April 08, 2010

Take it easy ... but it's never easy ...

Kamu tau rindu ? Aku rindu saat dia masih "disini".
Aku rindu saat dia becanda bilang yang jelek2 tentang aku.
Aku rindu selalu nunggu smsnya.

Tapi rindu benar2 menyiksa.
Seperti temanku yang rindu sama papanya.
Ya, take it easy, but it's never easy anyway...

Kata temenku, cewek cantik itu munafik.
Aku rindu kata2 darinya lagi. Kata2 seperti itu.
Dimana dia?
Dia yang dulu.

Tapi aku rindu.
Rindu semuanya tentangnya, dan tentangmu.
Dan tentangku pula.
Dan tentang kita.


Jogja, 9 April 2010
never be sad as right now

April 06, 2010

Menunggu Hujan Terang

Aku menunggu hujan reda
dan aku menunggu guntur berhenti
Tapi aku tidak bisa menghentikannya
Karena dia begitu memabukkan, dia membuatku kepayang
Tadi malam dia datang, dan dia tidak berhenti sampai sekarang
Kadang aku merindukan terang, kenapa dia tidak datang sekarang?
Kalau hanya secercah cahaya saja, itu tidak cukup
Aku inginkan terang
Aku inginkan kejelasan
Karena...kalau terang, aku bisa memandang jauh ke depan
Aku tidak akan melihat mendung, aku tidak akan mendengar guntur, dan angin puting beliung
Tapi tapi, dimana terang itu??
Mendung menutupi jalanku, mendung meleburkan batas imajinasiku sehingga aku tidak bisa lagi memisahkan yang mimpi dan yang adanya
Aku hanya bisa bermimpi
Tapi mendung dan hujan tidak bertanggungjawab terhadap perasaanku
Dia menutupi terangku, dia membawa pergi cahayaku...


Untuk Terang,
dimana kamu?
Jogja, 7 April 2010

April 05, 2010

Memang seharusnya tidak seperti ini. Hati ini terlalu berharga untuk terus disakiti. Tapi ternyata menghindari tidak semudah menjentikkan jari. Atau kadang bahagia hanya kamuflase yang maya? Dan tidak nyata seperti yang kita lukiskan?

Kadang kita percaya begitu cepat. Kadang kita lupa begitu saja. Kenapa harus ada sedih bila bahagia itu maya dan bisa berubah adanya? Bukankah kehilangan bahagia saja sudah begitu sakit daripada sedih?

Saya tidak mau mengulang kesedihan itu lagi.

Tapi saya mengulangnya juga.

Dan rasanya, sejuta kali lebih sedih.

Karena kesedihan disini, adalah buah dari kebodohan.

Tidak ada keledai yang jatuh di lubang yang sama dua kali.

Tapi saya, saya melakukannya.

April 02, 2010

Lelaki dan Perempuan

Mengapa menjadi lelaki itu begitu mudah? Mengapa harus lelaki yang diberi rasionalitas lebih besar daripada perasaannya? Mengapa tidak pernah ada Mr. Universe di dunia? Mengapa tidak tenar pula PSK lelaki disbanding PSK perempuan, padahal mereka ada?

Kadang saya berpikir, mengapa wanita yang sering dijadikan obyek, dan bukan subyek? Padahal, bila dibandingkan, tidak pernah ada perbedaan yang besar antara lelaki dan perempuan. Ya, karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk adam. Dari bagian lelaki. Bagian yang paling dekat dengan hati agar mereka dicintai.

Wanita tidak bisa menjadi pemimpin. Saya lumayan setuju dengan pendapat ini. Secara, wanita mempunyai perasaan yang kelewat sensitive sehingga ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, dia akan bermain insting, perasaan. Dan kadang salah. Lantas bagaimana bila sudah salah? Menangis, dan bersedih. Karena wanita tidak diberi pikiran rasional melebihi lelaki. Wanita diberi perasaan yang kuat. Ya, karena dia wanita.

Tapi wanita bisa berdiri dengan gagah di belakang seorang pemimpin. Dia memberikan nasehat dengan bijak, karena wanita lebih bisa mengontrol nafsunya dibanding lelaki. Karena lelaki bagaikan pohon yang berdiri kokoh tapi mudah tumbang terkena terpaan angin besar, sedangkan wanita ibarat rumput, yang akan tetap menancap dan mencengkeram tanah dengan kuat saat angin besar berhembus. Ya, wanita bukan lemah karena kelembutannya. Wanita kuat karena dia lembut dan luwes.

Dan bagaimana dengan lelaki yang berhasil mencuri hati wanita kemudian membawanya lari tanpa dia pernah kembali? Wanita hanya punya setengah hati. Dengan setengah hatinya itu dia mampu menciptakan cinta dan rasa yang sebegitu dahsyatnya sehingga perasaannya selalu ramai dan penuh. Wanita memang membutuhkan demikian. Dan lelaki, lihat dia! Dia juga diciptakan secara “idiologi” sebagai manusia dengan setengah hati agar kelak, lelaki dan wanita bisa menyatukan hati mereka dalam ikatan batin yang kuat. Kemudian mereka menamainya cinta. Tapi bagaimana dengan lelaki yang senang sekali mencuri hati wanita sehingga dianya merasa tidak bisa hidup tanpa lelaki itu? Dihantuinya pikirannya siang dan malam. Dibunuhnya separuh rasa yang mampu si wanita ciptakan dengan hatinya. Kemudian, dilukainya pikirannya pelan-pelan. Wanita tidak akan berpikir jernih, karena kini perasaannya menjadi sangat kacau. Dia mencari kemana setengah hatinya disembunyikan.

Lantas harus bagaimana? Sedangkan lihat lelaki di sana! Dia memegangi rongga kosong di dadanya, karena hatinya telah dicuri seorang gadis. Tapi dia tidak berwajah sendu seperti si wanita berhati kosong tersebut. Lelaki itu masih bisa berjalan meski tertatih. Meski dia bisa berdiri dengan tegak, memamerkan senyum pasta giginya dan bersenang-senang dengan sesamanya di kedai kopi, di jalan, di tempat makan. Mereka tidak pernah memikirkan para wanita dengan sepenuh hatinya.

Karena dia tidak pernah memberikan sepenuh hatinya yang berbentuk separo itu. Dia masih menyimpan secuil hati untuk dirinya sendiri, sampai sang istri akan memilikinya penuh nantinya. Penuh? Let’s guess…menurut saya, tidak pernah ada lelaki yang memberikan hatinya secara penuh kepada wanita…

Regards J

He is Like Andromeda

Andromeda…kaulah yang ada jauh disana. Kaulah yang kulihat berkedip beberapa kali. Kaulah yang bisa kulihat, tanpa bisa kumiliki. Aku lupa kapan aku mulai melihatmu. Tapi aku ingat, sejak saat itu aku selalu memikirkanmu. Aku tidak pernah ingin menjadi pungguk yang merindukan rembulan. Aku tidak ingin menjadi si cebol yang terus berkhayal di atas pohon randu. Tapi aku juga wanita biasa, Andromeda. Aku bisa tertawa, menangis, dan berkhayal.

Andromeda, kamu begitu jauh dariku. Bisakah aku tetap melihatmu seperti itu adanya? Seperti mata dan hati yang selalu bersisian dalam perasaan. Seperti mata kiri dan kanan yang tidak bernah berhenti berjejeran. Aku ingin kamu tetap disana, meskipun jauh adanya. Asal, aku bisa tetap memandangmu, bahkan kalo boleh, memasukkanmu dalam mimpiku.

Andromeda, apa yang bisa aku lakukan tanpamu? Sekarang kamu tidak pernah lagi bersinar untukku. Kemana kamu Andromedaku sayang? Aku begitu merindukanmu. Andromeda, kenapa tak pernah kau sadari perasaan ini? Bahwa kadang akupun ingin sekali memilikimu. Aku ingin menjadi tempatmu bercerita, aku ingin menjadi tempatmu menumpahkan senyum, aku ingin menjadi orang yang pertama kali berbinar saat kamu berhasil nanti.

Andromeda, maafkan aku bila aku lancang. Tapi kadang perasaan tidak bisa berbohong. Aku lelah menjadi seperti ini. Aku hampir apatis, Andromeda. Kamu bahkan tidak pernah memberiku sinyal apa-apa. Kamu hanya diam disana. Kamu menunggu apa Andromeda? Adakah yang ditunggu?

Andromeda, tapi ijinkan aku menjadi seperti ini. Ijinkan aku berbicara dengan caraku. Ijinkan aku memandangmu dengan caraku. Ijinkan aku terus menjadi pengikutmu. Aku tidak bisa berhenti Andromeda. Bertahanlah sayang, aku memang laknat. Tapi aku mencintaimu. Aku menyayangimu dengan caraku. Tidak semua yang kamu pikir itu benar adanya. Kamu tidak pernah ingin mengenal aku, bisakah kamu mengerti aku?

Andromeda, suatu hari aku menemukan bintang lain di dekatmu. Dia bersinar tidak lebih binar daripadamu. Tapi kadang dia mencuri hatiku. Harus bagaimana aku? Andromeda, tolong bilang padaku, kamu akan membeli hatiku kelak, sehingga aku akan dengan pasti menunggumu turun menyapaku. Dan akan aku lupakan binaran bintang di sebelahmu itu.

Andromeda, adakah ini terlambat adanya? Aku sungguh merindukanmu. Dan rindu ini tidak pernah terbagi. Tolong dengarkan aku, dengarkan aku, Andromeda sayang…sekali saja. Karena bagimu, aku adalah seorang unsignificant. Iya kan? Iya kan sayang? Iya kan?

Maret 28, 2010

She's Really Seventysomething

Semua ini bermula dari tugas yang diberikan dosen Pengembangan Masyarakat itu untukku. Tadinya aku juga ngga peduli. Aku ngga pernah mempermasalahkan, apalagi sampai memikirkan. Bahkan larangan ayah untuk naik motor Magelang-Jogja pun aku lihat dengan kesinisan tingkat tinggi. Ngga ada untungnya kuliah di Jogja tanpa motor, tanpa kendaraan! Gimana bisa having fun di kedai kopi pinggir Seturan? Gimana bisa mobilitas ke Amplaz kalo pikiran lagi nge-curly abis?! Gimana bisa ke Malioboro buat hunting pernak-pernik lucu bin murah tanpa panas-panasan naik bis kota? Hhh, pokoknya aku mengutuk keras tugas wawancara ini beserta pelarangan naik motor dan antek-anteknya itu. Tadinya.

“ Cebol, kita mau wawancara siapa?” tanya Marina ke aku. Aku mendengus kesal. Aku tau aku kurang tinggi. Tapi bukan berarti cebol kan!

“ Wawancara elo aja!” teriakku sewot.

“ Udah cebol ya cebol aja. Ngga perlu pake minta wawancara ke gue dong! Yang ada standar wawancara gue ya sekelas Vogue gitu!” balas Marina kecentilan. Cewek bermotor Beat ini emang sombong gila. Secara badannya straight (baca: tinggi), dan aku, well, hanya kurang tinggi aja. Reta tersenyum kalem aja, senyum yang pelan. Dan Boncil (harusnya dia yang dipanggil cebol! Dia kan cowok, tapi ngga setinggi Lee Min Ho!), masih stay dengan kamera-seharga-motor miliknya. Memutar-mutar entah apa itu sambil membidikkan lensanya ke arah jalan perempatan Kentungan.

“ Badut! Belagu lo, ketinggian! Kalo mimpi jangan sampe ke Vogue! Bisa nampang di Cosmogirl ukuran tiga kali empat aja udah sukur!” balasku.

“ Kalian ini ngehrumpiin apa tsih? Ngga jelast banget!” tentu Boncil bukan cebol, tapi cadel! Reta menambah frekuensi senyam-senyum-ngga-jelasnya.

“ Elo yang ngga jelas Cil, daritadi pose mulu sama kamera lo. Kita lagi bingung nih mau wawancara siapa buat kaum rentan itu! Bantuin mikir kek! Gue ogah kalo pake ribet! Lo kan orangnya terkenal riweuh dan anti kemudahan gitu!” cerocosku. Boncil tertawa aja. Marina apalagi. Giginya sampai jadi gondrong. Dan senyuman Reta langsung berubah jadi tawa yang bersambung (baca: ngga berhenti sampai sepuluh menit)

“ Tukang sampah aja gimana?” sahutku.

“ Ato pedagang asongan?”

“ Ato penjaga kuburan?” Boncil. Dia dengan sukses mendapat jitakan dari aku dan Marina. Dan dengan sukses mendapat secercah senyum pelipur lara dari Reta.

“ Ato…tukang gali kubur?” lanjut Boncil. Aku sudah siap tangan lagi buat ngejitak Boncil sebelum aku dengar Marina berteriak, “ penjaga gawang aja gimana?”

Setelah perdebatan sengit bin aneh itu, akhirnya kami sepakat mewawancarai loper Koran di perempatan Kentungan itu saja. Tapi kemudian berubah lagi, yaitu mewawancarai nenek-nenek penjual jajan pasar yang kata Boncil keliatan kasian. Emang kapan Boncil pernah ketemu sama itu nenek? Pertanyaan retorisku langsung terjawab dengan sendirinya: gue sama bini sering kesana buat beli sayurh bayem biarl bisa mingkem. Boncil.

Gludak gluduk kita berempat bertiltle kelompok Pengembangan Masyarakat dan bermodalkan kamera-yang-katanya-seharga-motor, tripod hasil minjem ke Tripang, dan catetan kecil hasil beli dengan kocek sendiri di Togamas beberapa minggu lalu. Aku maju duluan, mulai bertanya kepada nenek-nenek yang lagi makan itu. Deg…jantungku seakan mau pensiun, itu nenek-nenek emang keliatan emmm, well, desperate. Desperate tapi tersenyum. Tersenyum tapi desperate. Gimana ya ngedeskripsiinya?

Dan segalanya berubah…

Hasil wawancara cukup membuat aku terkejut. Aku sampai ngga berani membantah bahwa apa yang udah dosen dan ayahku lakukan padaku itu benar. Bahwa aku sungguh sangat, sangat, sangat beruntung sekali. Kemudian aku berjalan pulang. Dengan gontai aku melirik para tuna wisma di samping kananku saat motor Marina berhenti di lampu merah. Mereka tidak sekolah. Mereka tidak kuliah. Mereka tidak bermain seperti wajarnya anak seusia mereka. Dan mereka masih bisa bahagia. Aku miris. Kemudian motor Marina jalan lagi. Aku melihat di sepanjang jalan: bapak=bapak tukang tambal ban, ibu-ibu jualan lotek, pedagang kaki lima yang sepi, tukang becak, padagang rokok, banyak. Kemudian aku tersadar, dan aku terpejam. Bahwa masih banyak yang belum aku ketahui. Aku harus tau seperti apa mereka.

“ Ya kira-kira lima sampai sepuluh ribu lah per hari,” ucapan nenek penjual jajan pasar itu mengusik pikiranku terus. Dengan uang segitu bisa apa mereka? Dan dengan usia mereka (73 tahun), seharusnya mereka berhak atas perinstirahatan enak bernama kasih sayang anak cucu. Tapi ternyata banyak nenek-nenek di luar sana yang masih bekerja, bahkan sebagai kuli angkut di usia senja yang rawan itu! Aku mengusap wajahku.

“ Lo ngga papa kan Seis?” tanya Marina di sebelahku. Di saat kuliah Metode dan Teknik Perencanaan berlangsung aku malah melamunkan nenek-nenek itu. Hmmm…aku perlu mencuci muka.

“ Gue baik-baik aja Mar,” jawabku.

“ Panggil gue Marin, bukan Mar. lo pikir gue marimar atau maria mercedez?” sewot Marina. Aku mendadak kesal. Bahkan temanku yang satu ini tersinggung hanya karena pengucapan nama. Kasian dia, sangat tidak berhati lapang! Bahkan nenek itu tidak tersinggung sama Tuhan gara-gara dia miskin dan hidup kekurangan! Poor you, Mar, Marin, or whoever you are!

Aku meneruskan perjalanku hari ini. Aku pulang Magelang. Kata Ita, dia mau nebengin aku sampai Jombor. Tapi aku menolak. Maaf, ini perjalananku, perjalanan batinku pula. Aku menyetop angkot jurusan Jombor-Prambanan dari Jakal dekat MM UGM. Perasaan aneh itu muncul lagi. Kenapa aku baru sadar bahwa penumpang angkot ini terlihat dekil, dan anak kecil itu punya banyak ingus? Dan bapak-bapak itu? Ya Tuhan, betapa beruntungnya diriku! Kemudian aku mencoba menghayati semua ini, apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku? Kakek-kakek itu bercerita dengan percaya diri bahwa pasar burung hari ini ramai. Sekarang hari Pahing, sedang “pasarnya” pasar. Aku mendengar dengan seksama. Bahkan hal sederhana pun bisa menjadi sesuatu yang wah bagi mereka, bagi kakek-kakek itu! Sedangkan aku? Dapat uang saku tambahan aja masih berangkat Jogja dengan muka bersungut-sungut! Betapa sederhananya mereka, betapa bersahajanya mereka. Betapa tulus pikiran mereka.

“ Jombor, Jombor!” teriakan kernet di angkot itu mengagetkanku pada akhrinya.

Bis selalu penuh. Apalagi saat sore seperti ini. Banyak yang pulang ke Magelang atau Semarang. Banyak pula yang mudik, seperti aku ini. Beruntung aku mendapatkan tempat duduk di barisan tiga dari depan, di deretan supir. Tempat yang strategis.

“ Magelang, Muntilan, Salam, Semarang, Semarang!” teriak kernet bisa Jogja-Semarang itu. Bau rokok, bau solar, bau keringat semua menjadi satu. Ini yang paling aku ngga sukai dari bus. Ramai, penuh, bau! Baru beberapa meter berjalan, bus berhenti. Kemudian seorang kakek tua dengan tongkatnya berjalan pelan masuk. Kerut di wajahnya terlihat nyata, seperti akan menyampaikan bahwa dia telah mengarungi beberapa fase kehidupan. Pasti dia bekas pejuang. Dengan tenang dia menatapku kemudian tersenyum lemah dan berdiri di dekat kursiku. Demi Tuhan, ngga ada seorang pun yang rela memberikan kursinya pada kakek itu! Mataku menjelajah dari si bapak-bapak TNI itu, anak muda berpakaian gaul dan headset di kupingnya itu, anak muda lagi, kali ini ngga gaul-gaul amat, kemudian dua bapak-bapak PNS. Dan terakhir: diriku sendiri. Oh my goat, yess, semua berawal dari diri sendiri! Dengan sukarela aku berikan kursiku untuk si kakek, kemudian dia tersenyum penuh rasa terima kasih. Hatiku ikut tersenyum bersama dengan tatapan mata aneh dari penumpang lain di sekitarku. Aku berdiri tak lebih dari lima menit, bapak-bapak TNI itu memintaku duduk di kursinya. Syukurlah…

Pedagang asongan, pemangen, pengemis, semua menjadi satu dalam bis. Semua bertambah bising dengan suara tangis anak tiga tahunan yang sedang dalam gendongam bapaknya. What? Gendongan bapaknya? Kemana ibunya? Anak itu menangis dan menangis terus. Pasti bapaknya bingung bagaimana harus menenangkan bocah cilik itu. Aku menunduk. Menunduk terlalu dalam. Kemana saja aku ini? Dimana hatiku?! Jelas sekali setiap hari elo ketemu orang-orang yang rentan seperti mereka! Mereka vulnerable, almost being poverty! Telingaku penuh dengan suara tangis melengking yang menyedihkan itu, dan raut lelah dan pancaran memelas dari bapak si anak. Dan suara pedagang asongan, dan pengamen, dan pengemis! Dan penumpang lain yang berbicara dengan dialek kedesa-desaan. Ya Tuhan, mereka semua sungguh hebat! Mereka mempunyai rasa syukur yang tinggi kepadaMu, jauh lebih tinggi di atas aku! Rasa mirisku kini mulai tertuang dalam bentuk visualisasi airmata. Aku terus menangis, menangis dan menangisi negaraku. Negara ini bahkan sudah rentan!

Satu jam sudah aku mengeluarkan duka dalam hatiku. Aku telah menjadi gadis baru. Dengan mata dan hati yang selalu terbuka terhadap apa saja, rasanya aku sudah sangat sangat sangat perlu untuk bersyukur. Tidak ada lagi kini marah-marah karena ngga bisa ke Amplaz atau Malioboro. Karena bahkan mereka pun tidak tau apa itu Amplaz!

Inda.Meravigliossy

4.06 p.m

26 Desesmber 2009

Januari 18, 2010

Saya Tidak Butuh Alasan Untuk Menyayanginya

Saya tidak butuh alasan untuk menyayanginya...

Seharusnya...

Saya tidak pernah tau apa maksud semua yang saya rasakan. Kadang, hal itu hanya datang dan berlalu tanpa saya ngerti mengapa saya yang dijadikan jalan untuknya lewat. Kadang saya hany menebak-nebak maksud dibalik hitam putih kabur itu. Hanya hitam, dan putih. Kadang hidup saya terasa monoton, dan monokrom. Ahh...ternyata saya masih belum tau banyak. Hidup yang sesungguhnya bukan seperti ini. Seharusnya hidup bisa lebih bermakna, dan berwarna...

Desember 30, 2009

Kembali Tugu

Gojess..gojes…gojess…
“ Arep ngombe opo Dab?” Satria.
“ Kopi joss…sing kenthel soyo nyamleng!” Rednan.
“ Teh anget aja.” Maya.
“ Wuooo banci. Adoh-adoh seko Pogung tekan Tugu kok gur teh anget, percuma le adem-adem numpak motor!” marah-marah, Satria.
“ Roaming…roaming…gua kagak ngarti Sob!” Maya.
“ Jakarta asu! Ngomong sok elho guwe elho guwe!” Satria.
“ wis wis…nyangkem kabeh. Gek ndang pesen!” Rednan.
“ Teh anget!” Maya.
“ Kopi joss!”
“ Kopi joss!”
Gojes…gojes… entah suara apa lagi, mereka bertiga hanya mampu menerjemahkan semua menjadi sebuah gojes. Karena dekat dengan stasiun Tugu, mereka sengaja memilih kata “gojes” yang memang erat kaitannya dengan kereta api rel. Pelan mereka menyeruput kopinya. Maya menyeruput teh angetnya.
“ Anjing! Gua digigit semut!” teriak Maya sambil memegangi tangannya.
“ Banci! Karo semut wae wedi!” Satria.
“ Kaga ngarti lo ngomong apa! Roaming ke gua!” Maya.
“ Wis wis wis. Menengo, aku mumet! Koyo kucing karo asu wae.” Rednan.
“ Bang Sat itu loh!”
“ Bangsat gundulmu. Satria ki, Satria!” jawab Satria.
“ Mangan wae njo mangan. Ngeleh aku Dab.” Rednan.
“ Duit mbahmu po? Ra gablek sedino ngamen ra entuk duit!” Satria.
“ Ra ngompas po?” Rednan.
“ Roaming woy roaming!” Maya.
“ Diam lo!” Satria.
“ Bisa juga lo ngomong bahasa Indonesia, hahaha…” Maya.
“ Kepekso! Daripada mbengok-mbengok marai kuping budheg!”
Bertepatan dengan itu ada satu motor berhenti di belakang mereka duduk. Sepasang muda-mudi turun. Olala, seorang bocah balita ternyata duduk diantara pemuda dan pemudi itu. Nikah muda, batin Maya. Tapi betapa beruntungnya anak itu, masih punya ayah dan masih punya Mamak. Maya jadi menerawang. Jauh di atas bintang sana, menunggangi bulan sabit, pasti Mamak sedang menyaksikan dirinya sambil berkata,” anak gadisku sudah beranjak dewasa…” dan bibir Mamak pasti tersunggingkan senyum. Tapi tidak, khayalan itu terlalu tinggi. Disini dia ada bersama Satria dan Rednan.
“ Ngopo kowe Nduk?” tanya Rednan. Maya menoleh ke Rednan. Dia berkedip-kedip terus, menghilangkan genangan airmata tak diundang di pelupuknya. Tapi bayangan Mamak berkelebat lagi di otaknya. Lagi. Lagi dan sekali lagi seterusnya lagi.
“ Kaga apa-apa. Pedes mata gue.”
“ Pedes bagemana? Kena semut yang tadi?” tanya Rednan lagi. Semutnya tadi gigit tangan, bukan pipi apalagi mata. Maya menggeleng pelan. Mamak, dan Papa. Papa yang hilang di belantara ketamakan Jakarta. Papa yang telah termakan mulut singa betina. Papa adalah seorang pemburu yang gagal. Papa lupa dia masih punya seorang putri yang tengah tersesat di hutan kehidupan. Hilang tenggelam di rawa kemaksiatan Jogja.
Gojes…gojess…gojess…
“ Anakku nagih bayaran sekolah. Diancuk, aku ra nduwe duit ki!”
“ Halah…halah…halah. Nek meh sing ayu yo Aura Kasih Dab!”
“ Ndiasmu kuwi! Tugasku sak bajeg! Dosenku mbeling tenan kok!”
“ Roaming…roaming…roaming!” teriak Maya. Satria membekap mulut Maya kuat-kuat. Lubang hidung Maya ikut tertutupi tangan Satria.
“ Comel lambemu! Menengo, sensitive aku nek krungu kata roaming!” Satria. Suara percakapan orang-orang yang hampir semuanya misuh-misuh. Misuh karena belum membayar sekolah, misuh karena ngga punya uang, misuh karena tugasnya banyak. Kenapa semua orang hanya bisa misuh-misuh? Puyeng. Mikirin diri sendiri aja masih puyeng, apalagi mikirin orang lain yang misuh-misuh.
“ Ayu yo ning Sarkem! Meh nggolek le tuwo, stw opo le wis meh menopause haha. Tambah Kang, segop kucinge!”
“ Aku wegah nek motore disita. Le ngeterke anakku nggo opo nek ngene carane?”
“ Dosenku juga gilaaaak! Semalem tiga paper coba!”
“ Keno penyakit ning Sarkem we. Gemang Dab!”
“ Aku utang sopo yo? Supraku oh Supraku…”
“ Aku laporan loro Dab, durung pretest praktek besok lusa!”
“ Roaming…roaming!! Pala gue penuh, omongan ngga gelas gitu, mana gua kagak ngarti semua lagi!” Maya berteriak muak. Dia muak dengan suara-suara aneh yang sering didengarnya. Dia muak dengan semua suara munafik yang sengaja didengungkan tanpa maksud. Dia muak mendengar semua alasan yang tidak masuk akal. Tentang Papanya yang membuat alasan menikahi Zora karena butuh teman ngobrol dan teman hidup. Padahal ngaku aja kalo Papa hanya butuh kehangatan Zora saat malam datang. Dan Maya muak dengan perasaannya yang terus berbohong. Dia muak dengan kemunafikan, dia muak pada dirinya yang munafik.
“ Yang mana yang kamu ngga ngerti May?” tanya Rednan.
“ May, kowe ki cah ayu-ayu kok minggatan seko omah ki ngopo?” tanya Satria. Maya menerawang. Dia hanya mengerti satu dua dari perkataan Satria. Maya hanya mengerti sedikit dari banyak kata yang diucapkan oleh pengamen jalanan di perempatan Selokan itu. Rednan itu teman satu kelas Maya. Satria itu pengamen yang secara tidak sengaja bertemu dengan Maya gara-gara aksi pencopetan itu. Satria yang hitam. Satria yang suka berkata kasar. Satria yang selalu apa adanya.
“ Lo bilang ayu ayu? Gue ayu Sat?” tanya Maya. Sialan, gue dicuekin, batin Rednan.
“ Salah ngomong aku!” ralat Satria cepat.
“ Hahaha…” tawa Maya melengking. Satria mengacak-acak rambut Maya. Maya itu cantik. Maya itu punya mata yang indah. Maya itu punya kumis tipis di atas bibirnya. Persis seperti adiknya, Rosi. Maya semakin mirip Rosi ketika dia memesan teh anget, minuman kesukaan Rosi. Maya itu Rosi, Maya itu adiknya. No more. Dan adik bagi Satria adalah segalanya, karena dia tidak berayah dan beribu. Dan dia tidak ber-Rosi lagi setelah tabrak lari beberapa bulan yang lalu. Shit! Dan polisi bahkan tidak mengejarnya. Polisi itu tai! Hanya gara-gara Satria tidak punya uang, harta benda. Pemerintah itu sama busuknya dengan polisi! Satria membenci pemerintah!
“ May, kamu ngga mau makan nasi kucing?” tanya Rednan. Maya hanya menggeleng. Kenapa Maya tidak pernah merasakan getaran hati Rednan? Selama ini untuk apa dia baik dengan Maya, mengorbankan waktu tidur malamnya untuk mendengarkan curhatan Maya tentang kedua orangtuanya yang selalu menyepelekan Maya? Selama ini untuk apa ucapan met tidur dan kangen yang Rednan kirimkan ke Maya lewat sms? Selama ini kurang perhatian apa Rednan ke Maya? Selama ini Maya pikir tatapan mata Rednan itu kenapa? Beleken? Trimbilen? Itu tatapan kagum! Kagum atas ketegaran Maya yang rela kabur dari pengintaian Papanya. Meski kuliah, Maya tidak pernah lagi mendapat kiriman uang dari Papanya. Maya mengerjakan apa aja yang bisa menghasilkan uang. Jualan pulsa, jual baju di Sunmor, ngamen. Baginya, asal bukan jual diri aja. Rednan merinding kalo mengingat betapa gadis manis itu berjuang sendiri untuk hidupnya.
Maya menerawang jauh, menatap jalanan samping stasiun Tugu yang selalu ramai. Lalu lalang kendaraan membuat pikirannya terus berputar. Dia punya segalanya, tapi dia membuang segalanya. Dia hanya ingin diperhatikan, dia ingin disayang.
Rednan juga menatap aspal yang diam. Tidak ada riak dan gelombang dalam pikirannya. Rednan begitu tenang. Dia begitu diam. Dia begitu terpukul. Dia sangat menyayanginya, dia mengagumi dia.
Rosi. Rosi selalu ada di pikiran Satria. Satu-satunya yang selalu ceria menggelayut manja di lengannya. Rosi yang telah dipanggil Tuhan. Rosi yang jadi korban kekejaman jaman. Ah, seandainya dia tidak bertemu dengan Maya, mungkin hidupnya juga hanya berupa maya saja. Tapi Maya itu maya. Dan dia bukan Rosi yang nyata.
Satria, seandainya lo tau gimana perasaan gue sama elo. Seandainya lo tau dibalik kata-kata gue yang lo ngga suka, ada sayang yang terselip di tiap jedanya. Ada rindu yang tersimpan di setiap spasinya. Kenapa lo ngga ngerti juga? Di tatapan mata gue selalu ada rasa kagum buat lo. Lo yang berjuang sendiri buat hidup lo. Lo yang selalu tegar, yang gue copas (copy paste) dalam diri gue…Maya. Maya selalu berpikir seperti itu.
Maya…Maya Maya dan Maya. Kenapa kamu ngga pernah mengenal aku? Mengenal parasaanku? Mencoba mengerti arti rinduku padamu? Rednan serasa bagai orang yang putus asa. Putus asa karena cinta bertepuk sebelah tangannya.
Tapi ketiganya adalah orang yang mencoba bertahan. Bertahan dengan semua gejolak jiwa muda, bertahan dari kerapuhan masa depannya. Raga mereka letih, tapi semangat mereka tidak pernah padam. Seperti arang yang tercelup di dalam kopi joss. Cess…itu jelas bukan mereka.
Gojess…gojess…gojess…
“ Woy…pada roaming gua kagak ngarti!” Satria membekap mulut Maya sekali lagi.

Oktober 15, 2009

Sakit yang Sekedar Mampir

Tidak ada yang bisa dia lihat malam ini. Sebuah hantaman keras tangan lembut itu pun hanya sekelebat dia saksikan. Tidak pula rasa sakit yang dengan tiba-tiba menyerang. Lil sudah kebal. Rasa sakit itu hanya akan mampir sebentar di kulit luarnya, kemudian pergi entah kemana. hatinya sudah tidak mampu lagi menampung segala perih itu. Bahkan perih yang datang bertubi tiap malam.

Arta selalu melakukan itu. Hampir tiap malam Arta menghujani Lil dengan tamparan dan pukulan di dahi, pipi, lengan, wajah, semuanya. Lil bahkan sepertinya mulai menikmati semuanya. Karena beberapa menit kemudian Arta mulai mencumbunya, menciumnya, menidurkannya. Lil merasa seperti bayi dalam gendongan Arta. Lil merasa kecil di hadapan Arta yang kuat, yang gagah, yang ganteng. Lil merasa Arta adalah iblis berwajah malaikat. Iblis yang sangat dia cintai.

" Tidak bisakah kau berteriak?!" bentak Arta saat rambut Lil tengah porak-poranda di tangannya. Lil hanya tersenyum, menggoda Arta. Lil sedang menikmati wajah Arta. Wajahnya yang mulus tanpa jerawat. Wajahnya yang berubah menjadi candu hidupnya. Lil yakin, dia tidak akan bisa hidup tanpa Arta.
" Aku sayang padamu..." Lil berujar lirih.
" Anjing gilaaaa!!"
" Sayangkuu..."
Plaak! Plaak!
Dan Arta tersenyum puas, terus menghajar Lil, membuat wanita itu terbang ke surga ketujuhnya.

Pagi itu Lil bangun dengan tubuh berat luar biasa. Di sampinganya, Arta tertidur, telungkup, telanjang. Lil membelai rambut Arta lembut, mengusa kepalanya. Arta, lelaki perkasa itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Arta terlihat seperti puppies dengan rambut halus coklatnya. Arta yang berarti segalanya buat Lil.
Aaahh...untuk menggerakkan tangan saja rasanya sakit sekali. Lil masih dengan pusingnya berusaha menggapai baju yang berceceran di lantai dekat tempat tidur. Anjing! Kakinya hampir tidak kuat menyangga tubuhnya! Lantai pun terasa jauh lebih dingin! Ahh, mungkin iya gue lagi sakit, batin Lil. Wanita itu mengusap dahinya sendiri. Sedikit panas.

" Bintaaaang..." erang Arta dalam tidurnya. Lil mendekat, mendekatkan moncong bibirnya ke pipi Arta.
" Selamat pagi sayang," balas Lil setelah mengecup pipi ARta pelan. Kini dia telah berpakaian rapi, bau dettol menyeruak. Lil sangat menyukai sabun dettol. Itu mengingatkannya kepada ayah dan ibunya di Jogja. Itu mengingatkannya pada sedikit perhatian Ibu saat dia mandi. Dan Lil ingin menyimpannya kuat-kuat, selamanya, di rongga paru-parunya.
" Aku sayang kamu, Bintang..." Arta tersenyum manis. Ada bekas cakaran di punggung Arta. Cakaran Lil.
" Kamu sudah lapar?" tanya Lil. Arta mengangguk sambil mencoba duduk. Rambutnya masih acak-acakan, bau tubuhnya masih sama seperti semalam, tidak ada bau dettol di tubuh Arta.
" Aku lapar, aku mau kamu..." jawab Arta. Lil tersenyum. Itu adalah saat paling romantis dalam hidup Lil. Saat Arta bilang," aku mau kamu." dengan ngga peduli betapa yang Arta mau adalah sex, bukan sekedar menunggunya pulang kerja.

*****

Di suatu sore di Starbucks. Lil sedang menghabiskan sorenya bersama Nyinyi. Nyinyi, teman sekantornya. Nyinyi, teman bermain-mainnya saat lagi bete. Nyinyi, teman yang selalu dengan keras menentang hubungannya dengan Arta. Arta, yang bukan suami, juga bukan pacar Lil.
" Elu goblok banget sih! Jelas itu namanya KDRT!" teriak Nyinyi. Lil sedang memperhatikan lebam biru di wajahnya. dia memoleh bedak lebih tebal lagi untuk menyembunyikan jejak Arta di wajahnya.
" Arta itu bukan lekong gua, bukan KDRT dong namanya yangg??" ngeles Lil.
" Lebih parah dari KDRT itu namanya!"
" Aaaah, gue bosen Nyi! Itu mulu itu mulu! Lama-lama kuping gue pengen pension juga nihh!"
" Gue ini cuman ngingetin lo! Pergi deh! Lo mau sampe kapan HTSan sama lekong orang gitu?"
" Lama-lama lu ngomong jadi kayak bencong ya? Gue cinta sama dia, sampe kapanpun gue bakal cinta!"
" Cinta buta!"
Lil terdiam. Dimana-mana, posisi Lil juga salalu dianggap salah. Cuma Arta yang menganggapnya benar. Cuma Arta yang bilang Lil tidak pernah salah. Lil percaya sama Arta, Lil percaya sama orang yang membenarkannya. Tanpa sanggahan.

Dan mereka bilang posisi Lil itu sekelas pelacur, perek. Tapi Lil selalu dengan tegas mengelak. Dia berhubungan dengan Arta atas suka sama suka. Tidak ada pihak yang dirugikan. Tidak istri Arta pula. Bukan salah Lil kalo Arta menjadi begitu mencintainya. Bukan salah Arta kalo dia mencari kebahagiaan dibawah ketiak Lil karena Sarah, istrinya tak juga peduli? Dan bukan salah Sarah kalo dia tidak peduli sama Arta, Sarah tidak pernah mencintainya. Bagi Sarah, perhodohannya dengan Arta hanya sebagai jembatan bisnis. Ya, agar hotel Luxio bisa bergabung dengan Mintz menjadi The Mintzio, jaringan hotel nomor wahid di Asia Tenggara. Jadi apa namanya? Cinta hanya politik. Cinta hanya main-main dan kucing-kucingan. Cinta bukan lagi hal sakral yang perlu ijab-kabul untuk merasakannya. Tidak bagi Lil.

Lil menghisap rokoknya kuat-kuat. Dia ingin mabuk sekarang. Arta tidak datang malam ini. Dia harus menemani Sarah menghadiri jamuan makan dari klien bisnisnya dari Korea. Perkembangan jaringan hotel mereka akan merambat sampai Korea Selatan. Lil menjadi gusar. Setiap malamnya tanpa Arta terasa bisu, kelam. Setiap malamnya tanpa tamparan sekaligus belaian Arta terasa sangat menyakitkan, jauh lebih menyakitkan dibanding pukulan yang membuat lengannya hampir mati rasa. Tapi apa?? Lil pernah bilang itu cinta. Bukankah cinta itu politis dan hanya akal-akalan belaka? Ah, dan bahkan sekarang cinta itu sedang menyamar sebagai bentuk persetubuhan antara Lil dan Arta. Dan itu salah!

Lil menyalakan rokok keduanya. Dia tidak bisa lagi berpikir realistis. Mungkin benar, Nyinyi tidak salah dalam ucapannya. Tapi Lil tidak bisa mengobati segala cantu Arta yang telah melekat kuat! Lil tidak akan bisa hidup tanpa Arta. Arta adalah sepotong jiwanya. Dan Lil hanya sebongkah raga tanpa jiwa bila sendiri.

Lil semakin tenggelam dalam argumentasinya sendiri. Ditenggaknya Chivas Regal itu berkali-kali. Dan itu membuatnya limbung. Pengalaman akal-akalannya dengan Arta memang belum terendus siapapun, tapi Lil takut bila suatu saat dia akan sendiri tanpa Arta. Dia takut bila dalam malam tidak ada Arta. Tidak ada bintang seperti di Jogja, tidak ada bau dettol dari Ibu.

Ahh..., Lil hanya ingin mabuk. Lil ingin menenggak berbotol-botol minuman memabukkan, agar saat bangun nanti dia menemukan tulang-tulangnya remuk, sama persis seperti saat ada Arta di dekatnya. Sama sakit dan bahagianya saat Arta mencium sambil menjambak rambutnya. Sakit yang hanya sekedar mampir, seperti Lil yang hanya mampir sebentar di dunia, untuk menemui Arta. Karena setiap orang pada akhirnya hanya punya satu tujuan : mati.

Lil menghela napas. Biarkan saja aku begini. Mereka bilang aku perek, cabo, pelacur! Aku ngga peduli. Tau apa mereka tentang aku dan Arta? Tau apa mereka tentang cinta? Mereka hanya sok tau! Mereka hanya tau dari celah sempit yang mereka bikin sendiri! Mereka hanya menerka! Dan Lil semakin tenggelam dalam kebisuan malam, tanpa Arta..