Juni 08, 2010

Think it, and just DO IT!

I've attended the Sweden class jut now. You know what i got? Motion.
I got motion in that class and well, Sweden food. That was not delicious, anyway lol.
After hearing the presentation...i felt that my brain was working and bumm!!! Something came to my mind. Oh God, i wanna study abroad!! Wherever you from, you have the same right to get the new experience in wherever country you want.

Then i think, if they can, why i can't?
A year ago, i thought that i need good, no, better basic in language to study abroad. I mean, English. I had to study how to create a good sentence in english, how to speak correctly in english, and so on. But i should never worry about that "little thing".
Learning by doing.

On July 2009, i visited Bangkok with all my classmates. We got some new things from there. we can't speak Thai language. But we can "survived" in almost a week at that momment. We didn't prepare. We didn't took a Thai language course. But in al most a week, we study Thai language. Ahaha... people can't speak english there! Serious!

So, don't be shame! (hey hey... advice yourself, first, dear!)
You can do it if you can think it. Just...FACE IT!!


regards :)

Mei 18, 2010

The (Un)Perfect Life

Firen berjalan semakin jauh dari rumahnya. Biarlah meski raga ngga diijinkan untuk dekat dengan cintanya, dia juga ngga mau dekat dengan rumahnya. Rumah yang seperti neraka. Hatinya bersenandung lirih, dangkal. Pikirannya kacau, pertengkarannya dengan Papa membuatnya semakin muak dengan keadaannya. Dia ngga pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga sok priyayi seperti itu. Bukan dunianya bila dia harus selalu tampak seperti putri tunggal yang sempurna dan menikah dengan pangeran manja yang sok pamer harta. Dia bukan seperti itu.

Dia telah menemukan jalannya. Meski harus diawali dengan lara, tersaruk dan timpang, ini adalah jalan yang terbaik. Biarkan saja Papa dan Mama menangisi dirinya semalaman, dia bukan lagi barbie yang bisa dengan mudah diiniitukan. Dia punya kepribadian yang kuat, yang pantang menyerah dan bebas. Dia bukan prisoner.

Sebuah surat tergeletak manis di atas tempat tidur. Lumuran darah membuatnya semakin tragis. Ya, hidup memang tragis. Firen ingat bagaimana dia menulisnya dengan air mata menggantung di pelupuk matanya. Sedetik lagi akan tumpah, menyatu dengan darahnya sendiri. Firen ingat beberapa jam yang lalu, saat rumah sepi hanya ada Bibi Lora dan pembantu lain. Sedang Mama dan Papa sedang pergi menghadiri makan malam dengan orang-orang memuakkan lainnya.

Mama dan Papa,

Maafin aku. Aku ngga bisa lagi nurutin kemauan kalian. Kalian adalah orang yang sangat terhormat, demi Tuhan aku letih. Perkataan kalian begitu mengusikku untuk mengambil keputusan ini. Aku ingin bebas.

Firen menghela napas sebelum meneruskan suratnya. Keputusan ini sudah bulat, ngga ada lagi yang bisa menghalanginya. Kehidupan lain telah bisa dia lihat dalam pipirannya.

Mama dan Papa, Firen sangat mencintai Rick. Berapa juta kali pun Papa berusaha memisahkan kita, Firen ngga peduli. Dengan cara ini Firen bisa dengan tenang menemui Rick sesuka Firen. Dari pertama FIren merangkak dan berjalan, seakan jalan hidup Firen telah tertulis di kitab hidup Papa. Firen telah Papa tulis harus menikah dengan pemuda kaya pilihan Papa. Tapi Firen ngga bisa. Tolonglah Papa dan Mama, sekali dalam seumur hidup Firen, biarkan Firen sendiri yang mengfambil keputusan tentang siapa yang harus Firencia pilih. Ini menyangkut kehidupan Firen. Atu lebih baik Firen begini, meninggalkan Papa, Mama, dan kitab kehidupan Papa.

Air mata itu tak tertahankan lagi. Kenangan bersama Mama saat belajar masak dan saat Papa menggendongnya saat dengkulnya terluka terputar pelan di otaknya. Firen tau, Papa dan Mama terlalu sayang padanya, sampai-sampai mereka menginginkan selalu yang terbaik untuk anak tunggalnya itu. Lantas bagaimana bila yang terbaik itu bukan yang terindah, bukan yang Firen inginkan?

Rick…Firen merinding mengingat nama itu. Lelaki itu telah mati. Lelaki itu telah tertusuk pisau orang suruhan Papa. Papa, pejabat teras nomor satu di Jakarta. Papa, sang penguasa. Papa ngga mau Firen pacaran dengan pemuda anak bule pedagang tas tiruan Louis Vuitton di Mangga Dua. Pemuda baik hati yang telah mencuri hari Firen. Dan dia bukan priyayi.

Atas nama Tuhan, Firen minta maaf. Firen telah mengecawakan kalian dengan keputussan sepihak ini. Tapi tahukah Papa dan Mama? Kalian telah mengecewakan Firen, seumur hidup Firen. Biarkan saat terakhir ini Firen yang menentukan kapan Firen harus pergi, kapan Firen tetap menjadi manekin kalian. Firen sayang kalian, apakah kalian juga begitu?

Ya, seharusnya Firen ngga bertanya seperti itu. Tentu aja Mama dan Papa sayang padanya. Kalo ngga, kenapa dari saat Firencia lahir, Papa telah merencanakan yang terbaik untuk dirinya? Sekolah di tempat termahal, terbaik, dan tersesat (menurut Firen!). Ngga ada teman yang sejati, ngga ada orang yang ngga pake topeng muka. Firen ingin hidup normal, itu aja, apakah salah?

Mama, makasi ya udah ngajarin Firen masak, uda bikin Firen wanita paling sempurna dalam usia tujuh belas tahun. Terimakasih atas dedikasi Mama menjadikan Firen manusia paling kuper sedunia. Firen ngga pernah punya teman. Firen ngga boleh dengerin lagu Saosin seperti yang teman-teman Firen denger. Kata Mama itu band setan, kata Firen itu lagi booming Ma!

Bibi Lora, terimakasih atas semua kebaikan Bibi. Bibi yang mencuri waktu Firen untuk bertemu Rick, yang membuat hidup Firen kembali berwarna. Mama tolong jangan pecat Bibi Lora!

Firen ngga bisa lagi menahan airmatanya. Semua kesedihan ini harus diakhiri sekarang juga. Rasa sakit sudah biasa Firen rasakan. Kesedihan, teman hidup Firen selama ini. Kesendirian, teman saat malam menjemput. Kegembiraan hanyalah bonus kebersamaannya dengan Rick. Lelaki yang selalu menghiburnya setiap bertemu. Lelaki dengan kaki timpang sebelah dan keindahan hati yang luar biasa. Tidak bisakan Papa dan Mama melihat segalanya dengan mata hati? Firen tau, seperti apapun kebaikan Rick, Mama sama Papa ngga mungkin membiarkan pemuda dengan cacat fisik menjadi pendampingnya. Rick pandai main gitar. Rick pandai mengecap lagu-lagu indah, menjadi belaian lembut di telinga Firen. Membuat Firen tersenyum, bahkan tertawa dengan gurauannya yang menyenangkan. Firen merindukan Rick. Biar Papa dan Mama juga merasakan kehilangan seperti yang Ayah dan Ibu Rick rasakan.

Papa, Mama, selamat tinggal. Terimakasih atas kerelaan kalian. Firen sayang sama kalian meskipun kalian sama sekali belum pernah membuat Firen bahagia, kecuali melahirkan Firen dengan selamat dan membuat Firen bertemu dengan Rick yang telah tiada.

Selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu kembali, dalam kehidupan yang lain…

Firen melipat kertas itu dengan sangat indah, sisa kelembutan yang masih dia punya. Darah, darah itu ngga sengaja menetes di kertas biru itu. Firen berusaha mengelap, tapi malah membuatnya semakin melebar. Merah dan biru, sedih dan haru. Firen menghapus airmatanya. Wajahnya merah kena darah pula.

Sekarang, Firen lega. Mungkin nerakalah tempatnya telah mengecewakan kedua orang tuanya. Tapi apa daya, neraka adalah hidupnya selama ini, mengapa pula dia harus takut dengan neraka? Semakin jauh jiwanya meninggalkan rumah, semakin kelegaan itu membuncah di hatinya. Lepas dari Mama dan Papa, pergi kemana pun dia mau. Firen tersenyum dalam ketransparanan wajahnya. Bintang itu terasa semakin dekat, seakan langit hendak memakannya bulat-bulat. Ngga ada yang bisa melihat keindahan ini. Jutaan bintang menari indah di atasnya, menyambut kedatangannya di atas nirwana, berjalan di atas sucinya putih awan. Lembut, dingin, wangi surgawi. Apa ini neraka? Firen memandang ke bawah. Rumahnya ngga terlihat lagi. Perjalanan yang amat jauh rupanya.

Jauh di rumah Jakarta Timur…

“ Fireeeen!!” teriak Mama histeris. Matanya membiru. Dia ngga bisa lagi memandang wajah gadis tunggalnya itu. Tujuh belas tahun waktu yang sangat singkat. Dia adalah seorang Ibu, sangat menyayangi putrinya. Apapun akan dia lakukan asal Firen kembali. Mama ngga mau makan. Mama kurus sekali. Mama ngga pernah lagi ikut arisan di sana sini. Mama ngga pernah lagi ikut makan malam dengan manusia memuakkan itu. Papa menyelimuti istrinya itu pelan-pelan. Sebutir bening mengalir pelan di pipinya. Penyesalan seakan ngga pernah hilang dari pikirannya. Sebulan sejak dia menemukan Firen bersimpah darah di atas tempat tidur, di samping surat biru itu…

Firen telah meninggal, Firen telah mendapatkan kebebasan itu.

Papa mengusap wajahnya. Tidak, dia memang selalu ingin yang terbaik untuk putrinya, harta yang paling berharga dalam hidupnya. Sekarang hatinya sepi. Hatinya kelu. Hanya Mama…Papa…tanpa Firencia Emeraldy Wicaksono…

140209

April 08, 2010

Take it easy ... but it's never easy ...

Kamu tau rindu ? Aku rindu saat dia masih "disini".
Aku rindu saat dia becanda bilang yang jelek2 tentang aku.
Aku rindu selalu nunggu smsnya.

Tapi rindu benar2 menyiksa.
Seperti temanku yang rindu sama papanya.
Ya, take it easy, but it's never easy anyway...

Kata temenku, cewek cantik itu munafik.
Aku rindu kata2 darinya lagi. Kata2 seperti itu.
Dimana dia?
Dia yang dulu.

Tapi aku rindu.
Rindu semuanya tentangnya, dan tentangmu.
Dan tentangku pula.
Dan tentang kita.


Jogja, 9 April 2010
never be sad as right now

April 06, 2010

Menunggu Hujan Terang

Aku menunggu hujan reda
dan aku menunggu guntur berhenti
Tapi aku tidak bisa menghentikannya
Karena dia begitu memabukkan, dia membuatku kepayang
Tadi malam dia datang, dan dia tidak berhenti sampai sekarang
Kadang aku merindukan terang, kenapa dia tidak datang sekarang?
Kalau hanya secercah cahaya saja, itu tidak cukup
Aku inginkan terang
Aku inginkan kejelasan
Karena...kalau terang, aku bisa memandang jauh ke depan
Aku tidak akan melihat mendung, aku tidak akan mendengar guntur, dan angin puting beliung
Tapi tapi, dimana terang itu??
Mendung menutupi jalanku, mendung meleburkan batas imajinasiku sehingga aku tidak bisa lagi memisahkan yang mimpi dan yang adanya
Aku hanya bisa bermimpi
Tapi mendung dan hujan tidak bertanggungjawab terhadap perasaanku
Dia menutupi terangku, dia membawa pergi cahayaku...


Untuk Terang,
dimana kamu?
Jogja, 7 April 2010

April 05, 2010

Memang seharusnya tidak seperti ini. Hati ini terlalu berharga untuk terus disakiti. Tapi ternyata menghindari tidak semudah menjentikkan jari. Atau kadang bahagia hanya kamuflase yang maya? Dan tidak nyata seperti yang kita lukiskan?

Kadang kita percaya begitu cepat. Kadang kita lupa begitu saja. Kenapa harus ada sedih bila bahagia itu maya dan bisa berubah adanya? Bukankah kehilangan bahagia saja sudah begitu sakit daripada sedih?

Saya tidak mau mengulang kesedihan itu lagi.

Tapi saya mengulangnya juga.

Dan rasanya, sejuta kali lebih sedih.

Karena kesedihan disini, adalah buah dari kebodohan.

Tidak ada keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali.

Tapi saya, saya melakukannya.

April 02, 2010

Lelaki dan Perempuan

Mengapa menjadi lelaki itu begitu mudah? Mengapa harus lelaki yang diberi rasionalitas lebih besar daripada perasaannya? Mengapa tidak pernah ada Mr. Universe di dunia? Mengapa tidak tenar pula PSK lelaki disbanding PSK perempuan, padahal mereka ada?

Kadang saya berpikir, mengapa wanita yang sering dijadikan obyek, dan bukan subyek? Padahal, bila dibandingkan, tidak pernah ada perbedaan yang besar antara lelaki dan perempuan. Ya, karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk adam. Dari bagian lelaki. Bagian yang paling dekat dengan hati agar mereka dicintai.

Wanita tidak bisa menjadi pemimpin. Saya lumayan setuju dengan pendapat ini. Secara, wanita mempunyai perasaan yang kelewat sensitive sehingga ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, dia akan bermain insting, perasaan. Dan kadang salah. Lantas bagaimana bila sudah salah? Menangis, dan bersedih. Karena wanita tidak diberi pikiran rasional melebihi lelaki. Wanita diberi perasaan yang kuat. Ya, karena dia wanita.

Tapi wanita bisa berdiri dengan gagah di belakang seorang pemimpin. Dia memberikan nasehat dengan bijak, karena wanita lebih bisa mengontrol nafsunya dibanding lelaki. Karena lelaki bagaikan pohon yang berdiri kokoh tapi mudah tumbang terkena terpaan angin besar, sedangkan wanita ibarat rumput, yang akan tetap menancap dan mencengkeram tanah dengan kuat saat angin besar berhembus. Ya, wanita bukan lemah karena kelembutannya. Wanita kuat karena dia lembut dan luwes.

Dan bagaimana dengan lelaki yang berhasil mencuri hati wanita kemudian membawanya lari tanpa dia pernah kembali? Wanita hanya punya setengah hati. Dengan setengah hatinya itu dia mampu menciptakan cinta dan rasa yang sebegitu dahsyatnya sehingga perasaannya selalu ramai dan penuh. Wanita memang membutuhkan demikian. Dan lelaki, lihat dia! Dia juga diciptakan secara “idiologi” sebagai manusia dengan setengah hati agar kelak, lelaki dan wanita bisa menyatukan hati mereka dalam ikatan batin yang kuat. Kemudian mereka menamainya cinta. Tapi bagaimana dengan lelaki yang senang sekali mencuri hati wanita sehingga dianya merasa tidak bisa hidup tanpa lelaki itu? Dihantuinya pikirannya siang dan malam. Dibunuhnya separuh rasa yang mampu si wanita ciptakan dengan hatinya. Kemudian, dilukainya pikirannya pelan-pelan. Wanita tidak akan berpikir jernih, karena kini perasaannya menjadi sangat kacau. Dia mencari kemana setengah hatinya disembunyikan.

Lantas harus bagaimana? Sedangkan lihat lelaki di sana! Dia memegangi rongga kosong di dadanya, karena hatinya telah dicuri seorang gadis. Tapi dia tidak berwajah sendu seperti si wanita berhati kosong tersebut. Lelaki itu masih bisa berjalan meski tertatih. Meski dia bisa berdiri dengan tegak, memamerkan senyum pasta giginya dan bersenang-senang dengan sesamanya di kedai kopi, di jalan, di tempat makan. Mereka tidak pernah memikirkan para wanita dengan sepenuh hatinya.

Karena dia tidak pernah memberikan sepenuh hatinya yang berbentuk separo itu. Dia masih menyimpan secuil hati untuk dirinya sendiri, sampai sang istri akan memilikinya penuh nantinya. Penuh? Let’s guess…menurut saya, tidak pernah ada lelaki yang memberikan hatinya secara penuh kepada wanita…

Regards J

He is Like Andromeda

Andromeda…kaulah yang ada jauh disana. Kaulah yang kulihat berkedip beberapa kali. Kaulah yang bisa kulihat, tanpa bisa kumiliki. Aku lupa kapan aku mulai melihatmu. Tapi aku ingat, sejak saat itu aku selalu memikirkanmu. Aku tidak pernah ingin menjadi pungguk yang merindukan rembulan. Aku tidak ingin menjadi si cebol yang terus berkhayal di atas pohon randu. Tapi aku juga wanita biasa, Andromeda. Aku bisa tertawa, menangis, dan berkhayal.

Andromeda, kamu begitu jauh dariku. Bisakah aku tetap melihatmu seperti itu adanya? Seperti mata dan hati yang selalu bersisian dalam perasaan. Seperti mata kiri dan kanan yang tidak bernah berhenti berjejeran. Aku ingin kamu tetap disana, meskipun jauh adanya. Asal, aku bisa tetap memandangmu, bahkan kalo boleh, memasukkanmu dalam mimpiku.

Andromeda, apa yang bisa aku lakukan tanpamu? Sekarang kamu tidak pernah lagi bersinar untukku. Kemana kamu Andromedaku sayang? Aku begitu merindukanmu. Andromeda, kenapa tak pernah kau sadari perasaan ini? Bahwa kadang akupun ingin sekali memilikimu. Aku ingin menjadi tempatmu bercerita, aku ingin menjadi tempatmu menumpahkan senyum, aku ingin menjadi orang yang pertama kali berbinar saat kamu berhasil nanti.

Andromeda, maafkan aku bila aku lancang. Tapi kadang perasaan tidak bisa berbohong. Aku lelah menjadi seperti ini. Aku hampir apatis, Andromeda. Kamu bahkan tidak pernah memberiku sinyal apa-apa. Kamu hanya diam disana. Kamu menunggu apa Andromeda? Adakah yang ditunggu?

Andromeda, tapi ijinkan aku menjadi seperti ini. Ijinkan aku berbicara dengan caraku. Ijinkan aku memandangmu dengan caraku. Ijinkan aku terus menjadi pengikutmu. Aku tidak bisa berhenti Andromeda. Bertahanlah sayang, aku memang laknat. Tapi aku mencintaimu. Aku menyayangimu dengan caraku. Tidak semua yang kamu pikir itu benar adanya. Kamu tidak pernah ingin mengenal aku, bisakah kamu mengerti aku?

Andromeda, suatu hari aku menemukan bintang lain di dekatmu. Dia bersinar tidak lebih binar daripadamu. Tapi kadang dia mencuri hatiku. Harus bagaimana aku? Andromeda, tolong bilang padaku, kamu akan membeli hatiku kelak, sehingga aku akan dengan pasti menunggumu turun menyapaku. Dan akan aku lupakan binaran bintang di sebelahmu itu.

Andromeda, adakah ini terlambat adanya? Aku sungguh merindukanmu. Dan rindu ini tidak pernah terbagi. Tolong dengarkan aku, dengarkan aku, Andromeda sayang…sekali saja. Karena bagimu, aku adalah seorang unsignificant. Iya kan? Iya kan sayang? Iya kan?

Maret 28, 2010

She's Really Seventysomething

Semua ini bermula dari tugas yang diberikan dosen Pengembangan Masyarakat itu untukku. Tadinya aku juga ngga peduli. Aku ngga pernah mempermasalahkan, apalagi sampai memikirkan. Bahkan larangan ayah untuk naik motor Magelang-Jogja pun aku lihat dengan kesinisan tingkat tinggi. Ngga ada untungnya kuliah di Jogja tanpa motor, tanpa kendaraan! Gimana bisa having fun di kedai kopi pinggir Seturan? Gimana bisa mobilitas ke Amplaz kalo pikiran lagi nge-curly abis?! Gimana bisa ke Malioboro buat hunting pernak-pernik lucu bin murah tanpa panas-panasan naik bis kota? Hhh, pokoknya aku mengutuk keras tugas wawancara ini beserta pelarangan naik motor dan antek-anteknya itu. Tadinya.

“ Cebol, kita mau wawancara siapa?” tanya Marina ke aku. Aku mendengus kesal. Aku tau aku kurang tinggi. Tapi bukan berarti cebol kan!

“ Wawancara elo aja!” teriakku sewot.

“ Udah cebol ya cebol aja. Ngga perlu pake minta wawancara ke gue dong! Yang ada standar wawancara gue ya sekelas Vogue gitu!” balas Marina kecentilan. Cewek bermotor Beat ini emang sombong gila. Secara badannya straight (baca: tinggi), dan aku, well, hanya kurang tinggi aja. Reta tersenyum kalem aja, senyum yang pelan. Dan Boncil (harusnya dia yang dipanggil cebol! Dia kan cowok, tapi ngga setinggi Lee Min Ho!), masih stay dengan kamera-seharga-motor miliknya. Memutar-mutar entah apa itu sambil membidikkan lensanya ke arah jalan perempatan Kentungan.

“ Badut! Belagu lo, ketinggian! Kalo mimpi jangan sampe ke Vogue! Bisa nampang di Cosmogirl ukuran tiga kali empat aja udah sukur!” balasku.

“ Kalian ini ngehrumpiin apa tsih? Ngga jelast banget!” tentu Boncil bukan cebol, tapi cadel! Reta menambah frekuensi senyam-senyum-ngga-jelasnya.

“ Elo yang ngga jelas Cil, daritadi pose mulu sama kamera lo. Kita lagi bingung nih mau wawancara siapa buat kaum rentan itu! Bantuin mikir kek! Gue ogah kalo pake ribet! Lo kan orangnya terkenal riweuh dan anti kemudahan gitu!” cerocosku. Boncil tertawa aja. Marina apalagi. Giginya sampai jadi gondrong. Dan senyuman Reta langsung berubah jadi tawa yang bersambung (baca: ngga berhenti sampai sepuluh menit)

“ Tukang sampah aja gimana?” sahutku.

“ Ato pedagang asongan?”

“ Ato penjaga kuburan?” Boncil. Dia dengan sukses mendapat jitakan dari aku dan Marina. Dan dengan sukses mendapat secercah senyum pelipur lara dari Reta.

“ Ato…tukang gali kubur?” lanjut Boncil. Aku sudah siap tangan lagi buat ngejitak Boncil sebelum aku dengar Marina berteriak, “ penjaga gawang aja gimana?”

Setelah perdebatan sengit bin aneh itu, akhirnya kami sepakat mewawancarai loper Koran di perempatan Kentungan itu saja. Tapi kemudian berubah lagi, yaitu mewawancarai nenek-nenek penjual jajan pasar yang kata Boncil keliatan kasian. Emang kapan Boncil pernah ketemu sama itu nenek? Pertanyaan retorisku langsung terjawab dengan sendirinya: gue sama bini sering kesana buat beli sayurh bayem biarl bisa mingkem. Boncil.

Gludak gluduk kita berempat bertiltle kelompok Pengembangan Masyarakat dan bermodalkan kamera-yang-katanya-seharga-motor, tripod hasil minjem ke Tripang, dan catetan kecil hasil beli dengan kocek sendiri di Togamas beberapa minggu lalu. Aku maju duluan, mulai bertanya kepada nenek-nenek yang lagi makan itu. Deg…jantungku seakan mau pensiun, itu nenek-nenek emang keliatan emmm, well, desperate. Desperate tapi tersenyum. Tersenyum tapi desperate. Gimana ya ngedeskripsiinya?

Dan segalanya berubah…

Hasil wawancara cukup membuat aku terkejut. Aku sampai ngga berani membantah bahwa apa yang udah dosen dan ayahku lakukan padaku itu benar. Bahwa aku sungguh sangat, sangat, sangat beruntung sekali. Kemudian aku berjalan pulang. Dengan gontai aku melirik para tuna wisma di samping kananku saat motor Marina berhenti di lampu merah. Mereka tidak sekolah. Mereka tidak kuliah. Mereka tidak bermain seperti wajarnya anak seusia mereka. Dan mereka masih bisa bahagia. Aku miris. Kemudian motor Marina jalan lagi. Aku melihat di sepanjang jalan: bapak=bapak tukang tambal ban, ibu-ibu jualan lotek, pedagang kaki lima yang sepi, tukang becak, padagang rokok, banyak. Kemudian aku tersadar, dan aku terpejam. Bahwa masih banyak yang belum aku ketahui. Aku harus tau seperti apa mereka.

“ Ya kira-kira lima sampai sepuluh ribu lah per hari,” ucapan nenek penjual jajan pasar itu mengusik pikiranku terus. Dengan uang segitu bisa apa mereka? Dan dengan usia mereka (73 tahun), seharusnya mereka berhak atas perinstirahatan enak bernama kasih sayang anak cucu. Tapi ternyata banyak nenek-nenek di luar sana yang masih bekerja, bahkan sebagai kuli angkut di usia senja yang rawan itu! Aku mengusap wajahku.

“ Lo ngga papa kan Seis?” tanya Marina di sebelahku. Di saat kuliah Metode dan Teknik Perencanaan berlangsung aku malah melamunkan nenek-nenek itu. Hmmm…aku perlu mencuci muka.

“ Gue baik-baik aja Mar,” jawabku.

“ Panggil gue Marin, bukan Mar. lo pikir gue marimar atau maria mercedez?” sewot Marina. Aku mendadak kesal. Bahkan temanku yang satu ini tersinggung hanya karena pengucapan nama. Kasian dia, sangat tidak berhati lapang! Bahkan nenek itu tidak tersinggung sama Tuhan gara-gara dia miskin dan hidup kekurangan! Poor you, Mar, Marin, or whoever you are!

Aku meneruskan perjalanku hari ini. Aku pulang Magelang. Kata Ita, dia mau nebengin aku sampai Jombor. Tapi aku menolak. Maaf, ini perjalananku, perjalanan batinku pula. Aku menyetop angkot jurusan Jombor-Prambanan dari Jakal dekat MM UGM. Perasaan aneh itu muncul lagi. Kenapa aku baru sadar bahwa penumpang angkot ini terlihat dekil, dan anak kecil itu punya banyak ingus? Dan bapak-bapak itu? Ya Tuhan, betapa beruntungnya diriku! Kemudian aku mencoba menghayati semua ini, apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku? Kakek-kakek itu bercerita dengan percaya diri bahwa pasar burung hari ini ramai. Sekarang hari Pahing, sedang “pasarnya” pasar. Aku mendengar dengan seksama. Bahkan hal sederhana pun bisa menjadi sesuatu yang wah bagi mereka, bagi kakek-kakek itu! Sedangkan aku? Dapat uang saku tambahan aja masih berangkat Jogja dengan muka bersungut-sungut! Betapa sederhananya mereka, betapa bersahajanya mereka. Betapa tulus pikiran mereka.

“ Jombor, Jombor!” teriakan kernet di angkot itu mengagetkanku pada akhrinya.

Bis selalu penuh. Apalagi saat sore seperti ini. Banyak yang pulang ke Magelang atau Semarang. Banyak pula yang mudik, seperti aku ini. Beruntung aku mendapatkan tempat duduk di barisan tiga dari depan, di deretan supir. Tempat yang strategis.

“ Magelang, Muntilan, Salam, Semarang, Semarang!” teriak kernet bisa Jogja-Semarang itu. Bau rokok, bau solar, bau keringat semua menjadi satu. Ini yang paling aku ngga sukai dari bus. Ramai, penuh, bau! Baru beberapa meter berjalan, bus berhenti. Kemudian seorang kakek tua dengan tongkatnya berjalan pelan masuk. Kerut di wajahnya terlihat nyata, seperti akan menyampaikan bahwa dia telah mengarungi beberapa fase kehidupan. Pasti dia bekas pejuang. Dengan tenang dia menatapku kemudian tersenyum lemah dan berdiri di dekat kursiku. Demi Tuhan, ngga ada seorang pun yang rela memberikan kursinya pada kakek itu! Mataku menjelajah dari si bapak-bapak TNI itu, anak muda berpakaian gaul dan headset di kupingnya itu, anak muda lagi, kali ini ngga gaul-gaul amat, kemudian dua bapak-bapak PNS. Dan terakhir: diriku sendiri. Oh my goat, yess, semua berawal dari diri sendiri! Dengan sukarela aku berikan kursiku untuk si kakek, kemudian dia tersenyum penuh rasa terima kasih. Hatiku ikut tersenyum bersama dengan tatapan mata aneh dari penumpang lain di sekitarku. Aku berdiri tak lebih dari lima menit, bapak-bapak TNI itu memintaku duduk di kursinya. Syukurlah…

Pedagang asongan, pemangen, pengemis, semua menjadi satu dalam bis. Semua bertambah bising dengan suara tangis anak tiga tahunan yang sedang dalam gendongam bapaknya. What? Gendongan bapaknya? Kemana ibunya? Anak itu menangis dan menangis terus. Pasti bapaknya bingung bagaimana harus menenangkan bocah cilik itu. Aku menunduk. Menunduk terlalu dalam. Kemana saja aku ini? Dimana hatiku?! Jelas sekali setiap hari elo ketemu orang-orang yang rentan seperti mereka! Mereka vulnerable, almost being poverty! Telingaku penuh dengan suara tangis melengking yang menyedihkan itu, dan raut lelah dan pancaran memelas dari bapak si anak. Dan suara pedagang asongan, dan pengamen, dan pengemis! Dan penumpang lain yang berbicara dengan dialek kedesa-desaan. Ya Tuhan, mereka semua sungguh hebat! Mereka mempunyai rasa syukur yang tinggi kepadaMu, jauh lebih tinggi di atas aku! Rasa mirisku kini mulai tertuang dalam bentuk visualisasi airmata. Aku terus menangis, menangis dan menangisi negaraku. Negara ini bahkan sudah rentan!

Satu jam sudah aku mengeluarkan duka dalam hatiku. Aku telah menjadi gadis baru. Dengan mata dan hati yang selalu terbuka terhadap apa saja, rasanya aku sudah sangat sangat sangat perlu untuk bersyukur. Tidak ada lagi kini marah-marah karena ngga bisa ke Amplaz atau Malioboro. Karena bahkan mereka pun tidak tau apa itu Amplaz!

Inda.Meravigliossy

4.06 p.m

26 Desesmber 2009

Januari 18, 2010

Saya Tidak Butuh Alasan Untuk Menyayanginya

Saya tidak butuh alasan untuk menyayanginya...

Seharusnya...

Saya tidak pernah tau apa maksud semua yang saya rasakan. Kadang, hal itu hanya datang dan berlalu tanpa saya ngerti mengapa saya yang dijadikan jalan untuknya lewat. Kadang saya hany menebak-nebak maksud dibalik hitam putih kabur itu. Hanya hitam, dan putih. Kadang hidup saya terasa monoton, dan monokrom. Ahh...ternyata saya masih belum tau banyak. Hidup yang sesungguhnya bukan seperti ini. Seharusnya hidup bisa lebih bermakna, dan berwarna...