Maret 28, 2010

She's Really Seventysomething

Semua ini bermula dari tugas yang diberikan dosen Pengembangan Masyarakat itu untukku. Tadinya aku juga ngga peduli. Aku ngga pernah mempermasalahkan, apalagi sampai memikirkan. Bahkan larangan ayah untuk naik motor Magelang-Jogja pun aku lihat dengan kesinisan tingkat tinggi. Ngga ada untungnya kuliah di Jogja tanpa motor, tanpa kendaraan! Gimana bisa having fun di kedai kopi pinggir Seturan? Gimana bisa mobilitas ke Amplaz kalo pikiran lagi nge-curly abis?! Gimana bisa ke Malioboro buat hunting pernak-pernik lucu bin murah tanpa panas-panasan naik bis kota? Hhh, pokoknya aku mengutuk keras tugas wawancara ini beserta pelarangan naik motor dan antek-anteknya itu. Tadinya.

“ Cebol, kita mau wawancara siapa?” tanya Marina ke aku. Aku mendengus kesal. Aku tau aku kurang tinggi. Tapi bukan berarti cebol kan!

“ Wawancara elo aja!” teriakku sewot.

“ Udah cebol ya cebol aja. Ngga perlu pake minta wawancara ke gue dong! Yang ada standar wawancara gue ya sekelas Vogue gitu!” balas Marina kecentilan. Cewek bermotor Beat ini emang sombong gila. Secara badannya straight (baca: tinggi), dan aku, well, hanya kurang tinggi aja. Reta tersenyum kalem aja, senyum yang pelan. Dan Boncil (harusnya dia yang dipanggil cebol! Dia kan cowok, tapi ngga setinggi Lee Min Ho!), masih stay dengan kamera-seharga-motor miliknya. Memutar-mutar entah apa itu sambil membidikkan lensanya ke arah jalan perempatan Kentungan.

“ Badut! Belagu lo, ketinggian! Kalo mimpi jangan sampe ke Vogue! Bisa nampang di Cosmogirl ukuran tiga kali empat aja udah sukur!” balasku.

“ Kalian ini ngehrumpiin apa tsih? Ngga jelast banget!” tentu Boncil bukan cebol, tapi cadel! Reta menambah frekuensi senyam-senyum-ngga-jelasnya.

“ Elo yang ngga jelas Cil, daritadi pose mulu sama kamera lo. Kita lagi bingung nih mau wawancara siapa buat kaum rentan itu! Bantuin mikir kek! Gue ogah kalo pake ribet! Lo kan orangnya terkenal riweuh dan anti kemudahan gitu!” cerocosku. Boncil tertawa aja. Marina apalagi. Giginya sampai jadi gondrong. Dan senyuman Reta langsung berubah jadi tawa yang bersambung (baca: ngga berhenti sampai sepuluh menit)

“ Tukang sampah aja gimana?” sahutku.

“ Ato pedagang asongan?”

“ Ato penjaga kuburan?” Boncil. Dia dengan sukses mendapat jitakan dari aku dan Marina. Dan dengan sukses mendapat secercah senyum pelipur lara dari Reta.

“ Ato…tukang gali kubur?” lanjut Boncil. Aku sudah siap tangan lagi buat ngejitak Boncil sebelum aku dengar Marina berteriak, “ penjaga gawang aja gimana?”

Setelah perdebatan sengit bin aneh itu, akhirnya kami sepakat mewawancarai loper Koran di perempatan Kentungan itu saja. Tapi kemudian berubah lagi, yaitu mewawancarai nenek-nenek penjual jajan pasar yang kata Boncil keliatan kasian. Emang kapan Boncil pernah ketemu sama itu nenek? Pertanyaan retorisku langsung terjawab dengan sendirinya: gue sama bini sering kesana buat beli sayurh bayem biarl bisa mingkem. Boncil.

Gludak gluduk kita berempat bertiltle kelompok Pengembangan Masyarakat dan bermodalkan kamera-yang-katanya-seharga-motor, tripod hasil minjem ke Tripang, dan catetan kecil hasil beli dengan kocek sendiri di Togamas beberapa minggu lalu. Aku maju duluan, mulai bertanya kepada nenek-nenek yang lagi makan itu. Deg…jantungku seakan mau pensiun, itu nenek-nenek emang keliatan emmm, well, desperate. Desperate tapi tersenyum. Tersenyum tapi desperate. Gimana ya ngedeskripsiinya?

Dan segalanya berubah…

Hasil wawancara cukup membuat aku terkejut. Aku sampai ngga berani membantah bahwa apa yang udah dosen dan ayahku lakukan padaku itu benar. Bahwa aku sungguh sangat, sangat, sangat beruntung sekali. Kemudian aku berjalan pulang. Dengan gontai aku melirik para tuna wisma di samping kananku saat motor Marina berhenti di lampu merah. Mereka tidak sekolah. Mereka tidak kuliah. Mereka tidak bermain seperti wajarnya anak seusia mereka. Dan mereka masih bisa bahagia. Aku miris. Kemudian motor Marina jalan lagi. Aku melihat di sepanjang jalan: bapak=bapak tukang tambal ban, ibu-ibu jualan lotek, pedagang kaki lima yang sepi, tukang becak, padagang rokok, banyak. Kemudian aku tersadar, dan aku terpejam. Bahwa masih banyak yang belum aku ketahui. Aku harus tau seperti apa mereka.

“ Ya kira-kira lima sampai sepuluh ribu lah per hari,” ucapan nenek penjual jajan pasar itu mengusik pikiranku terus. Dengan uang segitu bisa apa mereka? Dan dengan usia mereka (73 tahun), seharusnya mereka berhak atas perinstirahatan enak bernama kasih sayang anak cucu. Tapi ternyata banyak nenek-nenek di luar sana yang masih bekerja, bahkan sebagai kuli angkut di usia senja yang rawan itu! Aku mengusap wajahku.

“ Lo ngga papa kan Seis?” tanya Marina di sebelahku. Di saat kuliah Metode dan Teknik Perencanaan berlangsung aku malah melamunkan nenek-nenek itu. Hmmm…aku perlu mencuci muka.

“ Gue baik-baik aja Mar,” jawabku.

“ Panggil gue Marin, bukan Mar. lo pikir gue marimar atau maria mercedez?” sewot Marina. Aku mendadak kesal. Bahkan temanku yang satu ini tersinggung hanya karena pengucapan nama. Kasian dia, sangat tidak berhati lapang! Bahkan nenek itu tidak tersinggung sama Tuhan gara-gara dia miskin dan hidup kekurangan! Poor you, Mar, Marin, or whoever you are!

Aku meneruskan perjalanku hari ini. Aku pulang Magelang. Kata Ita, dia mau nebengin aku sampai Jombor. Tapi aku menolak. Maaf, ini perjalananku, perjalanan batinku pula. Aku menyetop angkot jurusan Jombor-Prambanan dari Jakal dekat MM UGM. Perasaan aneh itu muncul lagi. Kenapa aku baru sadar bahwa penumpang angkot ini terlihat dekil, dan anak kecil itu punya banyak ingus? Dan bapak-bapak itu? Ya Tuhan, betapa beruntungnya diriku! Kemudian aku mencoba menghayati semua ini, apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku? Kakek-kakek itu bercerita dengan percaya diri bahwa pasar burung hari ini ramai. Sekarang hari Pahing, sedang “pasarnya” pasar. Aku mendengar dengan seksama. Bahkan hal sederhana pun bisa menjadi sesuatu yang wah bagi mereka, bagi kakek-kakek itu! Sedangkan aku? Dapat uang saku tambahan aja masih berangkat Jogja dengan muka bersungut-sungut! Betapa sederhananya mereka, betapa bersahajanya mereka. Betapa tulus pikiran mereka.

“ Jombor, Jombor!” teriakan kernet di angkot itu mengagetkanku pada akhrinya.

Bis selalu penuh. Apalagi saat sore seperti ini. Banyak yang pulang ke Magelang atau Semarang. Banyak pula yang mudik, seperti aku ini. Beruntung aku mendapatkan tempat duduk di barisan tiga dari depan, di deretan supir. Tempat yang strategis.

“ Magelang, Muntilan, Salam, Semarang, Semarang!” teriak kernet bisa Jogja-Semarang itu. Bau rokok, bau solar, bau keringat semua menjadi satu. Ini yang paling aku ngga sukai dari bus. Ramai, penuh, bau! Baru beberapa meter berjalan, bus berhenti. Kemudian seorang kakek tua dengan tongkatnya berjalan pelan masuk. Kerut di wajahnya terlihat nyata, seperti akan menyampaikan bahwa dia telah mengarungi beberapa fase kehidupan. Pasti dia bekas pejuang. Dengan tenang dia menatapku kemudian tersenyum lemah dan berdiri di dekat kursiku. Demi Tuhan, ngga ada seorang pun yang rela memberikan kursinya pada kakek itu! Mataku menjelajah dari si bapak-bapak TNI itu, anak muda berpakaian gaul dan headset di kupingnya itu, anak muda lagi, kali ini ngga gaul-gaul amat, kemudian dua bapak-bapak PNS. Dan terakhir: diriku sendiri. Oh my goat, yess, semua berawal dari diri sendiri! Dengan sukarela aku berikan kursiku untuk si kakek, kemudian dia tersenyum penuh rasa terima kasih. Hatiku ikut tersenyum bersama dengan tatapan mata aneh dari penumpang lain di sekitarku. Aku berdiri tak lebih dari lima menit, bapak-bapak TNI itu memintaku duduk di kursinya. Syukurlah…

Pedagang asongan, pemangen, pengemis, semua menjadi satu dalam bis. Semua bertambah bising dengan suara tangis anak tiga tahunan yang sedang dalam gendongam bapaknya. What? Gendongan bapaknya? Kemana ibunya? Anak itu menangis dan menangis terus. Pasti bapaknya bingung bagaimana harus menenangkan bocah cilik itu. Aku menunduk. Menunduk terlalu dalam. Kemana saja aku ini? Dimana hatiku?! Jelas sekali setiap hari elo ketemu orang-orang yang rentan seperti mereka! Mereka vulnerable, almost being poverty! Telingaku penuh dengan suara tangis melengking yang menyedihkan itu, dan raut lelah dan pancaran memelas dari bapak si anak. Dan suara pedagang asongan, dan pengamen, dan pengemis! Dan penumpang lain yang berbicara dengan dialek kedesa-desaan. Ya Tuhan, mereka semua sungguh hebat! Mereka mempunyai rasa syukur yang tinggi kepadaMu, jauh lebih tinggi di atas aku! Rasa mirisku kini mulai tertuang dalam bentuk visualisasi airmata. Aku terus menangis, menangis dan menangisi negaraku. Negara ini bahkan sudah rentan!

Satu jam sudah aku mengeluarkan duka dalam hatiku. Aku telah menjadi gadis baru. Dengan mata dan hati yang selalu terbuka terhadap apa saja, rasanya aku sudah sangat sangat sangat perlu untuk bersyukur. Tidak ada lagi kini marah-marah karena ngga bisa ke Amplaz atau Malioboro. Karena bahkan mereka pun tidak tau apa itu Amplaz!

Inda.Meravigliossy

4.06 p.m

26 Desesmber 2009

Januari 18, 2010

Saya Tidak Butuh Alasan Untuk Menyayanginya

Saya tidak butuh alasan untuk menyayanginya...

Seharusnya...

Saya tidak pernah tau apa maksud semua yang saya rasakan. Kadang, hal itu hanya datang dan berlalu tanpa saya ngerti mengapa saya yang dijadikan jalan untuknya lewat. Kadang saya hany menebak-nebak maksud dibalik hitam putih kabur itu. Hanya hitam, dan putih. Kadang hidup saya terasa monoton, dan monokrom. Ahh...ternyata saya masih belum tau banyak. Hidup yang sesungguhnya bukan seperti ini. Seharusnya hidup bisa lebih bermakna, dan berwarna...

Desember 30, 2009

Kembali Tugu

Gojess..gojes…gojess…
“ Arep ngombe opo Dab?” Satria.
“ Kopi joss…sing kenthel soyo nyamleng!” Rednan.
“ Teh anget aja.” Maya.
“ Wuooo banci. Adoh-adoh seko Pogung tekan Tugu kok gur teh anget, percuma le adem-adem numpak motor!” marah-marah, Satria.
“ Roaming…roaming…gua kagak ngarti Sob!” Maya.
“ Jakarta asu! Ngomong sok elho guwe elho guwe!” Satria.
“ wis wis…nyangkem kabeh. Gek ndang pesen!” Rednan.
“ Teh anget!” Maya.
“ Kopi joss!”
“ Kopi joss!”
Gojes…gojes… entah suara apa lagi, mereka bertiga hanya mampu menerjemahkan semua menjadi sebuah gojes. Karena dekat dengan stasiun Tugu, mereka sengaja memilih kata “gojes” yang memang erat kaitannya dengan kereta api rel. Pelan mereka menyeruput kopinya. Maya menyeruput teh angetnya.
“ Anjing! Gua digigit semut!” teriak Maya sambil memegangi tangannya.
“ Banci! Karo semut wae wedi!” Satria.
“ Kaga ngarti lo ngomong apa! Roaming ke gua!” Maya.
“ Wis wis wis. Menengo, aku mumet! Koyo kucing karo asu wae.” Rednan.
“ Bang Sat itu loh!”
“ Bangsat gundulmu. Satria ki, Satria!” jawab Satria.
“ Mangan wae njo mangan. Ngeleh aku Dab.” Rednan.
“ Duit mbahmu po? Ra gablek sedino ngamen ra entuk duit!” Satria.
“ Ra ngompas po?” Rednan.
“ Roaming woy roaming!” Maya.
“ Diam lo!” Satria.
“ Bisa juga lo ngomong bahasa Indonesia, hahaha…” Maya.
“ Kepekso! Daripada mbengok-mbengok marai kuping budheg!”
Bertepatan dengan itu ada satu motor berhenti di belakang mereka duduk. Sepasang muda-mudi turun. Olala, seorang bocah balita ternyata duduk diantara pemuda dan pemudi itu. Nikah muda, batin Maya. Tapi betapa beruntungnya anak itu, masih punya ayah dan masih punya Mamak. Maya jadi menerawang. Jauh di atas bintang sana, menunggangi bulan sabit, pasti Mamak sedang menyaksikan dirinya sambil berkata,” anak gadisku sudah beranjak dewasa…” dan bibir Mamak pasti tersunggingkan senyum. Tapi tidak, khayalan itu terlalu tinggi. Disini dia ada bersama Satria dan Rednan.
“ Ngopo kowe Nduk?” tanya Rednan. Maya menoleh ke Rednan. Dia berkedip-kedip terus, menghilangkan genangan airmata tak diundang di pelupuknya. Tapi bayangan Mamak berkelebat lagi di otaknya. Lagi. Lagi dan sekali lagi seterusnya lagi.
“ Kaga apa-apa. Pedes mata gue.”
“ Pedes bagemana? Kena semut yang tadi?” tanya Rednan lagi. Semutnya tadi gigit tangan, bukan pipi apalagi mata. Maya menggeleng pelan. Mamak, dan Papa. Papa yang hilang di belantara ketamakan Jakarta. Papa yang telah termakan mulut singa betina. Papa adalah seorang pemburu yang gagal. Papa lupa dia masih punya seorang putri yang tengah tersesat di hutan kehidupan. Hilang tenggelam di rawa kemaksiatan Jogja.
Gojes…gojess…gojess…
“ Anakku nagih bayaran sekolah. Diancuk, aku ra nduwe duit ki!”
“ Halah…halah…halah. Nek meh sing ayu yo Aura Kasih Dab!”
“ Ndiasmu kuwi! Tugasku sak bajeg! Dosenku mbeling tenan kok!”
“ Roaming…roaming…roaming!” teriak Maya. Satria membekap mulut Maya kuat-kuat. Lubang hidung Maya ikut tertutupi tangan Satria.
“ Comel lambemu! Menengo, sensitive aku nek krungu kata roaming!” Satria. Suara percakapan orang-orang yang hampir semuanya misuh-misuh. Misuh karena belum membayar sekolah, misuh karena ngga punya uang, misuh karena tugasnya banyak. Kenapa semua orang hanya bisa misuh-misuh? Puyeng. Mikirin diri sendiri aja masih puyeng, apalagi mikirin orang lain yang misuh-misuh.
“ Ayu yo ning Sarkem! Meh nggolek le tuwo, stw opo le wis meh menopause haha. Tambah Kang, segop kucinge!”
“ Aku wegah nek motore disita. Le ngeterke anakku nggo opo nek ngene carane?”
“ Dosenku juga gilaaaak! Semalem tiga paper coba!”
“ Keno penyakit ning Sarkem we. Gemang Dab!”
“ Aku utang sopo yo? Supraku oh Supraku…”
“ Aku laporan loro Dab, durung pretest praktek besok lusa!”
“ Roaming…roaming!! Pala gue penuh, omongan ngga gelas gitu, mana gua kagak ngarti semua lagi!” Maya berteriak muak. Dia muak dengan suara-suara aneh yang sering didengarnya. Dia muak dengan semua suara munafik yang sengaja didengungkan tanpa maksud. Dia muak mendengar semua alasan yang tidak masuk akal. Tentang Papanya yang membuat alasan menikahi Zora karena butuh teman ngobrol dan teman hidup. Padahal ngaku aja kalo Papa hanya butuh kehangatan Zora saat malam datang. Dan Maya muak dengan perasaannya yang terus berbohong. Dia muak dengan kemunafikan, dia muak pada dirinya yang munafik.
“ Yang mana yang kamu ngga ngerti May?” tanya Rednan.
“ May, kowe ki cah ayu-ayu kok minggatan seko omah ki ngopo?” tanya Satria. Maya menerawang. Dia hanya mengerti satu dua dari perkataan Satria. Maya hanya mengerti sedikit dari banyak kata yang diucapkan oleh pengamen jalanan di perempatan Selokan itu. Rednan itu teman satu kelas Maya. Satria itu pengamen yang secara tidak sengaja bertemu dengan Maya gara-gara aksi pencopetan itu. Satria yang hitam. Satria yang suka berkata kasar. Satria yang selalu apa adanya.
“ Lo bilang ayu ayu? Gue ayu Sat?” tanya Maya. Sialan, gue dicuekin, batin Rednan.
“ Salah ngomong aku!” ralat Satria cepat.
“ Hahaha…” tawa Maya melengking. Satria mengacak-acak rambut Maya. Maya itu cantik. Maya itu punya mata yang indah. Maya itu punya kumis tipis di atas bibirnya. Persis seperti adiknya, Rosi. Maya semakin mirip Rosi ketika dia memesan teh anget, minuman kesukaan Rosi. Maya itu Rosi, Maya itu adiknya. No more. Dan adik bagi Satria adalah segalanya, karena dia tidak berayah dan beribu. Dan dia tidak ber-Rosi lagi setelah tabrak lari beberapa bulan yang lalu. Shit! Dan polisi bahkan tidak mengejarnya. Polisi itu tai! Hanya gara-gara Satria tidak punya uang, harta benda. Pemerintah itu sama busuknya dengan polisi! Satria membenci pemerintah!
“ May, kamu ngga mau makan nasi kucing?” tanya Rednan. Maya hanya menggeleng. Kenapa Maya tidak pernah merasakan getaran hati Rednan? Selama ini untuk apa dia baik dengan Maya, mengorbankan waktu tidur malamnya untuk mendengarkan curhatan Maya tentang kedua orangtuanya yang selalu menyepelekan Maya? Selama ini untuk apa ucapan met tidur dan kangen yang Rednan kirimkan ke Maya lewat sms? Selama ini kurang perhatian apa Rednan ke Maya? Selama ini Maya pikir tatapan mata Rednan itu kenapa? Beleken? Trimbilen? Itu tatapan kagum! Kagum atas ketegaran Maya yang rela kabur dari pengintaian Papanya. Meski kuliah, Maya tidak pernah lagi mendapat kiriman uang dari Papanya. Maya mengerjakan apa aja yang bisa menghasilkan uang. Jualan pulsa, jual baju di Sunmor, ngamen. Baginya, asal bukan jual diri aja. Rednan merinding kalo mengingat betapa gadis manis itu berjuang sendiri untuk hidupnya.
Maya menerawang jauh, menatap jalanan samping stasiun Tugu yang selalu ramai. Lalu lalang kendaraan membuat pikirannya terus berputar. Dia punya segalanya, tapi dia membuang segalanya. Dia hanya ingin diperhatikan, dia ingin disayang.
Rednan juga menatap aspal yang diam. Tidak ada riak dan gelombang dalam pikirannya. Rednan begitu tenang. Dia begitu diam. Dia begitu terpukul. Dia sangat menyayanginya, dia mengagumi dia.
Rosi. Rosi selalu ada di pikiran Satria. Satu-satunya yang selalu ceria menggelayut manja di lengannya. Rosi yang telah dipanggil Tuhan. Rosi yang jadi korban kekejaman jaman. Ah, seandainya dia tidak bertemu dengan Maya, mungkin hidupnya juga hanya berupa maya saja. Tapi Maya itu maya. Dan dia bukan Rosi yang nyata.
Satria, seandainya lo tau gimana perasaan gue sama elo. Seandainya lo tau dibalik kata-kata gue yang lo ngga suka, ada sayang yang terselip di tiap jedanya. Ada rindu yang tersimpan di setiap spasinya. Kenapa lo ngga ngerti juga? Di tatapan mata gue selalu ada rasa kagum buat lo. Lo yang berjuang sendiri buat hidup lo. Lo yang selalu tegar, yang gue copas (copy paste) dalam diri gue…Maya. Maya selalu berpikir seperti itu.
Maya…Maya Maya dan Maya. Kenapa kamu ngga pernah mengenal aku? Mengenal parasaanku? Mencoba mengerti arti rinduku padamu? Rednan serasa bagai orang yang putus asa. Putus asa karena cinta bertepuk sebelah tangannya.
Tapi ketiganya adalah orang yang mencoba bertahan. Bertahan dengan semua gejolak jiwa muda, bertahan dari kerapuhan masa depannya. Raga mereka letih, tapi semangat mereka tidak pernah padam. Seperti arang yang tercelup di dalam kopi joss. Cess…itu jelas bukan mereka.
Gojess…gojess…gojess…
“ Woy…pada roaming gua kagak ngarti!” Satria membekap mulut Maya sekali lagi.

Oktober 15, 2009

Sakit yang Sekedar Mampir

Tidak ada yang bisa dia lihat malam ini. Sebuah hantaman keras tangan lembut itu pun hanya sekelebat dia saksikan. Tidak pula rasa sakit yang dengan tiba-tiba menyerang. Lil sudah kebal. Rasa sakit itu hanya akan mampir sebentar di kulit luarnya, kemudian pergi entah kemana. hatinya sudah tidak mampu lagi menampung segala perih itu. Bahkan perih yang datang bertubi tiap malam.

Arta selalu melakukan itu. Hampir tiap malam Arta menghujani Lil dengan tamparan dan pukulan di dahi, pipi, lengan, wajah, semuanya. Lil bahkan sepertinya mulai menikmati semuanya. Karena beberapa menit kemudian Arta mulai mencumbunya, menciumnya, menidurkannya. Lil merasa seperti bayi dalam gendongan Arta. Lil merasa kecil di hadapan Arta yang kuat, yang gagah, yang ganteng. Lil merasa Arta adalah iblis berwajah malaikat. Iblis yang sangat dia cintai.

" Tidak bisakah kau berteriak?!" bentak Arta saat rambut Lil tengah porak-poranda di tangannya. Lil hanya tersenyum, menggoda Arta. Lil sedang menikmati wajah Arta. Wajahnya yang mulus tanpa jerawat. Wajahnya yang berubah menjadi candu hidupnya. Lil yakin, dia tidak akan bisa hidup tanpa Arta.
" Aku sayang padamu..." Lil berujar lirih.
" Anjing gilaaaa!!"
" Sayangkuu..."
Plaak! Plaak!
Dan Arta tersenyum puas, terus menghajar Lil, membuat wanita itu terbang ke surga ketujuhnya.

Pagi itu Lil bangun dengan tubuh berat luar biasa. Di sampinganya, Arta tertidur, telungkup, telanjang. Lil membelai rambut Arta lembut, mengusa kepalanya. Arta, lelaki perkasa itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Arta terlihat seperti puppies dengan rambut halus coklatnya. Arta yang berarti segalanya buat Lil.
Aaahh...untuk menggerakkan tangan saja rasanya sakit sekali. Lil masih dengan pusingnya berusaha menggapai baju yang berceceran di lantai dekat tempat tidur. Anjing! Kakinya hampir tidak kuat menyangga tubuhnya! Lantai pun terasa jauh lebih dingin! Ahh, mungkin iya gue lagi sakit, batin Lil. Wanita itu mengusap dahinya sendiri. Sedikit panas.

" Bintaaaang..." erang Arta dalam tidurnya. Lil mendekat, mendekatkan moncong bibirnya ke pipi Arta.
" Selamat pagi sayang," balas Lil setelah mengecup pipi ARta pelan. Kini dia telah berpakaian rapi, bau dettol menyeruak. Lil sangat menyukai sabun dettol. Itu mengingatkannya kepada ayah dan ibunya di Jogja. Itu mengingatkannya pada sedikit perhatian Ibu saat dia mandi. Dan Lil ingin menyimpannya kuat-kuat, selamanya, di rongga paru-parunya.
" Aku sayang kamu, Bintang..." Arta tersenyum manis. Ada bekas cakaran di punggung Arta. Cakaran Lil.
" Kamu sudah lapar?" tanya Lil. Arta mengangguk sambil mencoba duduk. Rambutnya masih acak-acakan, bau tubuhnya masih sama seperti semalam, tidak ada bau dettol di tubuh Arta.
" Aku lapar, aku mau kamu..." jawab Arta. Lil tersenyum. Itu adalah saat paling romantis dalam hidup Lil. Saat Arta bilang," aku mau kamu." dengan ngga peduli betapa yang Arta mau adalah sex, bukan sekedar menunggunya pulang kerja.

*****

Di suatu sore di Starbucks. Lil sedang menghabiskan sorenya bersama Nyinyi. Nyinyi, teman sekantornya. Nyinyi, teman bermain-mainnya saat lagi bete. Nyinyi, teman yang selalu dengan keras menentang hubungannya dengan Arta. Arta, yang bukan suami, juga bukan pacar Lil.
" Elu goblok banget sih! Jelas itu namanya KDRT!" teriak Nyinyi. Lil sedang memperhatikan lebam biru di wajahnya. dia memoleh bedak lebih tebal lagi untuk menyembunyikan jejak Arta di wajahnya.
" Arta itu bukan lekong gua, bukan KDRT dong namanya yangg??" ngeles Lil.
" Lebih parah dari KDRT itu namanya!"
" Aaaah, gue bosen Nyi! Itu mulu itu mulu! Lama-lama kuping gue pengen pension juga nihh!"
" Gue ini cuman ngingetin lo! Pergi deh! Lo mau sampe kapan HTSan sama lekong orang gitu?"
" Lama-lama lu ngomong jadi kayak bencong ya? Gue cinta sama dia, sampe kapanpun gue bakal cinta!"
" Cinta buta!"
Lil terdiam. Dimana-mana, posisi Lil juga salalu dianggap salah. Cuma Arta yang menganggapnya benar. Cuma Arta yang bilang Lil tidak pernah salah. Lil percaya sama Arta, Lil percaya sama orang yang membenarkannya. Tanpa sanggahan.

Dan mereka bilang posisi Lil itu sekelas pelacur, perek. Tapi Lil selalu dengan tegas mengelak. Dia berhubungan dengan Arta atas suka sama suka. Tidak ada pihak yang dirugikan. Tidak istri Arta pula. Bukan salah Lil kalo Arta menjadi begitu mencintainya. Bukan salah Arta kalo dia mencari kebahagiaan dibawah ketiak Lil karena Sarah, istrinya tak juga peduli? Dan bukan salah Sarah kalo dia tidak peduli sama Arta, Sarah tidak pernah mencintainya. Bagi Sarah, perhodohannya dengan Arta hanya sebagai jembatan bisnis. Ya, agar hotel Luxio bisa bergabung dengan Mintz menjadi The Mintzio, jaringan hotel nomor wahid di Asia Tenggara. Jadi apa namanya? Cinta hanya politik. Cinta hanya main-main dan kucing-kucingan. Cinta bukan lagi hal sakral yang perlu ijab-kabul untuk merasakannya. Tidak bagi Lil.

Lil menghisap rokoknya kuat-kuat. Dia ingin mabuk sekarang. Arta tidak datang malam ini. Dia harus menemani Sarah menghadiri jamuan makan dari klien bisnisnya dari Korea. Perkembangan jaringan hotel mereka akan merambat sampai Korea Selatan. Lil menjadi gusar. Setiap malamnya tanpa Arta terasa bisu, kelam. Setiap malamnya tanpa tamparan sekaligus belaian Arta terasa sangat menyakitkan, jauh lebih menyakitkan dibanding pukulan yang membuat lengannya hampir mati rasa. Tapi apa?? Lil pernah bilang itu cinta. Bukankah cinta itu politis dan hanya akal-akalan belaka? Ah, dan bahkan sekarang cinta itu sedang menyamar sebagai bentuk persetubuhan antara Lil dan Arta. Dan itu salah!

Lil menyalakan rokok keduanya. Dia tidak bisa lagi berpikir realistis. Mungkin benar, Nyinyi tidak salah dalam ucapannya. Tapi Lil tidak bisa mengobati segala cantu Arta yang telah melekat kuat! Lil tidak akan bisa hidup tanpa Arta. Arta adalah sepotong jiwanya. Dan Lil hanya sebongkah raga tanpa jiwa bila sendiri.

Lil semakin tenggelam dalam argumentasinya sendiri. Ditenggaknya Chivas Regal itu berkali-kali. Dan itu membuatnya limbung. Pengalaman akal-akalannya dengan Arta memang belum terendus siapapun, tapi Lil takut bila suatu saat dia akan sendiri tanpa Arta. Dia takut bila dalam malam tidak ada Arta. Tidak ada bintang seperti di Jogja, tidak ada bau dettol dari Ibu.

Ahh..., Lil hanya ingin mabuk. Lil ingin menenggak berbotol-botol minuman memabukkan, agar saat bangun nanti dia menemukan tulang-tulangnya remuk, sama persis seperti saat ada Arta di dekatnya. Sama sakit dan bahagianya saat Arta mencium sambil menjambak rambutnya. Sakit yang hanya sekedar mampir, seperti Lil yang hanya mampir sebentar di dunia, untuk menemui Arta. Karena setiap orang pada akhirnya hanya punya satu tujuan : mati.

Lil menghela napas. Biarkan saja aku begini. Mereka bilang aku perek, cabo, pelacur! Aku ngga peduli. Tau apa mereka tentang aku dan Arta? Tau apa mereka tentang cinta? Mereka hanya sok tau! Mereka hanya tau dari celah sempit yang mereka bikin sendiri! Mereka hanya menerka! Dan Lil semakin tenggelam dalam kebisuan malam, tanpa Arta..

Nayla, kisah keberanian wanita untuk bersuara


Nayla.
Tidak terbayang kalo ternyata novel ini begitu berat buat saya. Ceritanya sangat kontroversial dan berani. Pantas novel ini mendapat predikat "novel dewasa". Meskipun kata-kata yang terkandungnya sarkas banget, tapi tidak ada kesan porno atau ketidaklayakan untuk membacanya.

Pada awalnya saya pikir novel ini hanya bercerita tentang ala kadarnya wanita bernama Nayla yang broken home dan sering diperlakukan ibunya dengan tidak manusiawi. Tapi ternyata lebih dari itu. Nayla kecil tumbuh menjadi gadis yang menurut saya itu adalah kelainan mental. Nayla yang tidak percaya tentang kesakralan cinta tapi saya sangsi, Nayla sedang mencari cinta. Nayla tidak percaya dengan segala cinta yang pernah dia liat, dengar, dan rasa pada masa lalunya. Nayla tertekan hingga dia menjadi limbung dan merampok taksi.

Sebenernya ngga ada yang tau seperti apa Nayla sebenernya. Nayla yang jelas terlukis disini, yang hanya dengan sekilas kita baca hanyalah gadis pemabuk yang bercinta dengan Juli, seorang wanita yang mengurung jiwa lelaki di dalamnya. Nayla yang mencari mabuk. Nayla yang merasa terkurung dalam langit gelap Jakarta. Nayla yang sering ngompol, juru lampu, penari tiap malam minggu, dan Nayla yang dengan lantang berkata," saya lebih suka melihat tubuh wanita telanjang, ketimbang laki-laki."

Hare gene gitu, secara kita harus punya kan bacaan yang dapet pesan morilnya. bacaan yang ngga sekadar tongpes, yang sekali ditusuk jarum isinya angin doang. Itu udah ngga jamaaaan! Coba deh, karya-karya Djenar Maesa Ayu ini penuh isi. Tidak sekedar bacaan malam saja. So, kalo penasaran dengan novel berat ini, baca aja deh. Nggaaaaa bakal ada rasa nyesel, malah yg ada kita dapet inspirasi. Don't miss it!

Judul novel : Nayla
Pengarang : Djenar Maesa Ayu

Oktober 01, 2009

The Gogons, James and The Incredible Incidents


Wow... satu kata buat buku ini. Kalo diliat dari judulnya sih keliatan komedi banget gitu, tapi setelah baca. Ehmmm...ngga ada yang bisa aku jelasin. Semua masalah itu muncul dengan indah banget. Terus coba renungkan makna kata: hidup adalah sebuah siklus pengorbanan yang indah. Indah sekali bukan?? Tere-liye, sang pengarang menggunakan runtutan kata-kata yang indah buat menggambarkan sebuah kesedihan beruntun itu.

Novel itu bercerita tentang 6 sahabat, 6 cowok metroseksual dengan permasalahan yang jauh dari normal (menurutku sih). James, Adi, Diar, Dito, Ari, Azhar. Mereka memiliki kesamaan yang membuat mereka bisa berkumpul dan bersatu, tapi mereka juga punya their own problem yang pada akhirnya akan membuat mereka tidak menjadi enam.

Pengorbanan indah tanpa sengaja memporak-porandakan hubungan persahabatn mereka, persahabatan yang menjadi comfirt zone buat Ari. Persahabatan yang membanti Dito berusaha lolos dari eksekusi hukuman mati dan keterlibatannya dalam kesetiaan semu, persahabatan yang menguatkan Adi dalam pekik rumah tangganya yang hampir karam, persahabatan yang membuat Diar, entahlah, harus aku deskripsikan apa sosok manis ini, persahabatan yang membuat Azhar terus mengejar cintanya pada Dahlia hingga nyawa menjadi taruhannya, dan pada akhirnya, persahabatn yang menjadi korban dari runtutan masalalu James dan si gadis penderita skizofrenia akut dan unik.

Jalan ceritanya unik dan penuh misteri. Tapi Tere-Liye mampu bercerita dengan sangat detil bagaimana setiap hal itu menjadi nyata. Pertemuan di pesawat, lari telanjang, kata-kata kematian yang sarkas sekali, hingga bagaimana segerombolan komodo itu berbalik arah saat melihat tatapan cinta sepasang matanya. Semuanya indah, semuanya tragis, semuanya sayang untuk dilewatkan.

Judul: The Gogons, James and The Incredibles Incidents.
Pengarang: Tere-liye

September 29, 2009

Harus Berani Kalah Duluan, Sob...

Dan kemudian aku terhenti sejenak. Ku tatap layar laptop di depanku. perasaanku campur aduk. Ini karena banyaknya trash dari facebook gila itu ato karena apa? Kenapa sampe jari-jariku pegal pun aku masih belum bisa mengaksesnya? Dongkol setengah mati. Maunya apa sih si yahoo sialan itu?? udah lama juga masiiiih aja. Tetep ngga bisa dibuka! Padahal, puluhan proyek dan mesej dari temen-temen udah mauk.
" Tugasnya aku kirimkan lewat email yaaa..."
" Emailmu apa??"
" Ok baby, i'll email you..."
" Le me know your email..."

Shit! Semuanya bikin aku kesal, muak banget. Kenapa musti ngga bisa diakses sih nih? Padahal terakhir aku buka, ada sekitar 6000an mesej diinbox yang menunggu buat aku buka. Huhh, paling-paling isinya facebook semua. Tambah berdenyut kepalaku ini, tambah pening rasanya. Belum lagi tugas SIP yang belum aku kirim ke dosen, dan puluhan tugas lainnya yang menunggu buat dihajar abiss! Semuanya kini hancur! Lebur! Emosi...

" Ndah...ngapain lo bengong di depan laptop?" Pris menegurku dari belakang.
" Lagi kesel Pri..."
" Nama gue Priselea, bukan Pri doang, jelek amat panggilan lo ke gue!" Pri kesel dan membanting bokongnya tepat di sebelah aku duduk. Kuedarkan pandangan di sekitar sebentar. Kampus masih sama. Studio perencanaan juga masih sama ramenya. Masih banyak anak-anak yang duduk-duduk dan buka laptop sambil internetan buka-buka situs geje. Aku tambah kesel. Kenapa mereka beitu mudah tersenyum? Tertawa? Padahal disini, aku, helooo, aku ingin mengerjakan tugas, ingin merampungkan tetek bengek kuliah dan kompeninya sungguh tidak bisa! Ya, judulnya adalah TIDAK BISA!!
" Maunya dipanggil apa?" tanyaku. Lumayan nih, si Pri bisa dijadiin hiburan dalam waktu jahiliyah kayak gini.
" Sel kek... Prisel kek... kayak apa aja gue dipanggil Pri..." sewotnya sambil merebahkan kepalanya di meja.
" Ngantuk lo?" tanyaku.
" Capek gue, kayaknya ngga eak badan. Buka facebook gue dong, mau liat notificationnya bentar."
" Heh, bentar gaya lo tuh bisa sampe sejam! Ogah1 Gue lagi mau benerin email gue yang kagak bisa dibuka nih!" kesalku sambil memencet keyboard di laptop sekenanya.
" Eh, jangan kasar gitu dong, ntar letoy lu tambah parah rusaknya! Udah lemot gitu, tambah sarap ntar kayak yang punya!"
" Sialan lo!"
Dan aku masih diliputi rasa kesal yang mendalam atas tugas-tugasku. Padahal aku ingin punya IP bagus buat program rencana masa depanku. Minimal, aku harus dapet IP 3 koma. Aku bergidik sendiri, aku berani banget ngambil SKS penuh.

Tapi aku jadi inget perkataan temenku.
" Lo harus berani bermimpi kalo mau maju. Lo harus berani bertindak. Jangan cuman di otak lo aja lo bilang: heyy, sebenernya sih gue mampu dapet IP cumlaude! Tapi nyatanya? Nagmbilnya cuman 21 SKS. Mana keberanian yang katanya lo punya itu?"
Yah...begitulah kira-kira apa yang dia bilang. Kepalaku tambah pusing.
" Pri, kayaknya impian gue bakal stop sampe sini aja deh. Gue ngga berani mimpi lagi." Prisel langsung terbangun dengan kaget.
" Kenapa?" tanya Prisel masih terbelalak.
" Email gue ngga bisa dibuka. sedangkan kiriman tugas gue yang harus dikumpul besok udah ada disitu dengan senang hati. Gue harus gimana nih? Pertanggungjawaban gue sama tugas? Bakal dapet nilai C mutlak nih semester ini kayaknya!" aku masih diliputi emosi jiwa. Mampus ajaaaa...begitu pikirku.
" Tugas apaan?" tanya Prisel.
" SIP. Lo tau kan dosennya amit-amit galaknya. Udah deh, gue mau balik kost aja, mau molor!"
" Kerjaan lo molor terus! Eh, usaha kek, lo kontak si yahoo ato gimana kek! Eh, iya, gue pengen tau, cita-cita lo apaan sih?" tanya Pri.
" Dapet beasiswa S2 ke Belanda. Susah kan yak? Gue juga ngerasanya gue terlalu muluk punya harapan. Gue ganti aja kali ya, impian gue...jadi PNS aja deh!"
" Bodoh lo! Impian kok jadi PNS! Heh Ndah, lo harus percaya sama diri lo sendiri! Life is not how to perform your talent, but how to perform your confident! Kalo lo orangnya pinter tapi minderan, apa gunanya? Confident, itu kuncinya! jangan gara-gara email butut aja lo jadi pesimist. emang bener ya, lo pengecut!"

Damn! Rupanya bener, aku ini pengecut. Aku ngga berani mengambil resiko. Padahal setiap superhero selalu kalah duluan kalo mau menang. Dan aku juga harus berani gagal kalo mau sukses. Dan kemudian aku sekarang tersadar, seharusnya selain berani untuk menang, kita juga harus berani untuk kalah. Akub menghela napas...sigh...
" Baiklah Pri, kita keluar yukk!" ajakku sambil mematikan laptopku dan menunggu sampe layarnya kembali item.
" Kemana?" tanya Pri sambil membantuku memasukkan laptopku ke softcasenya.
Aku menatap matanya dalem-dalem.
" Gue butuh asupan eskrim buat refresh pikiran gue sebelum kuliah Perencanaan Tapak dimulai!"
Prisel tersenyum kemudian berujar pelan," Lo tetep duduk di depan kan tapinya?"
Aku hanya mengangguk pelan. Biarlah urusan email ini jadi bebanjku sendiri. Aku bakal negberinnya ntar malem, aku bakal lembur buat protes sama om yahoo, ato mentoknya, aku bakal bikin id barui dan memajang id baruku di status facebook! Ah, sudahlah, superhero juga pernah kesusahan juga...

Agustus 06, 2009

A Little Piece of Heaven

A LITTLE PIECE OF HEAVEN

Before the story begins, is it such a sin,
For me to take what's mine, until the end of time?
We were more than friends, before the story ends,
And I will take what's mine, create what
God would never design


Glek!

Dimas terbangun…suara M. Shadow dari tape-nya mengalun memecah heningnya malam. Entah kenapa ada sesuatu yang berbeda malam ini. Ada sesuatu yang membuatnya tetap ingin terjaga. Lagu itu…mengingatkannya kembali pada seseorang. Bukan…bukan Winggar. Keringat dingin membasahi keningnya. Ngga…dia ngga lagi sakit…tapi kenapa berkeringat dingin seperti ini?


Dimas berjalan ke arah jendela. Pasti tadi dia ketiduran…jendela kamarnya sampe lupa belum dia tutup. Gordennya berkibar tertiup angin…aah…segar…Dimas menikmati hembusan angin yang masuk. Langit gelap sekali malam ini. Apa lagi mendung ya? Dimas hanya menebak. Suasana seperti ini sudah pernah dia alami sebelumnya. Bad…apa dia juga lagi liat langit ya malam ini? Dimas ingat sekali, Badshy sangat suka mandangin langit malam. Katanya lebih indah lagi kalo ada bintangnya…entahlah…Dimas sudah lama tidak ketemu Bad…



Tiriririt…tiriririt…tiriririt…

Reminder hapenya berbunyi…pasti sudah jam duabelas malam lebih satu menit nih…, pikir Dimas. Dan pasti ada yang ulang tahun hari ini…Dimas meraih hapenya yang tersembunyi di balik bantal. Bad…

Berarti sekarang tanggal sembilan belas September…Ehmmm…Bad sudah sembilan belas tahun…Dimas menyunggingkan senyum manisnya. Mau sms ngga yaa???


'Cause I really always knew that my little crime
Would be cold that's why I got a heater for your thighs
And I know, I know it's not your time
But bye, bye
And a word to the wise when the fire dies
You think it's over but it's just begun
But baby don't cry


Dimas kembali tertegun…ada sesuatu yang menohok kerongkongannya. Lagu itu…kata-kata itu…

Dimas duduk di kasurnya. Mencoba mengingat dosanya. Ya, Dimas kembali merasa bersalah. Belum pernah ada kata cinta terucap buat Bad, seseorang yang pernah memberi warna dalam hidupnya. Padahal Dimas tau, Bad selalu menanti kata itu terucap. Seseorang yang pernah membuat harinya penuh kata sayang. Seseorang yang selalu menyayanginya dengan tulus. Dulu. Tapi sekarang?


Nama Winggar terngiang di telinganya. Seseorang yang klop dengannya, yang bisa diajak menggila dan meliar bersama. Cantik, manis, dan lebih segalanya dari Bad. Dimas tersenyum puas…She’s my angel…

Tapi entahalah…malam ini rasanya dia sedang gelisah. Dia sepertinya merindukan orang lain. Ingin rasanya ketemu Bad. Ingin mengucapkan maaf. Ngga tau kenapa kata maaf itu harus diucapkan malam ini juga. Sebelum semua terlambat.


Dimas mengusap mukanya. Basah keringat. Ada apa sebenernya ini? Bad…sihir apa yang kamu lakukan padaku malam ini…, batin Dimas. Pikirannya melayang-layang…


… … …

“ Beibh jangan lupa mam yah…”

“ Iya cayang…ummmh…meong…meong…meong…” Dimas mengeong manja. Terdengar suara tawa riang di seberang. Suaranya kecil, seperti anak kecil…manja…

“ Beibh kenapaaa?” tanya Bad riang penassaran.

“ Pengen jadi kuciiing…” jawab Dimas.

“ Kenapa pengen jadi kucing?” tanya Bad penasaran.

“ Biar bisa digendong-gendong dan dibelai-belai ma cayangku…” jawab Dimas manja. Dan tertawa lagi. Suaranya lebih riang.

“ Beibh tuh ada-ada aja deh! Hahaha…” tawa Bad terdengar sangat merdu bagi Dimas kala itu.

… … …


Dimas mengucek matanya. Apa yang barusan dia pikirkan? Selama ini mereka begitu dekat, sangat dekat. Tapi…ah…

Dimas berpindah tempat duduk. Kenapa harus teringat semua itu sih? Disaat dia sedang bersama Winggar… Dimas berjalan ke arah jendela, tapi ngga berniat buat menutupnya. Hanya berdiri dan memandang langit. Keliatan murung…Dimas ingat sesuatu lagi. Kertas yang Bad beri ke dia…masih belum Dimas buka lipatannya sampe sekarang. Dimana ya kertas itu sekarang?


Dimas mengobrak-abrik lacinya. Mencari kertas loose leaf warna pink yang dilipat berbentuk hati. Dimana ya…dimana ya aku nyimpen kertas itu…, batin Dimas. Apa yang Bad tulis buatku…, batinnya lagi…Kenapa ngga dari dulu aku buka kertas itu, rutuk Dimas pada dirinya sendiri. Haa…!!

Mata Dimas terfokus pada kertas pink di dasar laci, menyatu sama barang-barang Dimas yang lain. Dimas cepat-cepat meraihnya. Seakan kembali berputar ke masa lalu. Kenangan Bad datang lagi bersamaan dengan hadirnya kertas itu. Entah kenapa, masih ada secuil cinta dan penyesalan buat Bad di hati Dimas. Jantung Dimas berdegup kencang…


Dear god…

The only thing I ask of you is to hold him when I’m not around

When I’m much too far away…

We all need that person who can be true to you

But I left him when I found him

And now I wish I’d stayed

Cause I’m lonely and I’m tired

I’m missing you again…oh no…

Once again…


Dimas terdiam. Begitukah? Begitu dalamnya perasaan Bad ke aku…, batin Dimas sedih. Sekian lama mereka bersama…Dimas memang ngga pernah sekalipun bilang cinta. Tapi perasaan…ngga bisa berbohong lagi. Rasa bersalah yang lebih dalam menyelimuti hati Dimas. Bad…orang yang hebat kamu…, batin Dimas sedih. Selama itu kamu bertahan buat aku…Harus bagaimana ini? Pengorbanan…


… … …

“ Maaf Bad, tapi aku udah punya orang lain yang lebih aku cintai…”

Diam…hanya desahan napas yang bergetar yang terdengar. Mungkinkah Bad menangis? Dalam nadanya di telepon itu Bad bisa merasakan cintanya pada Dimas sedang memuncak. Apakah Dimas tau hal itu? Mungkin dia ngga akan pernah tau…

“ Oke…ngga papa kok…mungkin emang harus gini jalanku…Dimas, bisa minta waktu sedikit? Aku mau ngasih kamu sesuatu. Sekali ini aja kok…” ngga ada nada mengemis dalam ucapan Bad. Hanya berharap saja.

“ Oke,” jawab Dimas singkat. Bad menutup telponnya dan berlari ke kamar. Sesuatu telah menikam perasaannya. Hatinya tercabik…

… … …


Telepon itu…Dimas mengingatnya sebagai telepon terakhir Bad untuknya. Kenapa…kenapa dulu Dimas ngga pernah bilang cinta sekadar untuk membahagiakan Bad? Aku emang ngga pernah buat Bad bahagia…, pikir Dimas. Perasaan apalagi ini?


Telepon Bad ato ngga ya? Tapi apa yang mau diomongkannya kalo telpon Bad?

“ Helo…aku nyesel uda sia-siain kamu…”

“ Bad, maapin aku ya…”

“ Ehmm…, Bad, dulu sebenernya aku sayang banget sama kamu…”

“ Aduuuh…gimana nih!!!” Dimas membanting hapenya di kasur.

Bad…

Bad…

Dimas hampir menangis. Menangis?? Baru kali ini Dimas dibuat menangis sama keadaan. Sadarilah, dia sudah menyia-nyiakan seseorang demi kesenangan dia sendiri. Dimas…, hanya ingin berkata, untuk yang pertama kalinya kepada Bad, bahwa dia cinta, bahwa dia selalu sayang padanya. Apa ini bisa jadi kado terindah buat Bad ya di hari ulang tahunnya ini? Sudah lama dia ngga denger kabar dari Bad. Terakhir yang dia tau tentang kecelakaan motor yang Bad alami. Dan Dimas ngga jenguk Bad, bahkan sms pun ngga. Orang macam apa aku ini, pikirnya penuh penyesalan. Tapi itu sudah hampir beberapa minggu yang lalu. Sekarang, bagaimana keadaan Bad ya?


Hape Dimas bunyi. Satu sms. Bad. BAD! Dimas cepat-cepat membuka sms dari Bad. Aneh. Kata-kata yang aneh…


I don't belong here, I gotta move on dear escape from this afterlife
'Cause this time I'm right to move on and on, far away from here
Got nothing against you and surely I'll miss you
This place full of peace and light, and I'd hope you might
take me back inside when the time is right


It's empty and cold without you here…


Dimas serasa tau kata-kata itu…apa sih maksudmu Bad…batin Dimas semakin tidak mengerti. Malam yang aneh. Perasaan yang tidak enak. Pikiran kacau. Rasa bersalah. Apalagi yang bisa membuatnya tersiksa malam ini???


Dimas ngga tahan lagi buat ngga nelpon Bad. Dia ingin bilang kangen…ingin bilang cinta, ingin bilang sayang, ingin mencurahkan semua kegalauan hatinya. Ingin memberikan kado ultah terbaik untuk Bad. Ingin membahagiakan Bad di hari ulang tahunnya.


Tuuut…Tuuut…tuut…

Tiga kali nada dering telepon belum juga diangkat.

Tuuut…tuuut…tuuut…

“ Halo?” terdengar suara seberang. Tapi jelas ini bukan suara Bad. Suaranya serak.

“ Bad ada?” tanya Dimas langsung tanpa basa-basi. Suara seberang hanya diam.

“ Halo?” tanya Dimas lagi.

“ Bad sudah dibawa pergi…” jawab suara seberang.

“ Pergi kemana? Saya pengen ketemu dia. Sekali saja!” pinta Dimas.

“ Bad sudah jadi a little piece of heaven…” jawab suara seberang. Sekarang giliran Dimas yang diam dalam ketidakpercayaan. Rasa bersalah menghantuinya semakin dalam. A little piece of heaven? Maksudnya apa?

“ Malam ini…, setelah mama ngucapin met ultah untuknya, dia tersenyum…kemudian dia memejamkan mata untuk selama-lamanya Nak…” jelas suara seberang dengan penuh kesedihan. Pasti ini mama Bad…

“ Tapi selama ini Bad baik-baik saja kan?” tanya Dimas tidak percaya. Pukul satu dini hari.

“ Sebulan lalu dia didiagnosis dokter kena kanker paru-paru stadium lanjut…” Mama ngga bisa lagi meneruskan kata-katanya. Hatinya ngga kuat. Putrinya, meninggal.

“ Hanya satu kata yang selalu dia ucapkan…” jelas Mama lagi terputus-putus.

“ Apa?” tanya Dimas.

“ Ripper…saya ngga tau siapa Ripper…tapi Bad selalu mengucapkan kata itu bahkan dalam tidurnya…saya…saya…Bad selalu ingin bertemu Ripper buat yang terakhir kalinya…kamu temannya Badshy kan? Kamu pasti tau siapa Ripper itu Nak…”

Dimas ngga bisa berkata-kata lagi. Perasaan Bad masih sama. Cinta dan luka. Cinta dan luka. Dimas mengutuk dirinya sendiri. Membiarkan gadis itu terlalu lama berada di lubang penderitaan. Bad…maafkan aku…seandainya aku tau…

Ripper…itu aku kan Bad! Dimas menghapus airmatanya. Dulu Bad kenal Dimas dengan nama Ripper. Ripper Sevenfold… Bad pernah bilang, Ripperlah yang membuat hidup Bad terasa lebih hidup…dan sekarang Ripper jugalah yang membuat hidup Bad berakhir…


Aku gagal…aku ngga bisa berikan apa-apa selama ini. Dimas menyesali sikapnya. Andaikan waktu bisa diputar kembali. Andaikan dulu Dimas berucap kata cinta. Mungkin saat ini Bad bisa lebih bahagia. Mungkin saat ini Bad ngga akan pernah meninggal dalam kesedihan seperti ini…tapi…sms siapa tadi itu? Dimas yakin itu nomor Bad…

Maafkan aku Bad..maafkan aku…maafkan aku Bad…maafkan aku Winggar, yang telah melupakanmu malam ini buat Bad…aku selalu mencintaimu Bad…Dimas memandang langit, ada setitik bintang kecil disana…mungkinkah itu surga??


I reach towards the sky I've said my goodbyes
My heart's always with you now
I won't question why so many have died
My prayers have made it through yeah
'Cause with all these things we do
It don't matter when I'm coming home to you

I've always been true
I've waited so long just to come hold you
I'm making it through
It's been far too long, we've proven our
love over time's so strong, in all that we do
The stars in the night, they lend me their light
to bring me closer to heaven with you

Pertama Tama Sekali


Pengennya bisa terus eksis, bisa jadi ladang uang sukur-sukur haha. Ya saya hanya mencoba ingin berbagi dan bercerita sesuai kemampuan dan mood. Kalo lagi sadmood, tulisan saya mungkin acakadut dan tidak jelas. maklumilah. Kalo ada yang suka dengan cerita saya, kontak email saya. Kalo ada yang berminat ingin agar kisah kamu dibikin cerita, kontak saya. You all inspires me. Perkenalan yang cukup singkat dan blog yang ceukup sederhana. Tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan selain, THANKS FOR READING MY BLOG. Follow me ya guys!!^.^