Tampilkan postingan dengan label #thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #thought. Tampilkan semua postingan

Mei 07, 2018

Life These Lately Months

Yeah, hello.
It feels so awkward to review our own life, right? In our perspective, our lives suck, don't they? 2018 has been going for more than 4 months, resolutions has been declared, clean and clear. Yah, so far it's not bad, but some of them didn't go as i planned.

Kecewa? Sudahlah capek kalau harus berlama-lama kecewa. Bukankah seninya hidup itu seperti itu? Aku sekarang sedang berusaha meluweskan diri terhadap hal-hal yang awalnya tidak bisa aku tolerir dengan melabeli diriku dengan sok asik: i am inelastic to mundane affair. yeah i was so fucking arrogant but sometimes i need that arrogance too. So yeah, don't be a bigot of something. LOL. Really, i want to laugh at myself right now.

Akhir-akhir ini kantor sedang tidak banyak kerjaan, terutama yang pasti karena ini adalah bulan-bulan lelang proyek, dan ini masih dalam rangka bubaran tahun selesainya proyek. Jadi kalau akhir bulan yang pas dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru orang-orang asyik piknik dan liburan kemana-mana, aku (dan suami) sibuk dengan deadline proyek yang harus tutup tahun. Dan sekarang, saat yang lain kerja dengan normal, aku jam segini di kafe dong. Nulis ginian. Cukup adil, ya? Bukan libur, ini sedang nunggu Kerangka Acuan Kerja (KAK) mana yang harus dibuat Usulan Teknis (Ustek) untuk kebutuhan lelang proyek. Ya, yang lain kerjaan mah udah ada aja dari awal tahun, kami masih harus cari proyek buat makan sehari-hari, Bro Sist. Jadi, beda itu biasa ya. Bersyukur saja, karena percaya sama Tuhan adalah koentji. Ingat, Tuhan akan cukupkan. Lagi relijius, kau?

Lagi, awal tahun ini aku punya resolusi, anggap saja resolusi kecil-kecilan yang sebenarnya ingin mengubah pola hidup ke arah yang lebih baik ya, dengan dua hal besar yang mungkin bisa di-break down menjadi banyak rincian kecil yang mugkin bagi banyak orang sudut pandangnya akan beda dengan diriku. 
  1. Persering memasak sendiri di rumah. Awalnya kulihat ini adalah sebuah usaha untuk penghematan pengeluaran bulanan ya, tapi ternyata dampaknya lebih dari itu. Mau dikupas satu-satu macam buah jeruk? Pertama, selain bisa mengirit pengeluaran untuk makan, ternyata ini bisa meningkatkan kadar kesehatan tubuh. Tahu teori garbage in garbage out? Nah itu aku asumsikan bisa berlaku terhadap tubuh kita. Kumasak semua bahan makanan itu dengan cinta dan sayang, jadi semacam aku berikan doa kepada anak dan suamiku agar selalu sehat panjang umur. Usaha, boleh kan? If you want something, make an effort! Kedua, itulah. Kalau lapar, masaklah dulu baru bisa makan, kalau menginginkan sesuatu, usahalah dulu baru bisa kamu dapatkan itu keinginan-keinginan yang kadang absurd. Sedikit delay gratification tapi hasilnya, puas tak kau, eh? Paham dengan benefit yang kedua ini? Ketiga, tak lain dan tak bukan adalah aku semakin sering main ke pasar, mengerti perkembangan harga, berkomunikasi dengan pedagang pasar, dan punya langganan tempat beli sayur. I take that as a benefit.
  2. Perbanyak baca banyak buku. Membaca buku adalah sebuah sanctuary buatku. Tak melulu tempat, kegiatan yang menenangkan juga termasuk sebuah sanctuary yang bisa kudatangi kalo lagi suntuk dan jenuh dengan rutinitas. Ya tak bisa dipungkirilah, mulai aktivitas dari sejak alarm subuh berkumandang sampai tidur malam jelas bikin jenuh kan? Relaksasi dulu dengan membaca. Dari membaca, aku semakin memahami banyak hal, mengasah kepekaanku, emosiku, perasaanku. Sometimes, i think that all engineers need to read some books, not a non-fiction one, but sometimes to sharp your feelings, grow your sympathy and empathy up. Dan posisikan dirimu sebagai gelas kosong yang siap menerima ilmu apapun. Dan tentu saja untuk bisa menjadi gelas kosong, kamu harus bisa rendah hati. Hello, you, who has big ego, please come to my sanctuary. Jadi kira-kira sebulanan ini, setelah selesai membaca beberapa buku, aku mengalami sebuah trans pada diriku. Bukan trans yang terus aku kerasukan atau nari-nari penuh penghayatan gitu, tapi aku merasa bahwa apa yang aku ketahui saat ini masih belum cukup. Aku merasa belum pintar, aku masih haus hal-hal baru, pengetahuan baru. Aku merasa muak dengan sosial media, muak dengan orang-orang yang sibuk mem-personal branding-kan dirinya (paham nggak paragraf ini? Personal brand?) sebagai yang (paling) asyik, paling benar, paling miyatani, paling cantik, langsing, etc you name it. Padahal ya biarin kan ya orang-orang kayak gitu, kalau akunya nggak suka, ya sudah nggak usah dilihat. Ya, kemudian aku sampai pada kesimpulan seperti itu setelah aku uninstall facebook app di ponsel dan beralih membuang sampah pikiran di twitter. Kemudian kalau sudah gitu, rasanya pengen semakin banyak membaca, belajar, bahkan kuliah lagi kalau diperlukan. Sebuah keadaan yang kupikir cukup fucked-up dan membuatku tidak percaya diri.
Oiya, ngomong-ngomong soal percaya diri, sejak mempunyai anak, kepercayaan diriku melesat turun drastis. IDK what happened in me, tapi kurasa aku menemukan beberapa wanita juga mengalami hal yang sama. Jadi sekarang aku masih dalam usaha mengembalikan, bahkan menaikkan kepercayaandiriku hingga ke taraf yang aku butuhkan dan sesuai dengan kapasitasku. When you see me as calm as an ocean, yang sebenarnya adalah aku berantakan banget dalemnya. Ya hatinya, ya pikirannya. I can't stop thinking, or at least, i THINK i can't stop thinking. Semacam, tenang sikitlah kau, hidup jangan kau bikin berdebar naik turun kayak indeks IHSG, dong! 

Kemudian, kesimpulan untuk 4 bulan tahun 2018 itu apa? Ya tidak ada, selain betapa berantakannya diriku. Aku tidak ingin menilai dengan 1,2,3,4, atau 5 bintang tingkat kualitas hidupku, karena yang aku inginkan adalah hidup yang lebih baik dari dari kemarin. Hidup yang aku usahakan dengan pola yang terus kuperbaiki dari hari ke hari (entah ini keliahatan atau enggak, nggak ada yang mengapresiasi juga selain diri sendiri). Semoga tutup tahun ini aku bisa meningkatkan kualitas hidupku, menambah ilmuku, dan semakin percaya diri dan, please, ACCEPT YOURSELF, INDA. Surrender, macam Thor yang merelakan Asgard hancur tapi harga diri dan rakyatnya melambung tinggi saat melawan Hela dan kemudian diserang Thanos. Be like Thor, Inda, move on dari Jane Foster secepat itu, dan meskipun kehilangan satu mata, dia ikhlas.
IYAIN AJA DEH BIAR CEPET.

Maret 28, 2018

Berdamai dan Melepaskan

Postingan ini ditulis karena kegelisahanku beberapa malam ini. Kepikiran sampai dibawa tidur. Tidur tidak nyenyak, sebentar kebangun, sebentar tidur masih dengan otak yang memikirkan hal yang sama berulang-ulang. Lelah, bukan? Aku nggak tahu apa ada teori yang mengatakan kalau otak tidak ikut tidur meskipun raga kita sedang tidur. Sekali lagi, en-tah-lah.
Dan postingan ini ditulis sambil mendengarkan Payung Teduh yang Alhamdulillah ya lagunya lebih bagus dari Akad yang ya-apalah-menurut-saya. 

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Ya, sayangnya benar sekali. Kenapa harus takut dengan lara? Beberapa hari ini aku nggak tahu gimana caranya, tersibukkan dengan membaca status facebook pada rentang tahun tertentu. 2010-2011 adalah tahun-tahun terberatku. Tapi nggak tahu gimana ya aku tetep kelihatan semangat-semangat aja, ketawa-tawa aja, ngelucu, ngelawak, bahkan sempat ngegombal. Padahal di dua tahun itu masing-masing aku kena penyakit patah hati akut yang kemudian berimbas pada mindsetku: udahlah semua cowok itu kalo nggak bangsat ya bangsat banget.

Patah hati yang pertama di tahun 2010 disponsori oleh hubungan jarak jauh dan hubungan dengan permantanan. To be honest, aku paling paling paling benci urusan sama mantan, mantannya pacarku contohnya. Sejak saat itu jelas aku trauma nggak jelas kalo udah urusannya deket sama cowok. Selalu pengen kutanyain: urusan lo sama mantan lo udah kelar belom? Udah beres belom? Kalo belom, kelarin dulu, baru bisa lo deketin gua. Semacam itu, tapi jelas aku nggak ber-elo-gua, ya. 
Urusan mantan ini memang pelik. Aku sendiri selalu cut the shit off kalo udah putus ya udah putus aja. Nggak bakal lagi sok menye-menye sama mantan, dan ya udah sih jomblo itu enak banget ternyata ya. Pikiranku kala itu.
Menyibukkan diri, semakin rajin ikut kegiatan di kampus, makin rajin belajar dan membaca (komik), main sama temen-temen, makan yang banyak, tidur, bahkan bisa pup dengan tenang. 

Hingga tahun 2011 ikut KKN-lah aku. KKN yang kuikuti kala itu benar-benar membekas segala-galanya buat aku. Mau nangis, mau ketawa, udah semuanya jungkir balik. Terjebak friendzone yang berdarah-darah, yang bakal sembuh dan legowo beberapa tahun kemudian. Nangis nggak karuan sampai udah nggak bisa keluar air mata. Meskipun pada saat itu aku juga melepaskan masa lalu yang udah menggerogoti pikiranku sejak dulu, jauh dari tahun 2011. Amazing bukan, rasanya? Sementara aku juga sibuk dengan urusan skripsi, kerja sampingan di MPKD dan konsultan. Cari uang, cari kesibukan.

Yang entahlah semua kejadian selalu di deket-deket hari ulang tahunku. Kadang kupikir, apa aku dikutuk pada tanggal itu? Aku lahir dengan membawa serta nestapa. HALAH SA AJA LAU REMAHAN KHONGGUAN!

Mau move on, mau melepaskan lagi rasa-rasa di tahun 2011, lha tiba-tiba datang kado berupa ipod yang katanya bisa mencentang salah satu wishlist-ku. KHANMAEN KHAN PA YA AQU BISA MUV ON JIKA DIKAU TERUS BEING TOO GOOD TO BE TRUE BEGITU? Ingin memaki-maki diri sendiri, berteriak betapa gila dan bodohnya aku kala itu. Tapi ya sudahlah, kuharap waktu bisa menyembuhkan segala-iya-segala-galanya yang gelap dan pengap ini. 

Time heals. How long does it take? Ternyata, setahun saja tidak cukup. Aku hanya lari, terus lari dan enggan berhenti sekedar menatap realita. Berlari dari satu buku ke buku lain, berlari dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Berlari dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang ketemunya sama saja: lo cuma kelamaan lari, tapi kalo lo nggak bisa forgive and forget, ya sama aja, dasar curut! 

Kadang aku juga bisa setegas itu sama diri sendiri.

Hingga ada fase sendiri, yang aku benar-benar sendiri. Bertemu dari satu psikolog ke psikolog yang lain (yang untungnya sih temen sendiri ya, jadi gratisan, lol). Diajari bagaimana menenangkan diri, fokus pada tujuan, dan tentu saja, santai saja. Nggak perlu lari, jalani saja. 

Tahun 2012 akhirnya skripsi selesai, aku wisuda dan langsung keterima kerja di sebuah konsultan di Jogja tanpa kesulitan -- hingga sekarang. 2012 adalah tahun yang damai, beriak lembut, dan meskipun ada desir-desir sedikit, aku mampu meredamnya. Banyak-banyak mempositifkan diri, beribadah, berteman, tertawa, dan tersenyum. Hingga tahun 2013 datang. Ketenangan itu masih ada. Bukan hidup namanya jika kita hanya merasakan bahagia terus. Ombak itu datang. Sangat besar. Teramat besar. Aku limbung dan sempat sangat impulsif: apa aku keluar dari kerjaanku, cari beasiswa ke luar negeri dan pergi. YA, AKU INGIN LARI LAGI. 
Aku ingin tempat yang baru, lingkungan baru, teman baru, dan fokus belajar. I cannot tell you masalah apa menerpaku, let it be my secret. Bahkan menuliskan ini masih bisa bikin aku meneteskan air mata :)
Oiya, dan di tahun 2013 ini akhirnya aku bisa berdamai dengan masa lalu di tahun 2011. Misterius dan unpredictable sekali, bukan? Akhirnya, teori time will heal ini efektif juga di aku. Bisa bernafas lega.

Sekarang, lima tahun semenjak kejadian tahun 2013, yang hanya AKU yang tahu dan paham benar bagaimana rasanya, legowo itu masih belum hadir 100%. Bersyukur sudah sedikit-sedikit merasa enakan. Forgive and forget, apakah ketika kita sudah memaafkan, otomatis kita akan melupakan? Aku tidak tahu makna memaafkan. Mungkin terdengar egois, karena ketika orang meminta maaf padaku, aku selalu sengan mudah memaafkan, tapi kusimpan baik-baik kenangan tentang perlakuannya itu padaku. Honey, scars remain. Aku tidak mau seperti keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, bekas luka itu kugunakan sebagai pengingat agar aku tidak lagi melakukan kesalahan yang sama pada ORANG yang sama pula. Dan tulisan ini dibuat, murni sebagai upayaku berdamai dengan masa lalu, dan tentang melepaskan. Melepaskan semua lelah, melepaskan semua yang menyakiti, melepaskan. Lepaskan semua, hei, kamu, hati!








 

Januari 16, 2018

2018

Sangat terlambat, karena post dengan judul seperti diatas seperti sudah menjamur dimana-mana. Tidak apa-apa, karena pemikiran tentang tahun baru justru sedang berproses dalam kepala saya. Postingan ini bisa dibilang postingan serius, dan mungkin akan panjang. Atau tidak, semauku saja, oke?

Mengenal pergantian tahun, kita seakan dibangunkan dari tidur, kemudian dipaksa untuk merancang rencana untuk setahun kedepan; apa yang menjadi resolusi kita, seolah tahun baru adalah pemisah waktu, garis dimana semua dimulai dan seluruh rangkaian kejadian tahun kemarin kita tutup. Atau, begitulah khalayak memperlakukan tahun baru. Dengan begitu lugunya, aku pun pernah begitu. Memanjatkan begitu banyak harapan yang pada akhirnya terhempas sia-sia pada pertengahan tahun, dan menyesal karena resolusi yang telah dirancang sebelumnya hanya semacam bullshit terpopuler. Bertahun-tahun. Bertahun-tahun saya terjebak pada zona dimana semua harus dirumuskan dan dipajang di sosial media dengan menawan agar diberi likes sebanyak-banyaknya. Kisah ini muram, dan kini memalukan.

Lantas, apakah sekarang masih relevan? Relevan saja, terserah mau berintepretasi seperti apapun juga, iya kan? Memaksakan kacamata kita kepada orang lain itu sungguh berdosa, dan semoga aku bukan golongan yang seperti itu.

Di dalam kepalaku sendiri, aku memiliki beberapa poin yang ingin aku benahi dari hidupku. Akhir tahun lalu sangat menyedihkan, and i can't describe it why. Ada beberapa hal yang ingin aku simpan sebagai konsumsi pribadi saja. Terbersit di pikiran buat menemui psikolog (atau psikiater? I don't know the difference and i don't care). Sampai pada taraf menemui terapist untuk menenangkan dan menentramkan diri. Tapi ternyata sampai sekarang masih aku urungkan niatku. Aku mencoba menentramkan diriku sendri, mengeluarkan segala sampah yang (mungkin) menjadi penyebab sakitnya pikiranku. Thanks to Evernote, so i can bump those garbage out everytime everywhere.

Dan untuk menghibur diri, aku mebuat sebuah angka sebagai deadline diriku sendiri, yaitu angka jumlah buku yang harus selesai kubaca tahun ini. Tidak muluk, hanya 2 buku per bulan, atau 24 buku per tahun. Bulan ini sudah lunas, Alhamdulillah, dan aku mulai menikmati hobi lama yang tersendat-sendat selama setahun kebelakang. Memberikan waktu dan jeda untuk diri sendiri itu ternyata sangat penting. Seberapapun banyaknya tugasmu, rasanya raga dan jiwa itu tetap harus menjadi kebutuhan primer kita. Jangan sampai menjadi sekunder, bahkan tersier. Duh!

Pada suatu malam, suami bertanya, kalau target membaca sudah tercapai, apa yang akan aku lakukan. Jujur, aku tidak tahu. I don't want to take things for granted, membaca sendiri sudah membuatku senang. Jadi mungkin, ini baru mungkin, membagi kebahagian itu kepada orang lain. Mungkin dengan menulis review buku yang sudah kubaca? IDK, that's just a thought.

Harapan. Tentu semua orang punya harapan, tidak terkecuali aku. Harapan-harapanku mulai bertumbuh sejak akhir tahun kemarin, sejak hari dimana aku menemukan dirimu begitu rapuh dan mudah retak. Kugenjot terus buuih-buih harapan agar aku kembali segar. Terus kubisikkan pada diriku sendiri bahwa bahagia itu tidak perlu ribet. Bahagia bisa terletak pada sepiring tempe goreng balur tepung yang super kriuk lengkap dengan cabe hijaunya. Bahagia bisa terletak pada ciuman-ciuman spontan dari suami. Bahagia bisa terletak pada pelukan mesra anak pada kita. Bahagia bisa saja ada di diri kita sendiri tapi luput kita rasakan. 

Jadi, mungkin tahun baru buatku hanya sebuah selebrasi saja, bahwa masih ada bahagia yang diciptakan oleh kembang api-kembang api itu. Meskipun, lagi, bahagiaku adalah bisa tidur selama 3 jam berturut-turut pada malam pergantian tahun.

November 02, 2017

Booking Hotel Susah? Say No More!

Hai, selamat hari Kamis, Manis! Bagaimana kamu mengawali harimu hari ini? Dengan terburu-burukah? Dengan santaikah? Ataukah dengan perasaan gembira karena bentar lagi cuti datang dan liburan dimulai? Uhuy! Mari awali dengan membaca artikel saya dengan menjawab sebuah pertanyaan berikut ini: apakah aplikasi favorit di telepon genggam kamu? Kalo saya jelas, aplikasi yang berkaitan dengan liburan! Aplikasi semacam itu mempermudah saya banget untuk urusan beli-beli tiket, booking hotel, hingga rekreasi ke destinasi wisata tertentu. Semua yang biasanya ribet, jadi lebih mudah banget banget banget!

Dan aplikasi tersebut adalah tentu saja Traveloka! Siapa sih yang nggak suka bikin itinerary liburan? Sebagai seorang yang perfeksionis (dan kebetulan merangkap menjadi seorang ibu dan istri), merencanakan detail sebuah kegiatan adalah sebuah keharusan buat saya. Tentu aja suami dapat tugas juga, tugas bayarin semuanya, dong! Hehehe.
Karena apa sih? Karena yang pertama ditanya oleh anak dan suami ketika barangnya hilang tentu saja adalah Ibu. Jadi, saya memang melevelkan merincikan detail sebuah itinerary liburan menjadi sebuah keharusan.
Nah, sejak punya aplikasi Traveloka di handphone, semua kegiatan mengurus liburan menjadi jauh lebih mudah! Pesan hotel, tiket pesawat, semua tinggal klik! Senengnya lagi, selalu ada rekomendasi hotel yang ditawarkan Traveloka, dan diskon yang gede banget buat membernya. Itu seru banget menurut saya, apalagi hemat pangkal senang-senang di belakang, iya kan? Hihi.

Tapi ada satu masalah yang sampai sekarang saya dan suami belum bisa atasi: waktu liburan kita sangat terbatas. Sebagai orangtua yang bekerja (saya dan suami, dua-duanya bekerja), waktu untuk liburan menjadi sangat terbatas. To be honest, kalaupun ada hari libur sehari-dua hari, rasanya pengen buat tidur-tiduran aja, nonton serial TV seharian, nyantai nggak masak, dan sebagainya. Dan tentu saja, solusi kami untuk saat ini adalah staycation. Staycation adalah menginap semalam atau beberapa malam di hotel dengan tujuan untuk lepas sementara dari rutinitas sehari-hari. Jadi, kita nginep di hotel, hotel manapun, dengan tujuan diatas. So far sih kami enjoy dengan staycation ala ala kami ini. Enjoy banget, malah. Siapapun pencetus staycation, pengen saya ajak salim.

Tentu aja kegiatan staycation ini jauh lebih mudah dengan bantuan aplikasi Traveloka di handphone saya dan suami. Memilih hotel di sela-sela jam makan siang dengan pilihan hotel yang super banyak dan beragam di jogja (mau yang tema modern atau tradisional, semuanya ada, lho!), membayar dengan berbagai metode (mulai dari pakai credit card hingga pay at the hotel), hingga diskon-diskon menarik yang bikin saya sendiri senang bisa berhemat. Fitur-fitur yang saya jumpai di Traveloka so far menyenangkan, tapi ada satu fitur yang baru banget, dan menurut saya merupakan sebuah inovasi dari aplikasi travelling semacam Traveloka ini, yaitu StayGuarantee. Jadi, selain membuat kita lebih nyaman dan mudah dalam acara pra-staycation (yaampun istilah saya!), kita juga dibuat nyaman banget selama check-in hotel hingga nanti check-out! Jadi kenyamanan kita bener-bener dijamin sama Traveloka, nih, Guys! Jika selama menginap di hotel kita dapat perlakuan yang nggak ngenakin nih, kiat bisa langsung komplain melalui StayGuarantee ini, dan pihak hotel akan lebih mudah mendengar keluhan kita. Dan tentu aja pihak hotel tetep akan merespon, bahkan keep in touch dengan kita terkait keluhan kita. Rasa yang lebih menyenangkan selain rasa didengar ya apalagi, sih, ya? Seneng banget kan kita berasa diopeni banget gitu.

Contoh nih, belum lama ini saya kelar staycation di Jogja (ya nggak usah ke luar kota juga kali ya, waktunya mana ada gini, lol). Saya pilih hotel di Traveloka, bayar lewat ATM, nggak perlu print bukti pembayaran deh, ntar juga di-email dalam bentuk pdf. Nah bukti pembayaran yang dikirim via email itu tinggal kita kasih liat ke receptionist hotel aja pas kita check-in. Nggak sampai 30 menit lho buat pilih hotel + bayar, serius! Dan kita tinggal datang aja pas hari H di hotel yang kita tuju, jadi deh kita nginep-nginep lucu, bawa koleksi serial TV kita yang bejibun (waktu itu sih saya dan suami lagi kejar tayang The Big Bang Theory ya), dan makan enak di hotel. Keseruan dalam 2 hari 1 malam yang cukup buat refresh isi kepala kita. Ibu senang, Ayah senang, Anak girang. Ya giranglah, di hotel dia bisa ngapain aja. Bobok sambil jungkir balik juga bisa, kali, hahaha.

Oiya, dan satu lagi, buat yang punya anak kecil, Traveloka ini juga bisa jadi andalan, lho. Lewat Traveloka, kita bisa ngecek juga hotel mana yang ramah anak, hotel mana yang punya area playground, dan karena banyak foto-foto dari hotel yang terkait di Traveloka, kita jadi lebih mudah banget cari hotel mana yang sekiranya nyaman juga buat si kecil. Buat saya, ini tentu aja penting, mana anak baru umur 1 tahun, kan ya.

Jadi, siapa bilang pesan hotel harus punya credit card dan harus pusing? Saya harus terima kasih banget sama Traveloka nih, harus salim banget banget banget!

Oktober 10, 2017

Nothing Stays The Same, and That's The Challenge

Cheerstraw!! :)
Hai, long time no see. Liat update terakhir blogspot, kok udah tahun lalu, dan seketika aku merasa tidak berguna. Terus, siapa suruh punya dua blog, sih, Nda! Kemudian hari ini aku kepikiran sesuatu, tentang blogku yang ini. Ini blog tertuaku, sudah banyak post yang aku publish disini dan sejak tahun 2015, sudah aku putuskan kalau blog yang ini hanya akan menjadi tempat publikasi karya fiksiku. Ya, memang aku bukan penulis tenar. Tapi setidaknya, aku penulis, kan, karena aku menulis? Lebih dari itu, aku percaya kalau suatu hari waktu akan memberi jalan, jadi selagi bisa berkarya, kenapa tidak terus berkarya?

Sepertinya tulisan kali ini akan mengandung curhat, karena siang ini aku napas tilas tempat-tempat yang dulu udah menjadi lingkungan kedua setelah rumahku. Ya, benar, lingkungan kost. Aku makan siang di warung soto yang dulu sering aku datangi. Aku mengendarai motor menuju Ekologi (biar dikira kekikian, lol!) melewati Pogung Pandega, melewati laundry langgananku yang wanginya merebak membuatku semakin tenggelam dalam nostalgia-nostalgia kecil semasa malas mencuci di kost (baca: emang selalu laundry, bocahnya udah males kalo sama urusan kucek-mengkucek baju cucian lol). Lalu aku sadar sesadar-sadarnya: lingkungan ini memang sudah berubah. Nothing stays the same.

Makin jauh aku semakin banyak berpikir. Berapa lama waktu yang sudah aku lalui sampai sekarang, sampai menjadi aku yang sekarang. Berapa banyak aku sudah bersyukur? Hidup sering menawarkan hal-hal diluar ekspektasi kita, seperti misalnya ketika sudah sampai Ekologi, eh, ternyata penuh. coworking space-nya juga penuh, atas bawah. Jadilah aku keluar lagi dan mencari tempat lain. Dapat, Eastern Kopi TM. Not bad. Not bad at all, karena mau bilang bagus kok menu kopinya cuma dikit banget. Jadilah pesan es teh dan kaya-cheese toast. Agak berlebihan, padahal di menu hanya tertulis roti bakar kaya keju. HAHAHA GOTCHA! 

Sekarang memang ada hal-hal yang membatasi aku, karena aku sudah menjadi Ibu. Suka-duka menjadi ibu aku tuangkan di blog tema parenting yang berbeda dari ini (baca: maretseptember.wordpress.com). Biarkan blog ini selalu menjadi blogku, aku, yang tidak berubah ditempa waktu. Aku yang selalu menjadi si sinis semenjak kuliah, aku yang tidak mudah percaya akan hal-hal yang belum aku cerna, aku yang memang suka mengamati (pemerhati, bukan aktivis) dan lebih suka mendengar ketimbang bicara, aku yang menuangkan apa yang tidak bisa aku ucap melalui tulisan-tulisan seperti ini.

Adalah sebuah hal yang penting, ketika kita punya waktu barang satu jam untuk menjadi diri kita sendiri. Memencet tombol F5 (jadul!) untuk memberikan kita sedikit kelonggaran dalam melepas embel-embel istri, ibu, karyawan, anak, atau apapun yang mempredikatiku. Aku hanya ingin memiliki kebebasan barang satu jam untuk melakukan apa yang aku mau: menulis blog. Kelak kita semua akan tahu, how important this one hour is. Begitulah, manusia kadang juga lelah dengan segala gelar yang disandangnya, meskipun banyak yang memuji betapa mulianya kita telah menjadi ibu, betapa pintarnya kita telah menjadi sarjana, betapa aktifnya kita menjadi karyawan perusahaan swasta, dan lain sebagainya. Tapi selalu ada yang terlupa, bahwa kita juga memerlukan kesendirian untuk menikmati perjalanan bathin kita, mengevaluasi diri kita sebagai seorang individu yang juga berpredikat makhluk asosial. Sendiri menjadi sesuatu yang mewah, karena jarang sekali kita dapatkan. Dan bulan-bulan ini, apalagi. Ugh!

Ada apa dengan bulan-bulan ini? These months, i tellya, are a very tiring month! Semua tidak selalu datang bertubi-tubi, tapi semua datang beriringan, tanpa jeda. Ini, sejujurnya, membuat kewarasanku agak kurang terjaga. Aku sering bengong memikirkan betapa banyak hal-hal yang tidak bisa aku lakukan, atau betapa banyaknya waktu yang terbuang hanya dengan hal-hal nggak penting (aku ingin banting hape saja!). Dulu aku bisa saja menulis sampai larut malam karena tidak ada yang harus diurus siang malam maupun tidak ada yang harus dipersiapkan sebelum pagi menjelang. Tapi sekarang tentu udah berubah, tapi aku hanya akan bilang kalau ini hanya soal ritme yang belum pas saja. Kupikir. Tapi ya... memang semakin dewasa semakin kita menemukan bahwa hobi kita adalah sebuah tempat nyaman dimana kita berharap bisa bersandar padanya seharian, meskkipun pada akhirnya hanya bisa dihitung dalam hitungan menit saja.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya berakhir menjadi sesuatu yang nirfaedah. LOL. Jangan lupa menjaga kewarasan, kalian diluar sana!

Juli 28, 2013

Hug

I woke up feeling vulnerable this morning. I needed dozens of happiness hormones, yet, i got my period by this morning. I felt like a baby, easy to cry.
So i read some articles on my fav web, psychologytoday, and tried to lift my mood up.
Yet, i was listening to Coldplay's (yes, masochist detected, blame on me), and my mood was even worse.

I had a chat with him. We both were busy finishing our work. He was with his Tempel, i was with Temon. But still, we thought we need to chat up XD
Besides, we (read: me), had a troubled mind last night, and wanted everything to be clear as soon as possible. The way we solved our problem: communication.

I was lying on my bed, then cross-legged in front of my Celine, doing stuffs, then lying down on the floor and got my cough even worse XD

I really  was insecure today. I felt vulnerable. I felt the tendencies around the corner. These late days, i thought. And this morning i told him all that i felt lately. Yeah i knew, it was hard to talk with troubled mind like mine. I was just ... having my mind out of my soul. What was that? I don't know. I felt i was bad, i couldn't do the best, i was not good, i was not smart, i was shallow. Don't let me shed my tears again. 

I think i need to be hugged. 
I feel everything will be okay when someone hugs me. I am searching on psychologytoday about a hug, and it comes to a conclusion that:

Hugging is a physical acknowledgment of the presence of another with the intention of expressing affection. Sometimes hugging is meant to also express reunion after separation and in that case it represents "affection beyond words."

Hugging is beyond the words. Can't agree more. When i feel like i can tell what's on my mind, i do hug him. A simple hug, and he seems like he suddenly understands what's on my mind. And he whispers "everything's gonna be okay". Am i that vulnerable? Yes.

So while hugging ostensibly increases oxytocin and trust by decreasing activation of the brains "fear" center, the "amygdala", I am curious about the effects of hugging when it is less artful or authentic. I suspect that the amygdala will be less content to recline in a proverbial hammock and more likely to stand on guard until some genuine emotion comes through
 
I often keep the problems inside my own head. I don't want to tell the world. Not because i am so strong that i can solve my problems all by myself. I just ... i'm a non-believer. Pardon my french, but if you have been on my shoes, you'll understand why, you'll understand how hard to be myself.
No, i'm not Scarlett O'Hara or Virginia Woolf, or Nawaal El-Shadawy. I'm not that complicated.

When i feel i have no ability to share my pain, my problems, i just need a hug. Somehow, it feels like i'm not alone while i am hugged. It feels like someone hugging me really want to cure my pain without knowing what's my problems are. Ironic. 

No hug is wasted and useless. Even, the teary hugs. Have i ever experienced that hug? Yes. Being hugged while my eyes can't stop producing tears and my nose can't stop producing ingus (ingus, Masha Allah! XD). He hugged and rubbed my back. I was too tired that time. Working from morning to night, having no significant time to take a rest, and having no proper sleep at late night. Yet, while i was taking a rest, my brain couldn't stop thinking of anything. How hard to be a Virgo, ya :)))

 After all, i wondered, is there anybody out there who doesn't like being hugged?
 Uhuk ... uhuk ... uhuk ...
 I guess, hug is the most intimacy of an interaction. But, telling my secrets, just telling, was the mostest intimacy of all. So, yeah. You know now? May i ask, don't you know me? Don't you know me by now?
I am vulnerable, hard to speak, yet i dislike to hurt others (because hate is a strong word and i rarely use it). 

But he is here, telling me he loves me just the way i am. What if i had split personality Dear? You said i have none but the real Inda Nur Handayani. 
I am relieved, and he shud know, i was trying (hard) to always tell him what's on my mind. No matter how hurt it can be. Because, yeah. You know why :)

Stay here and be my aspirin and xanax, dear you.
Happy Sunday, mortals :)






Juli 25, 2013

On The Night Like This

Do you know the story of a couple of socks? Well, let me tell you the whole story of last night, when the tasks of my job are extremely need to be done in 12 hours after Maghrib time.

Last night, office buddies and i, did overtime in office. Need to do the tasks for this morning, the report, Lapantara of RDTRK Perkotaan Temon, needs to be sent to Wates as soon as possible. So, yeah. Tsk. Haven't got my eyes closed from yesterday after sahur. YES, YESTERDAY AFTER SAHUR. It was about 27 hours.

Last night, the AC was on in its higher degree of celcius. Me was about ... damn, i'm freezed! I wore the two layers of clothes, and jeans. Besides, i covered myself with my medium thick brown coat (read: semi-jacket). I sat down straight far from the air condition.

I was typing on my Celine when he suddenly sat down next to me, and started to lay his head down. In seconds, i didn't give him much attention, just touched his arm and smiled. In minutes, i heard him snored. He was extremely tired after all. I knew that, so i let him sleep for a while. His snoring was a bit louder time by time, me was ... KYAAA XD XD XD


HAHAHA. But then he woke up and moved to a better corner and ... SLEPT AGAIN. And i continued my work.

At 12.30 p.m, i felt so tired. Besides, i had no many things to do but waiting for the revision of my head office. So, i decided to take a rest for a moment. I sat down near him, on a red chair, straight in front of the air condition. I was a bit dizzy. I tried to sleep but it was quite to do in the cold room and still had many things to think. I bend my body to avoid the coldness. I wore his jacket also. So, i covered myself with two layers of jackets. Still, i couldn;t sleep. I just lied my head down and vaguely heard of his snoring. I smiled and thought how cute his face was. His long hair, his chubby cheek, and his half-opened mouth. He looked like a baby :)

I fell asleep for a minutes. I woke him up, just to ask him to keep his head at the distance of the trash bin near his sleeping corner. But then he really woke up. I tighten my body, the room got colder. I saw the clock. It showed me 1.30 a.m. I sat down at that red chair for almost an hour. In my semi-conscious (y'know, it was really cold. Or it was just my body that wasn't so fit), i felt something warm in my naked feet. He covered my naked feet with sajadah. I opened my eyes and i really woke up.
"Cold?" he asked. I showed him my nod.
Then he handed me his shoes.
"It's big, can't suit to my feet," i replied.
"Not the shoes, but the socks. Covered your feet."
I wore his socks.

3.00 am. We went out for sahur. We rode motorcycles and i hitchhiked him. I touched his feet, his hands and ... OMG, they were so cold!
"Your socks..."
"No problem, stay wearing them," he said.
He kept the motorcycle going.

The sock. Who knows, that the socks can touch my heart? After all, i know it's his kind heart. But from a couple of socks? Dear God, thank you for sending him to me.
I really want to sing him a song. A song from Mocca, On The Night Like This.


On the night like this, there's so many things i wanna tell you
On the night like this, there's so many things i wanna show you
Cause when you're around, i feel safe and warm
Cause when you're around, i can fall in love everyday...

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...

I love you, Dear :)








April 30, 2013

Waiting For The Sun To Rise

Today, after getting a lovely good morning, i went upstairs to the third floor, the common place for me to share my thoughts to the universe. I had a mission, last three days before today, i have lost for sunrise moments. So, last night i have planned to catch the sun as usual.

I did await in the corner, near the roof tile of the second floor, and stared at the eastern sky. The sky looked so blue, grey and a bit overcast. There was also a few rays of orange lines. I looked for the source of the lines, the spot that accumulated the rays. I found a tiny spot, hid behind the clouds, and highly colored orange. Was it that?

Was it the sun?

I asked  none, why does the sun look so shy today?
Isn't it my first day after those three days i catch the sun back?
Why doesn't it show me its best off?

The kind of cut the shit girl, hell yeah, me.
I counted until 10, and didn't find the real sunrise. Okay, for me, sunrise is a moment when the dark sky slowly and vaguely becomes grey and blue, with the orange emissions and the cumulus, and the cold nuance.

But the sun gradually peek from behind the sky, slowly and looked so unsure.
I was about mesmerizing to see the shy sun, like it smiled at me and said, "hello, dear, good morning."
I fell in love again and again with the same beautiful thing.
I felt blessed.

The moment until my best youngster, Leily, suddenly came to my sacred place to... season her washed clothes.
"What are you doing here?" she asked.
"Waiting the sun to rise. You always know my daily custom, why should you ask me over and over again?"
"Because the sky looks so gloomy today. And you, here, waiting for the sun to shines like a diamond. This is weird, waiting to the sun to rise in the cloudy 6 o'clock morning."
"As weird as me." *smile*
"Okay, as weird as always. Okay sista, let's go downstairs!"

I smiled once again to the eastern sky and whispered to the wind:
"Thank you for this beautiful morning. I love you."

*inspired by the shy sun this morning


Abandonment

Have you ever seen a scar stick on your fairy skin after getting wounded? Or, have you ever seen a line of drying tears in your fine cheek? Even, the sketch of water that trapped in a cavity after the rain has ceased? 

Nothing remains. But abandonment.

If the visible things would leave a remnant, how about the deep intimate feelings? The invisible untouched things that easily infiltrate your heart, either your head. No, you're not shielded. Neither weapon can prevent your very precious happiness inside your body and soul.
It is like a washed shore, touched by the tidal wave. It is just human being.

Some say, go move on! But some say, move on is the new forgetting. Pardon me, how could you forget the scar if the scar does always exist? No, you can't. You really are helpless about yourself. Sasuke said, 'you are weak because you are lack of hatred'. Valid? Far from true.
I used to be weak. Or i guess i used to be weak. The abandonment that haunting me about the past really scares me off. It is like i continuously am mopping my scattered heart time by time, no limitation. No limitation means so much more scary than the current scariest thing. I hate it. I hate the word 'forever' since the 'goodbye' word did exist. Like when they're placed together in a row. You got a goodbye word from the one you love and you have to live alone forever. Forever alone. Forever a goodbye moment. Forever is sick.

But forever doesn't exist. Nothing lasts forever. But the abandonment.
Abandonment does last forever.

It is like when i am well asked by other do i love him/her, and i said yes, it means i should've loved his/her entire life. His/her entire life including his/her past. Not to be mentioned, actually. This is an unbreakable-rule. So, what remains?

The tears may cover your wounded heart, and this could be the perks of your upcoming hopes. but even the wound has been cured, the passive scar will come along, and stay as a reminder that you have had the reality in the past. I do think that brainchild. Pardon my shallowness, pardong my de-motivational words. This is just reality people avoid to believe.

Love can die. Love can stay. Anyhow, which one whichever occurs, will always form a remnant. Do face it, embrace it, live it. Remember you still have tomorrow, remember you still owe today. Make your current today become an unforgettable tomorrow, in bad or good way. Because there's no bad or good things. We can always change it. We can always use our different perspective. Love your life, because your life will be others' abandonment. You're special.

*this is not psychological article, this is just a dummy thought of mine

April 29, 2013

It's Supposed To Be Ours

I will write it like nobody will read it. It is like a space nobody can see, but you can feel. The words whisper your heart, through your redemption of your pledge. I will never ask you question. Not for the tears and laughter of ours. Maybe it is just me and my egoistic life idealism.

You can always leave. It means you can always come because the door is always open. You can always stand in between too, like fall silent in the border line of outter or inner. You can always do what you want to do. 

And i can always see how glued i can be.

Have you ever seen your own self? You don't have to ask me. Don't ask me question, and i shall tell you no lies. For the smiling mask i used to wear, i want my true skin to touch the wind now. It is merely like i want people to give me a bit attention. Call me an attention whore if you heartless. 

I am just helpless.

I can stand for the pain any longer time. I can easily give up to the things that have no certainty to happen. It is just me and all of my sides. I have no authorization to blame on others. That is why, why i tend to be asocial. Like a flake of the rain, she falls down alone, she melts and absorbed to the earth, alone. I can't be that mean. I am not anybody's meant to be. This is what i think.

They say i am into dramatic. Quickly go upstairs just to catch a sunrise, or silently await the sun to set at 6 o'clock on the third floor. I said it is a normal me. I said me is that different. I said maybe this was the normal of the world, and they who said and judged me are just abnormal. But i like it when people say, "gila kamu, Nda!
It was like those words are supposed to be a praise to me. Because i tend to like what people used to ignore. I like to see the water, the deeper of the waving surface of the water in a tub. I like how my hands can easily disturb and crush its calmness. I like how i can feel the different coolness level between water and air, and a slight skin that hang in between...

...and i can easily being pissed off too.

Is it a normal me? Sometimes i think i am a bipolar disorder person. But then i think it's okay, i still can count how the number of when i got angry to others. It was not that substantial. 

But the tear is uncountable. And i still think that it is the normal me. But i am still clueless about who i am. What i deserve, what i want, what i would have, how far i can go, how long i would live.

So, it is supposed to be my story, not ours. Look how suck my mind from being distracted and ego-centric! This is supposed to be ours. But it ends up with only me.
Are you okay?
Because... i am... no don't ask me.
I shall tell you no lies.

*inspired by @ftkf

Januari 01, 2013

2013



The title is so boring. The euphoria, the parties, the celebrations, the everything-happy-new-year-stuffs. They’re completely exaggerated. Maybe it’s only my own ego that i spent the night alone in my room, been watching DVDs until my eyes got tired and fell asleep without greeting happy new year’s words to my friends at 02:00 a.m.
And the one texted a happy new year blesses for me was my Boss in the office. How worse it could be?
The older the year, the sooner we’re going to be apart with the ones we used to stick around together. I worry. I worry about the doomsday. I mean, the real doomsday, the day when we’re really alone, a mono-creature with no others to share times, words, love, whatever.
They people make a wish list for the new year to fulfill their new spirit. I think they do the same old shit, repetition because when the second day of January comes, everything’s gonna be felt the same old days. The new year’s euphoria finally vanish. Don’t they better to keep well what they’ve already had and try to be a bit realistic of making a new wish list? Because, well, i do.
I have no many goals to be reached for in this 2013. I make it simple, i call it ‘better of me’. The theme is, I should not cry as often as i did before. Yeah, i was a brokenhearted girl with no regrets of being an asocial for the result. I was growing to be anon-believer and i was happy. Until this night.
I wanted to believe the miracles on the new year’s night or the night before Christmas. I wanted to be who I was, 5 years back when I believed that fairytales did exist. I wanted to be who I used to be before a man broke my heart and made the new brand of me.
This is disgusting to tell you the truth of me. A pathetic girl who slept with tears last night. But this is my private party, and I’d like to share with you that the real new is not the year, but us, ourselves. So, share me your wish list. What? My wish list? It’s a very personal, it’s just me to be more cheerful, to be my old 5 years back of old me, and, get a new better job. The things I’m keeping in my mind are, Jogja (i don’t know but I think I cannot leave this town), my family, and me. I’m keeping myself, I’m saving her. So, happy new year 2013, everyone! J