November 28, 2011

Coincidence

Oke, saya lagi tertarik sama satu kata ini. Coincidence. Beneran nggak sih kalo coincidence itu ada? Pendapat orang jelas beda-beda. Jadi sekarang yang mau saya utarakan disini jelas pendapat saya. Coincidence. Kalo kata kamus Hasan Shadily and John F. Echols, coincidence berarti kebetulan. Kebetulan di mata saya adalah cara Tuhan bekerja. Misterius dan semua orang nggak akan pernah tau how it works. Begitu juga coincidence. Kita taunya 'oh, those happen!'. Hanya tau itu aja. Beda dengan 'coincidence yang diusahakan'. Itu bukan lagi kebetulan namanya mah!

Saya bisa dibilang kebetulan kali ya. Awal kuliah dulu saya addicted banget sama facebook. Sampe banyak temen yang meski mutual friend-nya cuman satu, saya add juga. Najis banget kalo inget, tapi itu bagian dari pendewasaan diri dulu, hidup tanpa menjadi ababil itu bukan hidup yang sempurna, kawan. Sama seperti gak ketemu kamu di mimpi pun, namanya bukan mimpi yang sempurna, kata Ariel Peterpan. *njis, dilebar-lebarin pula masalah tak sempurnanya itu!*
Nah, dari facebook kan saya jadi kenal anak-anak DKV (Desain Komunikasi Visual) yang sukanya bawa-bawa kamera terus bikin-bikin ilustrasi, atau ornamen, atau apalah informasi huruf yang bisa digrafisin-visualin, gitu. Nah, gadget yang 'mereka banget' kan pastinya gadget yang bagus buat grafis, gadget yang cerdas dalam pewarnaan dan lain-lain. Out of all, Apple for example. Ngeliat keeksklusifisan dan kesimpelan bentuknya, saya jadi jatuh cinta. Sama si Apple whatever whatever itu maksudnya. But i knew, the price is extremely fantasric, so damn expensive. Jadi, saya hanya bisa memilikinya kalo udah kerja, that's it dan saya close semua mua keinginan buat punya si Apple whatever whatever itu. Tapi yes, keinginan punya produk Apple yang fantastic selalu ada di setiap ulang tahun. Not to be begged, just to remember me that i have a dream. Buat kalo semisal saya baca wishlist saya, si Apple yang ada di wishlist nomer satu itu selalu memecut semangat saya buat selesein kuliah, get your dream job, buy your dream gadget. Begitu ceritanya.

Coincidence kah? Entah. Itu mungkin bisa ngejawab beberapa komentar temen-temen yang suka nanya 'kenapa sih saya suka Apple, kenapa suka iPhone yang harganya sesadis itu, kenapa suka iPod yang keguanaannya sama kayak MP3 biasa, kenapa suka yada yada yada yadaaa...'. You can shut your mouth up, you've got the answer <3

Ciao!

November 17, 2011

Pagi ini saya lagi sedih, readers. Semalem saya kan nyari info soal how we can do to save orangutan. Dan ternyata, setelah logwalking dan mampir blognya Mbak Ajeng, saya menemukan salah satu cara buat kita bisa ikutan berpartisipasi. Nah, caranya adalah dengan mengadopsi bayi orangutan yang yatim piatu. Buat saya yang belum kerja, nominal biayanya mungkin agak mencekik karena belum ada penghasilan pasti selain kadang kerja part time dan uang saku dari ayah sendiri (ini memalukan sebenernya). Saya ngerti kok kapasitas saya, saya juga tidak memaksakan. Tapi saya memang selalu berpkiran: kenapa nggak dicoba? Alhasil, mungkin saya bisa kalo diajak urunan.

Jadi, semalam itu saya sebarluaskan berita soal adopsi orangutan itu. Saya yakin, diluar sana pasti ada orang yang bakal tersentuh dan berkapasitas untuk mengadopsi bayi orangutan. Tapi sampai paginya, saya tunggu nggak ada repky apa-apa soal adopsi orangutan. Tidak sekalipun usaha buat gimana-gimana ngapain gitu kek. Alasannya sama, belum punya duit. Saya juga belum punya duit, tapi ya, jujur, saya sekarang lagi diambang antara kesal, kecewa dan marah. Gimana bisa mereka lancar minta pencerahan, belas kasihan orang lain kalau mereka sedang ada masalah? Padahal masalah mereka bukan menyangkut hidup mati mereka, bukan menyangkut pemusnahan habitat mereka. Coba tengok orangutan. Tengok dan lihat dengan seksama. Kita hidup memang karena suatu masalah. Coba kalo Hawa nggak bikin masalah, kita semua pasti tinggal di surga, orangutan juga tinggal di surga :'(

Kembali ke topik orangutan.
Dan keadaan orangutan benar-benar mengusik saya. Populasinya, yang dulu sekitar 200 ribu, sekarang udah ngga ada separuhnya. Pembakaran hutan, memusnahkan sumber makanan mereka hingga mereka terpaksa mencari makan di perkebunan kelapa sawit dan dianggap sebagai hama. Coba bayangkan jika kalian yang menjadi orangutan. Cari makan buat kelangsungan hidup kalian dan selanjutnya dianggap hama? Sakit hati nggak tuh? Yah, kalo orangutan mah udah ditelennya itu rasa sakit hati. you never walk in their shoes, saya juga belum. Tapi manusia punya otak kanan yang diciptakan buat berempati dan bersimpatik. Bukan hanya ngebangga-banggain dirinya dan keluarganya yang bisa ini-itu tapi belum bisa nolong yang lain. Sorry kalo harus nyalah-nyalahin kalian. Tapi emang saya udah eneg sama hal-hal sok baik sok suci sok pahlawan. mau tau pahlawan yang sebenarnya? Tanya para relawan merapi yang dulu-dulu! Tanya relawan orangutan, tanya pembela rusa-rusa yang kehausan di Istana Negara, tanya gimana perasaan komodo yang dijadiin bahan becandaan seluruh dunia? Jangan hanya bangga dengan " saya udah khatam Al-Qur'an sepuluh kali lho, Alhamdulillah ya." ya kalo udah khatam, implementasinya apa? Saya lebih suka denger " yah, ngga banyak sih, sehari masukin seribu aja, setahun udah bisa buat sedekah."

Yes, i take it seriously. Terserah orang bilang saya frontal atau gimana, menurut saya, dirty word means nothing, tapi dirty act means villain. Jadi lebih pentingan tindakan daripada perkataan? TRUE! SUPER TRUE! Sumpel mulut saya kalo perkataan saya udah mulai nusuk, saya ngga masalah asal perilaku saya ngga menusuk siapapun.

Oke, kembali ke orangutan. this is just simply touchy to see them sleep in the jungle without their parents. Alone and wounded. Mereka dianggap hama, oke, shit you people! *akhirnya ngomong jorok juga* *yaterserahgue*
Ini ada link buat adop orangutan --> http://orangutan.or.id/adoption dan saya berharap kalian berminat. Buat biaya dan apapunnya, semua lengkap disitu. Kok tulisannya bahasa inggris? Ya lo berharap tulisannya bahasa sansekerta?! Nggak ngerti caranya? Coba open google translate. Sori, ini gue to the point aja ngomongnya, biayanya mureeeh buat mereka yang udah kerja. Kalo saya, saya memplanningkan diri buat tahun depan mendaftarkan diri sebagai 'ibu' orangutan. Terseraaaaah lo mau bilang apa, well-done is better than wellsaid, right? Tanya Ippho santoso, jangan cuman ngomongin kebaikan-kebaikan Ippho aja, lakuin!

November 13, 2011

Empat Musim

Cheerstraw!! :)

Ini bukan cerita tentang musim secara harfiah. Ini cerita bukan pula tentang persahabatan yang selalu berbeda, tapi justru entah mengapa, empat musim yang menyatu dalam tahun, membentuk serasi waktu dan bersama terkungkung dalam haru.
Empat musim, kata orang Eropa, ada musim dingin (winter), musim semi (spring), musim panas (summer) dan musim gugur (fall). Winter untuk Rina yang pendiam dan penuh misteri. Spring, untuk Hannah yang warna-warni. Summer untuk Priscel yang selalu ceria dan segembira tamasya. Dan Fall untuk aku yang dramatis dan setengah romantis. Yes we are fantastic four!

Kami bukan geng, kami adalah sahabat yang bersatu dan sejalan dengan persahabatan lain. Kami semua memiliki hidup masing-masing, aku contohnya, aku punya sahabat lainnya. Sebut saja sahabat KP saya, Intan, Wulan, Aris dan Ikhsan. Sahabat KKN. Sahabat SMP sebut saja Indah, Mami, Anisa, Ayu, Eliana, Nurma, Ayok dan Doni. Sahabat SMA, Rara. Sahabat... kenapa jadi ngejabarin temen menggalau aku sih? Ya, intinya kami tidak memusatkan kehidupan pada musim kami. Bukan pula sisa atau pinggiran yang terbuang. Entah bagaimana caranya, kami ada dan bersama. Tidak selalu teratur berjumpa, tapi selamanya berlangsung dalam ada.

Aku menyayangi mereka. Meski tidak dalam sengaja kita berjumpa. Tapi entah dalam jeda waktu, kita bergerak dan berbicara bersama. Bagaimana? Entahlah, semesta membuat empat menjadi kelompok penuh asa, yang semangat membicarakan masa depan.

Hannah untuk ide-ide kreatifnya dan pengetahuan mendalam soal finansial.
Priscel untuk analisis ekonomi dan kemampuan marketingnya.
Rina untuk ketegasan dalam butir-butir kebijakan dan intelektual negeri.
Dan aku, apa ya? Entahlah, mungkin menulis, menciptakan dan mengkritik.

Kita berempat yang bersatu dalam sama. Kita berdebat dan berakhir bahagia. Priscel selalu keras, kadang lupa menyaring setiap katanya, tapi Inda selalu diam mengalah dan akhirnya lupa untuk marah :D
Hannah yang kadang emosi secepat kilat, dati perlalu secepat angin yang lewat. Atau Rina, yang diam menyembunyikan galau, yang minta ditemani dalam menurunkan kadar resahnya. Kami berempat beda, dan saling melengkapi. Kami bertemu dalam kuliah yang nyata, kuliah kehidupan. Kami berjalan bersama, menaiki tangga masa depan. Kami berbeda jurusan, tapi kami menyambung asa dengan tawa.

Gals, thank you for these almost 5 years. I love you, always. Keep remembering how we laugh, how we share, and how we cry. Stay here, either in my heart, and yours. I'm gonna miss you, for almost my life time :)

Thanks for being my life,
Inda, 13 November 2011
 

November 03, 2011

Ayah Mengajariku Sederhana

Cheerstraw!! :)

Ayah mengajariku sederhana.
Sesederhana memetik arbei sepulang sekolah.
Sesederhana membeli teh anget di Pak Soleh selepas sekolah usai.
Sesederhana mengaji setiap pukul empat sore.
Sesederhana selalu memberi kepada yang membutuhkan.
Sesederhana berjalan kaki sejauh yang aku sanggup.
Ayah mengajariku hidup sederhana.
Tapi aku masih sering bertanya, hidup sederhana itu seperti apa?
Membeli ronde setiap sore? Makan mie ayam bersama saat hujan?

Ayah bilang, di atas langit masih ada langit.
"Naik bis aja, Ibumu masih belum bisa lepasin kamu naik motor."
Dan akupun belajar sederhana dari hal itu.
Merasakan naik bis pada pukul empat pagi bersama pedagang pasar dan pekerja penglaju lainnya? Sudah.
Meredakan tangisan anak kecil dengan memberinya sebuah gelang karet? Pernah.
Mempersilakan orang tua duduk di bangkuku? Sering.
Menawarkan makanan buat buka puasa dengan teman sebangku di bis? Beberapa kali.

Ayah, apakah aku sudah bersederhana?
Apakah aku sudah memenuhi kriteria orang-orang yang tidak sombong?
Ayah, tegur aku bila aku mulai sombong.
Ingatkan aku untuk selalu memandang ke bawah, kepada mereka yang tidak seberuntung aku.
Ayah, terus jaga aku agar menjadi orang yang sering memberi,
dan selalu sederhana.

Jogja, 3 November 2011

Oktober 29, 2011

Be Patient and Brave

Cheerstraw!! :)

Yeah it's getting bored when i'm beautifully sitting on the comfort chair, waiting the internet to be connected but then it won't. I sip my coffee again and again and eat my meal and think, "what the hell is happening?". Tapi ternyata, kesabaran itu berbuah manis, semanis wajahku *membungkus dan melempar diri sendiri ke Arab Saudi*
Kesabaran yang berbarengan dengan keberanian.

Maksud gue, tadinya kan inet gue ngga bisa konek ke wireless setempat, gue juga enggak tau kenapa, dan tadinya juga engga mau tau. Tapi ternyata duduk begini sambil ngopi doang itu ngebosenin guys. Dan gue dengan kepercayaan diri yang tinggi, datang menghampiri mbak-mbak yang di kasir sambil nanya: 

Gue: "Mbak, disini ada yang jago komputer enggak?"
Mbak kasir: " Ehmm engga tau ya mbak. Yang bisa itu mas mas yang pake baju putih itu," (sambil nunjuk mas-mas yang lagi ngopi).
Gue: Itu siapa ya Mbak?
Mbak Kasir: "Itu supervisor disini."
Gue: "Mbak berani manggil ngga?" (kurang ajar banget ya gue).
Mbak Kasir: "Emmms sebentar ya"

Dan akhirnya itu supervisor dateng ke meja gue sama Ciqa dan ngebenerin laptop gue. Tapi dasar emang laptopnya minta harakiri, ini tetep ngga bisa konek ke wifinya coffee toffee. Sugar-Honey-Ice-Tea. Gue udah mau meledak tapi gue kalem-kalemin aja. Dan ternata emang ngga bisa juga. Gosh, thankyouverymuch. Is that Your sense of humor?

"Mbak, pake wifinya Tunas Jaya aja ya?" begitu kata mas supervisor akhirnya.

Apa aja deh yang penting gue engga basi disini, batin gue. Dan akhirnya gue konek pake wifinya Tunas Jaya. Sayangnya sih ini ga bisa buat ngebuka facebook. Yasudahlah, mungkin ini yang terbaik. Tapi kalo soal download mendownload, ajegile, ini cepetnya ngelebihin bus Jogja-Magelang yang gue tumpangin kemaren sore! Waz wuz ngga pake rem! ASOOOY, tereak gue dalam hati.
Ternyata setelah ditibang masak-masak, kesabaran itu selalu akan berbuah manis yah! Gue ngga konek pake Coffee Toffee wireless tapi kape Tunas Jaya dan ternyata lebih kenceng! Asik, i love Your sense of humor, God :)

29 Oktober 2011

Oktober 27, 2011

Does Sacrifice Really Exist?

Gue ngga tau apa yang terjadi dalam diri gue. Ada seribu alasan sebenernya buat ngga mau jadi diri gue. Tapi biar hidup aman damai sejahtera lahir batin, gue kudu berdamai sama masalah-masalah, kelemahan dan hidup gue sendiri.

Gue pernah jatuh cinta. Pertama kali gue jatuh cinta waktu kelas 1 SMP. What did i do for those years back? Silent. Ya, begitulah gue. Selalu ngga ada aksi, ngga menarik buat dibuat cerita layaknya Cinta dan Rangga di perpustakaan. kalo gue sih ya, just stared him from away, in the corner. Jadi namanya banci ya?

Kadang gue menyesal, kenapa gue dilahirin tanpa keberanian seperti itu. Kata orang kan ladies first. Tapi kata gue, yeah well, after you. Najis. makanya dimanapun gue selalu merasa gagal menjadi pemimpin. Mungkin karena sugesti dalam diri gue, dan kata-kata after you itu yang berteriak nyaring dalam otak. Mungkin karena itu pula, gue hanya 'mau' punya 3 mantan pacar. *pasang kacamata nerd*
Gue bukan penganut the first for the last, bukan pula penganut save the best for the last. Kadang gue ngerasa kalo gue cewek yang paling biasa diantara yang paling biasa karena terlalu nekanin kata 'setia' dalam setiap spasi kata yang gue ucap. Termasuk mencintai seseorang. If i fall for a guy, i would never let him go (from my heart). Padahal, namanya hambatan atau resistor selalu aja ada. Meskipun gue cuman secret admirer seseorang, katakanlah begitu, kadang gue ngerasa gue harus setia mampus sama dia. Why did i do that stupid thing, gal? He doesn't even see your existence! Makanya gue bilang tadi, kebodohan gue udah masuk taraf imbisil, yang artinya sebentar lagi naek pangkat jadi idiot.

Resistor itu padahal ngga melulu yang jelek-jelek, bisa berwujud pedekate dari yang lain juga *Gosh, itu surganya buat anak SMA!*. Tapi karena gue straight banget sama prinsip gue sendiri, jadilah gue jomblo penuh harap yang merindukan pangerannya datang menunggagi kuda putih dan mengajak gue nonton konser The Used dan makan malam dengan Indomie goreng. But well, that was only in my mind. Caseclosed sampai akhirnya gue bisa move on dari perasaan gue sendiri. Seorang lelaki yang 'rela' pedekate sama gue for almost three years. Yes, THREE YEARS of his wasted time waiting me! Gue ngga nyangka, ternyata pengorbanan itu benar-benar ada.

Jadi gue ngerasa, mungkin setiap tetes airmata yang gue keluarin buat dia-yang-diam-diam-gue-cintai itu pengorbanan juga? Gue ngerasa aja, gimana rasanya kalo seandainya gue jadi wasted-time-guy kayak ex gue itu, apa rasanya juga sesakit dan seperih gue yang sekarang?

Tapi beneran nggak sih, pengorbanan itu benar-benar ada? Kalo perbuatan yang diselipin perasaan ngga ikhlas, apa namanya juga pengorbanan? Yaa suddenly aja gue kepikiran itu. bahkan, sampai saat ini gue masih yakin, someday gue bakal ngedapetin apa yang gue lakuin sekarang. maksudnya gini, seperti istilah, apa yang lo tanam, itulah yang lo tuai. Bagitu. Sekarang, gue melakukan suatu pengorbanan, dan besok gue yang jadi korban? *ditampar, dimutilasi, dibuang ke Libya, dikubur bareng Khadafi* *selfslap*

Kalo sekarang gue berkorban, apakah nantinya bakal ada cowok yang rela berkorban gue juga?

Udah, ngga perlu dijawab. Gue ngga butuh pengorbanan yang segede monas atau sepanjang The Great Wall. Gue cuman butuh pengorbanan, seseorang yang mau meluangkan waktu buat gue. Seperti yang gue pikirin, timing is everything.

Jogja, 27 Oktober 2011

Oktober 04, 2011

Coffe Vs Life



 Have you ever think that your life is bitter? Gue juga sering berpikiran kayak gitu. Sering malahan. Dikit-dikit ngerasa hidup ngga pernah adil, padahal gue sendiri yang ngga adil sama hidup. Emang sifat manusia ya, sering nyari pembenaran diri.


 Nah, kalo denger dan nyeruput kopi? I bet you have ever sipped a cup of hot coffee. Gimana rasanya? Pahit? Perbandingan yang bagus kan sama hidup yang kata lo pahit? Jadi itulah yang gue rasain. Ketika gue ngerasa semesta udah mulai cari ribut sama gue, dan gue ngerasa hidup gue pahit banget, gue dateng aja ke Kedai Kopi dan memesan espresso. Kalo perlu, double espresso.

Sebagian orang suka menyerahkan masalahnya kepada alkohol, kalo gue, secangkir kopi aja yang ngga bikin hangover. Ketika itu, rasanya sedang pusing, banyak tugas, banyak masalah hati, banyak selentingan lain yang menguras tenaga juga. I'm sipping a cup of coffee, than i can think clearly. My life's not as bitter as coffee, not at all. Kemudian gue habisin secangkir kecil espresso gue. Habisin semua pahit dalam hidup gue, biar selanjutnya gue bisa merdeka, berjalan beriringan dengan masalah-masalah gue. Ah, life is beautiful ,isn't, babe?

-Jogjakarta, 4 Oktober 2011_

"I love You" is a toy (for you)



Terimakasih Tuhan telah mengirimkanmu untukku

Tuhan memang Maha Adil
terlalu banyak malam yang aku lewatkan dengan impian
meskipun tanpa kesedihan, aku tetap membayangkan
Tuhan selalu menemukan cara terbaik untuk hamba-Nya
mendekatkan hati tanpa kesadaran
menerangkan cinta tanpa kehampaan
membuatku jatuh untuk mempertemukanku dengan jiwamu
tidak penting untuk memahaminya
terlalu sombong untuk tak mensyukurinya
bukan apa yang aku inginkan
tapi kurasakan yang kubutuhkan

the whisper of your voice, the another little things, make me love u
why do i love you ? I think and smile, the list of answers could run for a mile
The way you support me
Even my silly notions
The way that you care
And show such devotion
I know I can depend on you for support and honesty
That patient understanding 
That you always give to me
The dreams that I dream
That all involve you
The possibilities that I see
The things that we can feel
How you finish the puzzle
That lies inside my heart
How deep in my soul
You are a very important part
I could go on for days
Telling of what I feel

But all you really must know is...My love for you is real.

I thank God He sent you to me :)).

Ini adalah waktu gue buka email, dan terselip email dari elo, puisi epertama lo buat gue, yang ternyata masih gue simpen. Pathetic ya, udah jadi mantan, udah ngeboongin gue berkali-kali, keluar masuk kehidupan gue kayak gue facebook yang bisa lo log in dan log out begitu aja, dan gue masih ngga bisa marah sama elo. Ajaib, kalo bukan karena Tuhan yang ngasih gue kesabaran yang segitu dahsyatnya, mungkin udah dari dulu gue lemparin elo dari puncak Monas. Iya, gue cuman bercanda :D

In Heaven

Aku tidak berkedip dari ramainya lampu di sekitar kanan dan kiri jalan. Gedung-gedung juga tinggi banget. Satu-satunya kawasan yang membuat aku dan Papa nyaman berjalan di Orchard Road ya itu, terang benderang, jalannya lurus bagus, dan emang enak buat jalan. Sambil memakan hot dog, aku dan Papa masih berjalan bergandengan tangan
Aku takut tersesat. Aku kan lagi di Singapura. Tadinya Papa nggak pernah mau kalo aku ajak tamasya ke Singapura. Padahal dulu aku, Papa, dan Mama suka banget ke Singapura. Kalo Papa sih, kata Mama, suka nonton balapan mobil. Kalo aku dan Mama suka makan aja di Mc Donalds. Terus jalan-jalan di sini, atau di Little India. Mama suka belanja baju yang bagus-bagus dan warna-warni. Dan aku suka dibeliin baju bergambar Minnie Mouse, tokoh kartun kesukaanku.
“ Papa?” tanyaku setelah aku menghabiskan hotdogku. Mulutku belepotan saus dan akhirnya Papa yang ngelap mukaku sampai bersih pakai saputangannya.
“ I want Minnie Mouse T-shirt. Papa, please buy me one piece,” pintaku. Papa menghentikan langkahnya dan mengajakku duduk di bangku berwarna cokelat. Dari tempat kami duduk, cahaya terlihat semakin bagus. Dan lagi, tidak hanya berwarna putih terang, tapi berwarna-warni. Indah sekali.
“ Is there nothing else cartoon you like? Another but Minnie?” tanya Papa. Aku menggeleng. Aku suka Minnie, Minnie Mouse itu lucu, dan selalu memakai pita. Minnie itu seperti Mama.
“ Why should Minnie?” tanya Papa.
“ Because Minnie is never lonely. She has her life-time boyfriend, Mickey. I never want to be alone, Papa. I wanna be like Minnie,” jelasku. Papa terdiam. Aku juga terdiam. Biasanya aku, Papa, dan Mama duduk bertiga bersisian di Orchard Road seperti ini.
“ Papa, lampunya bagus-bagus ya. Warna-warni,” ujarku. Papa menatapku dengan wajah sendu.
“ Apa di surga juga seterang ini, Papa?” tanyaku lagi.
“ Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Papa.
“ Karena Mama takut gelap, Papa.”

Sendja





Ada yang berlompatan di pikiran gue. Sebenarnya ini berupa pertanyaan. Semua orang selalu menginginkan yang terbaik, mungkin gue juga begitu. Adakah yang pernah bertanya, atau terbersit pertanyaan dalam otak kalian, kapan dan dimana waktu dan tempat terbaik kalian? Mungkin ini lame, semua waktu menurut gue terbaik. Waktu sama keluarga, sama temen-temen, bahkan sama (mantan) pacar juga. Tapi ada beberapa waktu yang bener-bener bikin hati gue bergetar tiap mengalaminya. Dan tempat yang bikin gue enggan untuk bergerak meninggalkannya.

Buat gue, senja dan pantai adalah pasangan paling serasi. Gue bisa nangis sampai sesenggukan kalo ketemu senja. Satu senja yang lamanya ngga pernah lebih dari setengah jam, mampu mengaduk-aduk perasaan gue yang tadinya tanpa rasa apa-apa, plain, menjadi penuh warna. Warna sendu, warna yang kelabu.

Kadang gue pengen banget, kalo lagi deeply sad, berharap kalo belakang rumah gue itu pantai, pantai yang ada senjanya. Duduk berjam-jam di bawah senja, menikmati hilangnya matahari di balik cakrawala. I imagine that heaven should be like that. Hening, sunyi, dan suara adzan. What a perfect beautiful god ever created.

Dear God, may i marry with nightfall? It might make me sad, but it never makes me cry

-Jogja, 3 Oktober 2011-