September 15, 2010

Me my self and i #ngga jelas

Now still i can't face the rality. I used to have a little dream about prince charming and his wihte house. Nyata, di dunia nyata, ngga ada Prince Charming saya tersebut. Sometimes, ngerasa berat juga, kok iya gitu, satu-satunya amazing dream yang saya punya kok ngga nyata?
#nda, lu kebanyakan mimpi!

Tapi, setelah dipikir lagi, itu semua ada kok! Ternyata Prince Charming yang selama ini saya impi-impikan masih ada dan tersimpan rapat di entah dimana.
#nah lo??
Don't know, saya ngerasa aja kalo kejadiannya emang begitu. Kalo dulu saya mendambakan seseorang (yah, sebut saja begitu!) to be my last man in my whole life, yang pemberani dan mengayomi. Terus saya sekarang jadi tambah pintar (yah, we're growing up, right?), sekarang sekedar mengaymi dan pemberani saja tidak cukup. Yang benar-benar saya butuhkan adalah seseorang yang bisa menjadi lawan bicara yang menyenangkan, memberikan pengalaman, pengetahuan, dan guru bagi saya (dan kadang2, bertengkar itu perlu, guys :))
Overall, saya kok jadi terkesan pilih-pilih yah? Saya memang melanggar batas. Kata nenek saya, wanita itu kodratnya untuk dipilih, tapi kata saya: bukan berarti tidak boleh memilih, kan? Kalo wanita memang seperti itu adanya, sungguh saya kasian dengan perjuangan R.A Kartini!

Saatnya lelaki juga tau, selain mempunyai perasaa yang kuat, wanita juga bisa mikir! Mungkin iya, kita, para wanita lebih mengandalkan perasaannya dibandingkan logikanya. Tapi itu bukan berarti kita ngga menggunakan pikira kita, oke?
#deal, nda!

Jadi, seperti apa Prince Charming saya? Yang menghargai tulisan ini, pastinya, hehehe...ah, sudahlah, saya tidak akan menceritakannya pada kalian. It's kinda secret, kalo sudah ketemu, nanti ada cemistrinya kok. Saya percaya banget, hubungan batin (ih, apaan deh lu!), tetap bakalan ada. Huuuuuuu basi basi basi! Sudah sudah, kriteria saya juga dinamis kok (apaan lagi sih, nda?). Gue kebanyakan ngomong deh, ujung-ujungnya juga rahasia! basiiiiiii #sigh

Ya ya ya, pokoknya begitulah, kamu mengerti kan?
#iya, sayaaang :*





best regards :)
me.myself.and.i

September 02, 2010

Belenggu Umum Wanita: Wajarkah?

Ih sumpah, siang ini kerasa lebih panas dari biasanya! Angkot yang biasanya lewat Hutan Biologi tiap sepuluh menit sekali terasa jadi setengah jam sekali. Gue yang sama Pibi lagi gerah dan kipas-kipas wajah yang basah keringat ngedumel ngga karuan. Tapi Pibi jauh lebih keras ngedumelnya. Guys, neraka bocoooor!

“ Kenapa sih kost gue musti jauh di deket Mirota sono! Kan tiap hari jadi musti naek kopata!” Pibi sudah uring-uringan ngga jelas. Gue cuman melotot aja. Pembicaraan pasti akan segera bergulir. Ralat, pembicaraan panas!

“ Gue tau, abis ini pasti lo bakal bilang: kenapa sih kost gue harus deketan sama lo?!” balas gue ngga kalah sengit.

“ Iya, kenapa kost gue juga harus deket sama lo!” bener kan, bener kaaaan!

“ Eits satu lagi, kenapa juga lo musti belom punya cowok!” tega! Menohok banget deh hiks!

Tiba-tiba Pibi ngeluarin BBnya. Dia mencet-mencet beberapoa tombol yang entah gue ngga ngerti apaan. Suasana jadi sepi dan sedikit dramatis karena tiba-tiba aja gue ngerasa: emang bener yah, sampe sekarang pun gue masih jomblo. Kadang gue enjoy aja selama masih ada sebiji manusia di samping gue, yang berarti gue ngga kesepian. Tapi sekarang, sebiji manusia pun sedang asik dengan handphone mewahnya. Padahal Pibi juga ngga lebih cantik dari gue. Ngga cantik malah. Terus kenapa dia bisa dapet cowok cakep bermobil pula? Well, he’s on the phone now, connect to Pibi.

“ Iya saying…iyah nih sekarang lagi nunggu angkot lama banget…apa? Ah gitu deh. Katanya besok udah balik Jogja lagi? Lho kok bisa gitu?...ehmmm, gimana yah…ya iyalah aku kangen, secara elo pacar gue!” Pibi asik aja ngomong di telepon sama cowoknya.

“ Mirota Kampus Mirota Kampus…Mirota Kampus mbak?” Tanya kernet jalur 4 yang tiba-tiba melintas di depan gue. Gue langsung aja narik tangan Pibi yang lagi terhipnotis sama handphone-nya buat segera naik, tidak lupa juga mengamankan posisi tas agar aman dari jamahan copet sialan.

“ Iya, ini lagi naek anhkot…tangan aku ditarik aja sama si tengil. Hahaha…ya ngga dong yang…” sial kuadrat! Kok gue jadi dikacangin gini yah? Emang rada berisik deh si Pibi, tapi sumpah, berisiknya bukan sama gue! Garuk-garuk kepala, geje.

“ Udahan Bi teleponannya…gue kok jadi dikacangin kayak gini sih…” rengek gue, persis kayak anak kecil lagi minta balon warna merah.

“ Iyaaaa…udahan ya Say teleponnya, si tengil udah ribet minta ditemenin ngobrol! Iya, bye say…” Pibi matiin juga teleponnya, well, AKHIRNYA!

“ Lu ngga kira-kira banget sih nelpon cowok lo! Mwnding kalo lo minta di buat jemput kita disini! Nah ini, elu cumin mau pamer mesra aja di depan gue!”

“ Well, kinda twentysomething, dan masih jomblo, ya gini deh, kayak elo!” sambar Pibi. Damn hell…

“ Ngeledek lu?” dan sopir pun mengerem mendadak.

“ Malioboro, Malioboro, Mirota Mirota…Malioboro Mbak? Yokk!” si kernet masih jual suara. Iye gue tau, kopata jalur 4 emang selalu ke Malioboro kan?

“ Sini deh gue kasih liat!” Pibi ngeliatin ke gue foto cowok-cowok cakep. Ada yang Cina, Jawa, Batak, sampe yang bule. Dan Astaghfirullah, they’re not bad, not at all! Mupeng deh gue, mana kebanyakan mereka bermobil lagi! Pandangan gue berhenti di foto cowok berambut Mohawk, lagi foto di depan Baby Benz merahnya.

“ Oh, itu Luffy namanya. Lucu yah? Ngegemesin lagih! Dia anak kedokteran UII, mantan gue tiga bulan yang lalu,” jelas Pibi sebelum gue tanya. Hell no, semua foto cowok di ponsel Pibi cakep semua!

“ Yang ini?” tunjuk gue ke cowok berambut cepak ala tentara dan hidungnya bangir, khas arab.

“ Yordan, keturunan Arab. Kuliahnya sih di UMY, kedokteran gigi!” hell no for second! Pikiran gue tambah ruwet. Who are you, Pibi? Kenapa semua cowok yang pernah deket sama lo, bahkan di atas rata-rata semua? Pikiran gue kalut. Gue kan ngga jelek.

“ Tenang, dia bukan mantan gue kok.” Huft, finally!

“ Tapi TTM gue, yaaa bisa disebut selingkuhan gue pas gue masih jadian sama si Samin,” lanjut Pibi. For God’s sake!

“ Kok bisa sih Bi? Gimana lo milihnya?” tanya gue.

“ PAke feeling, darling,” Pibi tersenyum (sok) manis.

“ Well, jawaban yang diplomatis,” komen gue.

“ Turun mana mbak?” tanya kernetnya. Oh, lupa, bentar lagi udah sampe El’s! Bentar lagi giliran gue turun angkot.

“ Di El’s Pak, iyah, sini sini!” teriak gue. Pibi masih sibuk masukin ponselnya ke saku, saking terburu-burunya, kartu pelajar yang terselip di saku belakang jeansnya ikut tertarik keluar.

“ Bi, KTM lo jatoh!” Pibi celingukan ngga jelas.

“ Itu, deket kaki lo, Putra Bathara Ajiansyah!” dan Pibi tetaplah seorang Putra Bathara. Gue semakin ngga ngerti, apa emang dunia yang ngga pengen dimengerti. Pibi, seorang cowok, bisa dapet pacar, cowok pula, dan dia ganteng dan hampir selalu bermobil. Sedangkan gue, cewek, biasa saja, tapi normal, susah sekali dapat cowok. Apa emang sekarang lagi trend yang seperti itu? Sumpah deh gue ngga ngerti, what happens in this world?

Ciiiit…dan kopata pun mendesis.

N.H. Inda

02102010 11.46 p.m

Home

September 01, 2010

Jilbab Traveler » The Naked Traveler

Jilbab Traveler » The Naked Traveler

It's None of Your Bussiness!

Pernah tidak merasa bahwa dunia akan menjadikan kita wanita seperti apa yang pernah kita khayalkan dulu? Oke, untuk lebih jelasnya, mari kita diskusikan. Well, waktu kecil, saya pernah punya cita-cita menjadi artis (sumpah, saya tidak pernah pengen jadi dokter ato astronot!). Waktu itu sih saya terinspirasi sama Paramita Rusady gara-gara film Karmila-nya (tuh film sumpah keren banget, Teddy Syach masih gateng *.*). Gara-garanya, saya jadi kebagian imbas tidak mengenakkan, saya pingin jadi artis, yang bisa main sinetron, dan nyanyi lagu pop! Saya merasa bahwa wajah saya sangat cantik waktu itu, padahal kalo dinget lagi yah, waktu saya TK, badan aja kayak lidi, kurus lurus dengan kepala kayak pentol korek (rambut potong gaya lelaki, red) dan suka pake sepatu yang belakangnya bisa nyala itu! (wiw...kecil-kecil gaul deh gw!)

Beranjak dewasa, kayaknya pikiran saya masih terpengaruh jaman jahiliyah dengan rambut pendek semampai dan celana pendek di atas lutut. Hey guys, that was my style, and i was proud to be my self at that time! I was so cooooool when i was climbing the trees to steal some guavas (preeeeet...pencuri kok cool yah! sigh). Yeah, i was kinda bad girl (lol!). Itu adalah saat saya masih jadi kiddo, suka bergerak semua gue, tanpa ada yang tanya macem-macem ke saya.

What does it mean? Bertanya macam-macam kayak apaan sih? Well, kinda:
"who is your boyfriend now?"
"Are you single or in a realtionship?" (or i'm in a relationshit!)
"Oh gal, do you think that you need to reduce your weight?"
" Guys, you need to take some hair treatments! Do you think so?"
"Believe me, you must think that those guys are soooo cool?"
or," I think you need to buy some new skirts and throw your jeans away, those are oldskull!"

Jujur, saya seneng ada yang perhatiin saya, meskipun perhatian itu menyesatkan dan memuakkan. Pingin rasanya jawab semuanya hanya dengan satu kalimat: "go f* yourself, it's none of your bussiness, sweetie!"
Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat semakin dewasa kita, semakin terikat dengan etika. Oh, why being mature is so complicated! Why so serious? Take some jokes! (tsk)

Kalo tau seperti ini, rasanya dulu tidak mau saya cepat-cepat dewasa. But well, now i'm kinda twenty-something-girl (or woman?). Dan kedewasaan saya masih belum mau muncul (ayey, childish is cool, man!). Dan menjadi 30's is so awful. Sometimes i think that i wanna go back to my childhood, but wise man said that: "when you're still fool on 40, trust me, you'll be fool forever."

Aiiiih, ngeri juga kalo dipikir-pikir, ternyata teori kalo hidup-itu-dinamis benar-benar ada! (bergidik!). But wait, bisa ngga kalo dewasa itu berarti tidak mencampuri urusan orang lain? Those are noneof your bussiness, man! Rasanya malah pengen mempermalukan diri sendiri ~.~'
So, kalo ada orang nanya lagi," where's your boyfriend? Don't tell me you're still single, gal!" (bertanya diiringi tawa setan), i'll answer:
" It's none of your bussiness, man. Well, for your information, i did some one-nite-stand(s) these days, hmmmm but you know, i just did some lies! Hahaha" (slap his face!)


*ngga semua yang lo denger itu bener*sigh

Agustus 30, 2010

Lampu Wasiat di Tepi Jalan

Suatu hari aku bertemu dengan lampu ajaib. Seperti dalam dongeng, aku gosok sisi kanannya dan berharap ada jin manis yang akan mengabulkan semua permintaanku. Karena ya, deep inside of my heart, aku punya banyaaaaak sekali permintaan. Termasuk ingin menjadi kupu-kupu.

Tau tidak, kupu-kupu sungguh memiliki hidup yang sempurna. Dia lahir denan menendang kepompong gendut, dan bertransformasi menjadi sepasang sayap warna-warni yang indah (dan mewarnai dunia juga, red). Kemudian aku ingin mempunyai kepak sayap yang indah, bisa terbang, dan menghisap madu. Dan membantu bunga berkawin. Oh, indahnya, aku bisa menolong bunga!

Tapi aku tersentak, otakku berhenti memutar memori kupu-kupu. Ada seorang anak kecil melempariku dengan kerikil. Ah, sirik, mari kita lanjutkan! Jin, kok kamu ngga keluar-keluar sih? Aku pingin jadi dewi kupu-kupu nih!

Kemudian aku ingat dengan kunang-kunang lagi. Akan sama hebatnya dengan matahari kalo aku bisa menciptakan cahaya sendiri. Aku akan adil pada semuanya, oke? Begini saja, aku akan membagi cahayaku kepada kamu, kamu, kamu, tapi dengan satu syarat. Kamu tidak boleh nakal. Atau kamu justru akan menerima sengatanku saat aku menjadi lebah nantinya.

Ah, indahnya menjadi lebah! Aku bisa menghasilkan madu sendiri tanpa bantuan bunga! Aku bisa menyengat anak-anak nakal sampai menangis dan kapok mengusik sarangku. Senang senang senang! Aku akan membuat prajurit gagah berbokong besar untuk menjaga sarangku. Ah, tampannya dunia ini!

Tapi tunggu dulu! Kenapa jin ini tak kunjung keluar pula? Apa dia malu? Apa dia takut padaku? Duk..tuk tuk tuk...ah, sebuah kerikil lagi. Rupanya keberadaanku sudah tak diinginkan disini. Ayolah jin, segera keluar saja, atau kucakar dinding-dinding emasmu?

Aku hampir putus asa, padahal aku baru saja menemukan asa. Tapi kini dia telah pergi entah kemana. Mungkin aku yang terlalu berharap. Atau Tuhan memang tidak mengijinkan aku menjadi sesuatu yang lebih indah? Tuhan suka aku yang kudisan seperti ini. Kugerakkan keempat kakiku meninggalkan lampu wasiat itu sendirian. Mungkin takdirku adalah berjalan sendiri seperti ini...guk...guk...

"Pergi kau, anjing kudisan! Bikin bau saja disini!"
"Guk guk guk...!" aku bahkan tidak bisa membela diriku sendiri...



-syukurilah hidupmu, begitulah caramu menghargai hidup-
regards :)

Agustus 29, 2010

I Remain

How crass you stand before me
With no blood to fuel your fame
How dare you weild such flippancy without requisite shame
Your very existence becomes my sacred mission's bane
You bow to kiss my hand and I ignore ignited flame

I moved to meet you
Untouched I do remain

To some it seems foreign
Why I would steely forge ahead
This land entrusted to me knows not of hallowed secrets
I'll keep it to myself
My own advicement in my head
Your charm can not distract me
From the path I'm born to tread

How Im thrilled to know you
Affected, I remain(ed?)

How Ive learned to like you
Undeterred I do remain

Less daunting as team?
You unlikely king by my side
And me, so much better for trusting you
My hand over your heart
While you keep hindrances at bay
Color me surprised by how our union saves the day

How I've grown to need you
As my soul I just faiths
How I love to know you
And how I remain
I remain
I remain
I remain
I remain
I remain
Oh

Everything

I can be an asshole of the grandest kind
I can withhold like it's going out of style
I can be the moodiest baby and you've never met anyone
Who is as negative as I am sometimes

I am the wisest woman you've ever met.
I am the kindest soul with whom you've connected.
I have the bravest heart that you've ever seen
And you've never met anyone
Who's as positive as I am sometimes.

I blame everyone else, not my own partaking
My passive-aggressiveness can be devastating
I'm terrified and mistrusting
And you've never met anyone as,
As closed down as I am sometimes.

What I resist, persists, and speaks louder than I know
What I resist, you love, no matter how low or high I go

I'm the funniest woman that you've ever known
I'm the dullest woman that you've ever known
I'm the most gorgeous woman that you've ever known
And you've never met anyone
Who is as everything as I am sometimes

You see everything , you see every part
You see all my light and you love my dark
You dig everything of which I'm ashamed
There's not anything to which you can't relate
And you're still here

Segelas Susu untuk Anakku

ANAK
Aku ingin mengingatkan. Namaku Wati. Aku putri pertama, sekaligus terakhir bagi ibuku, bukan ayahku. Aku bahkan tidak punya ayah. Atau punya? Tapi entah ada dimana. Ada banyak pria yang sering kulihat di rumah. Yang mana ayahku? Sebaiknya aku memendam pertanyaan ini untuk pikiranku saja. Aku tau, ibu sudah terlalu lelah.

Coba bayangkan, ibu bekerja semalaman suntuk! Ibu mengambil beberapa helai uang yang berjatuhan di lantai kamar, kemudian lelaki itu pergi. Lelaki terkesan tidak bertanggungjawab, ya? Tapi tak apalah, ibu masih dapat uang kok! Kata ibu, uang itu untuk biaya aku sekolah, makan, membeli baju baru, dan mengecat rumah. Warna dinding rumahku sudah kusam! Kupikir itulah alasan mengapa ibu bekerja lebih keras dari biasanya.

Biasanya, menjelang adzan subuh, ibu sudah sampai di rumah. Atau lelaki yang menemani ibu tidur dan melempar beberapa helai uang itu sudah beranjak dari teras. Tapi sekarang, ibu pulang usai matahari menjelang. Katanya," ya beginilah kerjaan wanita jalang,"

Aku tidak tau apa itu wanita jalang, aku masih kelas tiga SD. Aku hanya tau caranya memasak nasi dengan magic com, atau memasak mie instan. Ibu berpesan, aku tidak usah tau apa arti jalang, karena aku harus belajar. Sudahlah, yang penting ibu senang.

Setiap sore aku mengaji di surau. Pak Haji Umar adalah satu-satunya temanku. Pak Haji Umar mengajariku membaca huruf Arab yang tersambung-sambung itu. Tadinya aku tidak mengerti, tapi Pak Haji Umar menceritakan padaku banyak kisah menarik. Yang aku tau, tokoh-tokohnya bernama Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, dan banyak nabi lagi. Oh, aku tau sesuatu. Aku harus sembahyang.

Ya, memang benar, Haji Umar adalah temanku satu-satunya. Mungkin yang lain juga temanku, tapi kurasa tidak. Seorang teman tidak akan melempariku dengan batu, ranting, atau meludah di depanku. Dan seorang teman tidak akan meremas payudaraku. Aku tidak tau mengapa payudara tidak boleh dipegang, tapi tiba-tiba dadaku sesak, mataku panas, dan hatiku perih. Kata Pak Haji Umar, itu perbuatan yang tidak senonoh. Makanya aku sekarang memakai jilbab. Agar tubuhku terlindungi.

Tapi sekali lagi, "teman-teman" bilang aku munafik. Sehelai jilbab tidak akan mampu menyembunyikan aib seorang jalang. Apa sih jalang itu??
Kata Pak Haji Umar, aku tidak usah memikirkan kata itu, persis seperti kata ibuku. Kata Pak Haji Umar, aku disuruh banyak mengaji.

Maka aku menjadi sering mengaji, belajar, memasak nasi dengan magicom, memasak mi instan, memasak nasi, menyiram tanaman, dan berdoa untuk keselamatan ibu. Mengapa?

Karena, ibu bekerja semalaman, bekerja sangat keras untukku. Aku ingin menjadi seperti ibu.


IBU
Aku ini wanita jalang. Aku membayar kehidupanku dan anakku dengan dosa tiap malam. Masih bisakah aku mendapat surga kelak? Aku sudah bekerja keras, mengorbankan tubuh dan batinku, mengorbankan teman-teman anakku, hingga anakku kini tidak lagi punya teman. Dosakah aku?

Aku keluyuran tiap malam, melayani hidung belang dengan peluh bercampur tangisan, tangisan tanpa suara. Aku memberi makan anakku nasi dari uang yang tak halal. Tuhan, dosakah aku?

Tanpa bisa berkata lagi, aku jauhkan kata jalang dari anakku, agar kelak dia tidak menjadi sepertiku. Aku ingin memberikan anakku yang terbaik, aku ingin bisa memberikan anakku teman. Tapi kata anakku," aku punya teman yang paling hebat di dunia, Ibu, dan Pak Haji Umar."
Dosakah aku?

Aku tak pernah bisa memasakkan sayuran dan lauk untuk anakku, tapi anakku pintar memasak mi instan sendiri. Anakku pintar membuatkanku secangkir teh hangat setiap pagi, saat aku pulang kerja. Dan anakku memberi lebih dari secangkir cinta untukku. Dosakah aku?

Nak, maafkan Ibu. Ibu tak bisa memberiku yang terbaik...Ibu hanya bisa membuatkanku segelas susu cokelat kesukaanmu. Semoga kau bisa melihat ketulusan, dan airmata kebanggaan Ibumu ini untukmu, dalam tetes susu yang kau minum ...



regards :)
Thank You - Alanis Morissette


Agustus 25, 2010

Ah, Miskin!

Sangat mengusik sekali lagu di tetangga sebelah. Musik dangdut yang disetelnya dari tadi seakan sudah ingin melubangi gendang telinga. Dan yang lebih parah lagi, suara musik dangdut itu masih harus melawan suara cempreng dari si pemilik kaset yang tidak kalah buruk dari kaleng rombeng. Ah, hujan! Pasti sebentar lagi petir akan datang. Tolong, sore ini seharusnya syahdu, tapi kenapa menjadi berisik! Kasar di kuping, tidak pernah ada kelembutan. Bahkan, volume musik setan itu sudah dinaikkan lagi menjadi volume maksimum!

Pelan tapi pasti, guyuran hujan semakin deras. Jutaan desah air meluncur menghujam tanah lembek di depan kontrakan. Bukan, komplek kontrakan. Beberapa air menuruni dinding, mengalir membasahi sprei buluk dan bau yang membungkus kasur tipis milik Gendis. Dia tidak punya cukup ember untuk menampung rentetan air yang menerobos dari gentengnya. Longsor, sebaiknya longsor saja biar rumah ini hancur! Biar pemerintah mau memberinya ganti rugi! Toh aku juga bayar pajak, pikir Gendis.

Dari kejauahn terdengar suara ribut. Orkestra apalagi itu? Pusing! Setiap hari selalu begitu, kalo memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, kenapa tidak cerai saja! Ah, paling-paling mereka berdua tidak bisa menahan nafsu sex mereka bila harus berpisah. Hanya untuk teman di ranjang. Dasar miskin! Ngga mampu beli perempuan di Sarkem. Sakit telinga.

Jatuh bangun aku mengejarmuu...
Namun dirimu tak mau mengertiii...

Setan! Bukannya lagu ini sudah sejuta kali diputar? Tidak punya lagu lain yang lebih manusiawi dan lebih cocok dengan hujan? Dasar orang miskin, ngga punya selera!

Dok...dok...dok!!
Televisi butut ini memang harus dipukul dulu biar warnanya tidak goyang-goyang. Apalagi ditengah hujan petir kayak gini, bikin tambah tidak karuan. Masih untung punya televisi! Yang lain? Hanya radio butut, hanya karpet butut, kontrakan butut, suami butut! Ah, siapa suruh jadi miskin!

"Woy, kecilin suara dangdut brengsekmu itu! Bikin tiviku nggak mau nyala nih!" teriak Gendis marah.
" Nonton tivi apa film mesum kau! Hahaha!" balas tetangga.
" Setan!"
" Butuh gaya baru buat pelangganmu ya? Sini, gue ajarin!"
" Iblis!"

Percuma ngomong sama orang miskin! Nggak punya pendidikan, nggak bisa ngomong! Rumah reyot, harus ngontrak pula! Bah, katanya negara kaya, dimana-mana bisa tumbuh padi! Preeet! ah, dan kenapa juga harus bersekat anyaman bambu begini! Mengesalkan!

Dan di pojok, teronggok sebuah benda bulat berwarna hijau berlogo SNI. Gendis meliriknya. Benda sialan itu, kenapa minyak tanah menjadi sangat langka, malah dikasih bom seperti itu. Pemerintah mau membunuh orang miskin ya? Tapi asyik juga kalo bisa bermain-main dengan pemerintah. Mata Gendis berputar nakal. Biarkan saja pejabat negara tidak ada yang tertarik dengan tubuh kerempengnya, toh sesama orang miskin lain masih ada yang mampu membayarnya seratus ribu. Tapi membuat kekacauan di tengah hujan deras? Ah, semoga longsor saja! Gendis membuka selang tabung elpiji di pojokan, ruangan menjadi berbau gas. Untunglah, masih ada beberapa batangan korek di kontrakan bututnya ini. Kata orang Jepang, ini namanya suicide. Biarkah, sudah bosan menjadi orang miskin, sudah bosan menunggu tanah longsor!

Ah!

Dimana-mana sedang banyak orang berteriak hijau, hijau, hijau! Bahkan gas elpiji tiga kilo pun berwarna hijau dan sering meledak tanpa pernah mengisyaratkan pertanda. Dimana-mana demam hijau, materi seminar selalu mencatut kata "hijau" pada judulnya, kuliah umum selalu bilang hijau untuk kedamaian dan melawan pemanasan global, mulut-mulut mereka tak henti bilang "greenpeace greenpeace", dan pembantu rumah tangga pun menyiram tanaman dengan alasan agar si daun tetap berwarna hijau!

Tapi itu mulut, hanya saru organ yang memberi sinyal bahwa mereka menyeru perang terhadap pemanasan global, memblokade pngrusakan alam dan dengan angkuhnya menunjuk beberapa golongan sebagai penyebab hancurnya bumi hingga mendekati kiamat. Hanya mulut.

Bumi memang sudah tua, sakit dan bopeng disana sini. Dunia sudah sakit. Sekarang sudah parah. Lantas kemana mereka selama ini? Berada di bawah ranjang mana mereka sebelum mulut mereka menghindari kesalahan dengan berteriak hijau? Oh, saya tau, mereka seperti monyet! Berteriak lantang memblokade dunia hanya untuk menyembunyikan jutaan pohon yang mereka gunakan untuk membuat kertas, jutaan kulkas yang memproduksi gas CO dalam rangka merusak lapisan ozon, anti jalan kaki yang mebuat bumi penuh dengan gas sialan dan sesak napas dimana-mana!

Ah, semua memang hanya mulut. Hanya mulut yang punya otak, bisa berdusta, bisa berbohong. Hanya mulut yang menyelamatkan tangan-tangan mereka yang masih sempat membuang sampah di sungai, hanya mulut yang bisa menyembunyikan kaki palsu mereka di balik puluhan mobil mewah di garasi rumah mereka, hanya mulut yang pandai, pintar, licik.