How crass you stand before me
With no blood to fuel your fame
How dare you weild such flippancy without requisite shame
Your very existence becomes my sacred mission's bane
You bow to kiss my hand and I ignore ignited flame
I moved to meet you
Untouched I do remain
To some it seems foreign
Why I would steely forge ahead
This land entrusted to me knows not of hallowed secrets
I'll keep it to myself
My own advicement in my head
Your charm can not distract me
From the path I'm born to tread
How Im thrilled to know you
Affected, I remain(ed?)
How Ive learned to like you
Undeterred I do remain
Less daunting as team?
You unlikely king by my side
And me, so much better for trusting you
My hand over your heart
While you keep hindrances at bay
Color me surprised by how our union saves the day
How I've grown to need you
As my soul I just faiths
How I love to know you
And how I remain
I remain
I remain
I remain
I remain
I remain
Oh
We don't know when time will stop, and earth won't be like a ball anymore. But if we realize, we have the same destination: death, with different T-Junction and crossroad...
Agustus 29, 2010
I Remain
Everything
I can be an asshole of the grandest kind
I can withhold like it's going out of style
I can be the moodiest baby and you've never met anyone
Who is as negative as I am sometimes
I am the wisest woman you've ever met.
I am the kindest soul with whom you've connected.
I have the bravest heart that you've ever seen
And you've never met anyone
Who's as positive as I am sometimes.
I blame everyone else, not my own partaking
My passive-aggressiveness can be devastating
I'm terrified and mistrusting
And you've never met anyone as,
As closed down as I am sometimes.
What I resist, persists, and speaks louder than I know
What I resist, you love, no matter how low or high I go
I'm the funniest woman that you've ever known
I'm the dullest woman that you've ever known
I'm the most gorgeous woman that you've ever known
And you've never met anyone
Who is as everything as I am sometimes
You see everything , you see every part
You see all my light and you love my dark
You dig everything of which I'm ashamed
There's not anything to which you can't relate
And you're still here
I can withhold like it's going out of style
I can be the moodiest baby and you've never met anyone
Who is as negative as I am sometimes
I am the wisest woman you've ever met.
I am the kindest soul with whom you've connected.
I have the bravest heart that you've ever seen
And you've never met anyone
Who's as positive as I am sometimes.
I blame everyone else, not my own partaking
My passive-aggressiveness can be devastating
I'm terrified and mistrusting
And you've never met anyone as,
As closed down as I am sometimes.
What I resist, persists, and speaks louder than I know
What I resist, you love, no matter how low or high I go
I'm the funniest woman that you've ever known
I'm the dullest woman that you've ever known
I'm the most gorgeous woman that you've ever known
And you've never met anyone
Who is as everything as I am sometimes
You see everything , you see every part
You see all my light and you love my dark
You dig everything of which I'm ashamed
There's not anything to which you can't relate
And you're still here
Segelas Susu untuk Anakku
ANAK
Aku ingin mengingatkan. Namaku Wati. Aku putri pertama, sekaligus terakhir bagi ibuku, bukan ayahku. Aku bahkan tidak punya ayah. Atau punya? Tapi entah ada dimana. Ada banyak pria yang sering kulihat di rumah. Yang mana ayahku? Sebaiknya aku memendam pertanyaan ini untuk pikiranku saja. Aku tau, ibu sudah terlalu lelah.
Coba bayangkan, ibu bekerja semalaman suntuk! Ibu mengambil beberapa helai uang yang berjatuhan di lantai kamar, kemudian lelaki itu pergi. Lelaki terkesan tidak bertanggungjawab, ya? Tapi tak apalah, ibu masih dapat uang kok! Kata ibu, uang itu untuk biaya aku sekolah, makan, membeli baju baru, dan mengecat rumah. Warna dinding rumahku sudah kusam! Kupikir itulah alasan mengapa ibu bekerja lebih keras dari biasanya.
Biasanya, menjelang adzan subuh, ibu sudah sampai di rumah. Atau lelaki yang menemani ibu tidur dan melempar beberapa helai uang itu sudah beranjak dari teras. Tapi sekarang, ibu pulang usai matahari menjelang. Katanya," ya beginilah kerjaan wanita jalang,"
Aku tidak tau apa itu wanita jalang, aku masih kelas tiga SD. Aku hanya tau caranya memasak nasi dengan magic com, atau memasak mie instan. Ibu berpesan, aku tidak usah tau apa arti jalang, karena aku harus belajar. Sudahlah, yang penting ibu senang.
Setiap sore aku mengaji di surau. Pak Haji Umar adalah satu-satunya temanku. Pak Haji Umar mengajariku membaca huruf Arab yang tersambung-sambung itu. Tadinya aku tidak mengerti, tapi Pak Haji Umar menceritakan padaku banyak kisah menarik. Yang aku tau, tokoh-tokohnya bernama Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, dan banyak nabi lagi. Oh, aku tau sesuatu. Aku harus sembahyang.
Ya, memang benar, Haji Umar adalah temanku satu-satunya. Mungkin yang lain juga temanku, tapi kurasa tidak. Seorang teman tidak akan melempariku dengan batu, ranting, atau meludah di depanku. Dan seorang teman tidak akan meremas payudaraku. Aku tidak tau mengapa payudara tidak boleh dipegang, tapi tiba-tiba dadaku sesak, mataku panas, dan hatiku perih. Kata Pak Haji Umar, itu perbuatan yang tidak senonoh. Makanya aku sekarang memakai jilbab. Agar tubuhku terlindungi.
Tapi sekali lagi, "teman-teman" bilang aku munafik. Sehelai jilbab tidak akan mampu menyembunyikan aib seorang jalang. Apa sih jalang itu??
Kata Pak Haji Umar, aku tidak usah memikirkan kata itu, persis seperti kata ibuku. Kata Pak Haji Umar, aku disuruh banyak mengaji.
Maka aku menjadi sering mengaji, belajar, memasak nasi dengan magicom, memasak mi instan, memasak nasi, menyiram tanaman, dan berdoa untuk keselamatan ibu. Mengapa?
Karena, ibu bekerja semalaman, bekerja sangat keras untukku. Aku ingin menjadi seperti ibu.
IBU
Aku ini wanita jalang. Aku membayar kehidupanku dan anakku dengan dosa tiap malam. Masih bisakah aku mendapat surga kelak? Aku sudah bekerja keras, mengorbankan tubuh dan batinku, mengorbankan teman-teman anakku, hingga anakku kini tidak lagi punya teman. Dosakah aku?
Aku keluyuran tiap malam, melayani hidung belang dengan peluh bercampur tangisan, tangisan tanpa suara. Aku memberi makan anakku nasi dari uang yang tak halal. Tuhan, dosakah aku?
Tanpa bisa berkata lagi, aku jauhkan kata jalang dari anakku, agar kelak dia tidak menjadi sepertiku. Aku ingin memberikan anakku yang terbaik, aku ingin bisa memberikan anakku teman. Tapi kata anakku," aku punya teman yang paling hebat di dunia, Ibu, dan Pak Haji Umar."
Dosakah aku?
Aku tak pernah bisa memasakkan sayuran dan lauk untuk anakku, tapi anakku pintar memasak mi instan sendiri. Anakku pintar membuatkanku secangkir teh hangat setiap pagi, saat aku pulang kerja. Dan anakku memberi lebih dari secangkir cinta untukku. Dosakah aku?
Nak, maafkan Ibu. Ibu tak bisa memberiku yang terbaik...Ibu hanya bisa membuatkanku segelas susu cokelat kesukaanmu. Semoga kau bisa melihat ketulusan, dan airmata kebanggaan Ibumu ini untukmu, dalam tetes susu yang kau minum ...
regards :)
Thank You - Alanis Morissette
Aku ingin mengingatkan. Namaku Wati. Aku putri pertama, sekaligus terakhir bagi ibuku, bukan ayahku. Aku bahkan tidak punya ayah. Atau punya? Tapi entah ada dimana. Ada banyak pria yang sering kulihat di rumah. Yang mana ayahku? Sebaiknya aku memendam pertanyaan ini untuk pikiranku saja. Aku tau, ibu sudah terlalu lelah.
Coba bayangkan, ibu bekerja semalaman suntuk! Ibu mengambil beberapa helai uang yang berjatuhan di lantai kamar, kemudian lelaki itu pergi. Lelaki terkesan tidak bertanggungjawab, ya? Tapi tak apalah, ibu masih dapat uang kok! Kata ibu, uang itu untuk biaya aku sekolah, makan, membeli baju baru, dan mengecat rumah. Warna dinding rumahku sudah kusam! Kupikir itulah alasan mengapa ibu bekerja lebih keras dari biasanya.
Biasanya, menjelang adzan subuh, ibu sudah sampai di rumah. Atau lelaki yang menemani ibu tidur dan melempar beberapa helai uang itu sudah beranjak dari teras. Tapi sekarang, ibu pulang usai matahari menjelang. Katanya," ya beginilah kerjaan wanita jalang,"
Aku tidak tau apa itu wanita jalang, aku masih kelas tiga SD. Aku hanya tau caranya memasak nasi dengan magic com, atau memasak mie instan. Ibu berpesan, aku tidak usah tau apa arti jalang, karena aku harus belajar. Sudahlah, yang penting ibu senang.
Setiap sore aku mengaji di surau. Pak Haji Umar adalah satu-satunya temanku. Pak Haji Umar mengajariku membaca huruf Arab yang tersambung-sambung itu. Tadinya aku tidak mengerti, tapi Pak Haji Umar menceritakan padaku banyak kisah menarik. Yang aku tau, tokoh-tokohnya bernama Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, dan banyak nabi lagi. Oh, aku tau sesuatu. Aku harus sembahyang.
Ya, memang benar, Haji Umar adalah temanku satu-satunya. Mungkin yang lain juga temanku, tapi kurasa tidak. Seorang teman tidak akan melempariku dengan batu, ranting, atau meludah di depanku. Dan seorang teman tidak akan meremas payudaraku. Aku tidak tau mengapa payudara tidak boleh dipegang, tapi tiba-tiba dadaku sesak, mataku panas, dan hatiku perih. Kata Pak Haji Umar, itu perbuatan yang tidak senonoh. Makanya aku sekarang memakai jilbab. Agar tubuhku terlindungi.
Tapi sekali lagi, "teman-teman" bilang aku munafik. Sehelai jilbab tidak akan mampu menyembunyikan aib seorang jalang. Apa sih jalang itu??
Kata Pak Haji Umar, aku tidak usah memikirkan kata itu, persis seperti kata ibuku. Kata Pak Haji Umar, aku disuruh banyak mengaji.
Maka aku menjadi sering mengaji, belajar, memasak nasi dengan magicom, memasak mi instan, memasak nasi, menyiram tanaman, dan berdoa untuk keselamatan ibu. Mengapa?
Karena, ibu bekerja semalaman, bekerja sangat keras untukku. Aku ingin menjadi seperti ibu.
IBU
Aku ini wanita jalang. Aku membayar kehidupanku dan anakku dengan dosa tiap malam. Masih bisakah aku mendapat surga kelak? Aku sudah bekerja keras, mengorbankan tubuh dan batinku, mengorbankan teman-teman anakku, hingga anakku kini tidak lagi punya teman. Dosakah aku?
Aku keluyuran tiap malam, melayani hidung belang dengan peluh bercampur tangisan, tangisan tanpa suara. Aku memberi makan anakku nasi dari uang yang tak halal. Tuhan, dosakah aku?
Tanpa bisa berkata lagi, aku jauhkan kata jalang dari anakku, agar kelak dia tidak menjadi sepertiku. Aku ingin memberikan anakku yang terbaik, aku ingin bisa memberikan anakku teman. Tapi kata anakku," aku punya teman yang paling hebat di dunia, Ibu, dan Pak Haji Umar."
Dosakah aku?
Aku tak pernah bisa memasakkan sayuran dan lauk untuk anakku, tapi anakku pintar memasak mi instan sendiri. Anakku pintar membuatkanku secangkir teh hangat setiap pagi, saat aku pulang kerja. Dan anakku memberi lebih dari secangkir cinta untukku. Dosakah aku?
Nak, maafkan Ibu. Ibu tak bisa memberiku yang terbaik...Ibu hanya bisa membuatkanku segelas susu cokelat kesukaanmu. Semoga kau bisa melihat ketulusan, dan airmata kebanggaan Ibumu ini untukmu, dalam tetes susu yang kau minum ...
regards :)
Thank You - Alanis Morissette
Agustus 25, 2010
Ah, Miskin!
Sangat mengusik sekali lagu di tetangga sebelah. Musik dangdut yang disetelnya dari tadi seakan sudah ingin melubangi gendang telinga. Dan yang lebih parah lagi, suara musik dangdut itu masih harus melawan suara cempreng dari si pemilik kaset yang tidak kalah buruk dari kaleng rombeng. Ah, hujan! Pasti sebentar lagi petir akan datang. Tolong, sore ini seharusnya syahdu, tapi kenapa menjadi berisik! Kasar di kuping, tidak pernah ada kelembutan. Bahkan, volume musik setan itu sudah dinaikkan lagi menjadi volume maksimum!
Pelan tapi pasti, guyuran hujan semakin deras. Jutaan desah air meluncur menghujam tanah lembek di depan kontrakan. Bukan, komplek kontrakan. Beberapa air menuruni dinding, mengalir membasahi sprei buluk dan bau yang membungkus kasur tipis milik Gendis. Dia tidak punya cukup ember untuk menampung rentetan air yang menerobos dari gentengnya. Longsor, sebaiknya longsor saja biar rumah ini hancur! Biar pemerintah mau memberinya ganti rugi! Toh aku juga bayar pajak, pikir Gendis.
Dari kejauahn terdengar suara ribut. Orkestra apalagi itu? Pusing! Setiap hari selalu begitu, kalo memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, kenapa tidak cerai saja! Ah, paling-paling mereka berdua tidak bisa menahan nafsu sex mereka bila harus berpisah. Hanya untuk teman di ranjang. Dasar miskin! Ngga mampu beli perempuan di Sarkem. Sakit telinga.
Jatuh bangun aku mengejarmuu...
Namun dirimu tak mau mengertiii...
Setan! Bukannya lagu ini sudah sejuta kali diputar? Tidak punya lagu lain yang lebih manusiawi dan lebih cocok dengan hujan? Dasar orang miskin, ngga punya selera!
Dok...dok...dok!!
Televisi butut ini memang harus dipukul dulu biar warnanya tidak goyang-goyang. Apalagi ditengah hujan petir kayak gini, bikin tambah tidak karuan. Masih untung punya televisi! Yang lain? Hanya radio butut, hanya karpet butut, kontrakan butut, suami butut! Ah, siapa suruh jadi miskin!
"Woy, kecilin suara dangdut brengsekmu itu! Bikin tiviku nggak mau nyala nih!" teriak Gendis marah.
" Nonton tivi apa film mesum kau! Hahaha!" balas tetangga.
" Setan!"
" Butuh gaya baru buat pelangganmu ya? Sini, gue ajarin!"
" Iblis!"
Percuma ngomong sama orang miskin! Nggak punya pendidikan, nggak bisa ngomong! Rumah reyot, harus ngontrak pula! Bah, katanya negara kaya, dimana-mana bisa tumbuh padi! Preeet! ah, dan kenapa juga harus bersekat anyaman bambu begini! Mengesalkan!
Dan di pojok, teronggok sebuah benda bulat berwarna hijau berlogo SNI. Gendis meliriknya. Benda sialan itu, kenapa minyak tanah menjadi sangat langka, malah dikasih bom seperti itu. Pemerintah mau membunuh orang miskin ya? Tapi asyik juga kalo bisa bermain-main dengan pemerintah. Mata Gendis berputar nakal. Biarkan saja pejabat negara tidak ada yang tertarik dengan tubuh kerempengnya, toh sesama orang miskin lain masih ada yang mampu membayarnya seratus ribu. Tapi membuat kekacauan di tengah hujan deras? Ah, semoga longsor saja! Gendis membuka selang tabung elpiji di pojokan, ruangan menjadi berbau gas. Untunglah, masih ada beberapa batangan korek di kontrakan bututnya ini. Kata orang Jepang, ini namanya suicide. Biarkah, sudah bosan menjadi orang miskin, sudah bosan menunggu tanah longsor!
Pelan tapi pasti, guyuran hujan semakin deras. Jutaan desah air meluncur menghujam tanah lembek di depan kontrakan. Bukan, komplek kontrakan. Beberapa air menuruni dinding, mengalir membasahi sprei buluk dan bau yang membungkus kasur tipis milik Gendis. Dia tidak punya cukup ember untuk menampung rentetan air yang menerobos dari gentengnya. Longsor, sebaiknya longsor saja biar rumah ini hancur! Biar pemerintah mau memberinya ganti rugi! Toh aku juga bayar pajak, pikir Gendis.
Dari kejauahn terdengar suara ribut. Orkestra apalagi itu? Pusing! Setiap hari selalu begitu, kalo memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, kenapa tidak cerai saja! Ah, paling-paling mereka berdua tidak bisa menahan nafsu sex mereka bila harus berpisah. Hanya untuk teman di ranjang. Dasar miskin! Ngga mampu beli perempuan di Sarkem. Sakit telinga.
Jatuh bangun aku mengejarmuu...
Namun dirimu tak mau mengertiii...
Setan! Bukannya lagu ini sudah sejuta kali diputar? Tidak punya lagu lain yang lebih manusiawi dan lebih cocok dengan hujan? Dasar orang miskin, ngga punya selera!
Dok...dok...dok!!
Televisi butut ini memang harus dipukul dulu biar warnanya tidak goyang-goyang. Apalagi ditengah hujan petir kayak gini, bikin tambah tidak karuan. Masih untung punya televisi! Yang lain? Hanya radio butut, hanya karpet butut, kontrakan butut, suami butut! Ah, siapa suruh jadi miskin!
"Woy, kecilin suara dangdut brengsekmu itu! Bikin tiviku nggak mau nyala nih!" teriak Gendis marah.
" Nonton tivi apa film mesum kau! Hahaha!" balas tetangga.
" Setan!"
" Butuh gaya baru buat pelangganmu ya? Sini, gue ajarin!"
" Iblis!"
Percuma ngomong sama orang miskin! Nggak punya pendidikan, nggak bisa ngomong! Rumah reyot, harus ngontrak pula! Bah, katanya negara kaya, dimana-mana bisa tumbuh padi! Preeet! ah, dan kenapa juga harus bersekat anyaman bambu begini! Mengesalkan!
Dan di pojok, teronggok sebuah benda bulat berwarna hijau berlogo SNI. Gendis meliriknya. Benda sialan itu, kenapa minyak tanah menjadi sangat langka, malah dikasih bom seperti itu. Pemerintah mau membunuh orang miskin ya? Tapi asyik juga kalo bisa bermain-main dengan pemerintah. Mata Gendis berputar nakal. Biarkan saja pejabat negara tidak ada yang tertarik dengan tubuh kerempengnya, toh sesama orang miskin lain masih ada yang mampu membayarnya seratus ribu. Tapi membuat kekacauan di tengah hujan deras? Ah, semoga longsor saja! Gendis membuka selang tabung elpiji di pojokan, ruangan menjadi berbau gas. Untunglah, masih ada beberapa batangan korek di kontrakan bututnya ini. Kata orang Jepang, ini namanya suicide. Biarkah, sudah bosan menjadi orang miskin, sudah bosan menunggu tanah longsor!
Ah!
Dimana-mana sedang banyak orang berteriak hijau, hijau, hijau! Bahkan gas elpiji tiga kilo pun berwarna hijau dan sering meledak tanpa pernah mengisyaratkan pertanda. Dimana-mana demam hijau, materi seminar selalu mencatut kata "hijau" pada judulnya, kuliah umum selalu bilang hijau untuk kedamaian dan melawan pemanasan global, mulut-mulut mereka tak henti bilang "greenpeace greenpeace", dan pembantu rumah tangga pun menyiram tanaman dengan alasan agar si daun tetap berwarna hijau!
Tapi itu mulut, hanya saru organ yang memberi sinyal bahwa mereka menyeru perang terhadap pemanasan global, memblokade pngrusakan alam dan dengan angkuhnya menunjuk beberapa golongan sebagai penyebab hancurnya bumi hingga mendekati kiamat. Hanya mulut.
Bumi memang sudah tua, sakit dan bopeng disana sini. Dunia sudah sakit. Sekarang sudah parah. Lantas kemana mereka selama ini? Berada di bawah ranjang mana mereka sebelum mulut mereka menghindari kesalahan dengan berteriak hijau? Oh, saya tau, mereka seperti monyet! Berteriak lantang memblokade dunia hanya untuk menyembunyikan jutaan pohon yang mereka gunakan untuk membuat kertas, jutaan kulkas yang memproduksi gas CO dalam rangka merusak lapisan ozon, anti jalan kaki yang mebuat bumi penuh dengan gas sialan dan sesak napas dimana-mana!
Ah, semua memang hanya mulut. Hanya mulut yang punya otak, bisa berdusta, bisa berbohong. Hanya mulut yang menyelamatkan tangan-tangan mereka yang masih sempat membuang sampah di sungai, hanya mulut yang bisa menyembunyikan kaki palsu mereka di balik puluhan mobil mewah di garasi rumah mereka, hanya mulut yang pandai, pintar, licik.
Tapi itu mulut, hanya saru organ yang memberi sinyal bahwa mereka menyeru perang terhadap pemanasan global, memblokade pngrusakan alam dan dengan angkuhnya menunjuk beberapa golongan sebagai penyebab hancurnya bumi hingga mendekati kiamat. Hanya mulut.
Bumi memang sudah tua, sakit dan bopeng disana sini. Dunia sudah sakit. Sekarang sudah parah. Lantas kemana mereka selama ini? Berada di bawah ranjang mana mereka sebelum mulut mereka menghindari kesalahan dengan berteriak hijau? Oh, saya tau, mereka seperti monyet! Berteriak lantang memblokade dunia hanya untuk menyembunyikan jutaan pohon yang mereka gunakan untuk membuat kertas, jutaan kulkas yang memproduksi gas CO dalam rangka merusak lapisan ozon, anti jalan kaki yang mebuat bumi penuh dengan gas sialan dan sesak napas dimana-mana!
Ah, semua memang hanya mulut. Hanya mulut yang punya otak, bisa berdusta, bisa berbohong. Hanya mulut yang menyelamatkan tangan-tangan mereka yang masih sempat membuang sampah di sungai, hanya mulut yang bisa menyembunyikan kaki palsu mereka di balik puluhan mobil mewah di garasi rumah mereka, hanya mulut yang pandai, pintar, licik.
Juli 23, 2010
I Got My Own Think, That's why I Love myself More Than Ever
Suatu sore yang penuh angin, saya merasa bosan dengan keadaan. Saya bosan dengan segala perasaan menyalahkan yang akhir-akhir ini sering melanda saya. Ingin rasanya teriak dan melarikan diri. Dan itulah yang saya lakukan. Sendiri.
Saya mencoba berjalan sendiri, saya tidak ingin bergentung kepada siapapun lagi. Saya tidak ingin menyandarkan hati saya kepada siapapun lagi, hati ini akan menjadi milik saya utuh. Tidak akan lagi saya biarkan seseorang merukan konsep "I live my life while I'm alive" saya. Saya ingin menjalani kehidupan saya, sendiri. Mungkin bisa dibilang saya sedang menuju ke arah "miss independent". Dan itu bukan untuk siapapun, ini untuk saya.
Terima kasih terhadap semua sakit hati yang mendewasakan saya.
Terima kasih terhadap semua kenangan manis yang akhirnya membunuh rasa saya pelan-pelan.
Mungkin inilah yang disebut proses, tapi sangat menyakitkan.
Terima kasih pernah memberikan saya waktu yang tidak bisa kamu ambil kembali, yang berarti kamu telah memberikan saya sebagian dari porsi hidup kamu.
Dan terima kasih "pernah" menyayangi saya (mungkin) yang akhirnya menjadikan saya tau, seperti apa sayang yang tulus, yang bercanda, atau yang beralasan. Saya cukup tau saja.
Sore itu saya kembali sendiri menyusuri kota dengan si motor kesayangan saya, sendiri. Autis. Saya memang berusaha sebisa mungkin menikmati setiap hal kecil di sekeliling saya yang mungkin selama ini sdang saya lupakan. Tidak menyangka, ternyata rasa senang dibangun dengan hal kecil yang pernah saya anggap "buang waktu".
Duduk dengan green tea tong ji, ditemani angin kencang dan udara yang cukup dingin, saya memandang ke depan. Ke arah maju hidup saya. Suatu saat saya pasti merindukan saat-saat seperti ini. Suatu saat saya tidak akan bisa lagi menikmati duduk di Alun-alun Kota, mengamati anak-anak kecil yang bermain mobil-mobilan, pedagang angkringan yang sedang mendirikan tenda, pedagang mainan Upin Ipin, dan kuda kecil di tengah lapangan. Indahnya...indahnya keharmonisan. Saya melupakan sejenak perasaan terkutuk yang datang akhir-akhir ini. Saya berusaha memaafkan dan berdamai dengan keadaan. Tidak semua orang pernah mengalami apa yang saya alami, kenapa saya tidak mensyukurinya??
Yeah God, thanks for showing me the best way to wake up. Saya senang dengan semuaaaaaa hal tentang saya. Saya bahagia pernah mengenal dia, dan semua sakit hati yang dia berikan. Saya yakin, itu bukti sayangMu padaku, ya Allah...
Regards :)
Saya mencoba berjalan sendiri, saya tidak ingin bergentung kepada siapapun lagi. Saya tidak ingin menyandarkan hati saya kepada siapapun lagi, hati ini akan menjadi milik saya utuh. Tidak akan lagi saya biarkan seseorang merukan konsep "I live my life while I'm alive" saya. Saya ingin menjalani kehidupan saya, sendiri. Mungkin bisa dibilang saya sedang menuju ke arah "miss independent". Dan itu bukan untuk siapapun, ini untuk saya.
Terima kasih terhadap semua sakit hati yang mendewasakan saya.
Terima kasih terhadap semua kenangan manis yang akhirnya membunuh rasa saya pelan-pelan.
Mungkin inilah yang disebut proses, tapi sangat menyakitkan.
Terima kasih pernah memberikan saya waktu yang tidak bisa kamu ambil kembali, yang berarti kamu telah memberikan saya sebagian dari porsi hidup kamu.
Dan terima kasih "pernah" menyayangi saya (mungkin) yang akhirnya menjadikan saya tau, seperti apa sayang yang tulus, yang bercanda, atau yang beralasan. Saya cukup tau saja.
Sore itu saya kembali sendiri menyusuri kota dengan si motor kesayangan saya, sendiri. Autis. Saya memang berusaha sebisa mungkin menikmati setiap hal kecil di sekeliling saya yang mungkin selama ini sdang saya lupakan. Tidak menyangka, ternyata rasa senang dibangun dengan hal kecil yang pernah saya anggap "buang waktu".
Duduk dengan green tea tong ji, ditemani angin kencang dan udara yang cukup dingin, saya memandang ke depan. Ke arah maju hidup saya. Suatu saat saya pasti merindukan saat-saat seperti ini. Suatu saat saya tidak akan bisa lagi menikmati duduk di Alun-alun Kota, mengamati anak-anak kecil yang bermain mobil-mobilan, pedagang angkringan yang sedang mendirikan tenda, pedagang mainan Upin Ipin, dan kuda kecil di tengah lapangan. Indahnya...indahnya keharmonisan. Saya melupakan sejenak perasaan terkutuk yang datang akhir-akhir ini. Saya berusaha memaafkan dan berdamai dengan keadaan. Tidak semua orang pernah mengalami apa yang saya alami, kenapa saya tidak mensyukurinya??
Yeah God, thanks for showing me the best way to wake up. Saya senang dengan semuaaaaaa hal tentang saya. Saya bahagia pernah mengenal dia, dan semua sakit hati yang dia berikan. Saya yakin, itu bukti sayangMu padaku, ya Allah...
Regards :)
Juli 21, 2010
Menjual Kota Magelang

Seperti yang kita tahu, Magelang merupakan kota kecil yang memiliki kehidupan serba sederhana dan terletak pada jalur Jogja-Semarang. Uniknya, kota yang berada di tengah kedua kota besar tersebut memiliki karakter yang bahkan tidak sama dengan keduanya. Magelang memiliki iklim yang sejuk dengan dikelilingi 4 gunung besar, yaitu Gunung Merapi, Sindhoro, Sumbing dan Merapi. Dilihat dari topografinya, Kota Magelang cenderung datar, tetapi bila dikihat secara keseluruhan Kabupaten Magelang, topografinya cenderung berbukit-bukit. Berdasarkan sumber dari www.magelangkota.go.id, terdapat penjelasan yang lebih detail, yaitu bahwa KOTA MAGELANG yang terletak pada ketinggian ± 500m diatas permukaan laut dengan posisi pada 7 ° Lintang Selatan dan 110 ° Bujur Timur, merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang menempati posisi sangat strategis, karena terletak tepat ditengah pulau Jawa dan berada di persimpangan poros utama : Jogjakarta - Semarang ; Jogjakarta - Wonosobo ; Semarang - Kebumen - Cilacap. Jaraknya 76 km dari Semarang dan 42 km dari Jogjakarta.
Ada satu bukit di tengah Kota Magelang yang bisa disebut sebagai landmark Kota Magelang selain Alun-Alun dan Menara Air karya Thomas Karsten. Bukit di tengah Kota itu bernama Bukit Tidar, yang ditutupi oleh Hutan Pinus dan tanaman salak di seluruh badannya. Bisa dibilang bukit unik tersebut merupakan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTH) yang di sebelah timurnya terdapat sebuah sungai, yang membagi jalan utama kota menuju Pecinan. Bukit Tidar tersebut sering pula disebut sebagai "Pakuning Jawa" karena berada tepat dia tengah-tengah pulau Jawa. Meski Kota Magelang terkesan sebagi "Kota Desa", tapi suasana Kota akan mulai terasa saat anda memasuki kawasan Pecinan dan Alun-Alun Kota.
Pecinan merupakan terusan dari jalan yang menghubungkan Ringroad Kota Magelang dengan Alun-Alun Kota sehingga terjadi pertumbuhan yang ribbon di sepanjang Pecinan sampai dengan Alun-Alun Kota. Perkembangan Alun-Alun Kota juga terlihat signifikan, terlihat dengan luasnya perubahan land use di sekitar Alun-Alun Kota menjadi area komersil dan naiknya harga sewa maupun harga sewa tanah. Multiflier effect yang terjadi di Kota Magelang terhadap adanya Alun-Alun Kota berpengaruh terhadap perekonomian kota.
Seperti yang kita ketahui, perkembangan suatu kota tidak lepas dari perkembangan perekonomian di kota tersebut. Tapi, perkembangan kota dan ekonomi tersebut harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan agar tidak merusak citra kota. Kota Magelang memiliki 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Magelang Selatan, Magelang Tengah, dan Magelang Utara. Dari 3 kecamatan tersebut terdapat 17 Kelurahan, termasuk Kelurahan Cacaban yang merupakan tempat saya tinggal, dan berada di Kecamatan Magelang Tengah, tepat di tengah-tengah kota. Akan tetapi, meskipun saya tinggal di tengah kota, saya tidak merasa sumpek, bising, atau over-crowded seperti layaknya kota-kota lainnya. Inilah mengapa saya menyebut Kota Magelang sebagai "Kota Desa".
Menjual Kota Magelang. Ya, bagaimanakah Kota Magelang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk pada akhirnya dikenal masyarakat luas. Kota Magelang memiliki pariwisata yang cukup dikenal, yaitu Taman Kyai Langgeng. Magelang memiliki citra kota yang alami yang berbeda dengan kota lainnya. Sebagai kota kecil yang dilewati jalur Jogja-Semarang, Kota Magelang dapat dijadikan Transit Area Development untuk acuan pengembangannya, digabung dengan memajukan pariwisata alam dan keaslian kota. Apabila pengembangan Kota Magelang dilakukan sesuai dengan kawarkteristik wilayahnya, terutama kondisi topografi, alam, dan landscape kota, maka harmonisasi perkembangan ekonomi, kota dan kelestarian alam insya Allah dapat tercapai.
N.H Inda
I Remain-Alanis Morisstte
Ada satu bukit di tengah Kota Magelang yang bisa disebut sebagai landmark Kota Magelang selain Alun-Alun dan Menara Air karya Thomas Karsten. Bukit di tengah Kota itu bernama Bukit Tidar, yang ditutupi oleh Hutan Pinus dan tanaman salak di seluruh badannya. Bisa dibilang bukit unik tersebut merupakan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTH) yang di sebelah timurnya terdapat sebuah sungai, yang membagi jalan utama kota menuju Pecinan. Bukit Tidar tersebut sering pula disebut sebagai "Pakuning Jawa" karena berada tepat dia tengah-tengah pulau Jawa. Meski Kota Magelang terkesan sebagi "Kota Desa", tapi suasana Kota akan mulai terasa saat anda memasuki kawasan Pecinan dan Alun-Alun Kota.
Pecinan merupakan terusan dari jalan yang menghubungkan Ringroad Kota Magelang dengan Alun-Alun Kota sehingga terjadi pertumbuhan yang ribbon di sepanjang Pecinan sampai dengan Alun-Alun Kota. Perkembangan Alun-Alun Kota juga terlihat signifikan, terlihat dengan luasnya perubahan land use di sekitar Alun-Alun Kota menjadi area komersil dan naiknya harga sewa maupun harga sewa tanah. Multiflier effect yang terjadi di Kota Magelang terhadap adanya Alun-Alun Kota berpengaruh terhadap perekonomian kota.
Seperti yang kita ketahui, perkembangan suatu kota tidak lepas dari perkembangan perekonomian di kota tersebut. Tapi, perkembangan kota dan ekonomi tersebut harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan agar tidak merusak citra kota. Kota Magelang memiliki 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Magelang Selatan, Magelang Tengah, dan Magelang Utara. Dari 3 kecamatan tersebut terdapat 17 Kelurahan, termasuk Kelurahan Cacaban yang merupakan tempat saya tinggal, dan berada di Kecamatan Magelang Tengah, tepat di tengah-tengah kota. Akan tetapi, meskipun saya tinggal di tengah kota, saya tidak merasa sumpek, bising, atau over-crowded seperti layaknya kota-kota lainnya. Inilah mengapa saya menyebut Kota Magelang sebagai "Kota Desa".
Menjual Kota Magelang. Ya, bagaimanakah Kota Magelang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk pada akhirnya dikenal masyarakat luas. Kota Magelang memiliki pariwisata yang cukup dikenal, yaitu Taman Kyai Langgeng. Magelang memiliki citra kota yang alami yang berbeda dengan kota lainnya. Sebagai kota kecil yang dilewati jalur Jogja-Semarang, Kota Magelang dapat dijadikan Transit Area Development untuk acuan pengembangannya, digabung dengan memajukan pariwisata alam dan keaslian kota. Apabila pengembangan Kota Magelang dilakukan sesuai dengan kawarkteristik wilayahnya, terutama kondisi topografi, alam, dan landscape kota, maka harmonisasi perkembangan ekonomi, kota dan kelestarian alam insya Allah dapat tercapai.
N.H Inda
I Remain-Alanis Morisstte
Maaf, Saya Sedikit Kampungan
Seandainya saya tidak pernah bertemu sama dia, mungkin perasaan ini tidak akan pernah ada.
Seandainya saya tidak tersenyum di hari itu, mungkin hubungan ini tidak pernah ada.
Seandainya saya tidak begitu saja memperbolehkan dia masuk ke dalam hati saya, mungkin luka ini tidak pernah ada.
Seandainya saya tidak membalas smsnya waktu itu, mungkin hubungan ini tidak akan berlanjut.
Seandainya saya tidak bersikap baik kepadanya, mungkin senyum saya akan lebih indah dan jujur daripada sekarang.
Ah, terlalu banyak seandainya...
Seandainya saya tidak tersenyum di hari itu, mungkin hubungan ini tidak pernah ada.
Seandainya saya tidak begitu saja memperbolehkan dia masuk ke dalam hati saya, mungkin luka ini tidak pernah ada.
Seandainya saya tidak membalas smsnya waktu itu, mungkin hubungan ini tidak akan berlanjut.
Seandainya saya tidak bersikap baik kepadanya, mungkin senyum saya akan lebih indah dan jujur daripada sekarang.
Ah, terlalu banyak seandainya...
Juli 17, 2010
Wounded ... Terluka
Lost and broken
Hopeless and lonely
Smiling on the outside
Hurt beneath my skin
My eyes are fading
My soul is bleeding
I'll try to make it seem okay
But my faith is wearing thin
So help me heal these wounds
They've been open for way too long
Help me fill this soul
Even though this is not your fault
That I'm open
And I'm bleeding
All over your brand new rug
And I need someone to help me SEW them up
I only wanted a magazine
I only wanted a movie screen
I only wanted the life I'd read about and dreamed
And now my mind is an open book
And now my heart is an open wound
And now my life is an open SOUL for all to see
But help me heal these wounds
They've been open for way too long
Help me fill this soul
Even though this is not your fault
That I'm open
And I'm bleeding
All over your brand new rug
And I need someone to help me
So you come along
I push you away
Then kick and scream for you to stay
Cuz I need someone to help me
Oh I need someone to help me
To help me heal these wounds
They've been open for way too long
Help me fill this soul
Even though this is not your fault
That I'm open
And I'm bleeding
All over your brand new rug
And I need someone to help me sew them
I need someone to help me fill them
I need someone to help me close them up
Hopeless and lonely
Smiling on the outside
Hurt beneath my skin
My eyes are fading
My soul is bleeding
I'll try to make it seem okay
But my faith is wearing thin
So help me heal these wounds
They've been open for way too long
Help me fill this soul
Even though this is not your fault
That I'm open
And I'm bleeding
All over your brand new rug
And I need someone to help me SEW them up
I only wanted a magazine
I only wanted a movie screen
I only wanted the life I'd read about and dreamed
And now my mind is an open book
And now my heart is an open wound
And now my life is an open SOUL for all to see
But help me heal these wounds
They've been open for way too long
Help me fill this soul
Even though this is not your fault
That I'm open
And I'm bleeding
All over your brand new rug
And I need someone to help me
So you come along
I push you away
Then kick and scream for you to stay
Cuz I need someone to help me
Oh I need someone to help me
To help me heal these wounds
They've been open for way too long
Help me fill this soul
Even though this is not your fault
That I'm open
And I'm bleeding
All over your brand new rug
And I need someone to help me sew them
I need someone to help me fill them
I need someone to help me close them up
Juni 08, 2010
Think it, and just DO IT!
I've attended the Sweden class jut now. You know what i got? Motion.
I got motion in that class and well, Sweden food. That was not delicious, anyway lol.
After hearing the presentation...i felt that my brain was working and bumm!!! Something came to my mind. Oh God, i wanna study abroad!! Wherever you from, you have the same right to get the new experience in wherever country you want.
Then i think, if they can, why i can't?
A year ago, i thought that i need good, no, better basic in language to study abroad. I mean, English. I had to study how to create a good sentence in english, how to speak correctly in english, and so on. But i should never worry about that "little thing".
Learning by doing.
On July 2009, i visited Bangkok with all my classmates. We got some new things from there. we can't speak Thai language. But we can "survived" in almost a week at that momment. We didn't prepare. We didn't took a Thai language course. But in al most a week, we study Thai language. Ahaha... people can't speak english there! Serious!
So, don't be shame! (hey hey... advice yourself, first, dear!)
You can do it if you can think it. Just...FACE IT!!
regards :)
I got motion in that class and well, Sweden food. That was not delicious, anyway lol.
After hearing the presentation...i felt that my brain was working and bumm!!! Something came to my mind. Oh God, i wanna study abroad!! Wherever you from, you have the same right to get the new experience in wherever country you want.
Then i think, if they can, why i can't?
A year ago, i thought that i need good, no, better basic in language to study abroad. I mean, English. I had to study how to create a good sentence in english, how to speak correctly in english, and so on. But i should never worry about that "little thing".
Learning by doing.
On July 2009, i visited Bangkok with all my classmates. We got some new things from there. we can't speak Thai language. But we can "survived" in almost a week at that momment. We didn't prepare. We didn't took a Thai language course. But in al most a week, we study Thai language. Ahaha... people can't speak english there! Serious!
So, don't be shame! (hey hey... advice yourself, first, dear!)
You can do it if you can think it. Just...FACE IT!!
regards :)
Langganan:
Postingan (Atom)