Tampilkan postingan dengan label #fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #fiksi. Tampilkan semua postingan

September 14, 2015

Semua Tentang Anjali

"Aku mau rujuk, Arkana."
Tiga kata dalam satu kalimat yang Anjali ucapkan malam itu ketika dia pulang marathon-meeting di kantornya hingga jam sebelas malam masih membekas dalam kepala saya. Sepuluh batang rokok yang habis saya nyalakan menjadi teman mengobrol di teras malam ini. Ralat, pagi ini. Sudah semalaman saya duduk ditemani asbak kecil di teras sambil merokok. Semenjak Anjali pulang hampir tengah malam, dia langsung mandi dan tidur. Tinggal saya yang bengong dengan apa yang Anjali katakan semalam. 

You are not the passenger, you're the leader
Kata-kata itu terus berteriak-teriak di kepala saya.
Saya teringat beberapa tahun lalu, saat saya dan Anjali baru saja menikah. Kami bahagia dengan semua kecukupan hidup. Cukup bisa makan, cukup bisa naik motor keliling kota, cukup mampu nonton televisi dirumah. Tapi beberapa saat kemudian Anjali menggugat. Dia bilang lelah. Dia bilang lelahnya tidak pernah terbayarkan. Dia ingin lelah yang menghasilkan. Dia juga berdalih ingin unjuk gigi lagi di dunia kerja, ingin kembali menampilkan eksistensi dirinya. Ketika Anjali meminta ijin untuk mendaftar pekerjaan, saya memberinya ijin. Saya mencintainya, saya tidak ingin membuat Anjali tidak bahagia, apalagi tidak bahagia karena apa yang saya hasilkan setiap bulannya masih kurang di mata Anjali. Dia ingin nongkrong di Starbucks, dia ingin makan siang di Hanamasa, dia ingin makan malam romantis di restoran romantis (dan mahal) di rooftop hotel-hotel berbintang di Jakarta. 

Anjali diterima kerja di Citibank. Dengan postur tubuh yang semampai, wajah yang cantik, dan ijazah dengan nilai cum laude dari Fakultas Ekonomi UI, tidak ada yang bisa membendung Anjali. Maka dimulailah petualangan pertengkaran-baikan-pertengkaran-baikan kami yang berlangsung cukup lama.

Saya masih mencintai Anjali, tidak bisa saya pungkiri. Meskipun dalam beberapa tahun kebelakang, Anjali seolah membiarkan saya hidup sendiri di rumah kami. Ralat, rumah yang Anjali mampu beli. Saya seolah disuruh diam dan harus mengikuti apa yang Anjali mau, selaku pemegang keuangan rumah tangga. Saya hancur, tapi saya mencintainya. Tidak adakah yang pernah bilang bahwa lelaki adalah aktor terbaik sepanjang masa? Saya harus terlihat gagah dan berwibawa dibawah telapak tangan Anjali. Tidak pernah sekalipun Anjali memberikan selamat kepada saya atas capaian-capaian saya di bidang jurnalistik, hingga akhirnya mampu menerbitkan buku sendiri. Ya, suaminya yang lemah ini memiliki taring yang tajam di dunia kecilnya yang dia bagi bersama orang-orang yang mau mengapresiasinya.

"Kamu ini! Louboutin ini harganya berkali-kali lipat daripada gajimu sebulan, tau! Yang bener dong naruhnya di tempat sepatu!"
"Sayang, kapan kamu mau belikan aku cincin di Frank and Co.? Aku udah request sejak lama lho, satu cincin aja, masa kamu nggak mampu?"
"Aku capek kerja, Arkana. Baiknya jangan lagi kamu tambahi dengan pekerjaan domestik rumah kayak gini dong. Kan kamu yang punya lebih banyak waktu lowong ketimbang aku, apa salahnya bantuin nyuci dan setrika baju?"
My ass! Ya, mengingat kata-kata yang sering keluar dari mulut indah Anjali beberapa tahun belakangan memang hanya akan menyisakan sakit hati. Bandingkan dengan Anjali ketika awal-awal pernikahan kami, dia sering bilang seperti ini:
"Asal sudah bisa makan kenyang, pakai baju bersih, dan rumah untuk berteduh, itu sudah cukup buat aku, Arkana."
"Aku kan cinta kamu, Arkana."
"Aku kangen nih, cepet pulang ya."
"Besok kamu mau pakai baju yang mana untuk kerja? Sini aku setrikain dulu."
Whatever and whatever.

Kepalaku seketika pusing. Beberapa hari yang lalu Anjali meminta cerai. Tapi malam ini dia minta rujuk. Aku tidak tahu apa yang mengubah pikirannya. Aku berharap bisa kembali mengulang kemesraan kami berdua seperti dulu. Tapi aku sedikit pesimis.
Mungkin semua itu hanya akan jadi kenangan karena mengalami discontinuation?
Mungkin sofa di ruang tengah hanya akan menjadi saksi bisu menyaksikan kami dulu sering bercengkerama diatasnya sambil berciuman penuh cinta. Atau sofa itu hanya akan mengingat perkataan Anjali yang meminta perceraian beberapa hari yang lalu ketika aku duduk dengan lungkai di atasnya? Seandainya aku bisa memilih kenangan mana yang akan aku simpan, dan kenangan mana yang akan aku buang.

It won't happen here.

"Lo tahu, gue pikir selama ini gue udah berkorban banyak buat Anjali. Somebody should stop her," saya berkata kepada asbak yang penuh dengan abu rokok.

Saya ingat, dua tahun lalu Anjali hamil. Kami berdua bahagia sekali. Saya berusaha menjaga Anjali semaksimal mungkin: membelikannya susu, memijatnya setiap malam, menyiapkan sarapan hingga makan malam dengan nutrisi yang mencukupi, hingga membelikannya cincin Frank and Co. dengan membobol tabungan yang sudah saya kumpulkan bertahun-tahun demi menjaga Anjali agar tetap senang dan tidak depresi. To tell you the truth, cincin berlian 1,2 carat tersebut harganya mampu buat saya bayar DP KPR! But we have waited for the baby for so long, Dude. Jadi saya rasa, kali ini saya tidak akan melewatkan kesempatan ini.

But we lost the baby, anyway. Kandungan Anjali memasuki bulan ketujuh. Dokter bilang Anjali kecapekan. Yeah, she works from morning until early morning. Kemudian saya tersadar bahwa kesalahan ini hanya berakar tunggang: ketidakmampuan saya menghasilkan uang yang mencukupi sehingga Anjali harus bekerja seberat itu untuk memenuhi apa yang dia mau, yang seharusnya mejadi kewajiban saya. You don't want to know how i feel. Setelahnya, pernikahan saya dan Anjali hanya sebuah legalitas sederhana, dua oang hidup dalam satu rumah yang sama. Itu saja.

Semua tidak pernah tentang saya. Semua memang selalu tentang Anjali. Tidak peduli sebesar apapun cinta saya kepadanya, saya bukan nabi. Kalau Anjali bilang bahwa lelahnya selama ini tidak terbayar, maka saya pun berhak berkata demikian. Talak dua itu tidak akan saya cabut kembali. Lelah saya pantas dibayar dengan kebebasan.

Anjali, ini semua tentang kamu. Ini bukan tentang saya dan harga diri saya, ini semua tentang kamu. Selalu tentang kamu, Anjali.

Mei 11, 2015

Lelaki yang Lupa Bercukur

Sepulang kerja sore itu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang ke rumah. Aku selalu menyukai aroma udara sore hari. Tapi tentu saja, karena ini di Jakarta, aroma udara yang tercium sudah pasti tercampur dengan asap kendaraan dan debu-debu kering yang beterbangan. Tapi entah kenapa, selalu ada magis yang membuat sore selalu lebih teduh.
Aku memandangi apa yang tampak di depanku. Kemudian memandangi kedua kakiku. Bergantian, memandangi lagi bangunan di depanku. Tidak ada yang menyuruhku aku datang kesini. Kedai Kopi Hitam. Tapi kakiku, kenapa selalu bergerak kesini?
Seakan Kedai Kopi ini memang diciptakan untuk manusia-manusia kesepian.

Aku duduk di pojok dekat jendela seperti biasa. Dari pojokan jendela ini, aku bisa membebaskan pandanganku ke jalanan tanpa terhalang apa-apa.
"Silakan, kopinya."
Seorang pelayan mengantarkanku secangkir kopi hitam yang mengepul. Kopi itu mengingatkanku pada kehidupan. Gelap, kelam. Tapi harum, manis, dan pahit. Aku enggan meneruskan pemikiranku tentang kehidupan. Aku lebih tertarik memikirkan tentang Bapak. Dan kata-kata Bapak.
"Saya tidak tahu kalo kamu kesini. Menunggu saya?" sebuah suara yang tidak asing bagiku, mendadak muncul. Lelaki itu berdiri di depanku. Kemudian dengan gerakan normal, dia duduk di bangku kayu itu.
"Aku tidak menunggu kamu."
"Lantas, Kedai Kopi Hitam, pojokan jendela? Manalagi yang membuktikan kamu tidak sedang menunggu saya?" lelaki itu terus mencecarku. Aku mendengus kesal, kemudian berdiri.
"Aku tidak sedang menunggu kamu. Look, i'm leaving," aku berjalan menuju pintu kelua kedai setelah meletakkan uang sepuluh ribu di meja.
"Tunggu!" dia menahanku, kemudian menyusulku keluar kedai.
"Kenapa kita berdua bertemu disini? Maafkan saya, saya sedang sensitif beberapa hari ini," ia mengejarku.
"Sekarang kamu ngejar aku, kamu mau apa?" tanyaku kesal.
"Saya ...  saya tidak tahu apa yang saya mau. Saya sedang berada pada titik terjauh dari idealisme saya. Kamu sendiri?"
"Aku? Kenapa kamu bertanya tentangku?"
"Hahaha ... kurang apalagi? Perlu saya tambahkan rokok untuk melengkapi pernak-pernik kegalauanmu itu? Apa yang sudah hidup tawarkan sama kamu?"
Aku berhenti berjalan, menoleh dan memandang pria di depanku saat ini. Hari ini dia terlihat sangat sinis. Wajahnya kusut, dan kurasa sudah seminggu dia tidak bercukur.
"Coba sekarang kamu jawab aku, apa yang kamu tahu tentang hidup?" tanyaku menantang.
"Kamu menanyakan tentang hidup kepada pria yang sedang merasa kehilangan? Semua hanya siklus. Hidup pun demikian. Kini giliran siklusku yang menyuruhku untuk bepindah. Dan seperti yang semua orang tahu, perpindahan memerlukan energi yang besar, maka dari itu, aku..."
"Mabuk." kupotong omongannya.
"Masih sore dan kamu sudah bau alkohol. Memalukan sekali dirimu!" kuejek dia. Dia terkekeh sinis lebih lama lagi.
"Tahu apa kamu tentang energi? Kamu terlalu lama berkubang dalam pertanyaan yang tidak kamu temukan jawabannya."
Aku terperangah. Aku merasa seperti kerbau yang kelamaan berkubang. Ingin sekali lagi kutanyakan padanya, siapa dirinya. Tapi aku hanya menemukan angi yang keluar dari mulutku.
"Aku sedang tidak tertarik bermain Who Has The Worst Problem Ever, tapi kurasa kita semua sedang punya masalah yang cukup pelik," ujarku.
"Istri saya minta cerai. Dia minta saya jadi duda," dia berkata pelan. Aku mendongak.
Di trotoar yang sepi pejalan kaki ini, aku berbicara dengan orang asing yang berdiri satu meter di depanku. Aku merasa sedang menghadapi kehidupan yang sebenarnya.
"Aku bahkan tidak tahu kamu sudah punya istri," aku meneruskan berjalan. Dia mengikutiku, dan berjalan di sampingku.
"Aku bahkan tidak tahu kamu gay atau straight," dia tersenyum sambil menoleh jenaka.
"Ada banyak hal yang sejujurnya tidak perlu kita tahu," jawabku.
"Kamu benar. Seperti menatap wajahnya yang terlihat merana ketika bersamaku. Adakah yang lebih menyakitkan ketika kita bersama seseorang yang tidak pernah bahagia dengan kita? Atau, ketika kita tahu bahwa selama ini yang kita jalani hanya bohong belaka, dan pada akhirnya, tidak ada ujung yang kita harapkan? Hai, Dre, dengar, aku lelah dengan semua ini," lelaki itu bercerita panjang lebar.
"Kenapa kamu tidak mempertahankan pernikahanmu jika kamu benar-benar mencintainya?" tanyaku. Arkana berhenti berjalan seketika. Wajahnya menegang seperti menyadari sesuatu.
"Apa menurutmu penting sekali mengetahui seseorang luar dalam? Kurasa semakin kita banyak tahu, semakin kita nggak tahu. Pernah dengar kata-kata tersebut?" tanyaku.
"Jadi, karena itulah kamu menghindar dari manusia-manusia diluar sana? Kenapa kamu tidak menghindar dari saya? Saya beracun," desis Arkana.
"Then you're a lucky bastard," jawabku cepat.
"Dre, saya rasa istri saya sudah tidak lagi mencintai saya."
"Aku belum pernah mengalami kasus seperti ini. Tapi soal cinta..." aku menerawang. Aku teringat dengan seseorang yang mengajariku bagaimana rasanya mencium cinta. Rasa hangat tiba-tiba menjalar hingga ke dalam tulang-tulangku.
Orang yang tidak akan pernah bisa kutemui. Baik di dunia ini, ataupun di dunia selanjutnya.
"Dulu saya memang cuek terhadap istri saya. Dan dia bersikap manis pada saya. Kemudian sesuatu terjadi. Saya tidak lagi melihatnya sebagai orang yang sama. Atau saya sudah terlalu biasa dengan keluhan-keluhannya? Tentang uang bulanan yang saya beri, yang bahkan tidak bisa mencapai sepertiga gajinya tiap bulan, tentang saya yang terlalu menikmati waktu sendiri saya, tentang kopi dan buku catatan kecil ini, tentang ketegangan-ketegangan setiap majalah saya terbit. Kamu tahu kalo saya wartawan?" tanya Arkana.
Tiba-tiba aku terhenyak pada memori beberapa minggu silam, ketika jari-jari tanganku berhenti pada  inisial nama pada sebuah artikel mengenai seorang suami yang membunuh istrinya yang berprofesi sebagai aktris karena cemburu.
Tiba-tiba saya merasa limbung. Kurasa ini bukan firasat, tapi ini terlalu kuat untuk tidak dikategorikan sebagai sebuah pertanda. Siapa sebenarnya lelaki disebelahku ini?
"Dre?" Arkana membuyarkan lamunanku.
"Kamu merokok?" tanyanya. Aku menggeleng cepat. Dia menyalakan sebatang rokok lagi, dan menghempaskan asapnya yang bulat-bulat di ke depan.
Aku harus setiap pada prinsipku kali ini, semakin banyak yang orang tahu tentangku, semakin lemah aku di hadapan mereka. Matahari sudah melicinkan diri di barat langit. Sulur-sulur jingga bercahaya menerpa langit yang mulai mengelabu. Hari sudah menyuruhku untuk pulang. Ada Bapak dan Bima yang menungguku untuk makan malam.
"Arkana, aku harus lekas pulang. Selamat tinggal," aku mempercepat langkahku menuju perumahan tempatku tinggal, satu kilometer jaraknya dari tempatku berpisah dengan Arkana.
"Dre! Kenapa selamat tinggal?" teriak Arkana. Aku sudah berjalan menjauh. Kubalikkan kepalaku, dan kulihat lelaki yang lupa bercukur itu masih memandangku dengan tanda tanya. Kamu tahu maksudku, Arkana, kamu tahu.

Kamu hanya tidak ingin apa yang kamu tahu menjadi sebuah kenyataan.

Aku mempercepat langkahku, menyongsong matahari yang tinggal separuh.

April 28, 2015

Mata yang Berkaca-Kaca

Saya pulang ke rumah dengan perasaan ringan. Dre bersedia menemui saya, entah kenapa. Tapi masih ada tanda tanya besar dalam benak saya. Mengapa Dre begitu ... Dre? Dia menolak orang lain, dan memberikan sambutan pada kesepian. Apa yang mengubah Dre menjadi Dre yang seperti itu?
Ah sudahlah! Bukankah semua manusia memliki masalahnya sendiri. Bukan hanya Dre, tapi saya...
"Arkana!" wanita itu membuka pintu dengan kasar dan memanggil saya dengan nada suara yang meninggi.
"Baru pulang?" tanya saya. Pintu depan tertutup kembali. Wanita itu melepas sepatu hak tingginya dan membuang tas kerjanya di meja tengah. Dia berjalan ke arah saya yang masih memegang buku catatan sambil duduk di sofa ruang tengah.
"Masih setia dengan catatan kecil dan kejadian-kejadian kriminal?" tanyanya sinis. Aku menghela napas. Anjali tidak pernah menyukai pekerjaan saya karena tidak bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang mencukupi. Sebaliknya, sebagai banker, Anjali mampu menghasilkan berlipat-lipat kali lebih besar daripada yang saya hasilkan. Inilah buktinya. Rumah yang sedang saya tempati, dan mobil Civic terbaru yang mampu dia dapatkan dari kantornya. Konsekuensinya, tentu ada.
"Arkana, aku mau bicara dengan kamu," lanjutnya.
Inilah keluarga saya. Sebagai suami, saya selalu merasa kurang di mata dia. Tapi sebagai wartawan, saya tidak perah kehilangan lirikan iri dari orang-orang jurnalis lainnya karena kehebatan saya mengorek dan menulis berita.
"Ada apa, Anjali?" tanyaku.
Anjali sejenak menatap saya, intens. Saya tidak bisa lupa dengan tatapan matanya. Tatapan mata Anjali ketika masih jatuh cinta dengan saya. Tatapan mata itu lambat laun berubah. Tapi malam ini, detik ini tatapan mata itu datang lagi.
"Arkana, seperti yang kita ketahui, kehidupan ini selalu menawarkan pilihan yang tidak terbatas. Termasuk untuk aku dan kamu," Anjali mulai bangkit. Kebiasaan seorang bos, bicara sambil berdiri dan melipat kedua tangannya di dada. Here she is.
"Ada banyak pilihan, dan hanya ada satu takdir," lanjut saya.
"Tepat sekali. Kita tidak boleh salah memilih," lanjutnya.
"Ada apa, Anjali? Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan dengan saya?" tanyaku tidak sabar.
"Aku pernah mendapat kesempatan besar, dulu. Dan aku melewatkan kesempatan itu, karena kamu. Aku memilih kamu, bertahun-tahun yang lalu. Pernahkah kamu memikirkan pilihanmu tentangku?" tanyanya. Saya bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini akan berakhir. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Anjali akan meminta saya untuk bisa menghasilkan uang lebih banyak lagi, sehingga egonya tidak melulu sakit. Tapi bukan itu yang saya rasakan. Saya tidak merasa Anjali kesusahan dengan nominal uang yang saya berikan. Saya belihatnya berubah, itu saja.
"Tentu saya memilih kamu, Anjali," jawabku.
"Omong kosong! Kamu bilang kamu memilihku tapi tidak secuil kebahagiaanpun yang kamu berikan ke aku! Coba lihat semua ini! Lihat, Arkana!" Anjali berteriak di depanku.
"Pernah kamu pikirkan sedikitpun tentangku? Aku yang yang bekerja dari pagi hingga larut malam seperti ini! Aku yang mengusahakan sendiri KEBAHAGIAANKU! Dan kamu? Apa yang kamu lakukan dengan catatan kecil itu? Sampah!" Anjali berteriak marah.
"Kamu sedang lelah, Anjali. Sebaiknya kamu istirahat dulu."
"Oh ya? Oh tentu saja aku sedang lelah, dasar pengecut! Aku lelah bertahun-tahun sama kamu!"
"Anjali, kamu tidak perlu berteriak."
"Tentu saja aku tidak perlu berteriak seperti ini. Aku akan duduk dengan tenang, menyimpan tenagaku, dan aku harap kamu segera mendapatkan surat cerai dariku."
"Anjali?"
"Ya, tentu saja Arkana. Aku ingin perceraian."

*

Aku tidak tahu mengapa lelaki itu mengotot ingin menemuiku. Tentu saja aku tidak mengenalnya. Ada banyak hal yang aku ketahui di dunia ini, tetapi bukan dia.
Aku segera bersiap-siap diri. Selesai membereskan sarapan pagi, aku menyambar tas kerjaku dan melangkah ke arah pintu keluar.
"Nala."
Aku menoleh. Bapak memanggilku.
"Terima kasih sudah mau merawat Bapak dan Bima," lanjut Bapak.
Aku menghampiri Bapak dan mencium tangannya.
"Tidak masalah Pak. Nala berangkat dulu."
"Nala," panggil Bapak lagi. Aku menghampiri Bapak dan merendahkan tubuhku di samping kursi rodanya.
"Iya, Pak?" tanyaku.
"Katakan apa yang kamu rasakan, Nala. Bapak tahu, ada dunia lain di dalam kepalamu yang tidak ingin kamu bagi dengan siapapun," lanjut Bapak. Dunia lain ... dunia lain apa?
"Nala, Bapak mengerti kecemasanmu. Percayalah, tidak semua orang bisa menyakiti. Bapak ingin melihatmu bahagia, Bapak ingin melihatmu seperti Nala yang sering bermain dengan Kakek..." mata Bapak berkaca-kaca. Tidak. Aku tidak ingin membuat Bapak khawatir dan cemas padaku.
"Nala akan bahagia, Nala janji, Pak."
Aku melangkah keluar rumah. Setelah menutup pintu gerbang halaman rumah, tetesan airmataku kembali jatuh. Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti apa yang hidup tawarkan padaku.

*

Sendok itu terus saja mengaduk-aduk kopi hitam yang saya pesan. Saya tidak mengerti dengan pilihan-pilihan yang Anjali bicarakan semalam. Dia menginginkan perceraian? Kenapa? Apa yang salah dengan kehidupan kami? Kami baik-baik saja, bukan?
"Boy, ngelamun lagi? Kayak nggak ada kesibukan lagi aja lo," Bayu, teman sekantorku memergokiku sedang melamun di kantin kantor.
"Di lantai atas ada Coffee Shop yang oke punya, kenapa lo malah senang ngendon di basement sumpek ini sih?" tanyanya.
Aku menyalakan rokokku dan menghisapnya kuat-kuat.
"Lo tahu, Bay, gue nggak butuh kopi abal-abal mahal yang hanya bakal dibeli sama orang yang keberatan gengsi. Inilah kopi hitam yang sesungguhnya."
"Ini nih, kaum proletar ngehek! Hahaha! Liputan?" tanya Bayu.
"Kalo kaum proletar yang lo maksud itu orang-orang kere macam gue, berarti semua wanita masuk dalam kaum materialis, gitu Bay?" tanyaku.
"Lo lagi kenapa sama bini lo?" tanya Bayu.
"Nggak kenapa-napa Bay. Gue terlalu cinta sama pekerjaan gue aja."
Dalam riak kopi yang tenang itu, saya temukan sepasang mata yang berkaca-kaca.

Februari 16, 2015

Karena Aku Tidak Ingin Meninggalkanmu

Aku pernah memiliki teman. Seorang teman baik yang selalu menjadi muara segala cerita-ceritaku. Tapi semenjak beberapa waktu lalu, aku melepaskan temanku. Banyak yang bertanya kenapa, dan banyak yang menerka bahwa aku dijauhi temanku. Tidak. Akulah yang menjauhi mereka. Aku sungguh tidak ingin membuat temanku kepikiran tentangku. Tentangku yang memiliki pembenci di tempat aku hidup.

Kata-kata benci selalu mendarat kepadaku. Aku menjadi negatif. Aku takut menyakiti temanku. Aku menjauh demi kebaikannya. Dan demi kebaikanku. Aku membaca lebih banyak. Lebih banyak huruf yang kutelan setiap harinya dibandingkan butiran nasi dalam makan siang dan malamku. Aku tidak pernah sarapan.

"Tuh kan, apa aku bilang, kamu dijauhi temanmu kan!" pernah suatu hari kudengar dia komentar.

Aku sudah kebas dengan segala yang dia bilang. Buatku, semua itu invalid, dan aku tidak boleh ambil pusing dengannya. Jadi, aku selalu diam, dan diam dalam duniaku sendiri.
Aku menjalani hidupku bagai air dalam sungai tanpa riak. Mengalir tanpa hambatan apapun.

*

Sore itu, aku pulang dengan agak tergesa dari kantor. Setelah mendapat email penawaran untuk menjadi ghost-writer untuk seorang psikolog, aku memutuskan untuk pulang cepat dan menemui calon klienku untuk berbicara lebih lanjut. Kami janjian di klinik tempatnya praktek. Aku harus menaiki busway dua kali untuk mencapai kliniknya.
Debu-debu beterbangan diatas aspal, menjulang meninggi diterpa kendaraan roda dua dan roda empat. Tanda-tanda kemacetan sudah terlihat dengan padatnya kendaraan oleh manusia beserta mesinnya. Aku harus mengusap peluhku berulangkali. Matahari pukul lima sore masih terlampau galak rupanya.
"Dre, Dre!" kudengar seseorang memanggil namaku. Hatiku berdentam-dentam mendengar suara yang tidak asing lagi. Sebulan lebih aku tidak lagi dipanggil dengan sebutan itu.
Kutolehkan kepalaku ke belakang, Arkana tempak berlari-lari dengan membawa tas punggung hitam. Wajahnya berkeringat dan kelelahan. Kantung matanya menonjol dan kehitaman. Kudengar nafasnya memburu.
"Dre!" akhirnya dia mencapaiku.
"Dre," panggilnya. Aku masih tertegun diam dan tidak tahu harus berlari atau mendengarnya memohon untuk meminta waktu untuk berbicara.
"Arkana," kubalas panggilannya.
"Dre, kamu darimana saja?" tanyanya.
"Dari kantor," jawabku singkat.
"Sudah lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja."
"Dre, ada yang salahkah dariku?" tanyanya lagi.
"Tidak," jawabku.
"Dre, please," dia terlihat memohon.
"Aku tidak tahu caranya berteman, Arkana."
"Apa maksudmu, Dre?"
Aku dulu pernah punya teman. Dulu aku pernah meninggalkan temanku.
"Arkana, aku tidak ingin membuatmu meninggalkanku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu..." nadanya terengar penuh tanya. Arkana tidak mengerti apa yang dirinya sendiri katakan.
"Aku harus kerja, Arkana. Aku ada janji dengan klien," jelasku berharap dia tahu kalau aku akan mengucapkan closing-line selepasnya.
"Dre, boleh aku bertemu lagi denganmu?" tanya Arkana memohon.
"Ada apa, Arkana? Kenapa denganku?"
"Justru karena aku tidak tahu siapa kamu, makanya aku ingin mengenalmu."
"Arkana, kamu tidak mengerti."
"Kamu yang tidak mengerti, Dre."
"Terserah kamu. Aku harus pergi. Permisi."
Aku meninggalkan Arkana sendirian di pedestrian menuju halte busway. Udara panas perlahan menurun, menjadikan petang menjadi lebih sejuk.

Arkana, aku sudah pernah punya teman, dan aku meninggalkannya. Aku tidak ingin berteman denganmu, karena aku tidak ingin meninggalkanmu.


*

Dre, kenapa kamu selalu ingin kabur dari saya? Semakin kamu kabur, semakin saya ingin mengenalmu. Mengapa kamu selalu berwajah sendu? Mengapa kamu selalu tidak ingin menjadi bagian dari hidup orang lain? Mengapa kamu begitu membuat saya merasa lebih hidup? Mengapa kamu membuat saya menginginkanmu?

Januari 28, 2015

Catatan Arkana

Seharian ini saya harus meliput kejadian kriminal yang semalam baru saja terjadi. Pembunuhan dengan motif kecemburuan dalam biduk rumah tangga seorang artis. Pelaku langsung menyerahkan diri dengan derai air mata penyesalan. Pecundang, kata saya. Hanya pecundang yang memilih untuk menyesal daripada harus berpikir dahulu sebelum bertindak. Dan laki-laki itu, yang sudah menghabisi nyawa istrinya sendiri, adalah seorang pecundang yang sedang bercucuran air mata.
Hampir satu jam saya nongkrong di Mabes Polri, berusaha untuk membuat janji wawancara dengan narasumber pecundang satu itu. Tapi Kabag Hendro, yang juga sudah berteman baik dengan saya, masih belum bisa memberikan janji temu antara saya dengan si pelaku dengan alasan kejiwaan pelaku yang masih terguncang. Saya memutuskan untuk menunggu saja di Mabes sambil merokok.
Satu setengah jam berlalu. Saya mulai bosan. Saya putuskan untuk pergi dulu, meninggalkan pesan untuk Hendro untuk memberikan saya waktu wawancana dengan pelaku tersebut. Kalau tidak secepatnya, Pak Panca pasti akan ngamuk-ngamuk lagi. Terserahlah, pikir saya. Kali ini saya tidak akan keduluan sama wartawan majalah mingguan Fokus, dan tabloid-tabloid gosip yang gemar mengorek-ngorek berita apapun tentang dunia entertainment.

Saya melajukan mobil tua saya menuju Kedai Kopi Hitam.
Pukul 16.00 saya sudah sampai Kedai Kopi. Selesai memesan secangkir kopi hitam dan red velvet cake, saya mulai mengeluarkan buku catatan saya. Ini hari ketujuh gadis itu tidak menampakkan diri di Kedai Kopi. Setiap pagi dan sore, saya setia menungguinya disini. Entah rasa apa yang membuat saya mampu telaten memberikan waktu saya untuknya. Belum lagi ketika sedang dikejar-kejar berita, dikejar-kejar keluarga, saya akan dengan gilanya tetap berada di Kedai ini.

Dan gadis itu tetap belum juga menampakkan dirinya. Saya mulai gelisah dan khawatir dengannya.

Kendaraan berlalu-lalang tanpa jeda. Terasa sangat paradoks dengan saya yang sedari tadi diam saja di tempat ini. Saya mulai memikirkan kejiwaan saya sendiri. Saya begitu terobsesi dengan gadis itu, gadis yang baru tiga kali bertemu dengan saya di Kedai Kopi ini. berbagai spekulasi mulai menggentayangi saya. Bisa saja gadis itu pindah kedai. Bisa saja gadis itu pindah kantor, pindah rumah, pindah tempat nongkrong, atau gadis itu benci sama saya. Bisa saja. Semuanya bisa saja.

*

Saya memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kedai. Debu-debu sore hari mulai berterbangan. Gerak roda kendaraan roda empat dan roda dua beradu dengan aspal panas di depan kedai. Saya memutuskan berjalan-jalan di dalam kompleks perumahan di dekat kedai. Sejujurnya saya tidak tahu kemana harus berjalan. Kehilangan gadis itu seerti kehilangan jiwa saya. Saya mulai berpikir tentang chemistry yang tidak mungkin terjadi antara saya dengan gadis itu. Saya mulai kehilangan diri saya. Mungkin gadis itu memang benar-benar seorang soul eater. Saya mulai kecanduan dengan kehadirannya. Entah mengapa, entah.

Di depan saya ada taman lingkungan yang ramai dengan anak-anak bermain sore. Gerobak-gerobak yang menjual berbagai macam makanan ikut memeriahkan suasana. Saya berjalan mengitari taman, mencari bangku untuk duduk. Tempat ini sungguh nyaman dan damai. Saya bisa saja duduk disini seharian. Daun-daun pohon mangga berguguran menghujani saya. Kubuka kembali buku caatanku, seolah ingin menuliskan sesuatu di dalamnya. Perasaan yang membuncah hingga detik ini ingin saya tuangkan ke dalam catatan pribadi saya. Tapi pena saya seakan tidak mau bergerak. Pena saya mati. Tidak ada yang bisa saya tuliskan dalam buku catatan saya kecuali kata rindu yang menggebu. Entah bagaimana bisa rindu ini menjelma menjadi berbagai rasa yang tidak manusia mengerti.
Tidak satu katapun saya tulis dalam buku catatan saya. Tangan saya terasa kelu. Kelu hingga senja datang membuat semua warna memudar dalam oranye yang indah dan magis. Kabag Hendro belum juga menghubungi saya. Gadis itu belum juga memunculkan diri. Dan Tuhan masih bersembunyi dalam indahnya dunia yang membuat saya sakit hati melihatnya. Hidup saya ingin terhenti saat itu juga.

Januari 26, 2015

Sebagai Muara Doa, Itu Saja

Aku tidak mungkin menceritakan pada Arkana apa yang telah aku alami semalam. Selain aku masih belum percaya padanya, aku belum bisa menyebut dia teman. Kami baru beberapa hari bertemu, kemudian mengobrol, itu saja.

Atau sejujurnya, aku tidak pernah punya teman.

Hari ini aku memutuskan tidak ingin bertemu dengannya. Aku tidak ingin menggantungkan soreku yang indah padanya. Aku sedang ingin sendiri menikmati hariku, seperti biasanya. Maka aku membeli sebungkus takoyaki, dan memakannya sore itu di bangku taman kompleks rumahku sebelum belanja bahan makanan untuk kumasak malam ini. Tidak ada yang (mau) mengurus Ayah dan adikku di rumah selain aku. Aku tidak pernah menyebut itu sebuah keharusan atau beban moral apapun. Mereka keluargaku, meski aku yang harus jadi kepala keluaarga. Aku menyebut ini adalah bagian dari hidupku. Hidup yang secara wajar sedang  kujalani, bukan sebuah keharusan untuk kujalani.

Hidupku kembali normal, tanpa intervensi orang lain seperti Arkana.
Aku berangkat kerja, aku pulang ke rumah, aku memasak, aku tidur, bangun pagi, dan kembali bekerja. Begitu seterusnya. Tuhan Maha Baik, aku menemukan kedamaian dalam ketenangan sungai kecil hidupku yang tanpa riak.

"Halo,"sapa seorang anak kecil ketika aku sedang menikmati takoyakiku sendirian di bangku taman.
'Halo, Adik," balasku.
"Kenapa kamu sendirian? Mau main sama aku?" tanyanya. Aku memandangnya, dan menggeleng pelan.
"Caca! Sini Nak, jangan jauh-jauh dari Mama!" seorang wanita muda menggendong gadis cilik itu dan melotot ke arahku dengan pandangan yang tidak bisa kudefinisikan maknanya. Aku tidak merasa terganggu. Aku sering mendapat pandangan mata seperti itu.

Manusia sangat suka memandang manusia lain. Manusia sangat suka memberi label kepada manusia lain.
"Kamu bau!"
"Kamu nakal!"
"Kamu jahat!"
"Kamu pembohong!"
Begitulah. Aku tidak tahu, apa yang membuat manusia-manusia itu berhak memberi label kepada manusia lainnya. Aku sendiri merasa tidak berhak memberi label kepada hidupku sendiri. Aku membiarkan hidupku seperti ini, karena aku yakin, Tuhan pun tidak ingin aku memberikan label apapun pada hidupku. Hidupku milik Tuhan. Label bisa memberi aura negatif maupun positif untuknya. Sekali lagi, manusia memang sok tahu. Dengan asumsi subyektifnya, manusia bisa seenak jidat mencela maupun memuji orang berdasarkan seleranya. Sunguh dewata!

Aku membuka buku yang kubawa hari ini. Aku senang berkawan dengan buku. Aku senang pernah menjadi anak kecil yang mengendap-endap masuk ke kamar Kakek dan menemukan surga di dalamnya. Aku betah berada di kamar Kakek seharian. Sejak kecil, aku suka menyendiri, menjadi filsuf kecil untuk diriku sendiri. Membaca buku dari selesai mandi pagi, hingga selepas Maghrib. Kakek sangat menyayangiku. Maka ketika beliau tiada, beliau mewariskan kamarnya yang penuh dengan buku-bukunya untukku.
Kakek juga dulu sering dihujat orang. Mereka menyebut kakek anggota komunis PKI.

Banyak kesesatan pikir di luar sana. Mungkin sebaiknya aku tidak pernah keluar saja. Aku akan nyaman berada dalam lingkaranku sendiri. Aku akan nyaman dengan dunia yang kuciptakan sendiri.

*

Saya tidak bertemu dengan gadis itu lagi. Entah mengapa serasa ada yang kurang tanpa kehadirannya. Gadis itu seperti oase yang memberikan kesegaran dalam hidup saya yang telah lama redup. Gairah saya meletup-letup setiap bertemu dengannya. Bahkan hanya dengan melihatnya diam, semangat saya untuk terus hidup seolah bertumbuh. Saya tahu, dia bukan nabi, juga bukan malaikat. Dia bisa saja iblis. Atau bisa saja pelacur. Siapa yang tahu? Saya hanya tahu bahwa namanya Dre. Itu saja.

Gadis itu bisa saja sedang berada dimana saja yang dia inginkan. Tapi saya akan selalu berada di kedai kopi kecil ini untuknya. Banyak sekali hal yang ingin saya tanyakan padanya. Tapi entah mengapa, rasa ingin tahu itu kemudian berubah menjadi rasa ingin mendengar setiap kali kami bertemu. Ya, meskipun dia jarang sekali berbicara, seakan takut menjadi bagian dari masyarakat yang gemar berbicara.

Dre. Dre tidak menampakkan diri dua hari berturut-turut ini. Saya menjadi semakin mirip dengannya akhir-akhir ini: duduk sendirian di kedai, menikmati masa menunggu. Cemas, tentu saja. Tapi nikmat. Menunggu tidak semenyakitkan apa yang dikatakan orang-orang. Saya hanya harus mengisi ulang cangkir kopi saya.

Atau mungkin memang jalan hidup kami ditakdirkan untuk berpapasan beberapa saat saja. Sesaat yang cukup bagi kami untuk bertukar nama. Setidaknya saya sudah tahu, kemana doa-doa saya akan menuju ketika sedang sangat merindukannya. Dre. Dre, gadis yang akan mendapat doa dari saya.

Januari 20, 2015

Neither Today Nor Tomorrow

Do you remember the day after the short message you sent me 3 days ago? Your message said that you want to leave, to be just friend with me. I vaguely replied "yes" along with bloody tearing eyes. We couldn't just broke up after the times we shared together only by message. I need to be sure.
I need you to make sure that you would leave me properly.

Because i welcomed you properly.

Three days after the sorrowful day, i did sleepover to my friend's house. I told her what i felt, still with tearing eyes. I felt like i couldn't hold the pain any longer. I loved him. I loved him, i told her. She flattered my arms and said, "everything's gonna be okay. You just need some scoops of ice cream and chocolate bars."
"I need him," i replied.
"You think you need him."

I fell silent and was glued in front of the television, watched bleary-eyed to the LCD and the memories suddenly crushed everything. The laughter, the loves, the longings. I couldn't take them anymore. I immersed my face into my bent feet, and i felt the warmth. i couldn't leave him, i couldn't let him go.
"You okay?" my friend asked me. I glance at her and immersed my head back. I sobbed and my body shivered.

I hear the ringtones of my phone, the certainty tones. I knew that tones! The tones for him. His tones!
I quickly pressed the answer button, and said slowly, "hallo..."
"Hai..." he replied. I was disappointed at that time and i couldn't think.
"You okay?" he asked me. I hate it when people ask me if i am okay or not while they know i am not.
"You know i am not," i answered.
"I am sorry for the text, i should haven't done that to you."
"You know i am lost for words." damn my education! I couldn't find a word to say, i picked part of Oasis's lyric to depicted my situation here.
"I still love you..." i do, i do love you too! Still! But then why... i really wanted to ask you that why question. But my throat seemed to choke.
All he could hear next was my sobs. He clammed up, i did either.
"This love will hurt you more. I can't let you get hurt more than this," he continued.
"But..." but i liked this way! I liked to be with you, now or tomorrow.
"But the more i'm with you, the more i'll hurt you," he convinced me.
"Either now, or later," he continued.
"Or neither today nor tomorrow?" i asked.
Moment of silence. We both were silent.
"This is the right time to say goodbye," he said.
"So, this is the end?"
"I know, it's hard for you. But you are really welcome to me, and that makes me nobody but the dust who can't find a proper exit-line. I am sorry."
"There's no such thing like proper exit-line."
"I wish you all the best. Goodbye, Sweetheat."
I fell silent on the kitchen floor. I was dead.


Jogja, January 21st 2015.
--just completing the draft, and posting it.



Januari 16, 2015

Lelaki yang Berbelok

Lelaki itu orang yang baik. Aku tahu dari cara dia menatap saya. Sikapnya seolah berbicara dengan santun, mengajak saya untuk berteman. Aku tidak tahu, hingga saat ini aku masih belum bisa membuka diriku dengan siapapun.

Seusai pertemuan di kedai kopi tadi pagi, aku hanya bisa duduk termangu di dalam kamarku seharian ini. Entah bagaimana bisa, kepalaku dipusingkan oleh berbagai macam hal yang aku sendiri tidak tahu apa saja. Terngiang kembali pertanyaan lelaki itu, apakah aku baik-baik saja? Tidak ada yang baik-baik saja di dunia ini, aku selalu meyakini hal itu. Yang aku tahu, manusia adalah agen penghancur yang maha dahsyat. Dan mereka akan saling menghancurkan hingga keberadaan dunia berakhir.

Hujan mulai mengguyur bumi. Aku masih termangu di samping jendela kamarku, memandang rintiknya yang mulai menderas. Apa yang salah pada diriku? Apa yang salah pada orang-orang? Kenapa aku menyukai segala hal yang sepi dan sendiri?


Aku pernah bertanya-tanya, akan menjadi apa aku nanti Enggan membuka diri lagi hanya karena satu hal fatal yang membuatku menutup rapat-rapat diriku sendiri? Mungkin mereka bilang omong  kosong! Semua orang berlomba-lomba untuk pamer, semua orang berlomba-lomba menampakkan dirinya sendiri, tapi mengapa aku tidak ingin? Mengapa aku justru ingin orang-orang tidak mengenalku saja? Apa pentingnya hidup di dunia jika hanya mengedepankan eksistensi tanpa bisa berbuat banyak untuk yang lain? Bukankah itu namanya egois? Bukankah itu namanya mementingkan diri sendiri? Ah sudahlah, mungkin aku mulai lelah. Aku ingin tidur.

*

Pagi itu aku sudah besiap berangkat bekerja. Sebelumnya, aku ingin sarapan dulu di kedai kopi langgananku itu. Aku tidak tahu, apakah lelaki itu akan ada disana lagi atau tidak. Aku hanya ingin sarapan kopi hitam dan telur setengah matang.

*

Suasana kedai masih lengang. Aroma kopi menusuk indra penciumanku dan membangkitkan rasa laparku. Kali ini aku membawa buku Seno Gumira Ajidarma untuk menemaniku sarapan. Aku duduk di bangku paling ujung, dekat dengan tembok dan jendela kedai, menghadap jalanan. Diam-diam aku mulai menghitung jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di depanku. Tiba-tiba aku melihat lelaki itu, tepat di depanku. Berdiri di seberang jalan, dengan sepasang matanya yang menatapku dalam-dalam. 

Syukurlah...

Entah apa yang kupikirkan, tapi kehadiran lelaki itu membuatku sedikit lebih tenang. Mungkin hari ini aku harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran lelaki itu. Mungkin sejak hari ini aku akan mendapat teman berbicara. Lelaki itu berjalan menyeberangi jalan. Kemudian berbelok... menjauh dari kedai. Ada apa?

Januari 13, 2015

Mata yang Berkaca-Kaca

Saya melihat gadis itu lagi pagi ini. Masih sama dengan dirinya yang kemarin. Rambutnya masih tergerai tanpa hiasan apapun. Bajunya masih sederhana, berwarna krem dengan celana jeans yang sama seperti yang dia kenakan kemarin.

Dan dia masih sendirian.

Memesan kopi hitam kesukaannya dan mulai duduk menyendiri. Saya tahu, beberapa meja dari tempat dia duduk, ada beberapa orang temannya. Mereka selalu bercanda dengan suara yang keras, membicarakan hal-hal lucu dan tertawa-tawa riang. Tapi gadis itu hanya diam dan sibuk dengan buku yang dibawanya. Iya, dia membawa sebuah  buku. Gadis itu selalu tenggelam di dalamnya. Kadang dia lupa untuk menyeruput kopinya hingga kopinya berubah dingin. Saya selalu penasaran dengan apa yang gadis itu pikirkan. Saya penasaran dengan dunianya.

Suasanya kedai kopi pagi ini cukup lengang. Hanya ada gadis itu, dan tak lama kemudian datanglah rombongan teman-temannya yang akan duduk bergerombol, membicarakan apa saja. Saya heran, kenapa gadis itu tidak bergabung saja dengan teman-temannya itu. Mereka hanya akan saling melempar senyum dan membalas sapaan dengan seperlunya.

"Hidup memang harus seperlunya," kudengar dia berkata.
"Kenapa kamu tidak bergabung dengan mereka?' tanya saya memberanikan diri bertanya.
"Salah satu dari perempuan disana membenciku. Aku tidak mau menghancurkan kegembiraannya dengan kehadiranku." Gadis itu tersenyum. Saya tidak paham dengan pola pikir gadis itu.
"Mengapa?" tanya saya.
"Karena saya terbiasa bersenang-senang sendiri."
Saya tidak mengerti mengapa dia bisa bersenang-senang sendiri.
"Tapi kamu terlihat kesepian," ujar saya. Gadis itu terdiam. Memandang kopinya seakan itu adalah satu-satunya obyek pandang yang ada di ruangan ini.

"Saya  baik-baik saja," jawabnya sambl tersenyum.
"Kamu boleh cerita sama saya jika ingin. Saya tahu, perasaanmu sedang tidak baik-baik saja."
Gadis itu terdiam lagi. Kemudian tersenyum kecil.
"Saya baik-baik saja, terima kasih."
"Ayolah..."
"Saya tidak terbiasa membebani orang lain dengan masalah saya. Saya terbiasa sendiri menghadapi sesuatu."
"Kamu butuh teman berbagi."
"Saya butuh teman dengan empati. Terima kasih. Saya memang suka begini, sendiri, tidak menyakiti orang lain, tidak membicarakan orang lain, tidak menjadi beban orang lain."

Gadis itu berdiri dan mulai melangkah pergi. Ada rasa sesak yang muncul dalam diri saya. Saya belum pernah bertemu gadis seperti itu, dan mungkin saya tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.

Sekilas sempat saya lihat wajahnya terlihat sedih. Dalam matanya tersimpan kesepian yang tidak berdasar. Entahlah, entahlah. Mata itu berkaca-kaca. Mata itu menyimpan air mata.























Januari 09, 2013

Februari dan Berhentinya Detak Sebuah Janji (4)



Keesokan paginya, sebuah surat mendarat di meja kasirku. Pukul sembilan pada tanggal dua puluh enam. Aku mual membaca nama pengirimnya. Dondi Himawan. Ini tidak beres. Pelan-pelan kubuka isinya:

Dear Cici Runia,
Terima kasih telah mengajarkan aku sedikit kehidupan yang tertinggal secara kasat mata. Sudah lama aku hidup dalam hingar bingar hedonisme hingga melupakan detil kecil seperti laut dan gunung. Dongeng indah Cici tentang garis cakrawala dan sentuhan gunung dan langit membuatku bergairah lagi memperhatikan detil-detil kecil dalam kehidupan
Cici, maafkan aku kalau aku sudah menyakiti perasaan Cici, tapi ciuman di pantai beberapa hari yang lalu adalah ketulusan yang secara mendadak menyeruak dari kepalaku. Aku memang ingin mencium Cici, satu-satunya orang yang mengajariku bagaimana menghargai kehidupan.
Tadinya aku pikir kehidupan adalah tentang kelahiran, pertemuan, kemudian perpisahan. Tapi Cici mengajariku bagaimana kesederhanaan adalah bagian dari kehidupan. Sejak hari itu, aku sering memikirkan Cici.
Cici yang tidak pernah mengenal dunia. Cici yang selalu memberi senyuman pada setiap orang. Cici yang mengajariku bagaimana berbagi dengan sesama. Cici yang membuatku menghargai ciptaanNya. Cici yang membuatku belajar. Cici yang membuatku jatuh cinta.
Sulit bagiku untuk melihat semua itu dengan kedua orang tua yang sudah berpisah. Mama di Jogja, Papa di Jakarta dengan istri barunya. Aku terbiasa hidup dengan mengutuk pertemuan. Tapi pertemuan dengan Cici membuka kembali mata yang lama tertutup tirani. Bersyukur karena telah mengalami, bukan mengutuk karena ditinggal pergi.
Cici membuat aku berterimakasih, karena setidaknya aku tahu Papa pernah sayang padaku dan Mama. Maafkan aku yang lancang ini Ci, Cici boleh marah. Tapi jatuh cinta ini memang tidak perlu ditangkap olehmu. Aku jatuh cinta dengan perasaanku, bukan dengan perasaan Cici. Cici yang tidak membalas cintaku tetap membuatku jatuh cinta. Cici yang apa adanya, yang menghargai hidup dengan kesederhanaan.
Boleh aku masuk ke dunia Cici?


Dondi

Oh Dondi. Sekarang aku nggak tahu harus bilang apa. Aku harus bagaimana? Aku menghela nafas panjang. Menjelang kematianku, kenapa harus ada persoalan-persoalan rumit seperti ini? Aku merasa mengkhianati Alena dengan surat Dondi barusan.
Sepasang Nenek dan Kakek langganan datang lagi kali ini. Seperti biasa, mereka memesan teh ginseng dan teh sereh. Setelah membuatkan pesanan mereka, aku kembali melamun di meja kasir dengan surat yang masih kupegang, entah akan kuapakan.
“Cici, kenapa melamun terus? Murung sekali mukamu hari ini?” tanya Nenek.
“Saya nggak kenapa-napa kok Nek.”
“Mukamu ndak bisa berbohong. Sini duduk di sebelah Nenek, Nenek pengen dengar ceritamu,” tawar Nenek. Aku menurutinya, duduk di semeja dengan Nenek dan Kakek.
“Sudah lama Kakek ndak ketemu sama cucu Kakek. Pasti sekarang sudah sebesar kamu, Ci,” ujar Kakek sabar.
“Nenek, Kakek, ada sesuatu yang sedang saya pikirkan, sebenarnya,” aku membuka suara. Dan cerita mengenai Dondi dan suratnya mengalir dengan tenang melewati celah telinga Nenek dan Kakek. Usai mendengar ceritaku, mereka berdua tersenyum dan tertawa pelan.
“Nenek, Kakek, apanya yang lucu?” tanyaku.
“Ceritamu. Aneh sekali kamu, ada orang yang mencintaimu kok malah sedih,” Nenek.
“Nek, lihat Nek, siapa yang jatuh cinta pada saya. Ini Dondi, Nenek,” kilahku.
“Coba Nenek tanya, siapa yang tidak jatuh cinta pada gadis baik dan cantik seperti kamu? Maksud Nenek, berapa persen dari keseluruhan wanita di dunia ini yang memiliki hati dan raga secantik kamu? Kemurahan hati, keramahan, kesetiaan, kesederhanaan. Apalagi kebaikan hidup yang tidak kamu punya, Cici?” jelas Nenek. Aku tidak akan punya umur panjang, Nek. Aku melipat surat dari Dondi dan menyelipkannya di saku rok terusanku.
“Sebaiknya Alena jangan sampai tahu,” ujarku.
“Bukan salah kamu Dondi jatuh cinta padamu. Cinta tidak bisa memilih, cinta Dondi yang milik Dondi, kamu ndak berhak membelokkannya. Masa iya kamu tega membelokkan perasaan orang?” timpal Kakek.
“Terus saya harus gimana, Nek, Kek?”
“Bersikaplah baik pada Dondi, seperti kamu bersikap baik sama Nenek dan Kakek. Keutamaan orang ada pada sikap dan akhlaknya antar sesama. Kamu ndak berhak marah sama dia karena dia jatuh cinta sama kamu.” Nenek.
“Dan berbahagialah, hidupmu telah membuat orang lain bahagia. Orang lain seperti Dondi, Nenek, dan Kakek,” kali ini Kakek yang tersenyum.

Februari dan Berhentinya Detak Sebuah Janji (3)



*


Aku teringat-ingat perkataan Dondi. Aku mahir bercerita. Tapi apa yang akan aku ceritakan pada Alena? Tentang ajakanku ke Dondi ke pantai? Bukan itu maksudku. Aku ingin Dondi menemui jalan untuk menyampaikan rasa cintanya pada Alena. Tapi kenapa malah aku harus menyembunyikan cerita dari Alena?
“Ci, kenapa sikap Dondi ke aku berubah ya?” cerita Cici suatu waktu. Sejak malam itu, aku dan Alena sering tidur bersama dalam satu ranjang. Kami melakukan ritual kakak-adik dengan hangat. Berdoa bersama, bercerita tentang cinta, kadang menggelitiki satu sama lainnya.
“Apa mungkin ada perempuan lain yang Dondi sukai selain aku ya?” tanyanya lagi.
Aku teringat dengan sebuah amplop cokelat berukuran sedang yang dikirimkan melalui paket pos, yang berisi foto-foto senja dan gunung. Aku tidak mau menebak siapa pengirim paket misterius tak bernama ini. Hanya ada sebuah kesimpulan: jelas ini Dondi. Aku tidak mau ini berasal dari Dondi.
“Alena, kamu gadis yang cantik, pasti ada banyak orang yang mengejar-ngejar kamu. Jangan kamu pikirkan Dondi terus.”
Alena menatapku dengan sayu. Aku jadi semakin bersalah padanya.
“Begini Alena, anggaplah dibalik sebuah tembok ada Rahasia Indah yang hanya bisa kamu temui setelah melewati tiga pintu yang terkunci. Kamu hanya punya satu kunci, jadi kamu harus menemui pintu yang pas dengan kunci kamu untuk bisa melewati tembok ini dan bertemu dengan Rahasia Indah. Kamu mencoba pada satu pintu yang bernama Dondi, dan ternyata kunci yang kamu punya tidak pas.”
“Kalo kamu terus saja memaksakan kuncimu pada Pintu Dondi, jelas usahamu hanya akan sia-sia, tapi kalo kamu mencoba kunci itu pada dua pintu yang lain, niscaya akan ada satu yang paling cocok dengan kuncimu,” lanjutku.
“Jadi, apa Rahasia Indah itu, Ci?” tanya Alena.
“Cinta.”
Alena tersenyum.
“Cici baru saja mendongengi aku tentang cinta. Cinta adalah Rahasia Indah?” tanya Alena dengan manja.
Aku mendongengi dua orang yang dimabuk cinta dengan cerita yang berbeda, dan aku membuat cinta diantara mereka memudar begitu saja. Tuhan, maafkan aku yang maha merusak segalanya ini. Maafkan Cicimu ini Alena. Cicilah yang membuat Dondi menjadi pintu yang salah untukmu.
Kupeluk Alena kuat-kuat, menghirup aroma rambut Alena. Aku yang sekarat masih saja berbuat dosa. Semoga kelak Tuhan mengampuni semua dosaku.
Aku mahir bercerita.
Dan berbohong.


*


“Cici, aku berangkat kuliah dulu ya! Jangan lupa mengambil bakpao di Koh Siang ya, sama bayarin pulsa aku sekalian ya,” Alena menyelampirkan tasnya dan berjalan cepat ke arah satu-satunya motor yang kami punya.
“Hati-hati, Alena,” pesanku.
Pagi ini aku berjalan-jalan mengitari Ketandan, dan mampir di toko bunga Bapak Rejeki. Iseng-iseng aku membeli bunga mawar dalam pot, beberapa tangkai mawar merah dan bunga sedap malam. Mawar dalam pot itu sudah aku tata di teras depan, dekat dengan pintu masuk kafe. Tangkai-tangkai mawar merah dan sedap malam ini sedang aku tata pada vas keramik meliuk yang tinggi memanjang dengan gambar perahu dan beberapa pelaut. Aju jadi ingat dengan lambang jangkar yang ada di hampir semua rumah di Ketandan tempat aku tinggal ini. Kampung Ketandan, kampung Pecinan.
“Aha, mawar dan sedap malam!” Koh Siang masuk ke toko kami.
“Selamat siang Koh, baru saja saya mau ke rumah Kokoh buat ambil bakpao, malah Kokoh udah kesini duluan,” jawabku.
“Sekalian mampir, mau ke pasar juga soalnya. Ini bakpao kacang hijau dan daging ayam pesananmu, Ci.” Koh Siang meletakkan senampan penuh bakpao yang masih mengebul. Segera aku terima dan aku gantikan wadahnya ke dalam panci stainless yang sekaligus pemanas, agar bakpao-bakpao itu tidak kedinginan.
“Nampannya titip sini dulu saja ya Ci, malas bawa-bawa nampan ke pasar,” pesan Koh Siang.
“Baik Koh, saya simpankan dulu. Uhuk... uhuk... uhuk... uhuk!” tiba-tiba dadaku sakit dan nyeri bukan main. Rasanya susah sekali bernafas, susah mengeluarkan nafas juga. Reflek aku berpegangan pada vas bunga dengan rangkaian setengah jadi itu. Tak kuat rupanya menahan berat tubuhku, vas itu ambruk, menggelinding di atas meja kasir.
Tapi Koh Siang segera menangkap vas itu, dan menggamit lenganku.
“Cici, kamu ndak papa?” tanya Koh Siang khawatir. Aku hanya menggeleng, masih berusaha mencari-cari oksigen diantara nitrogen-nitrogen yang memabukkanku siang ini. Sakit sekali rasanya. Aku menutup mataku, barangkali ini saatnya aku akan mati.
Tanganku yang bebas meraba-raba laci paling bawah dari meja kasir ini, mencari tablet-tablet pengusir rasa sakit ini sambil mengingat-ingat, apakah pagi tadi aku sudah minum obat.
“Cici, aku ambilkan air putih dulu!” Koh Siang beranjak menuju bar kayu sederhana dan menuangkan segelas air putih untukku. Aku buka penutup obatku, dan menumpahkan isinya di atas meja. Tanganku bergetar hebat, antara menahan nyeri dan sakitnya dadaku, dan menahan tubuhku agar tidak limbung. Kanker paru-paru stadium tiga, otakku menyerukan kalimat itu berulang-ulang.
Darah segar menyeruak diantara batuk-batukku, tertahan di tanganku.
“Ini Ci, diminum dulu,” Koh Siang menyodorkan segelas air putih. Kuambil sebutir tablet berwarna merah muda itu, dan segera meminumnya.
Koh Siang hening di depanku. Aku juga terdiam.
Masih kaget dengan apa yang terjadi, aku mengumpulkan waktu untuk menyembuhkanku. Lima menit. Sepuluh menit.
“Cici sudah baikan?” tanya Koh Siang. Aku menerawang, kemudian fokus memandang wajah Koh Siang.
“Tolong jangan beritahukan hal ini kepada Alena, Koh,” ujarku masih bergetar. Sisa-sinya nyeri itu tidak mau hengkang dari dadaku rupanya. Tapi hidungku sudah mau menangkap oksigen seperti yang dimaui tubuhku.
Koh Siang terdiam di tempatnya berdiri. Aku memandang wajahnya nanar.
“Batuk Cici berdarah... Cici TBC?” tanya Koh Siang. Aku menggeleng pelan.
Airmataku perlahan mengalir. Di depan Koh Siang aku memohon agar rahasia ini tidak bocor kemana-mana.
“Barusan yang saya minum obat kanker, Koh,” Koh Siang terkesiap mendengar jawabanku.
“Ya Tuhan... Cici harus segera berobat ke dokter!” dorong Koh Siang. Aku menggeleng.
“Nggak Koh! Kokoh, saya mohon, ini hanya antara saya dan Kokoh,” aku memegang tangannya. Koh Siang sekali lagi tertegun, dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan.


*