru sekali kutemui ini menjadi sebuah bagian tak terlupakan dalam pendewasaan diriku.
Guys, you can find her here.

Kamu homo kalo bilang dia nggak cantik.
Cheers :))

Januari 07, 2012

Akhir


It's way too late to think of
Someone I would call now
And neon signs got tired
Red eye flights help the stars out
I'm safe in a corner
Just hours before me

Ternyata anginpun mengerti. Aku sedang mengalami pergolakan diri. Tentang sebuah rasa, sebuah cerita. Kalaupun memang harus begini pada ujung takdirnya, kurasa memang harus belajar membuat diri rela. Aku hanya tertunduk, terdiam, terasa…

**

Aku dan kamu berhadapan. Aku dan kamu saling diam. Aku tau, nanar tatapmu menuju ke sudut atas dinding yang teronggok di belakangku, tegak. Tapi mata hatimu, entahlah, dimana kini? Aku menatap hampa pada pergelangan tangan yang terus kukepal. Helaan napas terasa semakin berat saja. Tapi untuk mengeluarkan mutiara airmata, bahkan sudahpun tak mampu.
“ Kamu yakin?” begitu tanyamu. Aku terus meyakinkan hati bahwa semua ini tidaklah abadi. Sesal sebesar apapun tak akan mampu menerjang keyakinanku. Aku mengerti betul bagaimana perasaanku, sedihku, senangku, tangisku, kamu.
                “ Aku… yakin…” jawabku tak yakin. Seruak rindu tiba-tiba datang menghadang langkahku. Rindu kebersamaan, rindu ingin dicumbu rasa tak tentu sehari tiada cerita hidupmu mampir di telingaku. Rindu bergandengan tangan di bawah pohon rambutan di taman tengah kota, berdua menikmati es kelapa muda. Rindu mendengarmu bercerita tentang mimpimu yang telah kau lepas pergi menjauh dari benua tempat kau berpijak. Rindu menikmati hidup, denganmu tentu.
Rindu menjadi wanita yang kau cintai dengan sepenuh hati, meski dengan setengah sembunyi.
“ Menurutmu, langkahmu sudah benar?” tanyamu lagi.
Jangankan benar atau salah, kiri dan kanan saja serasa sulit dikenali! Suasana hati perih sekali, seperti terajam jeruji besi. Tapi sebagai seorang wanita yang menghormati adab berkawan setia, aku harus mengesampingkan keseluruhan hidupku. Mengesampingkan kebahagianku. Merelakan kamu.

**

I'm waking with the roaches
The world has surrendered
I'm dating ancient ghosts
The ones I made friends with
The comfort of fireflies
Long gone before daylight

Betapa sulitnya menghapus kenangan paling paradoks dalam hidup. Kenangan paling tabu, sekaligus kenangan paling ingin kuhirup. Seperti menghirup wangi kopi dari kerah bajumu, seperti menghirup kelopak bunga layu yang kau berikan padaku. Seperti menghirup kebahagiaan berdua denganmu, meski dengan embel-embel kisah yang saru.
Deburan ombak itu masih berlarian di kakiku, menghibur desau sedihku yang merosot sampai jauh ke dalam hati paling ujung. Aku tersenyum. Ada sebuah kelegaan yang datang tanpa perlu diundang. Kelegaan yang berbalutkan perih yang luar biasa mengiris.

And if I had one wish fulfilled tonight
I'd ask for the sun to never rise
If God leant his voice to me to speak
I'd say go to bed, world

**

Kamu menyentuh ujung jariku, membelai lembut di tengah pergolakan keras hatimu. Jasmu masih wangi, masih tersemat sebuah bunga putih nan cantik di saku bagian kanan atas. Ada sebuah syahdu melihatmu mengenakan baju resmi untuk mempelai pria. Tentu kamu terlihat tampan luar biasa. Wajahmu licin bersih, dan rambutmu rapi jali. Sapuan make up tipis membuat dirimu semakin mencuri perhatianku. Tapi aku tahu, semua itu tabu.
“ Aku tidak seberani yang kamu harapkan, aku bukan ksatria yang kamu inginkan. Aku tidak pantas menjadi lelaki. Aku bahkan tidak bernyali mengakui hati sendiri,” kamu berkata sedih.
“ Tapi ini untuk kebaikan kita. Dari awal kita sudah salah, sudah tak bisa menjadi halal.” Matamu berkaca-kaca.
“ Aku yang membiarkan dirimu pergi, semua bukan karena keputusanmu. Ini semua aku, it’s all about me,” kudengar bibirku berbicara lantang. Aku ingin mengeluarkan semua berat yang terkubur dalam rasa, aku ingin menghilangkan bayang gelap yang terselubung dalam setiap helah nafas. Life must go on, dan aku menghirup napas panjang.
“ I will always love you. Always…” bibirmu berkata lirih. Sebuah kata cinta yang pertama. Dan mungkin terakhir.
“ I will always love you. Always…” aku kembali membalas cintanya. Membalas kata cintanya untuk yang pertama, dan mungkin yang terakhir pula. Dan aku meledak, aku semakin meledak kala dia melangkah menjauh. Kakiku gontai menyangga beban tubuhku. Tak menyangka akan sesakit ini menyaksikan lelaki yang kucintai menikahi gadis lain. Aku menggontai, dan aku meledak. Dalam tangis yang tak berkesudahan.

**

I've always been too late
To see what's before me
And I know nothing sweeter than
Champaign from last New Years
Sweet music in my ears
And a night full of no fears

Dan aku meledak. Meledak hingga malam hendak hilang ditelan terang. Dan aku meledak dalam pantai yang berdebur terhantam ombak. Dan aku meledak dalam hilang, dalam hilangnya cintaku. Mungkin inilah yang selama ini aku nantikan, meledak dalam tangis yang akhirnya menarik keluar semua rasa. Entah sedih, entah bahagia, entah cinta. Entah dia, entah rasa, entah segala, entah semesta.
Maka akupun hilang. Aku ingin menjadi hambar saja, ingin tak merasa. Setiap senti tubuhku kurasa tenggelam. Deburan ombak kurasa tadi menggelitik kakiku, kini terasa lembut menerpa wajahku. Ada ragu yang sekelebat menjemput, tapi ternyata hanya sebuah sambil lalu yang tak sengaja menampar wajahku, namun tak pilu. Aku tersenyum, aku akan kebas, aku akan bebas. Maka maafkanlah segala rasa, kurasa semua hanya akan membuat hidupku berhenti di suatu titik. Tapi, bukankah kita pernah berjanji akan meregang nyawa bersama?
Aku menutup mataku, berharap kaupun akan begitu. Tapi maafkanku sekali lagi, bila aku mendahului…

But if I had one wish fulfilled tonight
I'd ask for the sun to never rise
If God passed a mic to me to speak
I'd say stay in bed, world
Sleep in peace
(No Sleep - The Cardigans)
9.01 p.m
Dsn. Gondang, Ds. Wukirsari Kec. Cangkringan
July 6th 2011