Tampilkan postingan dengan label #curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #curhat. Tampilkan semua postingan

Mei 07, 2018

Life These Lately Months

Yeah, hello.
It feels so awkward to review our own life, right? In our perspective, our lives suck, don't they? 2018 has been going for more than 4 months, resolutions has been declared, clean and clear. Yah, so far it's not bad, but some of them didn't go as i planned.

Kecewa? Sudahlah capek kalau harus berlama-lama kecewa. Bukankah seninya hidup itu seperti itu? Aku sekarang sedang berusaha meluweskan diri terhadap hal-hal yang awalnya tidak bisa aku tolerir dengan melabeli diriku dengan sok asik: i am inelastic to mundane affair. yeah i was so fucking arrogant but sometimes i need that arrogance too. So yeah, don't be a bigot of something. LOL. Really, i want to laugh at myself right now.

Akhir-akhir ini kantor sedang tidak banyak kerjaan, terutama yang pasti karena ini adalah bulan-bulan lelang proyek, dan ini masih dalam rangka bubaran tahun selesainya proyek. Jadi kalau akhir bulan yang pas dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru orang-orang asyik piknik dan liburan kemana-mana, aku (dan suami) sibuk dengan deadline proyek yang harus tutup tahun. Dan sekarang, saat yang lain kerja dengan normal, aku jam segini di kafe dong. Nulis ginian. Cukup adil, ya? Bukan libur, ini sedang nunggu Kerangka Acuan Kerja (KAK) mana yang harus dibuat Usulan Teknis (Ustek) untuk kebutuhan lelang proyek. Ya, yang lain kerjaan mah udah ada aja dari awal tahun, kami masih harus cari proyek buat makan sehari-hari, Bro Sist. Jadi, beda itu biasa ya. Bersyukur saja, karena percaya sama Tuhan adalah koentji. Ingat, Tuhan akan cukupkan. Lagi relijius, kau?

Lagi, awal tahun ini aku punya resolusi, anggap saja resolusi kecil-kecilan yang sebenarnya ingin mengubah pola hidup ke arah yang lebih baik ya, dengan dua hal besar yang mungkin bisa di-break down menjadi banyak rincian kecil yang mugkin bagi banyak orang sudut pandangnya akan beda dengan diriku. 
  1. Persering memasak sendiri di rumah. Awalnya kulihat ini adalah sebuah usaha untuk penghematan pengeluaran bulanan ya, tapi ternyata dampaknya lebih dari itu. Mau dikupas satu-satu macam buah jeruk? Pertama, selain bisa mengirit pengeluaran untuk makan, ternyata ini bisa meningkatkan kadar kesehatan tubuh. Tahu teori garbage in garbage out? Nah itu aku asumsikan bisa berlaku terhadap tubuh kita. Kumasak semua bahan makanan itu dengan cinta dan sayang, jadi semacam aku berikan doa kepada anak dan suamiku agar selalu sehat panjang umur. Usaha, boleh kan? If you want something, make an effort! Kedua, itulah. Kalau lapar, masaklah dulu baru bisa makan, kalau menginginkan sesuatu, usahalah dulu baru bisa kamu dapatkan itu keinginan-keinginan yang kadang absurd. Sedikit delay gratification tapi hasilnya, puas tak kau, eh? Paham dengan benefit yang kedua ini? Ketiga, tak lain dan tak bukan adalah aku semakin sering main ke pasar, mengerti perkembangan harga, berkomunikasi dengan pedagang pasar, dan punya langganan tempat beli sayur. I take that as a benefit.
  2. Perbanyak baca banyak buku. Membaca buku adalah sebuah sanctuary buatku. Tak melulu tempat, kegiatan yang menenangkan juga termasuk sebuah sanctuary yang bisa kudatangi kalo lagi suntuk dan jenuh dengan rutinitas. Ya tak bisa dipungkirilah, mulai aktivitas dari sejak alarm subuh berkumandang sampai tidur malam jelas bikin jenuh kan? Relaksasi dulu dengan membaca. Dari membaca, aku semakin memahami banyak hal, mengasah kepekaanku, emosiku, perasaanku. Sometimes, i think that all engineers need to read some books, not a non-fiction one, but sometimes to sharp your feelings, grow your sympathy and empathy up. Dan posisikan dirimu sebagai gelas kosong yang siap menerima ilmu apapun. Dan tentu saja untuk bisa menjadi gelas kosong, kamu harus bisa rendah hati. Hello, you, who has big ego, please come to my sanctuary. Jadi kira-kira sebulanan ini, setelah selesai membaca beberapa buku, aku mengalami sebuah trans pada diriku. Bukan trans yang terus aku kerasukan atau nari-nari penuh penghayatan gitu, tapi aku merasa bahwa apa yang aku ketahui saat ini masih belum cukup. Aku merasa belum pintar, aku masih haus hal-hal baru, pengetahuan baru. Aku merasa muak dengan sosial media, muak dengan orang-orang yang sibuk mem-personal branding-kan dirinya (paham nggak paragraf ini? Personal brand?) sebagai yang (paling) asyik, paling benar, paling miyatani, paling cantik, langsing, etc you name it. Padahal ya biarin kan ya orang-orang kayak gitu, kalau akunya nggak suka, ya sudah nggak usah dilihat. Ya, kemudian aku sampai pada kesimpulan seperti itu setelah aku uninstall facebook app di ponsel dan beralih membuang sampah pikiran di twitter. Kemudian kalau sudah gitu, rasanya pengen semakin banyak membaca, belajar, bahkan kuliah lagi kalau diperlukan. Sebuah keadaan yang kupikir cukup fucked-up dan membuatku tidak percaya diri.
Oiya, ngomong-ngomong soal percaya diri, sejak mempunyai anak, kepercayaan diriku melesat turun drastis. IDK what happened in me, tapi kurasa aku menemukan beberapa wanita juga mengalami hal yang sama. Jadi sekarang aku masih dalam usaha mengembalikan, bahkan menaikkan kepercayaandiriku hingga ke taraf yang aku butuhkan dan sesuai dengan kapasitasku. When you see me as calm as an ocean, yang sebenarnya adalah aku berantakan banget dalemnya. Ya hatinya, ya pikirannya. I can't stop thinking, or at least, i THINK i can't stop thinking. Semacam, tenang sikitlah kau, hidup jangan kau bikin berdebar naik turun kayak indeks IHSG, dong! 

Kemudian, kesimpulan untuk 4 bulan tahun 2018 itu apa? Ya tidak ada, selain betapa berantakannya diriku. Aku tidak ingin menilai dengan 1,2,3,4, atau 5 bintang tingkat kualitas hidupku, karena yang aku inginkan adalah hidup yang lebih baik dari dari kemarin. Hidup yang aku usahakan dengan pola yang terus kuperbaiki dari hari ke hari (entah ini keliahatan atau enggak, nggak ada yang mengapresiasi juga selain diri sendiri). Semoga tutup tahun ini aku bisa meningkatkan kualitas hidupku, menambah ilmuku, dan semakin percaya diri dan, please, ACCEPT YOURSELF, INDA. Surrender, macam Thor yang merelakan Asgard hancur tapi harga diri dan rakyatnya melambung tinggi saat melawan Hela dan kemudian diserang Thanos. Be like Thor, Inda, move on dari Jane Foster secepat itu, dan meskipun kehilangan satu mata, dia ikhlas.
IYAIN AJA DEH BIAR CEPET.

Maret 28, 2018

Berdamai dan Melepaskan

Postingan ini ditulis karena kegelisahanku beberapa malam ini. Kepikiran sampai dibawa tidur. Tidur tidak nyenyak, sebentar kebangun, sebentar tidur masih dengan otak yang memikirkan hal yang sama berulang-ulang. Lelah, bukan? Aku nggak tahu apa ada teori yang mengatakan kalau otak tidak ikut tidur meskipun raga kita sedang tidur. Sekali lagi, en-tah-lah.
Dan postingan ini ditulis sambil mendengarkan Payung Teduh yang Alhamdulillah ya lagunya lebih bagus dari Akad yang ya-apalah-menurut-saya. 

Mengapa takut pada lara
Sementara semua rasa bisa kita cipta
Akan selalu ada tenang
Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Ya, sayangnya benar sekali. Kenapa harus takut dengan lara? Beberapa hari ini aku nggak tahu gimana caranya, tersibukkan dengan membaca status facebook pada rentang tahun tertentu. 2010-2011 adalah tahun-tahun terberatku. Tapi nggak tahu gimana ya aku tetep kelihatan semangat-semangat aja, ketawa-tawa aja, ngelucu, ngelawak, bahkan sempat ngegombal. Padahal di dua tahun itu masing-masing aku kena penyakit patah hati akut yang kemudian berimbas pada mindsetku: udahlah semua cowok itu kalo nggak bangsat ya bangsat banget.

Patah hati yang pertama di tahun 2010 disponsori oleh hubungan jarak jauh dan hubungan dengan permantanan. To be honest, aku paling paling paling benci urusan sama mantan, mantannya pacarku contohnya. Sejak saat itu jelas aku trauma nggak jelas kalo udah urusannya deket sama cowok. Selalu pengen kutanyain: urusan lo sama mantan lo udah kelar belom? Udah beres belom? Kalo belom, kelarin dulu, baru bisa lo deketin gua. Semacam itu, tapi jelas aku nggak ber-elo-gua, ya. 
Urusan mantan ini memang pelik. Aku sendiri selalu cut the shit off kalo udah putus ya udah putus aja. Nggak bakal lagi sok menye-menye sama mantan, dan ya udah sih jomblo itu enak banget ternyata ya. Pikiranku kala itu.
Menyibukkan diri, semakin rajin ikut kegiatan di kampus, makin rajin belajar dan membaca (komik), main sama temen-temen, makan yang banyak, tidur, bahkan bisa pup dengan tenang. 

Hingga tahun 2011 ikut KKN-lah aku. KKN yang kuikuti kala itu benar-benar membekas segala-galanya buat aku. Mau nangis, mau ketawa, udah semuanya jungkir balik. Terjebak friendzone yang berdarah-darah, yang bakal sembuh dan legowo beberapa tahun kemudian. Nangis nggak karuan sampai udah nggak bisa keluar air mata. Meskipun pada saat itu aku juga melepaskan masa lalu yang udah menggerogoti pikiranku sejak dulu, jauh dari tahun 2011. Amazing bukan, rasanya? Sementara aku juga sibuk dengan urusan skripsi, kerja sampingan di MPKD dan konsultan. Cari uang, cari kesibukan.

Yang entahlah semua kejadian selalu di deket-deket hari ulang tahunku. Kadang kupikir, apa aku dikutuk pada tanggal itu? Aku lahir dengan membawa serta nestapa. HALAH SA AJA LAU REMAHAN KHONGGUAN!

Mau move on, mau melepaskan lagi rasa-rasa di tahun 2011, lha tiba-tiba datang kado berupa ipod yang katanya bisa mencentang salah satu wishlist-ku. KHANMAEN KHAN PA YA AQU BISA MUV ON JIKA DIKAU TERUS BEING TOO GOOD TO BE TRUE BEGITU? Ingin memaki-maki diri sendiri, berteriak betapa gila dan bodohnya aku kala itu. Tapi ya sudahlah, kuharap waktu bisa menyembuhkan segala-iya-segala-galanya yang gelap dan pengap ini. 

Time heals. How long does it take? Ternyata, setahun saja tidak cukup. Aku hanya lari, terus lari dan enggan berhenti sekedar menatap realita. Berlari dari satu buku ke buku lain, berlari dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Berlari dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang ketemunya sama saja: lo cuma kelamaan lari, tapi kalo lo nggak bisa forgive and forget, ya sama aja, dasar curut! 

Kadang aku juga bisa setegas itu sama diri sendiri.

Hingga ada fase sendiri, yang aku benar-benar sendiri. Bertemu dari satu psikolog ke psikolog yang lain (yang untungnya sih temen sendiri ya, jadi gratisan, lol). Diajari bagaimana menenangkan diri, fokus pada tujuan, dan tentu saja, santai saja. Nggak perlu lari, jalani saja. 

Tahun 2012 akhirnya skripsi selesai, aku wisuda dan langsung keterima kerja di sebuah konsultan di Jogja tanpa kesulitan -- hingga sekarang. 2012 adalah tahun yang damai, beriak lembut, dan meskipun ada desir-desir sedikit, aku mampu meredamnya. Banyak-banyak mempositifkan diri, beribadah, berteman, tertawa, dan tersenyum. Hingga tahun 2013 datang. Ketenangan itu masih ada. Bukan hidup namanya jika kita hanya merasakan bahagia terus. Ombak itu datang. Sangat besar. Teramat besar. Aku limbung dan sempat sangat impulsif: apa aku keluar dari kerjaanku, cari beasiswa ke luar negeri dan pergi. YA, AKU INGIN LARI LAGI. 
Aku ingin tempat yang baru, lingkungan baru, teman baru, dan fokus belajar. I cannot tell you masalah apa menerpaku, let it be my secret. Bahkan menuliskan ini masih bisa bikin aku meneteskan air mata :)
Oiya, dan di tahun 2013 ini akhirnya aku bisa berdamai dengan masa lalu di tahun 2011. Misterius dan unpredictable sekali, bukan? Akhirnya, teori time will heal ini efektif juga di aku. Bisa bernafas lega.

Sekarang, lima tahun semenjak kejadian tahun 2013, yang hanya AKU yang tahu dan paham benar bagaimana rasanya, legowo itu masih belum hadir 100%. Bersyukur sudah sedikit-sedikit merasa enakan. Forgive and forget, apakah ketika kita sudah memaafkan, otomatis kita akan melupakan? Aku tidak tahu makna memaafkan. Mungkin terdengar egois, karena ketika orang meminta maaf padaku, aku selalu sengan mudah memaafkan, tapi kusimpan baik-baik kenangan tentang perlakuannya itu padaku. Honey, scars remain. Aku tidak mau seperti keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, bekas luka itu kugunakan sebagai pengingat agar aku tidak lagi melakukan kesalahan yang sama pada ORANG yang sama pula. Dan tulisan ini dibuat, murni sebagai upayaku berdamai dengan masa lalu, dan tentang melepaskan. Melepaskan semua lelah, melepaskan semua yang menyakiti, melepaskan. Lepaskan semua, hei, kamu, hati!








 

Januari 16, 2018

2018

Sangat terlambat, karena post dengan judul seperti diatas seperti sudah menjamur dimana-mana. Tidak apa-apa, karena pemikiran tentang tahun baru justru sedang berproses dalam kepala saya. Postingan ini bisa dibilang postingan serius, dan mungkin akan panjang. Atau tidak, semauku saja, oke?

Mengenal pergantian tahun, kita seakan dibangunkan dari tidur, kemudian dipaksa untuk merancang rencana untuk setahun kedepan; apa yang menjadi resolusi kita, seolah tahun baru adalah pemisah waktu, garis dimana semua dimulai dan seluruh rangkaian kejadian tahun kemarin kita tutup. Atau, begitulah khalayak memperlakukan tahun baru. Dengan begitu lugunya, aku pun pernah begitu. Memanjatkan begitu banyak harapan yang pada akhirnya terhempas sia-sia pada pertengahan tahun, dan menyesal karena resolusi yang telah dirancang sebelumnya hanya semacam bullshit terpopuler. Bertahun-tahun. Bertahun-tahun saya terjebak pada zona dimana semua harus dirumuskan dan dipajang di sosial media dengan menawan agar diberi likes sebanyak-banyaknya. Kisah ini muram, dan kini memalukan.

Lantas, apakah sekarang masih relevan? Relevan saja, terserah mau berintepretasi seperti apapun juga, iya kan? Memaksakan kacamata kita kepada orang lain itu sungguh berdosa, dan semoga aku bukan golongan yang seperti itu.

Di dalam kepalaku sendiri, aku memiliki beberapa poin yang ingin aku benahi dari hidupku. Akhir tahun lalu sangat menyedihkan, and i can't describe it why. Ada beberapa hal yang ingin aku simpan sebagai konsumsi pribadi saja. Terbersit di pikiran buat menemui psikolog (atau psikiater? I don't know the difference and i don't care). Sampai pada taraf menemui terapist untuk menenangkan dan menentramkan diri. Tapi ternyata sampai sekarang masih aku urungkan niatku. Aku mencoba menentramkan diriku sendri, mengeluarkan segala sampah yang (mungkin) menjadi penyebab sakitnya pikiranku. Thanks to Evernote, so i can bump those garbage out everytime everywhere.

Dan untuk menghibur diri, aku mebuat sebuah angka sebagai deadline diriku sendiri, yaitu angka jumlah buku yang harus selesai kubaca tahun ini. Tidak muluk, hanya 2 buku per bulan, atau 24 buku per tahun. Bulan ini sudah lunas, Alhamdulillah, dan aku mulai menikmati hobi lama yang tersendat-sendat selama setahun kebelakang. Memberikan waktu dan jeda untuk diri sendiri itu ternyata sangat penting. Seberapapun banyaknya tugasmu, rasanya raga dan jiwa itu tetap harus menjadi kebutuhan primer kita. Jangan sampai menjadi sekunder, bahkan tersier. Duh!

Pada suatu malam, suami bertanya, kalau target membaca sudah tercapai, apa yang akan aku lakukan. Jujur, aku tidak tahu. I don't want to take things for granted, membaca sendiri sudah membuatku senang. Jadi mungkin, ini baru mungkin, membagi kebahagian itu kepada orang lain. Mungkin dengan menulis review buku yang sudah kubaca? IDK, that's just a thought.

Harapan. Tentu semua orang punya harapan, tidak terkecuali aku. Harapan-harapanku mulai bertumbuh sejak akhir tahun kemarin, sejak hari dimana aku menemukan dirimu begitu rapuh dan mudah retak. Kugenjot terus buuih-buih harapan agar aku kembali segar. Terus kubisikkan pada diriku sendiri bahwa bahagia itu tidak perlu ribet. Bahagia bisa terletak pada sepiring tempe goreng balur tepung yang super kriuk lengkap dengan cabe hijaunya. Bahagia bisa terletak pada ciuman-ciuman spontan dari suami. Bahagia bisa terletak pada pelukan mesra anak pada kita. Bahagia bisa saja ada di diri kita sendiri tapi luput kita rasakan. 

Jadi, mungkin tahun baru buatku hanya sebuah selebrasi saja, bahwa masih ada bahagia yang diciptakan oleh kembang api-kembang api itu. Meskipun, lagi, bahagiaku adalah bisa tidur selama 3 jam berturut-turut pada malam pergantian tahun.

Oktober 10, 2017

Nothing Stays The Same, and That's The Challenge

Cheerstraw!! :)
Hai, long time no see. Liat update terakhir blogspot, kok udah tahun lalu, dan seketika aku merasa tidak berguna. Terus, siapa suruh punya dua blog, sih, Nda! Kemudian hari ini aku kepikiran sesuatu, tentang blogku yang ini. Ini blog tertuaku, sudah banyak post yang aku publish disini dan sejak tahun 2015, sudah aku putuskan kalau blog yang ini hanya akan menjadi tempat publikasi karya fiksiku. Ya, memang aku bukan penulis tenar. Tapi setidaknya, aku penulis, kan, karena aku menulis? Lebih dari itu, aku percaya kalau suatu hari waktu akan memberi jalan, jadi selagi bisa berkarya, kenapa tidak terus berkarya?

Sepertinya tulisan kali ini akan mengandung curhat, karena siang ini aku napas tilas tempat-tempat yang dulu udah menjadi lingkungan kedua setelah rumahku. Ya, benar, lingkungan kost. Aku makan siang di warung soto yang dulu sering aku datangi. Aku mengendarai motor menuju Ekologi (biar dikira kekikian, lol!) melewati Pogung Pandega, melewati laundry langgananku yang wanginya merebak membuatku semakin tenggelam dalam nostalgia-nostalgia kecil semasa malas mencuci di kost (baca: emang selalu laundry, bocahnya udah males kalo sama urusan kucek-mengkucek baju cucian lol). Lalu aku sadar sesadar-sadarnya: lingkungan ini memang sudah berubah. Nothing stays the same.

Makin jauh aku semakin banyak berpikir. Berapa lama waktu yang sudah aku lalui sampai sekarang, sampai menjadi aku yang sekarang. Berapa banyak aku sudah bersyukur? Hidup sering menawarkan hal-hal diluar ekspektasi kita, seperti misalnya ketika sudah sampai Ekologi, eh, ternyata penuh. coworking space-nya juga penuh, atas bawah. Jadilah aku keluar lagi dan mencari tempat lain. Dapat, Eastern Kopi TM. Not bad. Not bad at all, karena mau bilang bagus kok menu kopinya cuma dikit banget. Jadilah pesan es teh dan kaya-cheese toast. Agak berlebihan, padahal di menu hanya tertulis roti bakar kaya keju. HAHAHA GOTCHA! 

Sekarang memang ada hal-hal yang membatasi aku, karena aku sudah menjadi Ibu. Suka-duka menjadi ibu aku tuangkan di blog tema parenting yang berbeda dari ini (baca: maretseptember.wordpress.com). Biarkan blog ini selalu menjadi blogku, aku, yang tidak berubah ditempa waktu. Aku yang selalu menjadi si sinis semenjak kuliah, aku yang tidak mudah percaya akan hal-hal yang belum aku cerna, aku yang memang suka mengamati (pemerhati, bukan aktivis) dan lebih suka mendengar ketimbang bicara, aku yang menuangkan apa yang tidak bisa aku ucap melalui tulisan-tulisan seperti ini.

Adalah sebuah hal yang penting, ketika kita punya waktu barang satu jam untuk menjadi diri kita sendiri. Memencet tombol F5 (jadul!) untuk memberikan kita sedikit kelonggaran dalam melepas embel-embel istri, ibu, karyawan, anak, atau apapun yang mempredikatiku. Aku hanya ingin memiliki kebebasan barang satu jam untuk melakukan apa yang aku mau: menulis blog. Kelak kita semua akan tahu, how important this one hour is. Begitulah, manusia kadang juga lelah dengan segala gelar yang disandangnya, meskipun banyak yang memuji betapa mulianya kita telah menjadi ibu, betapa pintarnya kita telah menjadi sarjana, betapa aktifnya kita menjadi karyawan perusahaan swasta, dan lain sebagainya. Tapi selalu ada yang terlupa, bahwa kita juga memerlukan kesendirian untuk menikmati perjalanan bathin kita, mengevaluasi diri kita sebagai seorang individu yang juga berpredikat makhluk asosial. Sendiri menjadi sesuatu yang mewah, karena jarang sekali kita dapatkan. Dan bulan-bulan ini, apalagi. Ugh!

Ada apa dengan bulan-bulan ini? These months, i tellya, are a very tiring month! Semua tidak selalu datang bertubi-tubi, tapi semua datang beriringan, tanpa jeda. Ini, sejujurnya, membuat kewarasanku agak kurang terjaga. Aku sering bengong memikirkan betapa banyak hal-hal yang tidak bisa aku lakukan, atau betapa banyaknya waktu yang terbuang hanya dengan hal-hal nggak penting (aku ingin banting hape saja!). Dulu aku bisa saja menulis sampai larut malam karena tidak ada yang harus diurus siang malam maupun tidak ada yang harus dipersiapkan sebelum pagi menjelang. Tapi sekarang tentu udah berubah, tapi aku hanya akan bilang kalau ini hanya soal ritme yang belum pas saja. Kupikir. Tapi ya... memang semakin dewasa semakin kita menemukan bahwa hobi kita adalah sebuah tempat nyaman dimana kita berharap bisa bersandar padanya seharian, meskkipun pada akhirnya hanya bisa dihitung dalam hitungan menit saja.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya berakhir menjadi sesuatu yang nirfaedah. LOL. Jangan lupa menjaga kewarasan, kalian diluar sana!

Januari 16, 2015

Lelaki yang Berbelok

Lelaki itu orang yang baik. Aku tahu dari cara dia menatap saya. Sikapnya seolah berbicara dengan santun, mengajak saya untuk berteman. Aku tidak tahu, hingga saat ini aku masih belum bisa membuka diriku dengan siapapun.

Seusai pertemuan di kedai kopi tadi pagi, aku hanya bisa duduk termangu di dalam kamarku seharian ini. Entah bagaimana bisa, kepalaku dipusingkan oleh berbagai macam hal yang aku sendiri tidak tahu apa saja. Terngiang kembali pertanyaan lelaki itu, apakah aku baik-baik saja? Tidak ada yang baik-baik saja di dunia ini, aku selalu meyakini hal itu. Yang aku tahu, manusia adalah agen penghancur yang maha dahsyat. Dan mereka akan saling menghancurkan hingga keberadaan dunia berakhir.

Hujan mulai mengguyur bumi. Aku masih termangu di samping jendela kamarku, memandang rintiknya yang mulai menderas. Apa yang salah pada diriku? Apa yang salah pada orang-orang? Kenapa aku menyukai segala hal yang sepi dan sendiri?


Aku pernah bertanya-tanya, akan menjadi apa aku nanti Enggan membuka diri lagi hanya karena satu hal fatal yang membuatku menutup rapat-rapat diriku sendiri? Mungkin mereka bilang omong  kosong! Semua orang berlomba-lomba untuk pamer, semua orang berlomba-lomba menampakkan dirinya sendiri, tapi mengapa aku tidak ingin? Mengapa aku justru ingin orang-orang tidak mengenalku saja? Apa pentingnya hidup di dunia jika hanya mengedepankan eksistensi tanpa bisa berbuat banyak untuk yang lain? Bukankah itu namanya egois? Bukankah itu namanya mementingkan diri sendiri? Ah sudahlah, mungkin aku mulai lelah. Aku ingin tidur.

*

Pagi itu aku sudah besiap berangkat bekerja. Sebelumnya, aku ingin sarapan dulu di kedai kopi langgananku itu. Aku tidak tahu, apakah lelaki itu akan ada disana lagi atau tidak. Aku hanya ingin sarapan kopi hitam dan telur setengah matang.

*

Suasana kedai masih lengang. Aroma kopi menusuk indra penciumanku dan membangkitkan rasa laparku. Kali ini aku membawa buku Seno Gumira Ajidarma untuk menemaniku sarapan. Aku duduk di bangku paling ujung, dekat dengan tembok dan jendela kedai, menghadap jalanan. Diam-diam aku mulai menghitung jumlah kendaraan yang berlalu-lalang di depanku. Tiba-tiba aku melihat lelaki itu, tepat di depanku. Berdiri di seberang jalan, dengan sepasang matanya yang menatapku dalam-dalam. 

Syukurlah...

Entah apa yang kupikirkan, tapi kehadiran lelaki itu membuatku sedikit lebih tenang. Mungkin hari ini aku harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran lelaki itu. Mungkin sejak hari ini aku akan mendapat teman berbicara. Lelaki itu berjalan menyeberangi jalan. Kemudian berbelok... menjauh dari kedai. Ada apa?

Januari 13, 2015

Mata yang Berkaca-Kaca

Saya melihat gadis itu lagi pagi ini. Masih sama dengan dirinya yang kemarin. Rambutnya masih tergerai tanpa hiasan apapun. Bajunya masih sederhana, berwarna krem dengan celana jeans yang sama seperti yang dia kenakan kemarin.

Dan dia masih sendirian.

Memesan kopi hitam kesukaannya dan mulai duduk menyendiri. Saya tahu, beberapa meja dari tempat dia duduk, ada beberapa orang temannya. Mereka selalu bercanda dengan suara yang keras, membicarakan hal-hal lucu dan tertawa-tawa riang. Tapi gadis itu hanya diam dan sibuk dengan buku yang dibawanya. Iya, dia membawa sebuah  buku. Gadis itu selalu tenggelam di dalamnya. Kadang dia lupa untuk menyeruput kopinya hingga kopinya berubah dingin. Saya selalu penasaran dengan apa yang gadis itu pikirkan. Saya penasaran dengan dunianya.

Suasanya kedai kopi pagi ini cukup lengang. Hanya ada gadis itu, dan tak lama kemudian datanglah rombongan teman-temannya yang akan duduk bergerombol, membicarakan apa saja. Saya heran, kenapa gadis itu tidak bergabung saja dengan teman-temannya itu. Mereka hanya akan saling melempar senyum dan membalas sapaan dengan seperlunya.

"Hidup memang harus seperlunya," kudengar dia berkata.
"Kenapa kamu tidak bergabung dengan mereka?' tanya saya memberanikan diri bertanya.
"Salah satu dari perempuan disana membenciku. Aku tidak mau menghancurkan kegembiraannya dengan kehadiranku." Gadis itu tersenyum. Saya tidak paham dengan pola pikir gadis itu.
"Mengapa?" tanya saya.
"Karena saya terbiasa bersenang-senang sendiri."
Saya tidak mengerti mengapa dia bisa bersenang-senang sendiri.
"Tapi kamu terlihat kesepian," ujar saya. Gadis itu terdiam. Memandang kopinya seakan itu adalah satu-satunya obyek pandang yang ada di ruangan ini.

"Saya  baik-baik saja," jawabnya sambl tersenyum.
"Kamu boleh cerita sama saya jika ingin. Saya tahu, perasaanmu sedang tidak baik-baik saja."
Gadis itu terdiam lagi. Kemudian tersenyum kecil.
"Saya baik-baik saja, terima kasih."
"Ayolah..."
"Saya tidak terbiasa membebani orang lain dengan masalah saya. Saya terbiasa sendiri menghadapi sesuatu."
"Kamu butuh teman berbagi."
"Saya butuh teman dengan empati. Terima kasih. Saya memang suka begini, sendiri, tidak menyakiti orang lain, tidak membicarakan orang lain, tidak menjadi beban orang lain."

Gadis itu berdiri dan mulai melangkah pergi. Ada rasa sesak yang muncul dalam diri saya. Saya belum pernah bertemu gadis seperti itu, dan mungkin saya tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.

Sekilas sempat saya lihat wajahnya terlihat sedih. Dalam matanya tersimpan kesepian yang tidak berdasar. Entahlah, entahlah. Mata itu berkaca-kaca. Mata itu menyimpan air mata.























Mei 01, 2013

Happy Engaged, My Friend!

I opened my whatsapp's contacts this morning, around 8 o'clock while the sun shone so bright. I found a picture, profile picture of my ex-boyfriend with his current beautiful girlfriend. Their fingers were lifted, shown a pair of rings encircled their ring-fingers. For any seconds, i was about to be silent. And then i smiled.

He was finally engaged.

My ex-bf i used to call my virgo has finally taken-up. No, i wasn't sad. If my eyes got teary, it must been a drip of happiness in my eyelid. I really was happy for him.  A thought flashily came and infiltrated my head and heart. I was relieved that the shadow that has been haunting me for years finally diminished. The shadow i called false hope. The hope that we, someday, could meet in a better moment finally evaporated.

For the first time after he left me behind, i laughed out loud.
That the thing i was scared of was only a shadow of one of my false hope. I couldn't avoid one thing, he was part of my life. Yeah, it was true. He once loved me. He doesn't.

Happy engaged, the dark knight rider!
Don't make your beloved fiancee get worried about your habit. Yeah, your habit of turning-off all of your gadgets and riding your motorcycle in maximum speed. I really wish that God will grant all of your wishes and hopes. Thank you for being a part of me. We always know, we both know that in the end, there must be an exit line. And you draw it first. I do after you.

Here, i been happy with my life. My current life. :)

Entwined hands like an almost prayer. - @ftkf (source by google)













Desember 09, 2012

She, Him, and The Sacrifices in Between.

One morning, i played Creep by Radiohead without any detention. I just wanted to... listen. An hour later on, i searched the lyric after arriving at the office. Then i mused on one thing: my boyfriend finished over our relationship by giving me that song, by text. He said, "i'm a creep, i'm a weirdo. I don't deserve you"

By that time, i thought he was the meanest creature by said it by text on a cellphone. That time, when i was crying out on the kitchen floor. Yes, it was true, ON THE KITCHEN FLOOR.

1 year and half later, right now, sitting on my office chair and rethink about all of those past stuffs. The key words recorded in my head are broken-up, sorrow, crying, and tears. How dark my life was, i thought.

After listening to that Creep song, i already discovered the new thought. Unexpectedly, my tears burst out. I can hardly hold them to come. Remembrances come out and  lunge my sense. He was not that mean. Below are the lyrics:

When you were here before
Couldn't look you in the eye
You're just like an angel
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
I wish I was special
You're so fucking special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here

I don't care if it hurts
I want to have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice when I'm not around
You're so fucking special
I wish I was special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am i doing here?
I don't belong here

She's running out the door
She's running out
She runs runs runs

Whatever makes you happy
Whatever you want
You're so fucking special
I wish I was special

But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
I don't belong here


Man, what was not meant to be was just the meanest to be? Because your family was broken and you had bad luck unlike others, you thought that yourself was not as good as others, even, me?
I told you repeatedly, i didn't care about the craps around you. Your Mama, your Papa, and the divorce in between.
"I let you go because i love you"
You know, how deep those words bleed my heart? If you had miles of  list of 'why-things', then why i should not have the same stuff of 'no-reason-things-to-love-you'? Because you're creep?

I don't deserve that song. I'm not that special. I'm like you, trapped on our own feelings of unlucky human.
Dear, my heart be crying this present. How you made a distance just to keep me in a good situation, how you saw me as a whole perfect girl that was so special that you thought that yourself was the ugly-duck, how you whispered me words in a poem, how you treated me in that short time of months. Then, my unconscious beliefs of those. I'm feeling bad to accuse you such a bastard, and a heartless man. In other hand, you yourself have been wounded by the deed you done for me. FOR me, the one who loved you so drop dead much? It's unfair, it's unfair.
Why does it take almost two years to realize our silent sacrifices?
One thing, we're sick, we did what was best for each.
You did this for me, i did that to you.
God, there will be crossed line between us, again?

Desember 02, 2012

Silly Repetition, Yes Me.

Hai halo. Udah lama nih nggak nulis disini. Habisnya, beberapa bulan ini curahan perasaan aku udah aku limpahin dalam novel-novel itu. Aku bisa apa sih? Tapi ya, kalo sekarang ini, rasanya aku kaya diobok-obok. Begini ya, biar aku perjelas, ini kaya repetition bodoh yang kaya seorang masokis, aku ulangin sendiri dengan perasaan sadar-sesadar-sadarnya.

Bodoh. Cuma itu yang pengen aku bilang. Aku pengen teriak, pengen nangis tapi nggak ngerti juga harus nangis dan teriak sama siapa.. Baru tadi sore aku ingin banget punya wajah yang lebih oke ketimbang otak yang cemerlang. Daya analisis yang nggak sengaja aku terapin pada hal baru yang aku temui bikin aku pengen muntah membayangkan result yang aku terima. Kenapa? Iya, ada hubungannya sama cowok

Tapi aku punya dua pilihan. Pertama, aku harus ninggalin dia, sekarang atau nanti. Inilah yang aku bilang pengulangan bodoh. Dulu sewaktu SMA aku pernah juga mengalami kejadian seperti ini, memiliki ketertarikan, dan daya tarik menarik yang kuat, hukum aksi reaksi dengan cowok yang berbeda keyakinan sama aku. Ini mengesalkan banget, mengingat sejujurnya aku juga bukan orang yang alim banget. Tapi perkataan Ibu selalu terngiang-ngiang terus di aku. Nggak perlulah ya aku kasih tau apa sabda Ibu.

Kedua, aku bisa saja meneruskan hubungan-tak-tentu arah ini ke jenjang yang lebih tinggi. Iya, mengingat saat ini aku dan dia lagi menjalankan peran Kearra-Panji yang sedikit banyak mencubit-cubit hati. Aku tau, pilihan kedua ini bakal menemui lebih banyak hambatan ketimbang pilihan pertama tadi. Ya, aku kalah oleh perasaanku sendiri.

Dan tentu saja, akhir-akhir ini aku sedang sulit fokus pada satu hal. Logikaku sedang tidak di tempat, mungkin sudah ber-aparate ke suatu tempat entah dimana. Distraksi pikiran, hebat sekali ternyata ya, kreativitas bisa membuat jalannya sendiri, membentuk pola yang mengingatkan aku sama tugas yang lagi aku kerjain. Oke, not a big deal, it is.

Nah, keledai aja nggak ada yang jatuh ke lubang dua kali kan? Kenapa aku malah terperangkap (terperangkap loh, nggak cuma jatuh!) ke lubang yang sama dua kali? Masalah 'itu' dan satu lagi sebenernya, masalah 'percaya' pada apa yang aku yakini sejak awal. Keyakinan yang memuakkan, yang kadang menuntut aku keluar dari zona sadarku sendiri. Perasaan aneh yang datang mengikuti rasa keingintauanku. Semisal saja, ketika aku pertama kali mengenal seseorang, aku selalu merasakan dua hal: 1) pertemuan ini akan berjalan normal ke jalan pertemanan biasa, dan 2) perkenalan ini suatu saat akan menuju ke jalan lain dengan hirarki yang lebih tinggi. Ya, kadang aku terjebak dengan perasaan dan persepsi.

Sudahlah, aku mau nangis dulu ya, tapi ribet nih lagi di kantor. Nanti aja kalo udah sampai kost, mau nangis sambil teriak di bantal biar cuma aku dan diriku saja yang dengar. Dear you, selamat menemukan wanita-lain-yang-lebih-mementingkan-jelita-ketimbang-mempercantik-wawasan-kaya-aku-ini ya. Good luck, mon cherie :).

Oktober 04, 2011

"I love You" is a toy (for you)



Terimakasih Tuhan telah mengirimkanmu untukku

Tuhan memang Maha Adil
terlalu banyak malam yang aku lewatkan dengan impian
meskipun tanpa kesedihan, aku tetap membayangkan
Tuhan selalu menemukan cara terbaik untuk hamba-Nya
mendekatkan hati tanpa kesadaran
menerangkan cinta tanpa kehampaan
membuatku jatuh untuk mempertemukanku dengan jiwamu
tidak penting untuk memahaminya
terlalu sombong untuk tak mensyukurinya
bukan apa yang aku inginkan
tapi kurasakan yang kubutuhkan

the whisper of your voice, the another little things, make me love u
why do i love you ? I think and smile, the list of answers could run for a mile
The way you support me
Even my silly notions
The way that you care
And show such devotion
I know I can depend on you for support and honesty
That patient understanding 
That you always give to me
The dreams that I dream
That all involve you
The possibilities that I see
The things that we can feel
How you finish the puzzle
That lies inside my heart
How deep in my soul
You are a very important part
I could go on for days
Telling of what I feel

But all you really must know is...My love for you is real.

I thank God He sent you to me :)).

Ini adalah waktu gue buka email, dan terselip email dari elo, puisi epertama lo buat gue, yang ternyata masih gue simpen. Pathetic ya, udah jadi mantan, udah ngeboongin gue berkali-kali, keluar masuk kehidupan gue kayak gue facebook yang bisa lo log in dan log out begitu aja, dan gue masih ngga bisa marah sama elo. Ajaib, kalo bukan karena Tuhan yang ngasih gue kesabaran yang segitu dahsyatnya, mungkin udah dari dulu gue lemparin elo dari puncak Monas. Iya, gue cuman bercanda :D

Agustus 29, 2011

KKN-PPM Gondang Pusung #1

Cheerstraw!! :)

Suatu hari pas saya dengerin lagu The Beatles yang Here, There, Everywhere, saya teringat sesuatu. What have you done to them? What have you given to the world? Nothing, yet. Selama ini rasanya saya lebih ke egosentris, selfcenter. Iyah, ini idup gue, so? We don't live alone, bro, sist. Begitulah, then kebetulan waktu itu juga lagi heboh-hebohnya KKN. Kebetulan saya udah masuk di kelompok KKN Unit 124. See how my feeling was...in sorrow! I feel i'm a difference from 'em all. Sempet mikir gini: "ini gue beneran yang paling paling deh ya disini. Is this my world?" 

Daridulu pengennya keluar dari Unit 124, tapi selaluuu aja ada yang bikin ngga jadi keluar. Selalu ada kejadian yang 'memaksa' saya buat tetep stay on that track. Okelah, at least saya masih satu unit dengan sobat saya, yang juga punya perasaan yang sama dengan saya. Emang sik ya, ga santai banget, tapi ya emang begitulah faktanya. Sempet mau escape, yuk ah, kita pergi, keluar begitu. Tapi sampai pas pembekalan itu, ternyata kita ngga pernah bisa. Yasudahlah, kalo kata Bondan Prakoso. Let's see how its life is. Let's see if  i could stay or...?

Yang bikin saya terus merangkai asa ditengah badai rasa ini adalah, niat awal saya. Here, There, Everywhere. Ya, dimanapun, di belahan semesta manapun. Selalu saya membisiki telinga saya sendiri, hey niat lo itu apa? Apa yang mau lo lakuin? Apa yang mau lo kasih, seengganya ke satu dusun bekas erupsi merapi itu? Don't think like a bollock deh, Ndul! I'm not a bollock (but you're a jackass). *ngunyahsepatu*

Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Yap begitulah. Ternyata perasaan gasantai itu terpicu dari kondisi ketidakkenalan saya dengan beberapa karakter yang selama 2 bukan ini udah mengisi hari-hari saya. Yang tadinya mikir: gasantai, ribet ribut ra rampung rampung, ternyata jadi: lucu, ngangenin, unik, konflik yang bikin ngakak, dan pendewasaan diri. Menghadapi beberapa karakter yang berbeda tiap hari ternyata mengasah diri kita untuk lebih ngemong. Itu baru temen-temen KKN. Belum lagi bagaimana saya harus srawung dengan Ibu-Ibu, Bapak-bapak, dengan Bocil-bocil, dengan ABG, sampai pemuda-pemudi. They have different character of course, tapi satu key yang saya pegang sampai akhirnya saya bisa seperti ini adalah: TULUS.

Tuluslah berteman, tuluslah tertawa, tuluslah bicara pada mereka. Tuluslah kamu ingin menjadi teman mereka.

Pernah waktu itu temen saya bilang, tiga hal yang bisa mendewasakan kamu: ketulusan, kesabaran, dan rasa syukur. Tiga hal mendasar yang sering orang lupakan. C'moooon, let's do it!

Unforgettable momment. KKN saya, Alhamdulillah bener-bener ngga akan terlupakan. Beberapa 'kasus' (HAHAHAHAH!) malah bikin KKN terasa semakin hidup. KKN yang lurus-lurus aja itu boring, mamen! *apaansih*

Sekarang pertanyaannya adalah: WHAT HAVE YOU DONE, INDOOO?? *kabuuur*
Eh, pengennya kabur, tapi setelah saya pikirkan lagi, jawabannya: UNCOUNTABLE. Kemudian saya tersenyum sambil kayang, yess you did anything that some people can't ever see. Just keep it in your heart, Indo *senyumpepsodent*

Makasih ya temans, teman hidup saya selama 2 bulan dan ngga pernah sepi :) :( :D :p
Makasih ya temans, Ibu-ibu yang selalu dengan ramah menyapa saya dan menemani saya pulang dari Ash-Sholihin sampai pondokan selepas tarawih :')
Makasih, makasih ya buat bocil-bocil yang sering ngejar saya pake mercon, tapi mewek juga pas akhirnya saya dan teman-teman harus pulang ke rumah masing-masing, yang sampai sekarang masih sering SMS: mbak inda yg cantik kapan mau maen kesini lagi? :D)
Makasih ya buat ABG-ABG SMP yang selalu nemenin saya curhat di kebon salak, yang selalu SMS: mba inda lagi ngapa? Aq kangen :))))
Makasih buat pemuda-pemudi yang masih sering telpon saya, sms saya dan ngolok-olokin saya meskipun saya udah ngga di Gondang lagi *tsaaaah*
Terimakasih buat Gondang Pusung yang telah memberikan saya kehidupan baru yang akhirnya mengubah pandangan hidup saya *ngelapairmata*

Maret 31, 2011

In a Heart I Belong To

The time we spent days together
I knew my heart was stolen by another guy
The times we went to another place together
I knew my mind was screw up by another love
But when i don't meet 'the time we...'
I don't want to confess,
that my heart is a 'holey heart'
Like there's a far distance between us
The distance we created before, by words

In place i belong to, i was full-covered by love
I was in the middle of  the loved one
I never needed to go to another place
But indescribably, i feel one thing vanished away from me
That was when you were not around me
That was when you didn't say 'hi Nda...' when i was online
Or when your look was not focus on me, thus i felt you were so far
But you stood in front of me

Blindly, i don't want my mind to think of you
However i do
Paradox...
I need a space, i know you neither do
To love you is to set you free
To think of you is to forget you

You love being free and playing the hearts

**

In a time we'll meet, i want those another days
The days we've ever spent together
Without distance, with no space between us
With no words...



#Random but Worth-It!

Cheerstraw!! :)

It's been awhile i didn't write anything here. Doesn't mean i have no idea or something to share with. But sometimes, i rethink and those all need to be hidden. I enjoyed my feelings all by my self these days.

But when i think the feelings are overloaded, i need a bin to throw them away.
Or spread them out of my mind.
Happy news should be shared.
But people, i mean, man, in a wider meaning, creatures *but i'll call it people*, usually keep it alone.

Oh maaan, i need to open my mind!
Actually, indescribably i feel so bored with all of these shits!
Once, a friend i usually called "bestfriend" had made me so 'eeeegrh!' so that it implied my mind. And of course, it made me rethink the words 'bestfriend'.

Sorry, this post is random. I can't think clearly for now.
But when i say i'm such a broken-hearted girl, that's not right, but that's not wrong too.
I was undesrestimated girl, it's true.
My best friend makes me hate her, it's true. 
What's wrong with me, universe?
I just want people to act what they want to act to me!
But seems like they're busy faking their actions. Caseclosed.
I'll show them how to be a friend.

Tuhan, maafin saya kalo emang saya salah penilaian. Tapi begitulah yang saya rasakan. Begitulah yang saya pikirkan. Bagitulah keliatannya. Dan ya Tuhan yang baik hati dan tidak sombong, saya lebih suka berteman dengan segelintir orang yang emang niat mau temenan sama saya, dibandingkan harus berpura-pura mau temenan sama saya demi beberapa hal yang saya sendiri juga ngga ngerti lho, sumpah. Jadi ya Tuhan, sebenernya saya nulis apasih? Ini kenapa jadi curhat yang menye-menye begini? Sudah ah, ujan udah berenti, mari kita pulaaaaan! xD

Februari 10, 2011

Whole New World

Cheerstraw!! :)

Barusan, saya ngebuka facebook. Bukan mau update status atau apalah itu. Cuman pengen maen It-Girl saja sebenernya. Tetapi tergoda buat buka profile temen SD saya, cewek sih, yang kemarenan sempet jadi buah bibir si Ibuk *apalah ini cecewek ngebahasnya selalu yang begituan!*
Sebenernya apasih juga yang spesial, percakapan saya sama ibu beginilah kiranya:
*berdua, nonton Putri Yang Tertukar, Ibu ngomelin Amira yang bodohnya kelewat ambang batas kesabaran seorang ibu-ibu sinetron*
Ibu: Mbak Ervin udah punya pacar lho Nda kata Mbak Ari. 
*melirik sejenak, melepaskan kekagetan mendakak*
Saya: Terus kenapa gitu Bu?
Ibu: Pacarnya polisi katanya
Saya: Terus kenapa gitu Bu? *muka dongo abis!*
Ibu: Ya ngga papa, cuman ngasih tau
Saya: Terus kenapa gitu Bu?
*toyor sampai ulang tahun*

Nah kan berawal dari percakapan itu, saya sedikitnya bisa nangkep apa maksud si ibu deh. Maksudnya, anak perawannya ini belum punya pacar dan temen SD anak perawannya ini sudah berpacar, begitu? Oh, okelah. Terus karena diliputi rasa pengen tau yang mendadak membuncah di hati *nda, ngomongnya ngga usah sok drama deh* saya ngebuka profil temen saya itu. Ngebuka profil pacarnya. Ngebuka doang sumpah soalnya sehabisnya ngeliat seperti apalah itu profilnya, jadi engga pengen meneruskan. See kan, bukannya saya suka menjudge orang berdasarkan covernya doings, tapi bisa kan yah ngeliat karakter orang dari profilnya? Oke, caseclosed. Saya ngga jadi envy sama temen saya itu. Polisi pikirannya mah soal yang mesum sama duit doang, begitulah yang saya tangkap. Smart level-nya NOL GEDE!

Terus tetibanya saya dapet message via facebook dari temen kampus saya, namanya Dhani. Dia ngirim link blog dia gitu, terus ternyata yang dia kirim adalah foto saya yang lagi kelelahan nulis setelah diedit sedemikian rupa sehingga saya tadinya sempet megangin dahi dan berpikir: siapa sih gadis ini yah?


Dibilangnya blog saya sudah menginspirasi dia buat bermain blog lagi. Saya jadi bersemangat lagi. Karena, ternyata saya bisa juga menjadi inspirasi orang lain, Padahal saya kan bukan macam wanita yang suka mempercantik diri, apalagi mempercantik blog. Saya hanya menuliskan apa yang ada di otak saya, mungkin sedikit didrama-dramain yah, tapi ya intinya bukan sekedar membuat tulisan terlihat indah pada waktu dipostingkan. *Setuju, selamat anda dapat cowok tampan!*

Dan sekarang, yeah here i am. Terkadang ada sesuatu yang membuat saya ingin dihargai, dipuji dan dikangenin. Bukan munak ya, kalo boleh pukulrata, semua orang jugalah begitu. Dan, saya senang, sekali lagi, happy-happy-sampe-kayang-sendiri bisa menjadi inspirasi teman saya. Thank you, fellas :))


Kisstraw!
A Whole New World :))

Januari 25, 2011