Desember 07, 2012

Woman, The Hero of a Story

Him : Sugar, you alright?
She : Sure i don't need to be saved
Him : You look unhappy.
She : Yea. This is my default face. I should change it. Someday *if i could*
Him : Wanna go out?
She : I wanna stay *stay beside you*
Him : *he's flattering me* long time no see you. Been a whole month.
She : *don't know what to feel* Me, too.
Him : Hey what did you do this month? Any impressing point of time?
She *sighing* I spent my time to go out, lazy walked around district, and out, some times.
Him : What did you see?
She : Many. *including you*
Him : Hmmm... you look like not fascinated the things.
She : I'm drop dead caring to the things i see, i take care of, i love, i want.
Him : Including me?
She : Including you.

*She conjure up the image of two beautiful creatures cuddling in a place, in a time. She knew the one well, The one she knew, was the one sitting beside her, flattering him, nosing her top of her head while caressing her hair. Woman, the hero of a story, she doesn't need to be saved.*

Desember 06, 2012

Us

Him : hi.
Me : hi.
Him : howdy?
Me : as fine as i haven't met you. Why?
Him : Sorry.
Me : For?
Him : my everything. They were hurting you.
Me : They did. They don't.
Him : I can't change the theme?
Me : Time is not a phrase you can change anytime you want.
Him : Do they last forever?
Me : They who?
Him : My faults.
Me : Do not ask me, i can't even answer my own questions.
Him : What questions?
Me : About do i love my self, do i forget the things, do i really live. Relative.
Him : You're cool.
Me : :) then you left me because I was cool :)
Him : I don't deserve you.
Me : I deserve a leaving, a promise, not a proof.
Him : Are they mine?
Me : No, they are ours. Did we really love each other that time?
Him : Don't screw the theme.
Me : Oh. I thought the theme is us. Nothing's plain when it comes to us, ya know.
Him : Yea, nothing's plain when it comes to love, ya know.

*it hurts my heart out. My heart is burst out by the thought he told. I still love him*
Me is really me.

Desember 02, 2012

Silly Repetition, Yes Me.

Hai halo. Udah lama nih nggak nulis disini. Habisnya, beberapa bulan ini curahan perasaan aku udah aku limpahin dalam novel-novel itu. Aku bisa apa sih? Tapi ya, kalo sekarang ini, rasanya aku kaya diobok-obok. Begini ya, biar aku perjelas, ini kaya repetition bodoh yang kaya seorang masokis, aku ulangin sendiri dengan perasaan sadar-sesadar-sadarnya.

Bodoh. Cuma itu yang pengen aku bilang. Aku pengen teriak, pengen nangis tapi nggak ngerti juga harus nangis dan teriak sama siapa.. Baru tadi sore aku ingin banget punya wajah yang lebih oke ketimbang otak yang cemerlang. Daya analisis yang nggak sengaja aku terapin pada hal baru yang aku temui bikin aku pengen muntah membayangkan result yang aku terima. Kenapa? Iya, ada hubungannya sama cowok

Tapi aku punya dua pilihan. Pertama, aku harus ninggalin dia, sekarang atau nanti. Inilah yang aku bilang pengulangan bodoh. Dulu sewaktu SMA aku pernah juga mengalami kejadian seperti ini, memiliki ketertarikan, dan daya tarik menarik yang kuat, hukum aksi reaksi dengan cowok yang berbeda keyakinan sama aku. Ini mengesalkan banget, mengingat sejujurnya aku juga bukan orang yang alim banget. Tapi perkataan Ibu selalu terngiang-ngiang terus di aku. Nggak perlulah ya aku kasih tau apa sabda Ibu.

Kedua, aku bisa saja meneruskan hubungan-tak-tentu arah ini ke jenjang yang lebih tinggi. Iya, mengingat saat ini aku dan dia lagi menjalankan peran Kearra-Panji yang sedikit banyak mencubit-cubit hati. Aku tau, pilihan kedua ini bakal menemui lebih banyak hambatan ketimbang pilihan pertama tadi. Ya, aku kalah oleh perasaanku sendiri.

Dan tentu saja, akhir-akhir ini aku sedang sulit fokus pada satu hal. Logikaku sedang tidak di tempat, mungkin sudah ber-aparate ke suatu tempat entah dimana. Distraksi pikiran, hebat sekali ternyata ya, kreativitas bisa membuat jalannya sendiri, membentuk pola yang mengingatkan aku sama tugas yang lagi aku kerjain. Oke, not a big deal, it is.

Nah, keledai aja nggak ada yang jatuh ke lubang dua kali kan? Kenapa aku malah terperangkap (terperangkap loh, nggak cuma jatuh!) ke lubang yang sama dua kali? Masalah 'itu' dan satu lagi sebenernya, masalah 'percaya' pada apa yang aku yakini sejak awal. Keyakinan yang memuakkan, yang kadang menuntut aku keluar dari zona sadarku sendiri. Perasaan aneh yang datang mengikuti rasa keingintauanku. Semisal saja, ketika aku pertama kali mengenal seseorang, aku selalu merasakan dua hal: 1) pertemuan ini akan berjalan normal ke jalan pertemanan biasa, dan 2) perkenalan ini suatu saat akan menuju ke jalan lain dengan hirarki yang lebih tinggi. Ya, kadang aku terjebak dengan perasaan dan persepsi.

Sudahlah, aku mau nangis dulu ya, tapi ribet nih lagi di kantor. Nanti aja kalo udah sampai kost, mau nangis sambil teriak di bantal biar cuma aku dan diriku saja yang dengar. Dear you, selamat menemukan wanita-lain-yang-lebih-mementingkan-jelita-ketimbang-mempercantik-wawasan-kaya-aku-ini ya. Good luck, mon cherie :).

Mei 24, 2012

Debussy, Sampah Pikiran, @Cantyarania

Cheerstraw!! :)

Ini bukan tentang rasa ingin menulis yang setiap saat muncul tapi harus terkekang karena perasaan. Ini bukan karena enggan mengeluarkan koyakan perasaan yang menggelembung dan ingin segera pecah. Bukan pula tentang segala ketertarikan yang harus terkupas, terkikis, dan akhirnya terlebur bersama sampah-sampah hina dalam keranjangnya. Ini tentang makna. Butuh waktu yang terus membesar hingga ujung pangkalnya, yang pada akhirnya, tak kumengerti juga.

Malam ini, di Rumah Cokelat, dengan niat awal mengerjakan peta, jemariku kembali menari di atas keyboard, memetakan sesak-sesak kecil yang memenuhi rongga otak, melejit keluar. Bisa dibilang sebuah sampah. Suatu waktu, kita memang butuh waktu seperti ini, sebuah trans ketika kita berada dalam dunia sadar-tidak sadar, memuntahkan segala yang tak terpakai dalam kepala dan gila karenanya. Aku akan segera bebas dan gembira.

Ini bukan soal hingar bingar kehidupan.
Aku menulis karena ada sesuatu yang ingin kubagi. Soal Debussy. Ya, tentu saja ini baru bagiku. Seorang componist Perancis luar biasa yang mencuri perhatianku. Lebih dari lover-lover yang selalu tidak tahu dimana celah stategis untuk masuk ke hatiku. Aku memang tertutup, terkunci. Tapi Debussy tau pori terbesar untuk menyusup, menghipnotisku.

Pertama kalinya, aku mengenal Debussy lewat Clair de Lune, atau dalam bahasa Indonesia berarti Cahaya Bulan. Aku ketagihan. Bukan dalam waktu sebulan dua bulan, tapi dua tahun. Dua tahun setelah menikmati Calir de Lune tiap sore, aku membayangkan nada-nada magis lainnya dari Debussy. Dan malam ini, terjawab sudah semuanya. La Fille Aux Cheveux De Lin, Syrinx, Arbesque, dan masih banyak lagi judul lainnya. Aku bahagia.

Siapa Debussy itu? Berdasarkan ini, Debussy yang bernama lengkap Clude Debussy dalah komponis berkebangsaan Perancis. Musiknya dianggap sebagai peralihan dari zaman musik romantik ke musik modern di awal abad ke-20. Bersama dengan Maurice Ravel, ia merupakan salah satu figur utama dalam bidang musik impressionis walau ia sendiri kurang menyukai pemberian nama aliran tersebut Mungkin banyak yang belum kenal, tapi sampah manis ini memang menyenangkan. Sudah berminggu-minggu bercokol di otakku, akhirnya, malam ini, dia kukeluarkan juga. (")9

Yea, Yastirania Cantyaruni, pramugari cantik itu tak hanya piawai melayani penumpang pesawat, tapi juga memiliki selera musik yang lumayan. Dari wanita itulah, akhirnya aku mengenal Debussy lebih lanjut.
"What's unsignificant, is the significant itself"
begitu katanya. Yah, Cantyaruni emang kadang ajaib. Wanita yang baru sekali kutemui ini menjadi sebuah bagian tak terlupakan dalam pendewasaan diriku.
Guys, you can find her here.

Kamu homo kalo bilang dia nggak cantik.
Cheers :))

Januari 07, 2012

Akhir


It's way too late to think of
Someone I would call now
And neon signs got tired
Red eye flights help the stars out
I'm safe in a corner
Just hours before me

Ternyata anginpun mengerti. Aku sedang mengalami pergolakan diri. Tentang sebuah rasa, sebuah cerita. Kalaupun memang harus begini pada ujung takdirnya, kurasa memang harus belajar membuat diri rela. Aku hanya tertunduk, terdiam, terasa…

**

Aku dan kamu berhadapan. Aku dan kamu saling diam. Aku tau, nanar tatapmu menuju ke sudut atas dinding yang teronggok di belakangku, tegak. Tapi mata hatimu, entahlah, dimana kini? Aku menatap hampa pada pergelangan tangan yang terus kukepal. Helaan napas terasa semakin berat saja. Tapi untuk mengeluarkan mutiara airmata, bahkan sudahpun tak mampu.
“ Kamu yakin?” begitu tanyamu. Aku terus meyakinkan hati bahwa semua ini tidaklah abadi. Sesal sebesar apapun tak akan mampu menerjang keyakinanku. Aku mengerti betul bagaimana perasaanku, sedihku, senangku, tangisku, kamu.
                “ Aku… yakin…” jawabku tak yakin. Seruak rindu tiba-tiba datang menghadang langkahku. Rindu kebersamaan, rindu ingin dicumbu rasa tak tentu sehari tiada cerita hidupmu mampir di telingaku. Rindu bergandengan tangan di bawah pohon rambutan di taman tengah kota, berdua menikmati es kelapa muda. Rindu mendengarmu bercerita tentang mimpimu yang telah kau lepas pergi menjauh dari benua tempat kau berpijak. Rindu menikmati hidup, denganmu tentu.
Rindu menjadi wanita yang kau cintai dengan sepenuh hati, meski dengan setengah sembunyi.
“ Menurutmu, langkahmu sudah benar?” tanyamu lagi.
Jangankan benar atau salah, kiri dan kanan saja serasa sulit dikenali! Suasana hati perih sekali, seperti terajam jeruji besi. Tapi sebagai seorang wanita yang menghormati adab berkawan setia, aku harus mengesampingkan keseluruhan hidupku. Mengesampingkan kebahagianku. Merelakan kamu.

**

I'm waking with the roaches
The world has surrendered
I'm dating ancient ghosts
The ones I made friends with
The comfort of fireflies
Long gone before daylight

Betapa sulitnya menghapus kenangan paling paradoks dalam hidup. Kenangan paling tabu, sekaligus kenangan paling ingin kuhirup. Seperti menghirup wangi kopi dari kerah bajumu, seperti menghirup kelopak bunga layu yang kau berikan padaku. Seperti menghirup kebahagiaan berdua denganmu, meski dengan embel-embel kisah yang saru.
Deburan ombak itu masih berlarian di kakiku, menghibur desau sedihku yang merosot sampai jauh ke dalam hati paling ujung. Aku tersenyum. Ada sebuah kelegaan yang datang tanpa perlu diundang. Kelegaan yang berbalutkan perih yang luar biasa mengiris.

And if I had one wish fulfilled tonight
I'd ask for the sun to never rise
If God leant his voice to me to speak
I'd say go to bed, world

**

Kamu menyentuh ujung jariku, membelai lembut di tengah pergolakan keras hatimu. Jasmu masih wangi, masih tersemat sebuah bunga putih nan cantik di saku bagian kanan atas. Ada sebuah syahdu melihatmu mengenakan baju resmi untuk mempelai pria. Tentu kamu terlihat tampan luar biasa. Wajahmu licin bersih, dan rambutmu rapi jali. Sapuan make up tipis membuat dirimu semakin mencuri perhatianku. Tapi aku tahu, semua itu tabu.
“ Aku tidak seberani yang kamu harapkan, aku bukan ksatria yang kamu inginkan. Aku tidak pantas menjadi lelaki. Aku bahkan tidak bernyali mengakui hati sendiri,” kamu berkata sedih.
“ Tapi ini untuk kebaikan kita. Dari awal kita sudah salah, sudah tak bisa menjadi halal.” Matamu berkaca-kaca.
“ Aku yang membiarkan dirimu pergi, semua bukan karena keputusanmu. Ini semua aku, it’s all about me,” kudengar bibirku berbicara lantang. Aku ingin mengeluarkan semua berat yang terkubur dalam rasa, aku ingin menghilangkan bayang gelap yang terselubung dalam setiap helah nafas. Life must go on, dan aku menghirup napas panjang.
“ I will always love you. Always…” bibirmu berkata lirih. Sebuah kata cinta yang pertama. Dan mungkin terakhir.
“ I will always love you. Always…” aku kembali membalas cintanya. Membalas kata cintanya untuk yang pertama, dan mungkin yang terakhir pula. Dan aku meledak, aku semakin meledak kala dia melangkah menjauh. Kakiku gontai menyangga beban tubuhku. Tak menyangka akan sesakit ini menyaksikan lelaki yang kucintai menikahi gadis lain. Aku menggontai, dan aku meledak. Dalam tangis yang tak berkesudahan.

**

I've always been too late
To see what's before me
And I know nothing sweeter than
Champaign from last New Years
Sweet music in my ears
And a night full of no fears

Dan aku meledak. Meledak hingga malam hendak hilang ditelan terang. Dan aku meledak dalam pantai yang berdebur terhantam ombak. Dan aku meledak dalam hilang, dalam hilangnya cintaku. Mungkin inilah yang selama ini aku nantikan, meledak dalam tangis yang akhirnya menarik keluar semua rasa. Entah sedih, entah bahagia, entah cinta. Entah dia, entah rasa, entah segala, entah semesta.
Maka akupun hilang. Aku ingin menjadi hambar saja, ingin tak merasa. Setiap senti tubuhku kurasa tenggelam. Deburan ombak kurasa tadi menggelitik kakiku, kini terasa lembut menerpa wajahku. Ada ragu yang sekelebat menjemput, tapi ternyata hanya sebuah sambil lalu yang tak sengaja menampar wajahku, namun tak pilu. Aku tersenyum, aku akan kebas, aku akan bebas. Maka maafkanlah segala rasa, kurasa semua hanya akan membuat hidupku berhenti di suatu titik. Tapi, bukankah kita pernah berjanji akan meregang nyawa bersama?
Aku menutup mataku, berharap kaupun akan begitu. Tapi maafkanku sekali lagi, bila aku mendahului…

But if I had one wish fulfilled tonight
I'd ask for the sun to never rise
If God passed a mic to me to speak
I'd say stay in bed, world
Sleep in peace
(No Sleep - The Cardigans)
9.01 p.m
Dsn. Gondang, Ds. Wukirsari Kec. Cangkringan
July 6th 2011

Desember 21, 2011

Selamat Hari Ibu

Cheerstraw!! :)

Besok adalah hari Ibu. Terus terang, saya pengen kasih sesuatu buat Ibu. Meskipun, yah, bagi saya, everyday is mother's day. Tanggal 22 Desember hanya momentum aja, menurut saya. Tapi... persiapan saya baru sekitar 30%. Hari ini saya sudah muter-muter nyari kado buat Ibu, tapi belum juga ketemu.

FYI, Ibu saya menderita Diabetes, dan beliau pernah meminta saya untuk membelikannya sebuah buku tentang diabetes, sekedar untuk pengetahuan dan kalau bisa membantu dalam mengkontrol kadar gula darahnya. Dan kebetulan sekali, Ibu suka baca (well now i know, darimana gen 'suka baca' yang ada dalam diri saya ini berasal). Saya sendiri nggak mau asal meberi buku kepada Ibu, takutnya malah jadi demotivation (taulahya... kadang buku tentang suatu penyakit itu bikin deg-degan, cemans). Makanya, saya lagi nyari buku tentang motivasi penyakit diabetes. Kemarin2 sempet nemuin buku yang intinya ngebahas gimana puasa dapat mengobati berbagai macam penyakit. Tapi bodohnya, belum sepat saya beli (yeah, blame on me), jadi saya harus nyari buku lagi. Dan sampai hari ini, saya belum menemukannya. Doakan saya ya biar cepet nemuin buku yang cocok buat Ibu :'))

Second, akhir-akhir ini saya sering merasa gelisah. Tidur tak tenang, kadang sesak napas dan kepala pusing tak keruan. Setelah konsultasi sana-sini sama psikolog, akhirnya saya didiagnosa terkena distress. Tapi, pada suatu hari, ketika saya benar-benar sudah tidak bisa memejamkan mata sama-sekali (kata orang sih insomia), saya curhat ke Ibu, dan Ibu menawari saya untuk tidur bareng beliau. Saya iyakan aja.

Temans, benar memang, kehangatan hati seorang Ibu bisa membuat buah hatinya merasa nyaman dan tenang. Itu saya buktikan sendiri. Dengan tidur di samping Ibu, tidur saya menjadi jauuuh lebih nyenyak. Dan perasaan hangat dan tenang itu selalu saya rasakan. Saya hanya terbangun pukul 2.30 karena alarm jam Ibu selalu berbunyi jam segitu. Saya juga selalu terjaga saat Ibu shalat Tahajud, setiap hari. Saya diam dalam posisi, tapi terus berucap "Amin" sebanyak-banyaknya. How kind my Mom is... (ngelap airmata). Setelah Ibu selesai shalat tahajud, giliran saya yang terbangun, membalas doa yang telah Ibu panjatkan untuk saya dan keluarga. Saya tau, doa saya tidak sebanding dengan doa yang telah sekian tahun Ibu panjatkan kepada Allah.

Bagi saya, Ibu adalah sumber inspirasi. Ketegarannya dalam menghadapi hidup kadang membuat saya malu untuk terus mengeluh tentang skripsi yang ini, yang itu. data yang ini, yang itu. Ketulusannya dalam berdoa membuat saya malu untuk terus mengharap balasan cinta dari si #nomention yang memang kadang menorehkan perih dalam hati saya. Kecantikan sederhana Ibu juga selalu membuat saya malu untuk terus merasa jengah tiap melihat gadis Korea unyu, dan menyadarkan saya kalau, kecantikan yang sebenarnya adalah berasal dari ketegaran dan ketulusan baliau dalam menjalani hidup.

Ibu, selamat hari Ibu. Kedua anakmu ini masih sering menyusahkan Ibu. Kadang Inda sering nyetel musik keras-keras, kadang adek sering lupa waktu kalau main PS. Kadang Inda sering lupa waktu kalau maen sama temen, kadang adek suka males kalau dikasih kerjaan sama Ibu. Kadang Inda sering lupa bangun tahajud, tapi Ibu tiap hari (benar-benar tiap hari!) bangun untuk mendoakan Inda, Ayah dan adek. Ibu, maaf ya, anakmu ini masih sering slengekan. Maaf ya udah sering keras kepala kalo debat (terutama soal orangutan kemarin mwehehehe :)).

Sekali lagi, selamat hari Ibu. Everyday is Mother's Day :'))
Me loves you, Mother and Father :)

November 28, 2011

Coincidence

Oke, saya lagi tertarik sama satu kata ini. Coincidence. Beneran nggak sih kalo coincidence itu ada? Pendapat orang jelas beda-beda. Jadi sekarang yang mau saya utarakan disini jelas pendapat saya. Coincidence. Kalo kata kamus Hasan Shadily and John F. Echols, coincidence berarti kebetulan. Kebetulan di mata saya adalah cara Tuhan bekerja. Misterius dan semua orang nggak akan pernah tau how it works. Begitu juga coincidence. Kita taunya 'oh, those happen!'. Hanya tau itu aja. Beda dengan 'coincidence yang diusahakan'. Itu bukan lagi kebetulan namanya mah!

Saya bisa dibilang kebetulan kali ya. Awal kuliah dulu saya addicted banget sama facebook. Sampe banyak temen yang meski mutual friend-nya cuman satu, saya add juga. Najis banget kalo inget, tapi itu bagian dari pendewasaan diri dulu, hidup tanpa menjadi ababil itu bukan hidup yang sempurna, kawan. Sama seperti gak ketemu kamu di mimpi pun, namanya bukan mimpi yang sempurna, kata Ariel Peterpan. *njis, dilebar-lebarin pula masalah tak sempurnanya itu!*
Nah, dari facebook kan saya jadi kenal anak-anak DKV (Desain Komunikasi Visual) yang sukanya bawa-bawa kamera terus bikin-bikin ilustrasi, atau ornamen, atau apalah informasi huruf yang bisa digrafisin-visualin, gitu. Nah, gadget yang 'mereka banget' kan pastinya gadget yang bagus buat grafis, gadget yang cerdas dalam pewarnaan dan lain-lain. Out of all, Apple for example. Ngeliat keeksklusifisan dan kesimpelan bentuknya, saya jadi jatuh cinta. Sama si Apple whatever whatever itu maksudnya. But i knew, the price is extremely fantasric, so damn expensive. Jadi, saya hanya bisa memilikinya kalo udah kerja, that's it dan saya close semua mua keinginan buat punya si Apple whatever whatever itu. Tapi yes, keinginan punya produk Apple yang fantastic selalu ada di setiap ulang tahun. Not to be begged, just to remember me that i have a dream. Buat kalo semisal saya baca wishlist saya, si Apple yang ada di wishlist nomer satu itu selalu memecut semangat saya buat selesein kuliah, get your dream job, buy your dream gadget. Begitu ceritanya.

Coincidence kah? Entah. Itu mungkin bisa ngejawab beberapa komentar temen-temen yang suka nanya 'kenapa sih saya suka Apple, kenapa suka iPhone yang harganya sesadis itu, kenapa suka iPod yang keguanaannya sama kayak MP3 biasa, kenapa suka yada yada yada yadaaa...'. You can shut your mouth up, you've got the answer <3

Ciao!

November 17, 2011

Pagi ini saya lagi sedih, readers. Semalem saya kan nyari info soal how we can do to save orangutan. Dan ternyata, setelah logwalking dan mampir blognya Mbak Ajeng, saya menemukan salah satu cara buat kita bisa ikutan berpartisipasi. Nah, caranya adalah dengan mengadopsi bayi orangutan yang yatim piatu. Buat saya yang belum kerja, nominal biayanya mungkin agak mencekik karena belum ada penghasilan pasti selain kadang kerja part time dan uang saku dari ayah sendiri (ini memalukan sebenernya). Saya ngerti kok kapasitas saya, saya juga tidak memaksakan. Tapi saya memang selalu berpkiran: kenapa nggak dicoba? Alhasil, mungkin saya bisa kalo diajak urunan.

Jadi, semalam itu saya sebarluaskan berita soal adopsi orangutan itu. Saya yakin, diluar sana pasti ada orang yang bakal tersentuh dan berkapasitas untuk mengadopsi bayi orangutan. Tapi sampai paginya, saya tunggu nggak ada repky apa-apa soal adopsi orangutan. Tidak sekalipun usaha buat gimana-gimana ngapain gitu kek. Alasannya sama, belum punya duit. Saya juga belum punya duit, tapi ya, jujur, saya sekarang lagi diambang antara kesal, kecewa dan marah. Gimana bisa mereka lancar minta pencerahan, belas kasihan orang lain kalau mereka sedang ada masalah? Padahal masalah mereka bukan menyangkut hidup mati mereka, bukan menyangkut pemusnahan habitat mereka. Coba tengok orangutan. Tengok dan lihat dengan seksama. Kita hidup memang karena suatu masalah. Coba kalo Hawa nggak bikin masalah, kita semua pasti tinggal di surga, orangutan juga tinggal di surga :'(

Kembali ke topik orangutan.
Dan keadaan orangutan benar-benar mengusik saya. Populasinya, yang dulu sekitar 200 ribu, sekarang udah ngga ada separuhnya. Pembakaran hutan, memusnahkan sumber makanan mereka hingga mereka terpaksa mencari makan di perkebunan kelapa sawit dan dianggap sebagai hama. Coba bayangkan jika kalian yang menjadi orangutan. Cari makan buat kelangsungan hidup kalian dan selanjutnya dianggap hama? Sakit hati nggak tuh? Yah, kalo orangutan mah udah ditelennya itu rasa sakit hati. you never walk in their shoes, saya juga belum. Tapi manusia punya otak kanan yang diciptakan buat berempati dan bersimpatik. Bukan hanya ngebangga-banggain dirinya dan keluarganya yang bisa ini-itu tapi belum bisa nolong yang lain. Sorry kalo harus nyalah-nyalahin kalian. Tapi emang saya udah eneg sama hal-hal sok baik sok suci sok pahlawan. mau tau pahlawan yang sebenarnya? Tanya para relawan merapi yang dulu-dulu! Tanya relawan orangutan, tanya pembela rusa-rusa yang kehausan di Istana Negara, tanya gimana perasaan komodo yang dijadiin bahan becandaan seluruh dunia? Jangan hanya bangga dengan " saya udah khatam Al-Qur'an sepuluh kali lho, Alhamdulillah ya." ya kalo udah khatam, implementasinya apa? Saya lebih suka denger " yah, ngga banyak sih, sehari masukin seribu aja, setahun udah bisa buat sedekah."

Yes, i take it seriously. Terserah orang bilang saya frontal atau gimana, menurut saya, dirty word means nothing, tapi dirty act means villain. Jadi lebih pentingan tindakan daripada perkataan? TRUE! SUPER TRUE! Sumpel mulut saya kalo perkataan saya udah mulai nusuk, saya ngga masalah asal perilaku saya ngga menusuk siapapun.

Oke, kembali ke orangutan. this is just simply touchy to see them sleep in the jungle without their parents. Alone and wounded. Mereka dianggap hama, oke, shit you people! *akhirnya ngomong jorok juga* *yaterserahgue*
Ini ada link buat adop orangutan --> http://orangutan.or.id/adoption dan saya berharap kalian berminat. Buat biaya dan apapunnya, semua lengkap disitu. Kok tulisannya bahasa inggris? Ya lo berharap tulisannya bahasa sansekerta?! Nggak ngerti caranya? Coba open google translate. Sori, ini gue to the point aja ngomongnya, biayanya mureeeh buat mereka yang udah kerja. Kalo saya, saya memplanningkan diri buat tahun depan mendaftarkan diri sebagai 'ibu' orangutan. Terseraaaaah lo mau bilang apa, well-done is better than wellsaid, right? Tanya Ippho santoso, jangan cuman ngomongin kebaikan-kebaikan Ippho aja, lakuin!

November 13, 2011

Empat Musim

Cheerstraw!! :)

Ini bukan cerita tentang musim secara harfiah. Ini cerita bukan pula tentang persahabatan yang selalu berbeda, tapi justru entah mengapa, empat musim yang menyatu dalam tahun, membentuk serasi waktu dan bersama terkungkung dalam haru.
Empat musim, kata orang Eropa, ada musim dingin (winter), musim semi (spring), musim panas (summer) dan musim gugur (fall). Winter untuk Rina yang pendiam dan penuh misteri. Spring, untuk Hannah yang warna-warni. Summer untuk Priscel yang selalu ceria dan segembira tamasya. Dan Fall untuk aku yang dramatis dan setengah romantis. Yes we are fantastic four!

Kami bukan geng, kami adalah sahabat yang bersatu dan sejalan dengan persahabatan lain. Kami semua memiliki hidup masing-masing, aku contohnya, aku punya sahabat lainnya. Sebut saja sahabat KP saya, Intan, Wulan, Aris dan Ikhsan. Sahabat KKN. Sahabat SMP sebut saja Indah, Mami, Anisa, Ayu, Eliana, Nurma, Ayok dan Doni. Sahabat SMA, Rara. Sahabat... kenapa jadi ngejabarin temen menggalau aku sih? Ya, intinya kami tidak memusatkan kehidupan pada musim kami. Bukan pula sisa atau pinggiran yang terbuang. Entah bagaimana caranya, kami ada dan bersama. Tidak selalu teratur berjumpa, tapi selamanya berlangsung dalam ada.

Aku menyayangi mereka. Meski tidak dalam sengaja kita berjumpa. Tapi entah dalam jeda waktu, kita bergerak dan berbicara bersama. Bagaimana? Entahlah, semesta membuat empat menjadi kelompok penuh asa, yang semangat membicarakan masa depan.

Hannah untuk ide-ide kreatifnya dan pengetahuan mendalam soal finansial.
Priscel untuk analisis ekonomi dan kemampuan marketingnya.
Rina untuk ketegasan dalam butir-butir kebijakan dan intelektual negeri.
Dan aku, apa ya? Entahlah, mungkin menulis, menciptakan dan mengkritik.

Kita berempat yang bersatu dalam sama. Kita berdebat dan berakhir bahagia. Priscel selalu keras, kadang lupa menyaring setiap katanya, tapi Inda selalu diam mengalah dan akhirnya lupa untuk marah :D
Hannah yang kadang emosi secepat kilat, dati perlalu secepat angin yang lewat. Atau Rina, yang diam menyembunyikan galau, yang minta ditemani dalam menurunkan kadar resahnya. Kami berempat beda, dan saling melengkapi. Kami bertemu dalam kuliah yang nyata, kuliah kehidupan. Kami berjalan bersama, menaiki tangga masa depan. Kami berbeda jurusan, tapi kami menyambung asa dengan tawa.

Gals, thank you for these almost 5 years. I love you, always. Keep remembering how we laugh, how we share, and how we cry. Stay here, either in my heart, and yours. I'm gonna miss you, for almost my life time :)

Thanks for being my life,
Inda, 13 November 2011
 

November 03, 2011

Ayah Mengajariku Sederhana

Cheerstraw!! :)

Ayah mengajariku sederhana.
Sesederhana memetik arbei sepulang sekolah.
Sesederhana membeli teh anget di Pak Soleh selepas sekolah usai.
Sesederhana mengaji setiap pukul empat sore.
Sesederhana selalu memberi kepada yang membutuhkan.
Sesederhana berjalan kaki sejauh yang aku sanggup.
Ayah mengajariku hidup sederhana.
Tapi aku masih sering bertanya, hidup sederhana itu seperti apa?
Membeli ronde setiap sore? Makan mie ayam bersama saat hujan?

Ayah bilang, di atas langit masih ada langit.
"Naik bis aja, Ibumu masih belum bisa lepasin kamu naik motor."
Dan akupun belajar sederhana dari hal itu.
Merasakan naik bis pada pukul empat pagi bersama pedagang pasar dan pekerja penglaju lainnya? Sudah.
Meredakan tangisan anak kecil dengan memberinya sebuah gelang karet? Pernah.
Mempersilakan orang tua duduk di bangkuku? Sering.
Menawarkan makanan buat buka puasa dengan teman sebangku di bis? Beberapa kali.

Ayah, apakah aku sudah bersederhana?
Apakah aku sudah memenuhi kriteria orang-orang yang tidak sombong?
Ayah, tegur aku bila aku mulai sombong.
Ingatkan aku untuk selalu memandang ke bawah, kepada mereka yang tidak seberuntung aku.
Ayah, terus jaga aku agar menjadi orang yang sering memberi,
dan selalu sederhana.

Jogja, 3 November 2011